Sukacita  Untuk Semua

Sukacita Untuk Semua

Kisah Natal yang dirayakan oleh gereja-gereja Tuhan pada umumnya ditandai oleh suasana sukacita dan kegembiraan. Tetapi apakah perayaan Natal yang penuh dengan sukacita dan kegembiraan yang dirayakan oleh gereja, juga merupakan peristiwa faktual yang menyenangkan bagi Maria dan Yusuf?

Atas perintah Kaisar Agustus, Maria dan Yusuf harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem untuk melaksanakan pendaftaran sensus penduduk. Dari peta kita dapat mengukur jarak kota Nazaret ke Betlehem sekitar 80-90 mil atau sekitar 150-170 km. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut sebenarnya perjalanan Yusuf dan Maria bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan. Perjalanan yang sangat jauh itu harus ditempuh dengan cara berjalan kaki atau naik keledai. Padahal waktu itu Maria sedang hamil tua. Jadi kisah Natal yang dialami oleh para pelaku karya keselamatan Allah, yaitu Maria dan Yusuf bukanlah suatu kisah yang membawa sukacita atau kebahagiaan.

Kesulitan dan penderitaan dalam perjalanan dari Nazaret ke Betlehem yang dialami oleh Maria terjadi sebagai konsekuensi jawaban Maria yang bersedia (“fiat Maria”) untuk mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:38). Seandainya Maria menolak panggilan Allah yang disampaikan oleh malaikat Gabriel untuk mengandung dari Roh Kudus, tentunya Maria tidak akan mengalami penderitaan seberat ini. Mungkin dia tetap akan berangkat ke Betlehem tetapi bukan dalam keadaan hamil. Seandainya Maria menolak perkataan malaikat Gabriel, Maria juga tidak perlu menanggung risiko berupa sanksi sosial dan keagamaan dengan kehamilannya yang dianggap di luar kewajaran.

Makna kebahagiaan dan sukacita sering dipahami jikalau kita selalu mengambil keputusan yang serba aman, tidak berisiko atau berhadapan dengan kesulitan. Kondisi inilah yang sering disebut dengan “ego-insecurity” (kedirian yang tidak merasa aman). Semakin kita terjebak dalam “ego-insecurity” maka kita akan selalu berupaya mencari rasa aman. Dalam konteks ini makna sukacita dan bahagia dipahami jikalau ritme kehidupan ini selalu berjalan serba datar, menjauh dari tantangan, dan mulus tanpa masalah.

Tetapi seandainya pula Maria dan Yusuf menolak panggilan Allah demi rasa aman mereka, maka karya keselamatan Allah dalam inkarnasi Kristus juga tidak akan terwujud. Sejarah keselamatan Allah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda! Atau yang lebih buruk lagi adalah dunia dan umat manusia tidak akan pernah mengalami kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan mereka. Umat manusia sepanjang zaman tidak akan dapat mengalami sukacita surgawi dengan datangnya sang Raja Kehidupan.

Justru melalui kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Maria dan Yusuf, terbukalah wilayah yang luas tanpa batas anugerah keselamatan dari Allah bagi umat manusia. Sehingga kerelaan dan sikap iman yang diperlihatkan oleh Maria telah mewujudkan perkataan Nabi Yesaya: “Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang” (Yes. 62:11). Sukacita Natal dapat kita alami secara penuh karena keselamatan dari Allah telah datang!

Keselamatan Allah Telah Datang

Makna sukacita dalam kehidupan sehari-hari seringkali dilepaskan dari keselamatan Allah. Sukacita dalam kehidupan sehari-hari justru seringkali dikaitkan dengan keberhasilan untuk memiliki. Semakin banyak kita memiliki, maka semakin banyak pula kita bersukacita. Tetapi semakin banyak yang kita miliki hilang, maka hilang pula sukacita yang kita miliki. Ketika nilai saham yang kita miliki merosot jatuh, maka hilanglah segala sukacita yang pernah kita miliki. Ketika investasi atau harta kekayaan yang kita miliki disita, maka hancurlah segala kebanggaan dan kebahagiaan hidup kita. Dengan demikian makna sukacita dan kebahagiaan yang kita miliki berubah-ubah seiring dengan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan.

Justru peristiwa Natal hendak menegaskan bahwa nilai atau makna sukacita dan kebahagiaan kita bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki. Tetapi sukacita dan kebahagiaan kita lebih ditentukan oleh seberapa besar kita menyambut keselamatan Allah yang telah datang. Peristiwa Natal justru merupakan momen yang penuh makna saat kita mampu melepaskan segala hal yang kita milliki secara duniawi agar terbukalah ruang hati yang luas untuk menyambut peristiwa inkarnasi firman Allah menjadi manusia. Saat hati kita penuh sesak dengan berbagai barang atau milik secara dunia, maka kita tidak dapat menyambut sukacita dan kebahagiaan Natal.

Dalam bukunya yang berjudul “Authentic Happiness” (Kebahagiaan yang otentik), Martin Seligman, yang termasuk salah satu pendiri psikologi positif, menyatakan bahwa kebahagiaan terdiri dari “emosi-emosi positif” (positive emotions) dan “aktivitas-aktivitas positif” (positive activities) yang terentang dari masa lampau, kini dan masa mendatang. Sehingga manakala masa lampau dan masa kini kita penuh dengan kepuasan, rasa bangga dan ketenteraman; serta sikap kita memandang masa depan dengan sikap yang optimistik, berpengharapan dan keyakinan, maka niscayalah kita akan berbahagia.

Efek dari kebahagiaan yang demikian akan membebaskan diri kita dari penghalang-penghalang emosi, sehingga kita dapat lebih mampu menikmati pekerjaan dan aktivitas-aktivitas yang lebih kreatif. Dengan cara hidup yang demikian, kita akan dimampukan untuk mengalami makna hidup yang lebih penuh sebab kita mengarah ke tujuan hidup yang lebih besar daripada tujuan-tujuan jangka pendek atau dangkal. Pemikiran Martin Seligman tersebut pada satu segi tentunya bermanfaat bagi kita untuk menghayati dan menemukan makna sukacita atau kebahagiaan.

Tetapi pandangan Martin Seligman dan seperti para pemikir sekuler yang lain umumnya menempatkan makna sukacita atau kebahagiaan sebagai hasil upaya manusia untuk mengelola emosi-emosi secara positif agar dapat menghasilkan kegiatan atau tindakan yang positif. Mereka memandang kebahagiaan sebagai hasil dan upaya manusiawi. Tetapi tidaklah demikian dengan berita Natal. Kebahagiaan dan sukacita pada hakikatnya merupakan anugerah keselamatan dari Allah. Di Tit. 3:4-6, dikatakan: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita.”

Justru di saat kita pernah gagal untuk berpikir positif dan hidup tidak tenteram serta penuh penderitaan, di situlah kita diperkenankan Allah mendengar tentang kemurahan hati dan kasih-Nya. Saat hidup kita terpuruk dan tidak berharga, di situ pula kita memperoleh tawaran pengharapan sebab Allah mengasihi kita dalam inkarnasi Kristus.

Penguasa Kehidupan

Injil Lukas menyaksikan bahwa Kaisar Agustus telah mengeluarkan suatu perintah yang memerintahkan untuk mendaftarkan semua orang di seluruh wilayah kerajaannya. Atas perintah Kaisar Agustus tersebut, Maria pada akhirnya melahirkan Yesus di kota Betlehem. Jika demikian, apakah ini berarti kelahiran Yesus di kota Betlehem terjadi karena perintah Kaisar Agustus? Bukankah seandainya Kaisar Agustus tidak pernah memerintahkan pendaftaran penduduk, maka kemungkinan besar Maria akan melahirkan Yesus di kota Nazaret? Jika demikian, bukankah yang menjadi penguasa dan yang menentukan riwayat hidup Yesus Kristus adalah Kaisar Agustus? Bagaimanakah kita harus menjawab pertanyaan “teologis” tersebut?

Apabila kita mencermati lebih teliti kesaksian Alkitab, maka kita disadarkan bahwa perintah Kaisar Agustus tersebut justru merupakan penggenapan dari rencana Allah. Di Mikha 5:1 terdapat nubuat Allah: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Allah telah merencanakan karya keselamatan-Nya, yaitu inkarnasi Kristus di Betlehem, ribuan tahun sebelum Kaisar Agustus lahir dan memerintah.

Dengan demikian, Kaisar Agustus dalam berita Alkitab sebenarnya hanya dipandang sebagai alat di tangan Allah. Penentu jalannya sejarah adalah Allah. Perintah Kaisar Agustus untuk mendaftarkan semua penduduk di wilayah kerajaan Romawi pada hakikatnya terjadi di bawah kendali otoritas kehendak dan rencana Allah, sehingga perintah Kaisar Agustus tersebut mendorong Maria untuk pergi meninggalkan kota Nazaret ke Betlehem. Ini berarti, yang menjadi penguasa kehidupan umat manusia bukanlah pemerintah atau penguasa, tetapi Allah.

Sekilas pemerintah atau penguasa dunia ini mampu mengatur dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan kita. Padahal keputusan-keputusan atau kebijaksanaan mereka dalam konteks tertentu diatur oleh Allah untuk menyatakan karya keselamatan-Nya dalam kehidupan kita. Namun sayangnya, manusia seringkali menjadikan orang-orang yang berkuasa sebagai tempat untuk bersandar dan sumber berkat.

Pada zamannya, Kaisar Agustus mengklaim dirinya sebagai “kurios” (penguasa atau tuan) bagi seluruh penduduknya. Sebaliknya banyak penduduk yang mendewa-dewakan atau memuja-muja kebesaran Kaisar Agustus, sehingga mereka akan merasa bahagia dan sukacita jikalau memiliki hubungan yang dekat dengan para penguasa. Mereka merasa diri lebih aman, tenteram dan terjamin keselamatannya karena merasa dilindungi atau dijaga oleh para penguasa.

Pola berpikir seperti inilah yang kelak menghasilkan sikap kolusi. Sebab dalam kolusi, orang-orang yang ingin dekat dan memperoleh keuntungan dari pemerintah bersedia untuk membayar uang pelicin atau uang haram. Sebagai gantinya, pemerintah atau penguasa yang merasa diuntungkan dapat menganggap mereka sebagai “orang-orang terdekat dan terpercaya”. Itu sebabnya sikap kolusi dapat berkembang menjadi sikap nepotisme. Lingkaran sikap kolusi dan nepotisme selalu berujung kepada tindakan yang korup. Fenomena inilah yang terjadi di negeri ini, di mana akhir-akhir ini terekspos dalam media massa tentang “sinetron Cecak dan Buaya”.

Sebenarnya sudah kita sadari bahwa di antara mereka semua tidak ada seorang pun yang benar. Semuanya terlibat dalam “lingkaran setan” korupsi, suap dan perilaku politis. Jadi tidak perlu para pelaku mengangkat sumpah atas nama Allah.
Sebaliknya berita Natal tidaklah demikian. Berita Natal justru memproklamirkan bahwa Allah adalah Tuhan yang menjadi pelindung dan Juru Selamat sejati umat manusia, khususnya mereka yang lemah dan tertindas. Karena itu peristiwa Natal mengontraskan dua penguasa, yaitu Kaisar Agustus dengan Yesus Kristus! Keduanya sama-sama berkedudukan sebagai “raja”, tetapi kelak terbukti bahwa hanya Kristuslah sang Raja Kehidupan yang mampu mengaruniakan keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan yang sejati. Penguasa dunia sering memerankan diri sebagai tiran dan memberi kebahagiaan yang semu, sehingga tidak mengherankan jikalau Mazmur 97:1 mengungkapkan pujian kepada Allah yang adalah Raja: “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!” Yang dipuji oleh bumi dan banyak pulau bukanlah para raja dan penguasa dunia, tetapi Allah yang adalah Raja Kehidupan.

Yang Berkenan Kepada Allah

Sebagai Raja Kehidupan, Allah memiliki hak dan kedaulatan penuh atas hidup manusia. Pada sisi lain, kedaulatan Allah sebagai Raja senantiasa dilandasi oleh rahmat-Nya yang bebas. Itu sebabnya dalam peristiwa Natal, rahmat Allah justru dinyatakan kepada orang yang berkenan kepada-Nya yaitu para gembala di padang Efrata. Para gembala yang diperkenankan Allah untuk mendengar nyanyian para malaikat memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:11).

Sukacita dan damai-sejahtera Allah yang dinyatakan dalam nyanyian para malaikat justru ditujukan kepada orang “yang berkenan kepada Allah”. Ungkapan kata “yang berkenan” (eudakia) dalam Injil Lukas juga dipakai dalam peristiwa baptisan Kristus di sungai Yordan (Luk. 3:22). Makna ungkapan “eudakia” berarti: “good-will” (kehendak mulia), “good-pleasure” (kesukaan), “favor” (kemurahan), “feeling of complacency of God” (perasaan puas akan Allah), “satisfaction” (kepuasan), “happiness” (kebahagiaan), “delight of men” (kegembiraan). Dengan demikian berita sukacita dan damai-sejahtera Natal pada hakikatnya ditujukan kepada setiap orang yang memiliki kehendak yang mulia, yang hidup dalam kemurahan hati, yang puas dengan pemeliharaan Allah dan bahagia dalam menyambut berkat Allah. Jadi makna “orang-orang yang berdaya secara ekonomis atau hukum”. Padahal belum tentu setiap orang yang miskin, orang-orang terasing dan tidak berdaya secara ekonomis atau hukum berstatus “berkenan kepada Allah”.

Kita dapat menjumpai kenyataan yang memrihatinkan, di mana atas nama “kemiskinan” atau “ketidakadilan” beberapa orang merasa berhak untuk merampok dan menjarah harta milik orang lain. Berita Natal tidak pernah membenarkan teologia “Robin Hood”. Tepatnya orang-orang yang berkenan kepada Allah menunjuk kepada setiap orang yang hidup benar berdasarkan sistem Kerajaan Allah. Sehingga spiritualitas orang yang berkenan kepada Allah adalah setiap orang yang sungguh-sungguh bersandar kepada Allah, hidup sederhana, bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan berbahagia atas rahmat-Nya. Makna “orang yang berkenan kepada Allah” lebih menunjuk kepada kualitas iman dan spiritualitas kasih dari umat percaya.

Dengan demikian berita keselamatan Natal yang membawa sukacita ditujukan kepada setiap orang yang berkenan kepada Allah merupakan berita yang aktual dan kaya spiritualitas. Berita dan nyanyian para malaikat kepada para gembala, yaitu: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:11) merupakan berita yang menyapa di relung kedalaman setiap umat yang beriman.

Berita keselamatan Natal senantiasa melampaui batas-batas, seperti: ekonomi, suku, etnis, bahasa, pandangan hidup dan agama. Peristiwa Natal tidak pernah bergerak secara eksklusif, tetapi selalu menyebar secara inklusif “di antara manusia yang berkenan kepada Allah”. Kalaupun berita keselamatan Natal pada sisi lain layak dianggap “eksklusif”, maka yang dimaksudkan “eksklusif” di sini karena keselamatan Allah ditujukan hanya kepada “orang-orang yang berkenan kepada-Nya”.

Berita keselamatan Natal tidak pernah ditujukan kepada orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai “kurios” (tuan dan penguasa) atas hidup orang lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kaisar Agustus. Sehingga sukacita dan damai-sejahtera Natal tidak mungkin diterima oleh setiap orang yang bersikap puas diri, sombong, saleh, takabur dan memandang rendah sesamanya.

Sukacita Untuk Kemuliaan Allah

Sikap para gembala yang telah memperoleh kabar gembira dari para malaikat disaksikan: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita. Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (Luk. 2:15-17). Para gembala di Efrata mampu bersukacita dengan apa yang telah mereka terima dan alami. Namun lebih daripada itu, mereka juga berkomitmen membagikan sukacita keselamatan untuk kemuliaan Allah.

Para gembala di Efrata sebenarnya telah menjadi para pemberita Injil pertama agar kemuliaan Allah yang telah mereka lihat juga dapat dialami oleh orang lain. Ini berarti sukacita dan damai-sejahtera Natal bukanlah sesuatu yang sifatnya pasif dan konsumtif. Seharusnya kita bersukacita karena kita dapat membagikan kepada orang lain sehingga mereka dapat berbahagia dan mengalami keselamatan Allah. Bahkan orang yang berkenan kepada Allah mampu menggunakan penderitaan dan tragedi hidupnya sebagai sumber inspirasi yang memberi kekuatan kepada orang lain.

Victor Frankl seorang psikolog Yahudi yang tinggal di Austria (26 Maret 1905 – 2 September 1997) dapat mengilhami kita bagaimana dia mampu bersukacita dan hidup yang bermakna untuk kemuliaan Allah. Pada tahun 1942 dia bersama keluarga dan orang-orang Yahudi lainnya diangkut dengan gerbong kereta api dari kota kelahirannya di Wina, Austria menuju di sebuah kota yang bernama Auschwitz. Mereka dijajar menjadi 2 kelompok kiri dan kanan. Ternyata mereka yang berada di kelompok sebelah kiri dimasukkan ke dalam kamar gas atau eksekusi tembak. Victor Frankl baru menyadari bahwa yang termasuk di kelompok sebelah kiri adalah ayah, ibu, isterinya yang sedang mengandung dan kakaknya laki-laki. Jumlah yang dieksekusi pada hari itu mencapai 1300 orang. Selama dalam tahanan Victor Frankl seringkali mengalami berbagai kekejaman, penghinaan, kelaparan dan kedinginan. Tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar.

Dari refleksi teologisnya Victor Frankl belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan, yaitu kebebasan untuk memilih atau kemauan akan arti kehidupan. Itu sebabnya dalam bukunya yang berjudul “Man’s Search for Meaning”, Victor Frankl mengemukakan pandangan psikologinya yang disebut “Logotherapy” sebab mengulas tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan makna hidup.

Menurut pengakuan Victor Frankl, sumber kekuatan rohaninya diperoleh saat dia menemukan sobekan kertas di jasad temannya. Sobekan kertas tersebut berisi Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Ayat Alkitab yang merupakan kredo umat Israel tersebut menginspirasi Victor Frankl bahwa makna kasih kepada Allah harus dihayati dengan penuh arti walau kehidupan ini sering sewenang-wenang dan dapat mencabut nyawanya. Victor Frankl mampu mengatasi (mentransendensikan) seluruh penderitaannya, sehingga dia mampu memberi respon yang memperkaya rohani dan pemikirannya. Dia tetap mampu bersukacita dan menemukan arti di tengah-tengah kekelaman dan kekejaman hidup.

Setelah dia bebas dari tahanan, Frankl kemudian berperan aktif memberi kekuatan, motivasi dan dorongan untuk menemukan arti hidup bagi banyak orang. Bukankah melalui kisah hidup dari Victor Frankl tersebut kita dapat belajar apa artinya sukacita untuk kemuliaan Allah?

Berita Natal juga mendorong dan memanggil kita untuk menemukan arti hidup yang telah dianugerahkan Allah melalui peristiwa inkarnasi Kristus. Tetapi juga berita Natal mendorong dan memanggil kita agar kita tetap menjadi berkat dan sumber inspirasi bagi orang lain di tengah-tengah kekelaman penderitaan yang kita alami. Jika kita telah menerima keselamatan Allah yang telah datang dan nyata di dalam Kristus, maka seharusnya sukacita dan damai-sejahtera kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang kita miliki.

Semua yang kita miliki suatu saat akan lenyap dan hilang. Tetapi tidak berarti sukacita dan damai-sejahtera Kristus harus ikut lenyap selama kita mau menjadikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas kehidupan kita. Di dalam kuasa iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk mengatasi (mentransendensikan) diri kita sehingga berbagai kesusahan, permasalahan, dan tekanan hidup tidak pernah berhasil melumpuhkan kita. Sebaliknya dalam ziarah iman di tengah-tengah ketandusan padang gurun dunia ini kita akan semakin dimampukan untuk menjadi berkat keselamatan dan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita.

Panggilan

Makna sukacita dan damai-sejahtera kita ditentukan oleh sejauh mana kita mampu memberi respon iman terhadap segala peristiwa hidup yang paling berat dan menyedihkan. Ketika kita mampu memberi respon iman yang tepat dengan berlandaskan kepada anugerah keselamatan Allah, maka tidak ada suatu penderitaan, kegagalan, kekejaman dan ketidakadilan hidup ini yang mampu merampas sukacita dan damai-sejahtera kita. Karena itu sebagai orang-orang yang telah memperoleh kemurahan kasih Allah, kita dipanggil untuk menjadi pemberita-pemberita keselamatan yang membawa sukacita dan damai-sejahtera Kristus.

Namun apakah kita bersedia meninggalkan sikap yang mencari rasa tidak aman (ego-insecurity) sehingga kita tidak lagi bersandar kepada kekuatan manusia, tetapi bersandar hanya kepada Allah di dalam Kristus? Sukacita Natal dianugerahkan kepada setiap orang yang hanya merasa aman dalam dekapan rahmat Allah. Mereka kemudian dimampukan Allah untuk menyuarakan suara kenabian, bersikap kritis dan membela kebenaran tanpa merasa tertekan dan takut oleh berbagai kuasa dunia. Jadi bagaimana dengan kehidupan Saudara saat merayakan dan memaknai peristiwa Natal tahun 2009 ini?

www.yohanesbm.com
Bookmark and Share

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi