Seragam Paduan Suara

Belum ada komentar 344 Views

Bapak Pendeta yang baik,

Bapak Pendeta, Akhir-akhir ini saya memer hatikan bahwa setiap paduan suara atau grup kolintang di gereja kita memiliki seragam yang dipakai dalam berbagai pelayanan. Ada yang setuju dengan pemakaian seragam tersebut karena indah dipandang, tetapi ada juga yang menilai bahwa pemakaian seragam kini terkesan mewah dan bahkan “jor-joran”.

Beberapa warga jemaat yang ingin bergabung juga tampak ragu-ragu karena harus merogok kocek untuk membuat seragam tersebut. Bagaimana pendapat Bapak mengenai hal ini? Bukankah ciptaan Tuhan tidak ada yang seragam, melainkan seperti pelangi yang justru indah karena berbagai warna? Mohon pencerahan Bapak agar kita memiliki pemahaman yang sama tentang “seragam” di lingkungan pelayanan gereja.

Terima kasih.
(Kirana)

Jawab:

Halo Kirana!

Unity dan Uniformity, adalah dua hal yang berbeda. Untuk bisa bersatu bukan berarti harus seragam. Fokus paduan suara atau grup kolintang yang paling utama adalah pada nyanyian/lagu yang dilayankan. Justru ketika kita berbicara sebuah nyanyian, maka kita menjumpai banyak hal yang berbeda (nada suara yang berbeda: sopran, alto, tenor, bas) namun me- nyatu dalam satu harmoni menjadi lagu yang indah.

Jadi soal ‘seragam’ paduan suara atau grup kolintang bagi saya bukanlah hal yang utama, yang penting ya nyanyian/lagunya. Bagi saya, seragam yang paling cocok untuk paduan suara gereja/grup kolintang adalah model jubah. Praktis dan bisa diturunkan jika anggota berganti. Kalau seragam yang sekarang kadang-kadang susah diturunkan pada anggota yang lain karena ukurannya sudah disesuaikan dengan tubuh masing-masing anggota.

Persoalannya, ‘seragam’ ini kadang- kadang adalah ‘sumbangan’ dari seseorang, sehingga untuk menga- presiasinya ya harus dipakai. Apa pun itu, ketika ada masukan tentang ‘seragam’, apalagi ketika ada yang ragu untuk bergabung karena soal ‘seragam’, mestinya menjadi evaluasi buat grup paduan suara/kolintang gereja.

Semoga mereka membaca Pastoralia ini ya?

 

>> Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Kerajaan Maut
    Tentang Baptisan Ulang
    Pak Pendeta yang baik, Bapak Pendeta yang baik, Mohon penjelasannya untuk beberapa hal yang masih membingungkan saya: Bukankah semua...
  • upacara gereja
    Pernikahan Beda Agama
    Pak Pendeta yang baik, Perkenankan saya bertanya: Apa dasar pertimbangan GKI Pondok Indah membuka diri untuk memberkati pernikahan pasangan...
  • Kerajaan Maut
    Berdamai Dengan Saudara
    Bapak Pendeta yang baik, Di Matius 5:23-24 tertulis: Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau...
  • Iman Tidak Bertumbuh?
    Pak Pendeta yang budiman, Abraham sebagai bapak beriman, sangat taat kepada Elohim. Dialog-dialognya dengan Allah begitu jelas, entah itu...
Kegiatan