Pesona Karakter

Pesona Karakter

1 Komentar 10 Views

Belum lama ini saya mendapatkan kiriman cerita yang inspiratif dari kawan bernama Johan Setiawan. Cerita ini dengan sangat tepat menggambarkan konsep pesona karakter yang memang sedang saya pikirkan beberapa hari terakhir ini. Seperti sejumlah cerita yang saya peroleh dari kawan-kawan yang lain, sumber awalnya tidak dapat dilacak secara tegas. Jadi, saya anggap sudah menjadi milik publik untuk dikutip dan dinikmati bersama dengan suntingan seperlunya.

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok wiraniaga dari kota yang sama menghadiri pertemuan wiraniaga di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka akan mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari Jumat. Namun, presentasi manajer penjualan menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang telah diperkirakan dan pertemuan berakhir lebih lambat daripada yang telah dijadwalkan.

Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas di tangan, mereka berlari menerobos pintu airport, tergesa-gesa, mengejar penerbangan untuk pulang. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari para wiraniaga ini tidak sengaja menendang sebuah meja yang digunakan untuk menjual apel. Dan apel-apel itu beterbangan ke segala penjuru.

Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang, mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat pada detik-dekik terakhir pesawat itu tinggal landas. Semua, kecuali satu. Dia bukan wiraniaga yang menabrak meja penjual apel itu. Tapi ia berhenti, menghela napas panjang, bergulat dengan perasaannya, lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis yang menjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan agar memberitahukan bahwa ia akan mengambil penerbangan yang berikutnya.

Kemudian, ia kembali ke pintu terminal di mana banyak sekali buah apel berceceran di lantai. Wiraniaga ini merasa lega ketika ia tiba di sana. Gadis penjaja buah apel yang berumur sekitar 16 tahun itu ternyata buta! Dan ia sedang menangis sesegukan. Air matanya mengalir di kedua pipinya. Ia sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun berhenti. Tak ada yang cukup peduli untuk membantunya.

Sang wiraniaga berlutut di lantai di samping si gadis, lalu mengumpulkan apel-apel tersebut. Ia menaruhnya kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya lagi di meja seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain. Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, “Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini. Apakah kau tidak apa-apa?” Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata. Pria itu melanjutkan dengan, “Saya harap kami tidak merusak harimu begitu parah.”

Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, “Tuan…” Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang sambil menatap kedua mata yang buta itu. Sang gadis bertanya pelan, “Apakah engkau Yesus?”

Ia terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara di dalam hatinya, “Apakah engkau Yesus?”

Karena perbuatannya yang baik, wiraniaga yang mencoba menunjukkan rasa tanggung jawab atas perbuatan kawan-kawannya tadi, mendapatkan persangkaan yang luar biasa dari seorang gadis buta. Pertanyaan “Apakah engkau Yesus?” dalam konteks Amerika Serikat, mungkinkah akan setara dengan pertanyaan “Apakah engkau sang Budha?” atau “Apakah engkau Konfusius?” dalam konteks RRC, Taiwan, atau Singapura. Atau mungkin untuk konteks negara seperti Malaysia dan Indonesia, pertanyaan itu menjadi, “Apakah engkau Nabi Muhammad saw?”. Secara umum pertanyaan itu bisa diubah menjadi, “Apakah engkau seorang yang sangat baik, penuh cinta kasih, dan mulia?”

Gadis buta yang menjajakan apel di pintu terminal bandara Chicago itu tentulah bukan orang terpelajar. Ia juga bukan orang kaya. Dan karena ia buta, ia tidak bisa tertipu oleh “pesona baju” seperti yang telah saya tulis di artikel sebelum ini. Ia menilai dan menduga-duga siapa yang dihadapinya dari suara yang didengar dan dari apa yang dilakukan orang lain untuk dirinya. Dengan kata lain, ia tidak bisa mengerti bahasa “pesona baju” yang mengutamakan penampilan lahiriah. Ia hanya mengerti bahasa “pesona karakter” yang mengutamakan perbuatan baik dari hati yang tulus ikhlas.

Sungguh, saya perlu mengakuinya. Mengaku bahwa saya tahu bahwa yang lebih baik dan benar itu adalah melakukan tebar pesona karakter. Namun yang acapkali saya lakukan hanyalah sekadar tebar pesona baju. Masih ada kesenjangan antara apa yang saya tahu dengan apa yang saya lakukan. Sudilah kiranya pembaca memaafkan dan sekaligus mendoakan agar saya kembali ke jalan yang benar.

Ngomong-ngomong, Anda sendiri bagaimana? Apakah Anda pernah disangka sebagai seorang malaikat karena perbuatan Anda yang luar biasa? Atau Anda juga perlu bertobat seperti saya?

Andrias Harefa

1 Comment

  1. Rumanti Budiastuti

    Saya jadi maluuuuu!!! soalnya sy sering repot n’ribet…….supaya ” dikira orang sperti orang baik n’ hebat “, ternyata sy bkn siapa2 dan bukan apa2. Thanks GOD!

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Edukasi
  • Komunikasi yang Efektif
    Komunikasi yang Efektif
    APAKAH KOMUNIKASI YANG EFEKTIF? Kolose 4:6 berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu...
  • #KAMITIDAKTAKUT
    #KAMITIDAKTAKUT
    Kamis siang, 14 Januari 2016, saya dikejutkan oleh Breaking News di salah satu stasiun televisi swasta. Lagi-lagi terjadi teror...
  • Komunikasi yang Efektif
  • Pengorbanan
    Sebuah refleksi memahami Yohanes 3:16
    Kisah Pak Juari dan Samsul Pak Juari adalah seorang penjaga pintu perlintasan kereta api. Pintu perlintasan yang dijaganya adalah...
  • Seiris Kehidupan
    Seiris Kehidupan
    Jean kembali menghela napas panjang. Sambil menyelipkan seikal rambut hitam di belakang telinganya, ia mengerutkan kening melihat tumpukan kartu...
Kegiatan