Puasa

Puasa

Sebuah refleksi penyangkalan diri dalam upaya mencari dan memahami kehendak Tuhan

Belum ada komentar 191 Views

Puasa adalah tindakan sukarela berpantang makan, minum, dan menahan nafsu. Istilah ‘puasa’ dalam bahasa Ibrani adalah tsum (berpuasa), tsom (puasa), dan ‘inna nafsyo‘ (menekan hawa nafsu) yang secara harfiah berarti merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan berpantang. Tujuan berpuasa pada umumnya adalah untuk memperoleh bimbingan atau belas kasihan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, puasa sering dilakukan dengan mengenakan kain kabung dan meletakkan abu di kepala, disertai doa dan penyesalan dosa.

Dalam perkembangannya, puasa diberi makna baru, yakni menahan diri dari kesenangan yang biasa dinikmati atau dilakukan (menyangkali diri) agar bisa lebih mendekatkan diri dan memfokuskan pikiran kepada Allah dan kehendak-Nya. Tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu adalah hal yang paling umum dipahami dan dilakukan sebagai praktik puasa. Pada waktu-waktu tertentu, puasa dihentikan untuk sementara manakala jangka waktunya telah terlampaui. Secara umum orang berpuasa selama 12 (dua belas) jam, dari pukul 6 pagi hingga pukul 6 sore. Namun demikian ada juga yang berpuasa selama 6 jam saja dari pagi hingga tengah hari. Bahkan ada beberapa orang yang hanya berpantang, tidak memakan daging, tidak menikmati makanan kesukaannya, dsb. Sungguh tidak ada masalah dengan hal-hal itu dan tidak patut dipersoalkan mana yang lebih baik, karena niat dan pemahaman itu jauh lebih berarti daripada sekadar cara dan perilakunya, meskipun kedua hal terakhir juga mempunyai tata serta norma tertentu yang membuat puasa itu bisa dianggap sah dan memenuhi kaidah dalam ibadahnya.

Di samping tidak makan dan tidak minum, banyak juga perilaku lain yang tidak dilakukan dalam berpuasa, misalnya tidak melakukan hubungan suami-istri, tidak bersuka ria, tidak menonton, tidak melakukan kegiatan rutin yang menjadi kesenangannya, dll.

Tidak ada ketentuan yang mewajibkan orang Kristen berpuasa. Puasa Paska biasa dilakukan menurut tradisi puasa yang dicontohkan oleh Musa dan Yesus yang selama 40 hari 40 malam tidak makan dan minum dalam ibadah sunyi, memisahkan diri dari keramaian, ketika mempersiapkan diri untuk menerima tugas yang harus diemban dari Allah dengan mencari, menemukan, mendengar, mengetahui dan memahami kehendak Allah yang memberi petunjuk, tuntunan dan pedoman pelaksanaannya.

Yesus tidak menetapkan waktu untuk berpuasa. Malahan sewaktu Dia ada di dunia, murid-murid-Nya tidak berpuasa. Ketika ada yang mempertanyakan hal itu dan membandingkannya dengan apa yang dilakukan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis, Yesus berkata:

“Selama mempelai itu (Yesus) bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang ketika mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” (Markus 2:19, 20).

Hakikat puasa kristiani pada dasarnya berakar dari ‘suasana perkabungan’, ratapan atau keprihatinan yang serius, sehingga harus mencari tangan dan wajah Tuhan dalam kerendahan hati. Dengan berfokus pada ketergantungan dan kebutuhan akan belas kasih Tuhan atas dirinya yang kotor dan tidak berdaya, si pelaku puasa secara sadar dan sukarela mencari kedekatan dengan Tuhannya lewat doa yang sungguh-sungguh sambil berpantang makan dan minum untuk sementara waktu.

Namun sayangnya, makna dan perilaku puasa makin mengalami degradasi menjadi sekadar tidak makan dan tidak minum dalam jangka waktu tertentu saja. Padahal jelas puasa bukan soal tidak makan dan tidak minum saja. Karena meskipun berpuasa, orang masih bisa berpikir jahat, mencederai perasaan orang lain, egois, menindas, memeras, memerdaya orang lain, mengumbar hawa nafsu, memanjakan diri karena puasa dengan mengurangi kegiatan dan memperbanyak istirahat, memperlihatkan kepada sekitarnya bahwa ia sedang berpuasa dengan menampilkan wajah muram, gerak-gerik letih, lesu, lemas dan lemah, meminta orang lain menghormatinya karena ia berpuasa, berpenampilan saleh tapi munafik, menuntut orang-orang di sekitarnya mengatur kondisi sedemikian rupa sehingga tidak memberatkan, memengaruhi dan mengganggu puasanya, pikirannya tertuju pada apa saja yang akan ia makan dan minum setelah masa puasanya berlalu hari itu, lepas kontrol saat makan dan minum dan memenuhi kebutuhannya yang lain ketika masa puasanya terlewati sehingga seolah-olah ingin mereguk dan memuaskan hasratnya karena telah bebas dari ‘belenggu’ puasanya.

Pendeknya perilaku dan penampilannya bertentangan dengan Firman Tuhan yang berkata:

”Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:16-18).

Yesus mengajarkan puasa keluhuran dan rendah hati. Bersifat pribadi, yang fokusnya berelasi dengan Bapa, tanpa pamer, menuntut penghormatan atau pengakuan. Ibadah dalam substansi rohani yang riil, dan bukan ritual hura-huraan yang semu, seperti kesia-siaan menggeser jam makan, rasa berkorban atau euforia kemenangan. Bukan bentuknya yang jasadi, tetapi isinya yang di dalam batin itulah yang diperkenan oleh Bapa, yang akan memberikan kemurahan-Nya.

Apabila ternyata tidak demikian perilaku kita dalam berpuasa, maka patut dipertanyakan apakah sudah benar cara kita melakukan niat dan ibadah itu? Kenapa perlu dan harus memperhatikan, mempertanyakan, mempertegas dan menyelidik yang demikian? Supaya tidak sia-sia upaya menahan diri serta kesadaran ibadah kita! Hanya karena pemahaman, cara dan perilaku yang salah, kita tidak beroleh apa-apa seperti yang kita niatkan, tapi hanya berbuahkan lapar, haus serta tidak produktif dalam karya dan kerja. Sungguh rugi apabila demikian halnya!

Tuhan sudah mengingatkan kita me-lalui Firman-Nya:

“Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang ber-kenan pada TUHAN?“ (Yesaya 58:3-5)

Oh, sungguh malang berpuasa secara salah dalam penghayatan, cara dan perilaku. Tidak dianggap sebagai ibadah. Tidak diperkenan Tuhan, dan bahkan dianggap sia-sia. Jadi untuk apa melakukannya? Apakah lebih baik tidak berpuasa dibandingkan berpuasa tapi sia-sia? Tentu saja tidak! Tidak ada ibadah yang sia-sia jika pemahaman kita benar dan sepadan dengan kehendak Tuhan. Puasa memang tidak ditujukan untuk meminta sesuatu atau merayu Tuhan. Sekali lagi puasa dilakukan untuk lebih mendekatkan diri dengan fokus pada kehendak Tuhan serta merendahkan diri di hadapan-Nya melalui penyangkalan diri terhadap kenikmatan serta kesenangan kita, yang dalam sehari-harinya tidak jarang mampu menggeser fokus dan kerinduan kita kepada Tuhan.

Puasa yang bagaimanakah yang dikehendaki serta dibenarkan oleh Tuhan? Melalui firman-Nya dalam Yesaya 58:6-7, Tuhan menunjukkan kepada kita semua pemahaman, cara serta perilaku puasa yang Tuhan kehendaki dan benarkan:

“Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”

Kita sering kali tidak melakukannya bukan karena kita tidak tahu. Sebenarnya kita lebih banyak ketakutan. Ketakutan akan kehilangan kesempatan, ketakutan akan kehilangan keuntungan, ketakutan akan kehilangan kekuasaan, ketakutan akan kehilangan pengaruh, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Ketakutan yang timbul dari pemikiran, penalaran dan logika kita sendiri. Bukan pemikiran, penalaran dan logika Tuhan.

Padahal apa yang dijanjikan dan dijamin oleh Tuhan apabila kita menjalankan puasa dan ibadah kita sejalan, sepikir dan seturut dengan kehendak Tuhan? Inilah janji dan jaminan itu (Yesaya 53:8-12).

“Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!

Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan ‘yang memperbaiki tembok yang tembus’, ‘yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni’.”

Nah, kalau ternyata seperti itu janji dan jaminan Tuhan, masih adakah hal yang perlu kita takutkan akan hilang atau merugikan kita, sehingga kita tidak merasa mampu menjalankan puasa dan ibadah kita seturut dengan kehendak-Nya?

Memang tidak mudah untuk menjalani tata, norma dan kaidah berpuasa. Namun demikian, apabila kita mau melakukannya dan memohon pertolongan Roh Kudus untuk menguatkan niat, tekad, motivasi serta tindakan kita, maka tidak ada yang mustahil. Semoga tulisan ini diperkenan Tuhan dan membawa ‘refreshment’ yang mencerahkan bagi semua pembacanya.

Sujarwo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan