Natal yang Tergadai?

Natal yang Tergadai?

Belum ada komentar 91 Views

Mungkin judul di atas bisa Anda anggap provokatif. Apakah benar, Natal telah tergadai..? Menurut penulis bisa “ya” atau “tidak,” tergantung dari bagaimana kita memersepsikan dan menyikapi cara kita memeringati dan merayakan Natal selama ini.

“Ya”–benar apabila paradigma kita tentang Natal terhanyut arus dunia modern merayakannya dengan hanya menampilkan nuansa Festival Pesta Akhir Tahun dan Tahun Baru yang ditandai dengan simbol-simbol/ikon-ikon Natal seperti pohon cemara, lagu-lagu Natal, belanja, hadiah Natal, dan sebagainya. Dunia bisnis dengan cerdik terus berkreasi dan berlomba menciptakan suasana Natal sejak dini untuk menggenjot penjualan di masa-masa perayaan ini.

Natal telah menjadi peristiwa dan komoditas yang dirayakan dan dinikmati oleh hampir semua orang di belahan dunia, baik umat Kristiani maupun bukan. Hiasan-hiasan Natal di mal dan pusat perbelanjaan saling bersaing dengan dekorasi dan iringan lagu-lagu Natal yang menggema jauh sebelum Natal (ironisnya juga banyak gereja ikut-ikutan), Semuanya serba “ter”: terindah, termewah, tertinggi pohon Natalnya, dan sebagainya.

Pengelola mal saling berlomba mendatangkan paduan-paduan suara (termasuk dari gereja-gereja) untuk menyajikan Christmas Caroling. Tak ada yang salah sebenarnya di sini, karena demikianlah memang cara dunia yang dipengaruhi oleh budaya materialisme dan hedonisme mengubah peristiwa Natal dalam persepsi dan cara-cara komersial untuk memuaskan nafsu belanja, kenikmatan sentimental, dan romantisme Natal para konsumennya agar mencapai tujuan keuntungan komersial. Melalui berbagai media televisi, radio dan surat kabar, aneka iklan dan program Natal ditayangkan dengan menarik.

Masalahnya, banyak di antara kita sebagai orang Kristen yang memang hidup di tengah-tengah realita lingkungan hidup semacam itu, secara sadar atau tidak telah turut larut dan terbelenggu oleh persepsi lahiriah yang diciptakan oleh dewa-dewa konsumerisme itu. Masih banyak di antara kita yang merasa tidak merayakan Natal kalau tidak disertai dengan pohon Natal, pernak-pernik khas hiasan dan lagu-lagu Natal yang sudah menjadi tradisi menjelang akhir tahun.

Memang setiap orang berhak merayakan Natal dengan cara dan selera yang sesuai dengan tradisi pribadi di tengah-tengah keluarga sendiri. Namun sebagai umat Kristiani, terlebih lebih sebagai jemaat, seyogyanya kita tidak terbelenggu oleh persepsi lahiriah itu. Masih banyak di antara kita yang merasa tidak afdol bilamana di dalam ibadah dan perayaan Natal tidak menemukan pohon cemara Natal (baik pohon hidup atau artifisial) dan lagu-lagu Natal seperti “Malam Kudus.” Ada saja yang mengeluh dan protes karena merasa bahwa ada sesuatu yang hilang di dalam perayaan Natal di gereja. Fokus utama peringatan Natal telah bergeser kepada suasana dan hiasan-hiasan kasat mata saja dan bukan substansi makna Natal yang sebenarnya.

Lalu, apakah yang sebenarnya yang kita cari sebagai umat Kristiani di dalam merayakan Natal? Apakah kita telah menggadaikan Natal kepada selera lahiriah saja seperti cara dunia modern merayakannya? Sejauh manakah kita mencari “makna” sesungguhnya dari peristiwa Natal dan merefleksikannya kembali di dalam kehidupan kita? Apakah Natal memberi inspirasi baru dan menyegarkan pemahaman kita tentang anugerah Karya Kasih terbesar yang Allah berikan dengan kelahiran Yesus Kristus, justru ketika realita Natal dieksploitasi bagi kepentingan dunia komersial? Tidakkah kita terpanggil untuk memberi pengaruh kepada dunia ini dan bukan terpengaruh olehnya, untuk menyatakan “makna” dan tujuan sesungguhnya peristiwa Natal bagi manusia di dunia ini.

Natal yang pertama justru sangat kontradiktif dibandingkan dengan Natal yang kini kita rayakan. Suasana dan keadaannya sangat berbeda.

Natal pertama di Betlehem begitu sederhana di kandang hewan dan menunjukkan betapa luar biasanya tindakan konkret Kasih Allah kepada dunia ini. Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi “turun” dan “datang” menghampiri manusia dengan segala kerendahan. Natal adalah realita Allah Mahakuasa yang ber”inkarnasi”, mengosongkan diri-Nya (Kenosis-Fil 2:7) menjadi manusia biasa (bayi Yesus) yang tidak berdaya.

Natal adalah perwujudan realita Mesias yang lahir ke dunia untuk menanggung segala dosa manusia. Injil Yohanes mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” Apabila realita Natal sesungguhnya merupakan perwujudan nyata Kasih Allah yang tidak bersyarat kepada manusia untuk “memanusiakan manusia kembali (sebagai citra Allah),” lalu apakah benar dan etis bila kita memeringati dan merayakan Natal dengan cara-cara dan tradisi dunia, seperti misalnya merayakan Natal seolah-olah merayakan Ulang Tahun bayi Yesus saja, atau kita  berbangga hati karena merasa bahwa dunia (orang bukan Kristen) dan pusat-pusat perbelanjaan pun turut merayakan Natal lalu mengartikan bahwa mereka telah mengakui Yesus sebagai Juru Selamat dan menyetarakan hal itu sebagai sebuah pekabaran injil yang berhasil?

Barangkali tidak hanya secara kebetulan bila kita kini memeringati dan merayakan Natal di tengah-tengah konteks situasi krisis global yang berat sebagai akibat “tsunami ekonomi.” Saat ini dan beberapa tahun ke depan diperkirakan akan ada begitu banyak orang yang bergumul dengan kesulitan-kesulitan hidup akibat dampak krisis yang menimpa seluruh lapisan masyarakat, baik kaya maupun yang kurang beruntung: akan terjadi banyak PHK, wiraswasta-petani-nelayan yang kehilangan mata pencaharian, anak-anak dan pemuda yang  putus sekolah, timbulnya keresahan-keresahan sosial dan sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa keserakahan manusia dan budaya konsumerisme/hedonisme telah mengakibatkan penderitaan kepada banyak orang.

Sebagai umat Kristiani, dan khususnya sebagai gereja dan jemaat yang memiliki visi dan misi kepedulian pada pembaruan manusia dan lingkungan dalam rangka perwujudan Misi Kerajaan Allah, inilah peluang yang Tuhan berikan melalui Natal tahun ini dan selanjutnya untuk lebih mewujudkan “keprihatinan dan sekaligus pengharapan” untuk kembali merayakan Natal dalam substansi dan makna yang sebenarnya, dan bukan sekadar rutinitas tradisi yang terfokus kepada hal-hal yang tampak luar saja. Karena Natal terlalu mahal, tak ternilai dan tak layak digadaikan hanya untuk memuaskan selera dunia komersial manusia modern saat ini.

Marilah kita masing-masing mundur sejenak dari rutinitas kehidupan sehari-hari kita dan meluangkan waktu untuk merenungkan makna Kasih Allah yang begitu besar melalui peristiwa Natal ini. Rayakan dan nyatakanlah damai sejahtera Tuhan ke sekeliling kita, ungkapkanlah kepedulian kepada sesama kita. Semoga kita menyambut Natal dengan sederhana dan altruitis (mendahulukan kepentingan orang lain).

“Selamat Natal”

Henky C. Wijaya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan