Pengabaian  Adalah Pelajaran yang Berharga Bagi Anak

Pengabaian Adalah Pelajaran yang Berharga Bagi Anak

Belum ada komentar 294 Views

Alkisah ada seorang anak, sebut saja si Kaka. Malaikat kecil yang lucu ini telah sering ditinggal oleh ibunya sejak ia lepas ASI (Air Susu Ibu), ketika usianya tidak lebih dari 6 bulan. Siang malam ia harus hidup bersama pengasuhnya. Mamanya, sebut saja Pipit, terlalu sibuk dengan jadwal yang sangat padat dalam meniti karier di dalam maupun di luar negeri.

Syukurlah Kaka tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian. Walaupun ia merindukan kehadiran adik untuk mengisi kesepiannya, ia tidak memaksakan kehendaknya. Dengan kesadaran seorang anak yang masih kecil, ia bermain dan belajar bersama pengasuhnya. Hanya dari kakek dan neneknya sajalah ia mendengar kehebatan orangtuanya. Selain itu, ia hanya bertemu kedua orangtuanya sebelum memejamkan mata pada malam hari.

Suatu pagi, tidak biasanya Kaka rewel. Ia tidak mau dimandikan oleh pengasuhnya. “Aku ingin dimandikan Mama!” serunya saat melihat Pipit tergesa-gesa seperti biasa. Hal yang sama diulanginya setiap hari. “Mandikan aku Mama!” Dan seperti biasa, Pipit mengabaikan permintaan itu.

Setelah satu minggu, tiba-tiba telepon Pipit berdering, “Bu, Kaka kejang dan demam. Sekarang ada di rumah sakit!” seru sang pengasuh. Pipit segera mengambil tasnya dan berlari menuju ke rumah sakit. Namun apa yang dilihatnya? Anaknya telah terbujur kaku. Dengan histeris Pipit membangunkan Kaka, “Ini Mama sayang, bangunlah! Mama akan memandikanmu!”

Kisah ini hendak mengingatkan kita bahwa pengabaian yang dilakukan oleh orangtua Kaka sungguh tragis. Mungkin bagi Kaka, si malaikat kecil, pengabaian Pipit untuk memandikan dirinya sudah tidak berarti lagi. Tapi bagi kita pembaca kisah ini, tidakkah membuat hati kita terenyuh?

Seorang ibu muda yang penuh semangat kerja dan cita-cita, mengabaikan permintaan kecil anaknya untuk dimandikan. Dan untuk pertama dan terakhir kali ia memandikan putranya ketika anak itu sudah berpulang.

HIDUP ADALAH KESEMPATAN

Kata “kairos” atau “waktu” mengingatkan kita bahwa hidup adalah kesempatan. Ada kesempatan untuk bekerja, ada kesempatan untuk berkarier, ada kesempatan untuk berkeluarga. Tidak semua orang menganggap bahwa berkeluarga adalah sebuah kesempatan. Bukan hanya sekadar hidup bersama di bawah satu atap, namun hidup bersama dengan rukun, seperti harapan, doa dan perintah Tuhan kepada pemazmur dan umat-Nya pada zaman Perjanjian Lama (Mazmur 133:1).

Kesempatan yang Tuhan berikan kepada suami, istri atau anak adalah kesempatan untuk menjalin relasi yang indah secara aktif dengan sesama anggota keluarganya. Khusus bagi orangtua, kesempatan yang diberikan Tuhan adalah kesempatan untuk mengajarkan, menunjukkan dan meneruskan ajaran Tuhan kepada generasi selanjutnya.

Kesempatan apa yang sering kali hilang dalam hidup berkeluarga?

Pertama, Kesempatan Melewatkan Waktu yang Berkualitas
Dalam kisah Kaka dan Mama Pipit di atas, hal yang hilang dalam keluarga mereka adalah kesempatan untuk melewatkan waktu yang berkualitas. Saya membayangkan proses memandikan seorang anak tidak lebih dari 10 menit. Tetapi dalam 10 menit, orangtua atau seorang ibu dapat membuat anaknya tertawa, bangga dan bahagia. Mereka dapat bercanda, dapat bertukar pikiran, bahkan dapat bertukar perasaan, selain bertukar informasi. Seperti dalam percakapan di bawah ini.

Anak : Mami, lucu sekali sabun ini bisa mengeluarkan bola-bola.
Mama : Itu namanya gelembung, De.
Anak : Lucu sekali gelembung ini. Bisa terbang dan pecah di atas.
Mama : Kamu juga bisa terbang…
Anak : O ya? Bagaimana caranya, Ma?
Mama : (sambil mengangkat anaknya, berteriak) Ade bisa terbang sekarang!
Anak : Asyik… ha ha ha.
Mama : Wah, senangnya bisa terbang saat mandi. Ayo kita beritahu Papa!
Anak : Bagaimana caranya?
Mama : Papa, aku tadi senang dapat terbang di kamar mandi seperti gelembung sabun!
Anak : Happy ya ya ya, happy ye ye ye aku senang jadi anak Tuhan
Siang jadi kenangan
Mama : Malam jadi impian
Mama dan Anak : Cintaku semakin mendalam.

Melalui percakapan di kamar mandi, kualitas apa yang kita peroleh? Selain informasi tentang gelembung sabun, anak juga belajar sebuah bahasa perasaan yang bernama “senang”. Senang adalah suasana hati yang tidak dapat diungkapkan, suatu pengalaman yang membuat seorang anak tertawa bahagia.

Kedua, Kesempatan untuk Meninggalkan Kesan Mendalam
Pelajaran yang berkesan bagi anak adalah pelajaran yang paling diingat olehnya. Misalnya saat seorang anak melihat orangtuanya selalu berdoa pada pagi hari. Meskipun kegiatan itu dilakukan orangtua secara rutin dan personal, tapi membawa kesan yang sangat dalam di hati anak.

Saya ingat pada ayah saya yang setiap hari duduk di ruang kerjanya dan berbicara hanya kepada Tuhan selama sekitar setengah sampai satu jam. Melalui pengalaman masa kecil seperti itu, saya tahu sampai hari ini bahwa ayah saya dekat dengan Tuhan dan mencintai-Nya. Kesan itu membuat saya juga ingin menirunya, memiliki relasi yang intim dan indah dengan Tuhan secara personal dan bukan hanya secara komunal saat saya berada di gereja atau komunitas.

Seorang pemudi juga berkata bahwa dia terkesan pada ayahnya yang selalu berdoa saat hendak memutuskan suatu masalah. Segera setelah ayahnya menceritakan masalah itu kepadanya, ia pergi ke kamar untuk berdoa. Selang beberapa waktu lamanya, si ayah bercerita bagaimana Tuhan menjawab doanya. “Tuhan kali ini menjawab melalui seorang sahabat yang mengirimkan renungan yang singkat dan sederhana. Ayah makin yakin bahwa Ayah sudah melakukan hal yang benar dan tidak perlu ragu-ragu lagi!” katanya menjelaskan dengan mantap.

Seorang wanita bercerita bahwa ia memiliki kesan mendalam tentang ibunya. Sekalipun angin kencang dan hujan, ibunya tetap datang ke gereja pada hari Minggu pagi untuk membawa bunga rangkaiannya dan meletakkannya di atas mimbar, sebelum mengikuti ibadah. Hal itu dilakukannya selama bertahun-tahun dengan setia dan sukacita. Di kemudian hari, wanita itu melanjutkan pelayanan ibunya.

Anak-anak kita membutuhkan kesan yang mendalam agar kesan itu tertanam kuat dalam ingatan mereka. Bahkan apa yang ditanam itu dapat tumbuh dan berbuah lebat. Orangtua yang melayani, secara tidak langsung juga mendidik anak-anaknya untuk melayani Tuhan. Orangtua yang senang memberi tumpangan, juga mengajarkan anak-anaknya untuk menyambut tamu dengan penuh keramahan. Apakah Saudara pernah melihat seorang tuan rumah yang ramah diiringi oleh anak-anaknya yang ramah juga? Itulah pembelajaran yang menimbulkan kesan mendalam. Anak-anak kita membutuhkan teladan itu sebanyak-banyaknya dari kita sebagai orangtua.

Anak-anak perlu belajar dari kedekatan relasi kita dengan pasangan kita dan dengan mereka sendiri. Mereka juga butuh pengalaman yang berkesan (impression) ketika menyaksikan betapa dekatnya orangtua mereka kepada Tuhan. Bahkan mereka juga rindu agar orangtua meneladani mereka dalam mencintai sesama dan lingkungan mereka tinggal.

Ketiga, Kesempatan untuk Membagi Waktu
Membagi waktu bukan hanya masalah melakukan berbagai kegiatan dalam satu waktu atau mengerjakan satu kegiatan pada waktu yang berbeda. Kesempatan untuk membagi waktu juga berbicara tentang skala prioritas kita sebagai orangtua terhadap kerja, keluarga dan kerabat. Bagi orang yang berorientasi pada kerja (task), sebagian besar waktu tentu dihabiskan untuk mengerjakan tugas tersebut hingga tuntas dan menghasilkan prestasi. Bisa jadi ia akan menghabiskan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun demi menyelesaikan proyeknya. Namun sebaliknya, orang yang berorientasi pada manusia (people) menghabiskan sebagian besar waktu untuk berbicara kepada siapa pun yang enak diajaknya berbincang-bincang.

Namun, orang pertama dan kedua juga perlu membagi waktu untuk anak-anak mereka. Mereka perlu bercakap-cakap, melakukan kegiatan fisik bersama-sama, atau menikmati kehadiran anak-anak mereka dengan penuh bangga dan bahagia.

Di waktu studi, saya diberi kesem-patan oleh Tuhan untuk menikmati perkembangan anak saya. Bahkan setiap ucapannya merupakan kalimat-kalimat yang menarik, lucu dan menakjubkan bagi saya. Salah satunya adalah percakapan di bawah ini.

Saya : De, apakah kamu ingat kapan Papi datang ke sini?
De : 21 Desember, Mami!
Saya : Wah hebat sekali kamu dapat mengingat tanggal itu!
De : Iya dong, aku kan memang senang mengingat waktu, tanggal dan uang!

Jawaban terakhir bagi saya termasuk jawaban yang penting. Pada usia 8 tahun, anak saya sudah menaruh perhatian pada uang. Itu berarti bahwa saya harus siap mengajarkan transaksi kepadanya, bagaimana menabung dan pentingnya berbagi, bahkan memberi persembahan dan perpuluhan. Betapa takjubnya saya atas kesempatan ini, yang tentu tidak akan saya lewatkan begitu saja. Teachable moment yang sangat pas! Saya juga bersyukur bahwa percakapan seperti itu kami lakukan di tempat yang sangat personal, saat kami melakukan kegiatan fisik bersama.

Saya berpikir, sering kali Tuhan menyediakan waktu berkualitas di dalam kegiatan-kegiatan rutin yang tampaknya sangat sederhana dan tidak penting bagi kita orang dewasa yang penuh dengan kegiatan dan kesibukan ini. Seperti menemukan permata di dalam tumpukan pasir, masa keemasan bagi anak-anak itu juga dapat kita nikmati sebagai orangtua.

Pertanyaannya, apakah kita menyediakan waktu untuk melakukan hobi bersama, untuk membaca dan merenungkan Alkitab bersama, atau untuk mengajarkan sebuah keahlian kepada mereka? Jikalau kita sebagai orangtua dapat memberikan 10% saja waktu kita bagi anak-anak kita, berarti kita juga belajar mempersembahkan waktu kita kepada Tuhan. Sebab anak-anak kita adalah milik Tuhan, pemberian Tuhan dan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita.

Waktu Hidup Kita
Untuk Diri Kita Pribadi
22 Jam

Waktu Hidup Kita
Bersama Anak
2 Jam

Teachable Moment Teachable Moment

 

PENGABAIAN ADALAH KESEMPATAN
Jikalau konsep kesempatan di atas bermakna positif, pada bagian ini konsep kesempatan yang saya maksud justru bermakna negatif. Dalam dunia pendidikan, ada tiga tipe kurikulum pendidikan.

Pertama, Tipe Eksplisit
Tipe ini ada dalam rencana dan program, dan muncul melalui berbagai kegiatan yang direncanakan. Jika kita juga memiliki rencana kegiatan dan pembelajaran bagi anak-anak, sekalipun tidak tertulis di dalam rumah, kurikulum ini berguna sekali bagi mereka. Misalnya, saat orangtua merencanakan agar anak-anak mengambil kursus tertentu atau masuk ke sekolah tertentu yang memiliki keunggulan yang diinginkan. Perencanaan itu kita sebut sebagai tipe eksplisit.

Apa saja yang dapat kita lakukan dalam pendidikan di rumah? Kita dapat merencanakan agar anak-anak pergi ke Sekolah Minggu setiap Minggu. Kita merencanakan agar anak-anak berdoa sebelum makan, sebelum tidur dan sesudah bangun pagi. Kita dapat juga merencanakan agar anak-anak kita mengikuti persekutuan wilayah yang kita ikuti setiap bulan. Namun ini bukanlah satu-satunya pendidikan yang kita berikan bagi anak kita.

Kedua, Tipe Implisit (tersembunyi)
Tipe ini adalah perencanaan pendidikan yang tidak dinyatakan atau diperlihatkan secara langsung dan terang-terangan. Misalnya saat kita mengatakan kepada anak-anak kita, “Jika Papa sedang tidur, jangan berisik!” Hal itu hendak mengajar anak-anak untuk menghargai orangtua mereka jika sedang beristirahat. Atau kita juga dapat menutup pintu kamar kita dan mengetuk pintu saat hendak masuk, jika pasangan kita berada di dalam kamar. Pembelajaran seperti itu disebut kurikulum tipe implisit. Melalui ketukan pintu dan tutup pintu, kita sebenarnya sedang mengajarkan privasi atau penghargaan terhadap kepemilikan pribadi.

Setiap kali saya pulang ke rumah, makanan yang baru saya beli saya letakkan di sebuah lemari yang berisi makanan camilan sehari-hari. Saya selalu memenuhi lemari itu dengan makanan karena saya tahu bahwa anak dan suami saya menyukai camilan. Melalui kesengajaan seperti ini, sebenarnya saya sedang mengajar anak saya untuk menunjukkan cinta melalui pemberian yang dibutuhkan oleh orang yang kita sayangi. Masalahnya, ada tipe kurikulum ketiga yang sering kali diabaikan oleh banyak orangtua.

Ketiga, Tipe Null
Null adalah tipe kurikulum di mana pengajarnya, atau kita sebagai orangtua, mengabaikan apa pun yang dapat membuat anak terkesan. Misalnya, saat kita bertengkar di depan anak-anak kita. Kita tidak berencana untuk melecehkan harga diri mereka, tetapi secara tidak sadar dan terencana kita sedang melakukannya. Contoh lain adalah ketika kita bekerja sampai jauh malam dan tidak bertemu dengan anak-anak kita, bahkan bekerja pada hari Minggu dengan mengabaikan waktu ke gereja dan melayani Tuhan. Sesungguhnya kita sedang mengajarkan anak-anak kita bahwa ibadah bukan merupakan hal terpenting di dalam hidup ini, dan bahwa pekerjaan itulah yang terpenting, bahkan jauh lebih penting daripada melewatkan waktu berkualitas bersama mereka.

Lebih menyakitkan lagi bagi anak-anak dan sangat berkesan di hati mereka, ialah ketika kita mengabaikan keinginan mereka untuk berbicara atau mencurahkan isi hati mereka. Hal itu membuat mereka belajar bahwa mendengarkan isi hati orang lain bukanlah hal yang penting dalam hidup ini, khususnya dalam hidup berkeluarga. Betapa menyedihkan jika pelajaran ini memberi kesan yang mendalam di hati anak-anak dan diteruskan pada generasi yang akan datang.

Dengan kata lain, kurikulum Null adalah apa saja yang tidak diajarkan, namun berkesan bagi anak. Namun demikian tidak semua yang kita lakukan atau tidak kita lakukan membawa kesan mendalam di hati anak-anak. Tetapi bukankah tidak ada salahnya jika kita mulai dengan menghitung berapa banyak hal yang kita ajarkan kepada anak-anak dan berapa banyak ajaran yang kita abaikan, khususnya saat kita mengabaikan mereka? Selamat mendidik, selamat memberi kesan mendalam kepada anak-anak. Selamat mengabaikan hal-hal yang tidak berkesan bagi mereka atau hal-hal yang justru berkesan bagi mereka karena kita telah berhasil mengabaikannya. Tuhan memberkati.

Pdt. Riani Josaphine

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan