Oleh-Oleh PD. Maria dari Makassar dan Toraja

Belum ada komentar 142 Views

Pada bulan Juni yang lalu beberapa ibu anggota GKI Pondok Indah telah mengikuti perjalanan Persekutuan Doa Maria ke Toraja melalui Makassar. Persekutuan ini telah berusia lebih dari 10 tahun. Anggota-anggotanya terdiri atas berbagai denominasi gereja dan hampir setiap tahun mengadakan kunjungan sosial, baik di dalam maupun luar kota.

Gagasan kunjungan ke Sulawesi Selatan (khususnya Toraja) timbul beberapa waktu yang lalu sebagai tanggapan atas usulan almarhum Ibu Mieke Tangyong. Mengingat sebagian anggota belum pernah ke Makassar dan sebagian besar belum pernah ke Toraja, maka persekutuan telah menghubungi Ibu Pendeta Anna Nenoharan, salah satu anggota pengurus PGI, untuk meminta saran dan sekaligus mendampingi rombongan. Sebagaimana diketahui, Ibu Pdt. Anna Nenoharan berasal dari daerah Sulawesi Tengah. Ia berdarah Bugis dan Poso dan sangat mengenal daerah tersebut.

Puji Tuhan, walaupun pelayanan beliau sangat padat, beliau bersedia mendampingi perjalanan ini (sebagai gambaran kesibukannya, beliau baru bergabung dengan rombongan di kota Makassar, sekembalinya ia dari Papua menyertai rombongan silahturami Departemen Agama yang terdiri dari rohaniwan berbagai agama).

Rombongan terdiri atas 8 orang dan berangkat pada hari Jumat 26 Juni 2009 dengan pesawat Garuda dan tiba di Makasar pada sore harinya. Rombongan menginap di hotel Pantai Gapura yang lokasinya terletak di tepi pantai sehingga ada pemandangan ke arah laut yang indah (sebagian kamar-kamar hotel/bungalow dibangun di atas laut). Tidak dapat dimungkiri bahwa salah satu kerinduan rombongan adalah menikmati berbagai seafood bakar yang sangat terkenal di Makassar.

Aktivitas pertama yang dilakukan rombongan pada hari Sabtu 27 Juni 2009 di Makassar ialah mengunjungi satu-satunya Panti Asuhan Kristen di kota tersebut, bernama “Murni”. Keberadaan panti tersebut sudah cukup lama dan sekarang berada di bawah pengampuan Sinode Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS).

Saat ini panti itu mengasuh 47 anak, mulai usia balita sampai SMU. Pada saat kunjungan, hadir pula Ketua Sinode GKSS, Ibu Pdt. Fien Sophamena, dan pengurus panti yang saat ini diketuai oleh Bapak Tumimowor. Salah satu upaya pengurus yang sangat fundamental ialah memberikan dasar iman Kristiani. Juga semua anak panti harus mendapat pendidikan umum.

Sebagian rombongan sempat meninjau keadaan panti itu yang walaupun bangunannya sudah cukup tua, tetapi terawat baik.

Dalam kunjungan tersebut, Ibu Pdt. Anna Nenoharan memberikan siraman rohani kepada anak-anak panti berdasarkan Yeremiah 29:11 (rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, untuk memberikan masa depan yang penuh harapan). Seusai persekutuan diserahkan sumbangan dalam bentuk berbagai natura, handuk dan alat-alat tulis.

Rombongan melihat bahwa anak-anak panti yang sudah sekolah mengenal Alkitab dengan baik. Mereka juga mengenal puji-pujian yang mereka nyanyikan dengan penuh sukacita. Satu prestasi yang cukup menggembirakan ialah bahwa ada di antara mereka yang meraih juara sekolah.

Aktivitas kedua yang dilakukan rombongan pada hari Minggu 28 Juni ialah menghadiri kebaktian perjamuan kudus di gereja GPDI Bethesda, di jalan Gunung Merapi.

Pada kebaktian tersebut rombongan mempersembahkan satu pujian berjudul Hatiku Percaya. Satu hal yang rombongan amati adalah keramah-tamahan jemaat GPDI yang saat ini dipimpin oleh Pdt. Feri Da Costa. Beliau adalah generasi ketiga keluarga Da Costa yang memimpin jemaat ini.

Jemaat memiliki pastori yang cukup besar untuk memberikan tumpangan bagi hamba-hamba Tuhan dari berbagai daerah Sulawesi Selatan. Selesai kebaktian, rombongan dijamu makan siang di Pastori.

Sekitar pukul 13.00 WIT, rombongan melanjutkan perjalanan ke Rantepao, Toraja dengan mengendarai bus ukuran sedang yang kondisinya cukup baik. Menurut penjelasan sopir, lamanya perjalanan bisa lebih dari 9 jam karena banyaknya perbaikan dan pembangunan di kedua jalur jalan.

Sampai dengan kota Pare-Pare, pemandangan sepanjang jalan hanya berupa sawah dan tambak ikan. Sekali-kali kelihatan pantai laut. Mendekati Pare-Pare barulah terlihat perubahan karena adanya bukit-bukit kapur yang cukup indah. Rombongan berhenti di kota Pare-Pare untuk istirahat dan makan sore. Sebagian Pare-Pare terletak di atas bukit sehingga ada pemandangan yang indah ke bawah dan terlihat laut.

Rombongan tiba di Hotel Marante, Rantepao sekitar pukul 23.00 WIT dalam keadaan cukup lelah namun sukacita.

Keesokan harinya, Senin 29 Juni 2009 rombongan bertemu dengan pengurus GPDI Bukit Sion Rantepao sebagai jemaat penerima rombongan. Gembala Sidang Jemaat adalah Bapak Pdt. Yunus Padang.

Setelah pertemuan tersebut, rombongan menuju ke rumah salah satu anggota rombongan yaitu Ibu Martha yang berasal dari Toraja. Rumah Ibu Martha terletak agak di pinggir kota. Di sanalah rombongan baru dapat melihat pemandangan indah berupa hamparan sawah dengan padi yang menghijau dan gunung-gunung di sekitar Rantepao. Di antara sawah-sawah terlihat rumah-rumah penduduk dengan arsitektur Toraja yang cantik.

Kebaktian sore hari diselenggarakan bersama dan khotbah disampaikan oleh Ibu Pdt. Anna Nenoharan dengan landasan Firman Tuhan Matius 8:23-27. Inti dari khotbah ialah agar jemaat tetap kuat dalam menghadapi berbagai tantangan, karena Tuhan Yesus telah mendahului perjalanan kehidupan dan berada bersama-sama dengan anak-anak Tuhan. Firman Tuhan ini didasarkan pada kenyataan bahwa daerah Toraja terjepit di antara wilayah selatan dan utara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Keesokan harinya, Selasa 30 Juni 2009 diselenggarakan sarasehan dengan hamba-hamba Tuhan. Aktivitas jemaat sepenuhnya diselenggarakan oleh rombongan. Sarasehan dipimpin oleh Ibu Pdt. Anna Nenoharan dan dihadiri oleh sekitar 100 orang (undangan yang dikirim sebanyak 50 undangan). Pokok-pokok presentasi ialah tentang talenta, karunia, kekudusan dan kuasa Illahi.

Sarasehan berlangsung dari pukul 9.00 sampai 13.00 dengan banyak tanggapan dari peserta, dan diakhiri dengan jamuan makan siang bersama.

Sore harinya diselenggarakan Kebaktian Kebangunan Rohani yang dihadiri oleh lebih dari 150 orang. KKR dipimpin oleh Ibu Pdt. Anna Nenoharan. Tema kebaktian ialah Jangan Biarkan Badai di Luar Menjadi Badai di Dalam. Inti khotbah KKR ini pada dasarnya menyambung kebaktian hari pertama dengan tekanan agar jemaat berani melangkah untuk melawan kuasa-kuasa kegelapan yang menyebabkan kemunduran karena terbuai oleh bentuk kemapanan (comfort) sehingga kurang peka (complacent) terhadap ancaman kehidupan spiritual mereka.

Ibu Pdt. Anna Nenoharan mengundang jemaat untuk menyerahkan segala pergumulan jemaat dengan prinsip iman yang tercantum dalam Matius 9:28. Di sana Tuhan Yesus berkata: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” dan orang-orang buta yang meminta kesembuhan menjawab: “Ya Tuhan aku percaya.” Kemudian Tuhan Yesus berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”

Pada akhir khotbah dilakukan altar calling yang direspon oleh banyak peserta KKR dan Pdt. Yunus Padang mendoakan mereka. Selesai ibadah, rombongan menyampaikan persembahan kepada sekitar 100 orang hamba Tuhan dan aktivis berupa penggantian uang transpor, sarung (karena hawa dingin) dan T-shirt. Kami mendapat informasi bahwa sebagian besar dari mereka datang dari desa-desa dengan mengeluarkan biaya transpor yang cukup mahal.

Pada malam itu para hamba Tuhan mendoakan Persekutuan Doa Maria. Acara selesai pukul 21.30. Keesokan harinya, Rabu 1 Juli 2009 selesai sarapan di hotel, rombongan bersiap-siap kembali ke Makassar.

Dalam perjalanan rombongan sempat mampir di KeTeKeSU, salah satu obyek wisata di Rantepao, di mana kami dapat menyaksikan bangunan rumah khas Toraja yang sudah berusia ratusan tahun. Sepanjang jalan, khususnya di daerah Enrekang, rombongan menyaksikan pemandangan yang sangat eksotis, yang tidak kalah dengan pemandangan di Swiss. Ada Gunung Lompobatang dan Gunung Nona.

Tiba di Makassar sudah malam. Besoknya, Kamis 2 Juli 2009, rombongan kembali ke Jakarta dengan pesawat Garuda. Perjalanan telah berakhir tetapi pujian Hatiku Percaya yang mengiringi sepanjang perjalanan tim, masih terus bergaung di dalam hati.

Perjalanan dan pelayanan ke Makassar dan Toraja ini dapat terlaksana karena berkat dan anugerah Tuhan Yesus serta bantuan dari beberapa pihak, antara lain GKI Pondok Indah melalui Panitia Bulan Peduli, saudara-saudara seiman baik dalam bentuk doa, dana maupun fasilitas lainnya, juga kerjasama dengan komunitas GPDI Bethesda di Makassar, GKSS Makassar dan GPDI Bukit Sion Rantepao, Toraja. Kure Sumanga (Terima kasih). Tuhan memberkati.

Sri Hidayat/Grace Tabalujan

Beberapa kunjungan yang pernah dilakukan PD. Maria:

2004 Kunjungan ke panti asuhan Pancaran Kasih, Tanjung Priok, Jakarta.

2005 Kunjungan ke Panti Jompo dan sekelompok masyarakat yang berkekurangan di Minahasa.

2006 Kunjungan dan persekutuan dengan jemaat pemulung di perkampungan Kardus, di belakang Stasiun Tanjung Priok (tepatnya di tepi rel kereta api).

2007 Kunjungan ke Lembaga Pelayanan Anak Cacat (tuna netra) Elsafan Ministry di Rawamangun.

2008 Kunjungan ke lokasi pengungsian mahasiswa STT Setia di Cibubur.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
  • 4do
    4DO 2017
    4DO (4 Days Out), yang biasa disebut sebagai Retret Remaja, merupakan salah satu program terfavorit Komisi Remaja GKI yang...
  • Arti Pengharapan Dalam Pelayanan Pastoralia
    Pembinaan Pendampingan Pelawat & Pelayat GKI PI
    Kegiatan Pembinaan Pendampingan Pelawat dan Pelayat GKI Pondok Indah diselenggarakan pada hari Sabtu, 1 April 2017, bertempat di kediaman...
  • melek politik
    Melek Politik
    Pesta demokrasi selalu menyedot perhatian seluruh warga negara Indonesia. Khususnya Pilkada DKI Jakarta tahun ini yang penuh dengan polemik...
Kegiatan