Rancangan TUHAN Selalu Lebih Besar

Rancangan TUHAN Selalu Lebih Besar

Belum ada komentar 149 Views

Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya:”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” (Kisah Para Rasul 9:4-6)

Saya membaca di Buku Kisah-Kisah Rohani seperti ini:

Diculik oleh bajak laut sewaktu masih remaja, Patrick diambil dari rumahnya yang megah di Roma Inggris pada tahun 405 M., dibawa ke Irlandia, dijual kepada seorang petani, dan diberi tanggung jawab atas domba-domba orang itu. Patrick dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen. Bagaimanapun juga, imannya tidak menjadi nyata baginya sampai suatu hari, sewaktu sedang menggembala domba di perbukitan gundul Irlandia, ia bertemu dengan sang Gembala Agung dan menyerahkan hidupnya kepada-Nya.

Patrick akhirnya melarikan diri dari perbudakan dan kembali ke Inggris, di mana ia menjadi seorang pastor. Lalu dalam suatu mimpi, ia mendengar suara seorang Irlandia memohon kepadanya, “Anak suci, kami memintamu pulang dan berjalan di antara kami lagi.” Kembali ke negeri di mana ia menjadi hamba? Itu merupakan misi yang tidak mungkin, namun Patrick kini memandang dirinya sebagai seorang hamba Tuhan. Tuhan memberinya belas kasihan bagi orang Irlandia. Belakangan ia menulis, “Hati saya tergerak.”

Patrick kembali ke Irlandia untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang diperbudak takhayul dan penyembahan pada Druid. Ia membaptis ribuan orang, memuridkan orang-orang percaya baru, melatih pemimpin-pemimpin gereja, menahbiskan gembala-gembala jemaat, mendisiplinkan anggota-anggota gereja yang tidak menyesal dari dosa mereka, mengutus penginjil-penginjil, dan memulai beberapa gereja. Bagi beberapa orang, Patrick adalah seorang fanatik. Bagi orang-orang kepada siapa ia membawa pesan Kristus, ia adalah dan tetap merupakan Santo Patrick.

Hidup Kita Seperti Sebuah Bordir (Sulaman)

Ketika kita melihatnya dari sudut pandang kita, hidup ini sering begitu kacau, tetapi tidak demikian dari sudut pandang Tuhan. Hal itu menyatakan bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang berbeda bahkan yang lebih besar dari rancangan kita. Lihat saja pengalaman Patrick, siapa sangka pada akhirnya ia dipandang sebagai seorang Santo oleh umat Katolik. Ketika masih remaja, ia pernah diculik oleh bajak laut dan dijual kepada seorang petani. Di dalam Alkitab dan di dunia ini, sering kita jumpai kisah seorang anak Adam, yang semula menderita tetapi kemudian hidupnya mengalami peningkatan. Kita sering “tidak berani” memiliki rancangan atau cita-cita, namun Tuhan menyediakan suatu kehidupan yang luar biasa! Hal itu juga dialami oleh Saulus, yang hidupnya sangat memprihatinkan sebab memusuhi Tuhan Yesus, tapi akhirnya bisa berubah menjadi hamba Tuhan yang besar peranannya dalam Kerajaan Allah. Mengapa bisa begitu? Mengapa rancangan Tuhan selalu lebih besar dari rancangan kita?

PERTAMA, karena Tuhan lebih besar dari kita. Tuhan berkedudukan “di atas” dalam arti yang sesungguhnya, sehingga dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas dan luas.

KEDUA, pada dasarnya Tuhan menghendaki hidup kita ditandai dengan segala macam kebaikan-Nya. Tuhan tidak merancangkan keburukan, tapi kebaikan bagi kita. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

KETIGA, baik dalam proses maupun perwujudan rancangan-Nya itu, Tuhan berharap kita juga dapat merasakan persekutuan yang akrab dan indah dengan-Nya. Karena Dia Bapa dan kita anak-Nya.

Saulus Yang Paling Berdosa

Itu adalah pengakuannya sendiri di dalam l Timotius 1:15, “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” Sebelumnya, Saulus atau Paulus itu mengakui bahwa ia adalah seorang penghujat, seorang penganiaya dan seorang yang ganas, (l Timotius 1:13). Saulus, murid seorang Ahli Taurat yang terhormat bernama Gamaliel, begitu bersemangat untuk membunuh pengikut Tuhan di Damsyik. Ia berangkat bersama beberapa kawan. Pada siang hari, mereka mengendarai kuda mereka; sementara pada malam hari, mereka berkemah di bawah langit luas. Beberapa di antara mereka adalah tentara yang siap membantunya untuk membawa tawanan. Ia sendiri sudah membawa bekal penting berupa “surat perintah penangkapan”. Tapi kita membaca bahwa rancangan manusia yang satu ini telah dijungkirbalikkan oleh Tuhan yang Mahakuasa. Saulus yang mau menghancurkan Tubuh Kristus, yaitu Gereja Tuhan, bukan mendapatkan hukuman mati, melainkan beroleh kasih karunia Tuhan. Ia mau menangkap, tapi kini malah tertangkap, bahkan terjaring dalam kasih Kristus yang ajaib. Kemudian Kristus menumbuhkan semangatnya untuk melakukan perjalanan penginjilan ke tempat-tempat yang jauh. Di mana-mana ia membangun jemaat Tuhan.

THE CHURCH EXISTS BY MISSION, AS FIRE EXISTS BY BURNING.
(Emil Brunner)

Orang yang semula akan menghancurkan Tubuh Kristus, telah diubah menjadi orang yang dengan rendah hati mengasihi setiap anak Tuhan. Kita dapat membaca surat-surat yang ditulisnya, sangat indah dan membangun. Paulus yang selama ini hanya melakukan keinginannya sendiri, kini mendahulukan kepentingan Tuhan di atas segalanya. Pantaslah jika ia disebut sebagai hamba Tuhan, bahkan prajurit Tuhan.

LIFE IS FILLED WITH MEANING AS SOON AS JESUS CHRIST ENTERS INTO IT. (Stephen Neill)

Tuhan Kita Merancang
Sebuah legenda Ibrani menceritakan perjumpaan Abraham dengan seorang laki-laki tua di tendanya suatu sore. Abraham bergegas menyambutnya. Mempersilakan tamunya untuk beristirahat dan menyegarkan dirinya. Ia membasuh kaki orang tua itu lalu menyajikan makanan dan minuman. Yang mengherankan Abraham, orang tua itu dengan segera makan tanpa mengucapkan doa atau berkat. Abraham bertanya, “Tidakkah kau menyembah Tuhan?” Orang tua itu menjawab, “Aku hanya menyembah api. Aku tidak punya allah lain.” Dalam marahnya Abraham menyambar pundak orang tua itu, dan mengusirnya keluar dari tendanya ke udara malam yang dingin. Setelah orang tua itu berlalu, Tuhan memanggil sahabat-Nya, Abraham, dan bertanya di mana gerangan orang asing itu. Abraham menjawab, “Aku mengusirnya karena ia tidak menyembah-Mu.” Tuhan menjawab, “Aku telah bersabar dengannya selama delapan puluh tahun ini, meskipun ia tidak menghormati Aku dan bahkan menolak untuk mengakui Aku. Dan engkau tidak bisa menerimanya untuk satu malam saja?”

Cerita di atas mengingatkan kita bahwa Tuhan mempunyai rancangan khusus untuk setiap orang. Tuhan penyabar, juga dalam mencari kesempatan terbaik saat manusia mau membuka hati bagi-Nya, atau bagi pekerjaan-Nya untuk kita lakukan.

Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan