Placebo effect

Placebo effect

Belum ada komentar 31 Views

Dari tangan seorang profesor, segelas air putih bisa menjadi obat. Dan sejatinya itu tergolong ”placebo effect”. Rasa percaya dalam diri seseorang akan menguatkan batin untuk memperoleh apa yang diri sendiri harapkan (expectant faith). Pasien mungkin meragukan dokter yang datang ke tempat praktiknya naik bajaj, dan kancing bajunya tak sama warnanya, kendati lulus dokternya suma cumlaude.

Efek kerohanian seperti itu yang banyak dimanfaatkan oleh para peyembuh non-medis. Di seberang keyakinan ilahi kita, kesembuhan di Lourdes, diduga salah satu yang memuat fenomena tak tertangkap indera seperti itu. Batas antara mana lapisan mukjizat, dan mana yang memang kuasa ragawi, sungguh tak mudah kita pilah.

Dukun memanfaatkan keris, kemenyan, batu akik, dan suasana magis, pada saat prosesi penyembuhan di hadapan pasiennya, itu yang diduga mengungkit keyakinan pasien untuk sembuh. Semakin magis suasana itu dibangun, semakin tebal keyakinan pasien terhadap sang dukun kalau ia sungguh bakal mampu menyembuhkan.

Buat nalar medis, kesembuhan yang seperti itu tak boleh gegabah dibilang jenis kesembuhan sejati. Seperti halnya kehadiran kasus dengan atau tanpa obat suatu penyakit akan menyembuh sendirinya (ada kelompok penyakit ”self limiting diseases”). Itu maka kita perlu memperhitungkan kehadiran faktor kebetulan dalam suatu kesembuhan.

Dalam proses kesembuhan suatu sakit penyakit, ketebalan rasa percaya bagian dari sikap positif, sama kuatnya dengan proses kesembuhan dengan doa. Bahwa berpikir positif berkorelasi dengan menebalnya kemampuan tubuh untuk menyembuh.

Sebaliknya pasien yang pesimistis, yang tidak yakin penyakitnya bakal sembuh, punya harapan sembuh yang lebih kecil, kendati seturut perhitungan medik sebetulnya masih mungkin disembuhkan. Ada korelasi positif antara kekuatan pikiran dengan proses fisiologis dan patologis yang berlangsung di dalam tubuh seorang pasien.

Tipisnya harapan sembuh suatu penyakit terminial pada pasien yang besar hati, misalnya, masih mungkin bisa mengulur umurnya (years survival rate) lebih panjang selama keyakinannya untuk sembuh masih terus bertumbuh. Tanpa menafikan peran Tuhan yang ikut bekerja, fakta kuasa ragawinya memang sudah berkata seperti itu.

Ada kekuatan ragawi yang bisa orang sendiri tumbuhkan dalam dirinya, bahkan untuk mampu melompati pagar yang sama sekali tak masuk nalar normal, pada detik-detik kritis kita sedang dikejar maling, misalnya.

Tubuh kita punya perangkat purba buat menyiapkan kondisi siap-siaga penuh, bagian dari mekanisme pertahanan diri (”adrenalin pump”) pada saat-saat diperlukan. Maka tak mudah untuk cepat-cepat bilang kalau suatu peristiwa ”aneh” seperti itu juga bermakna sebuah mukjizat, kalau ternyata itu hanya kuasa ragawi belaka.

Banyak fenomena dalam hidup yang bikin kita lekas percaya. Status lekas percaya tidaknya seseorang terhadap sesuatu hal, ditentukan oleh muatan pengetahuan, wawasan, dan kelas imannya. Satu hal tak boleh dilupakan, ditentukan pula oleh dominasi jenis kimiawi otaknya (neurotransmitter).

Ada orang yang tergolong ”non-skepticism”, yang lekas sekali percaya jangankan terhadap sebuah fenomena, bahkan terhadap ilmu yang nalar sekalipun, yang sebetulnya sudah bisa diterangkan dengan nalar keilmuan, dianggap sebagai yang di luar kuasa normal. Sebagai sesuatu yang paranormal, supranatural, gaib, atau mistis.

Di mata orang yang skeptis, apa pun peristiwa di depan kehidupannya menuntut suatu pembuktian, kecuali rasa keilahiannya. Begitu juga manakala menghadapi imingan obat non-medis seperti banyak ditawarkan sekarang ini.

Dengan diiming-imingi setumpuk pengakuan (testimonial) akan kemampuannya menyembuhkan, bisa menambah tebal rasa percaya pihak awam. Namun tidak demikian di penglihatan pihak medik. Sekali lagi, bahwa suatu zat berkhasiat (apa pun merknya), belum tentu berkhasiat kalau jumlah pasien yang mengaku sembuh (testimoni) tidak lebih banyak dari yang batal sembuh.

Dalam dunia medik, suatu zat berkhasiat baru digolongkan sebagai obat apabila sudah menempuh rentetan protokoler. Betulkah berkhasiat? Kalau memang berkhasiat, bisakah menyembuhkan? Kalau bisa menyembuhkan berapa dosisnya, apa efek sampingnya, dan amankah dikonsumsi manusia setelah dicoba pada hewan? Jadi setelah zat berkhasiat teruji penuh begitu, tidak ada celah masuknya faktor kebetulan, atau lainnya yang ikut bekerja.

Artinya sebuah zat berkhasiat baru lulus sebagai obat apabila, misalkan, dari 100 pasien dengan diagnosis yang sama diberi zat berkhasiat yang sama, menghasilkan kesembuhan yang sama. Itu berarti signifikansinya nyaris seratus persen.

Tidak demikian galibnya kebanyakan obat non-medis. Apa pun terapi atau penyembuhannya (healing), belum tentu menyembuhkan semua pasiennya. Dan biasanya hanya mereka yang sembuh saja yang bertestimoni. Yang tidak sembuh cenderung berdiam tutup mulut dan kendati jumlahnya lebih banyak, biasanya tak tercatat.

Mereka yang mengaku sembuh inilah yang karena keterbatasan kompetensi mediknya kemudian menjadi propaganda dari mulut ke mulut, seolah-olah sudah benar zat berkhasiat yang diakui menyembuhkannya itu sebagai obat. Padahal bisa jadi ada faktor lain yang bukan diperankan oleh zat berkhasiatnya. Jadi secara statistik medik sebetulnya belumlah sahih sebagai obat. Boleh jadi kesembuhan di sini tergolong ”placebo effect”.

Tidak sulit membuktikan suatu kasus tergolong ”placebo effect”. Jauh lebih pelik membuktikan yang serba transendens, yang keilahian. Seperti misal, apakah keimanan seseorang masih tetap naik kelas sekiranya terus digoyang oleh sodokan ”Injil Barnabas”, ”The Davinci Code”, atau ”Gospel of Judas” yang di benak orang yang tergolong skeptis dan imannya terus naik kelas, itu mungkin sesuatu yang apokrifal belaka.

Apakah selama ini dalam potongan hidup Anda, pernah juga mengalami peristiwa yang sebetulnya hanya ”placebo effect”, yang seolah-olah saja itu? Karena sejujurnya banyak sekali dalam faset kehidupan kita di dunia, suka tak suka, kita harus menghadapi peristiwa yang serba seolah-olah.

Dr. Handrawan Nadesul

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Kesehatan
  • Jangan Terus Membohongi Pasien
    Baru-baru ini pihak Departemen Kesehatan mulai tergugah menertibkan peredaran iklan-iklan kesehatan yang merugikan masyarakat karena terbukti tidak benar, atau...
  • Menjadi Inem di Rumah Sendiri
    Satu yang keliru untuk menjadi sehat rata-rata orang sekarang, adalah kebanyakan duduk dan kurang gerak (sedentary lifestyle). Kodrat tubuh...
  • Perut Kita Bukan Apotek
    Sukar dibayangkan masyarakat kita begitu gampang memakai obat layaknya kacang goreng. Pergi ke toko obat tinggal bilang apa keluhannya,...
  • Jurus Mencegah Kanker
    Angka kejadian kanker di dunia terus meningkat. Separuh dari kasus telah meninggal dunia, dan diperkirakan penderita kanker akan berlipat...
  • Mitos-Mitos Medis yang Masih Hidup
    Bangsa kita terbiasa dikerubuti aneka mitos. Termasuk sejumlah mitos medis. Bukan hanya kalangan tidak berpendidikan, bahkan yang lulus universitas...
Kegiatan