Persahabatan Dalam Pelayanan

Kebersamaan Pendeta dan Penatua GKI Klasis Jakarta Dua

Belum ada komentar 40 Views

Badan Pekerja Majelis GKI Klasis Jakarta Dua Bidang Persekutuan dan Pembinaan telah menyelenggarakan acara Kebersamaan Pendeta dan Penatua di lingkungan Klasis Jakarta Dua dengan tema ‘Persahabatan Dalam Pelayanan’ yang didasari ayat Yohanes 15:15, di Wisma Kinasih Caringin Bogor pada tanggal 22-23 Maret 2019.

Ibadah Pembukaan dipimpin oleh Pdt. Marfan F. Nikijuluw dengan tema ‘Persahabatan’. Diceritakan pergulatan lima jari dengan persoalan mereka masing-masing. Ibu jari punya tantangan terbesar dalam persaingan, ia ingin menjadi yang terbaik sehingga sering menampilkan kebanggaan diri dan prestasi yang kadang-kadang berlebihan dan mengganggu relasi dengan pihak lain. Jari telunjuk sibuk dengan persoalan harga diri. Kebutuhannya untuk memperoleh pengakuan, penerimaan, dan penghargaan sering dilakukan dengan merendahkan pihak lain serta menunjuk-nunjukkan kelemahan dan kehinaan mereka. Jari tengah memiliki masalah dengan kesombongan karena jabatan, profesi, pekerjaan dan predikat membanggakan lain yang disandangnya. Jari manis rentan terhadap kesetiaan pada pasangan, pada tugas dan tanggung jawab, pada pelayanan dan bentuk keterlibatan lainnya. Selama masih bisa mengelak dan menyodorkan pihak lain untuk mengerjakan tugasnya, ia akan melakukannya. Sedangkan jari kelingking terjebak pada kebiasaan suka menyepelekan. Ia kurang menghargai pihak yang tidak sepadan dengannya dan tidak bertanggung jawab pada hal-hal yang kecil, sehingga berpengaruh pada hasil kerja bersama yang besar.

Namun demikian, semua jari ini terikat pada pergelangan tangan yang menjadikan mereka semua sahabat. Dengan munculnya sahabat dan persahabatan, maka persaingan berubah menjadi saling mengisi, persoalan harga diri menjadi saling menasihati, kesombongan berubah menjadi saling membanggakan, ketidaksetiaan beralih menjadi saling mengasihi, dan sikap suka menyepelekan bermetamorfosis menjadi saling merendahkan hati. Demikianlah hendaknya kita bersama yang datang dari berbagai macam latar belakang suku, pendidikan, pengalaman, profesi, dan kemampuan, diikat dalam Kristus menjadi sahabat, bahkan saudara, sehingga dalam pelayanan bersama masing-masing tidak asyik bergumul dengan tantangan pribadinya, melainkan mengubahnya menjadi hal-hal positif demi kepentingan bersama dan melepaskan diri dari belenggu ego.

Menyitir Amsal 17:17: Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesusahan, maka dijelaskan mengapa kita membutuhkan seorang sahabat. Sahabat senantiasa dibutuhkan karena kita adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama kita. Kita juga saling membutuhkan sebab kita tidak sempurna dan tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan kita secara mandiri. Bahwa kita senantiasa butuh berbagi, adalah alasan lain kita membutuhkan seorang sahabat. Itulah indahnya persahabatan.

Pilihlah sahabat yang mampu memahami mental KTP bukan yang bermental ATM, sebab di dalam persahabatan senantiasa dibutuhkan KTP: Kasih, Take & give, serta Penerimaan. Akan mustahillah membentuk persahabatan jika mentalnya adalah ATM: Aku yang terpenting, Tak peduli, serta Mau menang sendiri. Pembacaan Yohanes 15:13 menutup renungan ini sambil mengingatkan dan meyakinkan kita tentang pentingnya sebuah persahabatan: Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Pendeta Erick yang mengisi sesi pertama dengan tema ‘Aku Berharga’ mendasarkan pemaparannya dari Yesaya 43:4 – Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau… Ia menjelaskan bahwa ada 3 nilai utama dalam hidup kita, yakni: Personal Value, nilai diri yang berkaitan dengan karakter. Sehebat apapun prestasi dan pencapaian seseorang, apabila karakter yang menyertainya buruk, maka nilai dirinya juga buruk. Performance Value, nilai diri yang berkaitan dengan kemampuan kerja untuk mencapai hasil yang optimal. Hasil dan etos kerja menjadi ukurannya. Collegial Value, nilai diri yang berkaitan dengan kemampuan membentuk, menjaga, dan mengembangkan relasi. Relasi adalah unsur tambahan penentu sukses selain attitude, skill, dan knowledge dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain. Tanpa relasi, kita tidak akan tahu apa yang dikehendaki rekan-rekan kerja kita dan mereka juga tidak tahu apa yang bisa kita lakukan dan sumbangkan dalam kerja sama itu, sehingga tidak bisa memanfaatkan kelebihan masing-masing.

Syarat-syarat membentuk relasi dalam rangka mengembangkan Collegial Value dijelaskan seturut dengan Yohanes 13:34-35: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yakni supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu salng mengasihi.

Syarat yang dimaksud dalam membentuk relasi/networking tersebut adalah TREE, yang dapat diuraikan menjadi pemahaman berikut: Trust (Kepercayaan) – di antara relasi harus terjadi saling percaya. Membentuk kepercayaan di antara relasi bukan sekadar karakternya saja, melainkan juga performanya. Kita harus saling berupaya membangun kepercayaan agar mendapat kepercayaan, juga senantiasa membuktikan bahwa kita dapat dipercaya oleh relasi kita. Unsur yang berikutnya adalah Respect (Rasa Hormat), yang merupakan kemampuan untuk mau dan bisa menghargai orang lain. Kita makin menyadari bahwa semua anggota dalam kelompok telah bekerja keras mencurahkan daya, upaya dan segenap kemampuan mereka bagi keberhasilan tim. Dengan demikian seyogyanya kita tidak terlebih dulu melihat kekurangan atau kelemahan orang lain, tapi usahanya di dalam keterbatasan kemampuannya, sehingga kita bisa memakluminya, bahkan menghargainya. Empowering (Pemberdayaan) adalah syarat berikutnya. Dalam berelasi, kita juga wajib memberdayakan relasi kita agar bisa mencapai keseimbangan, apabila terjadi ketidakseimbangan sebelumnya. Memberi kesempatan untuk berkembang dan berhasil kepada relasi kita adalah pemberdayaan itu sendiri. Selanjutnya, Empathy adalah kemampuan memahami dan meletakkan diri dan perasaan kita pada diri dan perasaan relasi. “Bagaimana seandainya saya berada dalam posisinya,” adalah pertanyaan berulang-ulang yang harus diajukan bila kita ingin merespons atau memutuskan sesuatu sebagai jawaban atas pergumulannya. Inilah seni berkomunikasi, yakni bagaimana kita bisa memperbaiki/mengoreksi sebuah kelemahan atau kesalahan tanpa terkesan menegur, tapi dipahami sebagai upaya mengingatkan.

Sesi selanjutnya disampaikan oleh Pdt. Melani Ayub dengan judul ‘Dinamika Pelayanan’ yang didasari Efesus 2:19-20. ‘A sense of belonging is the feeling of being connected and accepted within one’s community’ (rasa memiliki adalah perasaan terhubung dan diterima di antara anggota komunitas). Kutipan itu merupakan dasar pembentukan kerja sama dalam pelayanan. Adapun proses dalam pembentukan itu adalah mengenal rekan sepelayanan dengan lebih dalam, membangun iklim hubungan yang sehat, dan bersikap suportif dalam berbagai kegiatan yang ada dalam pelayanan bersama itu.

Sebelum proses mengenal rekan sepelayanan terlebih dulu kita diajak untuk mengenal diri sendiri melalui pendalaman ‘Siapakah saya?’ Kita harus menyadari bahwa di antara rekan-rekan sepelayanan selalu ada berbagai sifat, perilaku, kebiasaan, kecenderungan dan pola pikir. Namun bila setiap orang mampu mengenal dirinya sendiri dan terbuka kepada rekan sepelayanannya sehingga mereka saling memahami, maka proses pembentukan relasi dan kerja sama dalam pelayanan dapat terwujud.

Hal-hal yang perlu diasah dalam proses pembentukan itu antara lain:

  1. Listening: memberi perhatian penuh pada rekan yang menyampaikan pendapat, ide, pemikiran dan pandangannya, sehingga mampu memahami dengan baik dan memberi respons yang sesuai.
  2. Supporting: mendorong rekan untuk berkontribusi dan berkreasi. Menyediakan diri untuk membantu dan mengingatkan akan memotivasinya untuk berkontribusi dan berkarya.
  3. Differing & Confronting skill: mampu menemukan ide yang berbeda namun tidak menekan orang lain. Kemampuan menjaga pelayanan dari dominasi seseorang atau mengurai kebuntuan dengan mencari alternatif lain.
  4. Acceptance: menerima kenyataan bahwa setiap rekan itu unik. Merupakan kedewasaan dalam merespons gagasan dan hasil kerja rekan sepelayanan yang berbeda dengan kita, bahkan berbeda dengan hampir semua rekan sepelayanan. Terkadang dari hal yang kita anggap aneh dan berbeda itu, muncul sebuah kebaikan jika kita mau memahami dan menerima keanehan tersebut terlebih dulu.
  5. Feedback: adalah sikap yang siap menerima masukan demi tercapainya hasil yang memuaskan.

Acara dilanjutkan dengan kebersamaan yang bebas, memberi waktu untuk bisa saling berkomunikasi dan berbagi pengalaman pelayanan di gereja masing-masing, sambil menikmati kudapan, menyanyi, berdansa, dan berbincang-bincang santai di malam yang dinginnya memberi kenyamanan.

Pdt. Boas P. Tarigan membuka renungan pagi dengan bacaan dari Yohanes 15:9-17 tentang Perintah Supaya Saling Mengasihi. Alkisah, ketika seorang pemilik peternakan membawa sesuatu dalam karung, tikus berpikir bahwa ia akan dapat menikmati makanan enak. Namun ketika bungkusan itu dibuka, terkejut dan takutlah tikus karena isinya jebakan tikus. Ia mendatangi ayam dan mengingatkan untuk berhati-hati karena si peternak membeli jebakan tikus. “Ah itu kan DL (derita lu),” tawa ayam. Tikus juga mendatangi dan mengingatkan babi, tapi babi menyahutinya dengan ketus: ”EGP (emang gue pikirin)?” Sedihlah hati tikus, karena ia merasa dicuekin oleh teman-temannya. Suatu hari terperangkaplah seekor ular di jebakan tikus itu. Ketika peternak hendak melihat jebakan, si ular sempat mematuknya sehingga peternak itu pun sakit. Karena tidak bisa ke pasar, maka dipotonglah ayam untuk lauk makan hari itu. Namun tak lama kemudian peternak itu meninggal dunia. Istrinya mengadakan selamatan dan mengundang kerabat, keluarga, dan tetangganya, lalu memotong babi sebagai hidangannya. Ketika kedua temannya sudah mati, tikus tetap hidup karena senantiasa berhati-hati.

Pesan moral cerita: jangan pernah mengatakan DL atau EGP kepada sahabatmu. Derita sahabatmu seharusnya juga menjadi deritamu sehingga bisa saling tolong menolong meringankan beban dan juga saling membantu dalam menghadapi bahaya. Mengatakan EGP mengekspresikan ketidakpedulian. Sahabat seharusnya saling memedulikan supaya apa yang dilakukan bersama makin ringan tapi memberikan hasil yang optimal. Demikianlah hendaknya kita saling menopang dalam pelayanan kita bersama. Saling mengasihi, saling peduli, dan saling memerhatikan. Karena dengan demikian kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah murid Kristus.

Acara puncak kebersamaan adalah outdoor activity, berupa permainan kelompok yang menyuguhkan 4 permainan asyik, lucu, dan berstrategi yang membutuhkan keterampilan, kekompakan, dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Bukan kemenangan yang menjadi tujuan utama, namun keterlibatan, kontribusi, kebersamaan, dan kegembiraanlah yang disasar.

Secara umum para peserta memberikan penilaian yang baik pada acara ini dan berharap bahwa kegiatan ini tetap diadakan pada tahun-tahun mendatang dengan melibatkan peserta yang lebih banyak lagi. Oleh karena itu, gereja-gereja di lingkungan Klasis Jakarta Dua dihimbau untuk berpartisipasi penuh dengan mengirimkan jumlah peserta sesuai kuota yang disediakan. Tuhan memberkati.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan