Mitos-Mitos Medis yang Masih Hidup

Belum ada komentar 158 Views

Bangsa kita terbiasa dikerubuti aneka mitos. Termasuk sejumlah mitos medis. Bukan hanya kalangan tidak berpendidikan, bahkan yang lulus universitas pun masih termakan mitos medis. Lihat saja iklan televisi kita, selain berita burung ihwal apa saja, juga dikaitkan dengan mitos. Selain pembodohan, memercayai mitos tak jarang menyesatkan. Alih-alih mendatangkan kesembuhan, malah menjerumuskan. Pasien kanker yang memercayai penyebabnya kena santet, terlambat dibawa ke dokter, sehingga sudah telanjur stadium lanjut. Dan banyak lagi. Apa sajakah itu?

Pak Kur yakin betul kalau banyak makan gula menyebabkannya kena kencing manis. Seluruh keluarga dilarang mengonsumsi gula sama sekali. Beberapa anggota keluarga memercayainya. Tanpa disadari, Pak Kur dan istrinya menderita lemah otot. Tak bertenaga kalau jalan agak jauh, selain ototnya pun kurang bertenaga. Dugaan dokter, keluarga Pak Kur kekurangan asupan gula.

Betul gula dalam darah bukan hanya dari asupan gula dan sejenisnya belaka, melainkan dari karbohidrat atau zat pati yang berasal dari makanan pokok, yakni nasi, sagu, jagung, ubi, roti, atau mi. Karbohidrat diolah oleh dapur tubuh menjadi gula sederhana bernama glukosa.

Semua jenis sumber manis akhirnya diubah menjadi glukosa. Gula madu, gula buah, gula pasir, gula merah, akhirnya menjadi glukosa. Glukosa ini yang menjadi “bensin” mesin tubuh untuk beraktivitas, selain kerja organ-organ tubuh sendiri. Dalam tidur pun dibutuhkan glukosa. Masuk akal, kalau glukosa kekurangan pasokan bahan bakunya, tubuh tak ubahnya bagai mobil kekurangan “bensin”.

Gula yang dikonsumsi berlebihan memang tidak dianjurkan. Apalagi jenis gula tertentu. Dibandingkan gula merah, gula pasir tidak lebih menyehatkan, karena dalam proses mengubah air tebu menjadi kristal gula pasir, dimasukkan bahan kimiawi, selain itu air tebu sendiri kehilangan sejumlah zat gizi yang dikandungnya akibat pemrosesan tersebut. Namun gula tetap dibutuhkan.

Makin tinggi kebutuhan kalori pada tubuh yang aktivitas fisiknya di atas rata-rata, makin besar pula kebutuhan gula yang sebagian besar diperoleh dari menu pokok, yakni karbohidrat. Porsi karbohidrat dalam menu harian memasok dua per tiga jumlah total kalori. Kalau kebutuhan kalori orang kantoran sekitar 2.200, katakanlah begitu, maka sekitar 1.500 kalori diperoleh dari makanan pokok.

Lain pula keyakinan Bu Rus, wanita karier yang menaruh perhatian besar pada kesehatan keluarga. Ia menumbuhkan tradisi tidak makan daging sama sekali karena meyakini bahwa daginglah yang bikin darah tinggi.

Bukan saja keyakinannya itu gagal membendung darah tinggi dua orang putranya, sebagian besar anggota keluarga Bu Rus kekurangan vitamin B12 dan zat besi. Dua zat gizi yang terkandung dalam daging-dagingan.

Sejatinya bukan daging yang bikin darah tinggi melainkan garam dapur. Jadi yang harus dimusuhi semua keluarga, terlebih bila ada yang berbakat keturunan darah tinggi, adalah garam dapur dan bukan daging.

Mengonsumsi daging secukupnya dan tidak berlebihan, bukan saja dianjurkan melainkan diperlukan. Dalam daging terkandung sejumlah zat gizi penting, selain kandungan asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk memelihara sel dan organ tubuh. Makan daging berlebihan itu yang tidak diperkenankan. Sekali dua kali dalam seminggu mengonsumsi daging, masih dinilai layak. Begitu juga dengan telur.

Sejumlah orang beranggapan, agar sehat perlu “mencari keringat”. Anggapan itu tidak sepenuhnya betul. Karena buat mengejar aerobik yang bikin badan jadi sehat itu bukanlah keringat, melainkan degup jantung yang debarannya memadai sesuai dengan umur. Berkeringat saja tak cukup kalau jantungnya kurang cukup berdegupnya. Makan satai kambing pun orang bisa berkeringat. Namun itu bukan tergolong aerobik.

Zona aerobik tercapai apabila degup jantung mencapai frekuensi tertentu sesuai dengan umur. Cara menghitungnya dengan formula meraih 60%-80% dari (220 – umur) degup jantung. Zona minimal 60%-nya dan maksimal 80%-nya. Bagi yang berumur 60 tahun zona aerobik teraih bila degup jantungnya minimal sudah mencapai 60%-80% (220-60) atau di antara 96-128 degup.

Berkali-kali Bu Mus ribut ketika minyak goreng susah didapat dan harganya melonjak. Lupa kita punya minyak kelapa. Sejatinya minyak kelapa tidak lebih jahat dari minyak goreng. Sama-sama lemak jenuh, namun rantai minyak kelapa adalah rantai sedang (midchain), sedang minyak goreng dan minyak trans tergolong rantai panjang yang lebih jahat dari rantai sedang.

Artinya tak perlu fobia pada minyak kelapa, santan, dan semua yang terbuat dari kelapa, asalkan tidak berlebihan. Lemak tak jenuh yang menyehatkan, seperti minyak ikan omega-3 pun, kalau berlebihan menjadi tidak menyehatkan. Sedang kelebihan tabiat minyak kelapa, khususnya virgin oil (minyak kelapa yang diolah secara khusus) mengandung asam laurat (lauric acid) yang menyehatkan itu.

Keluarga Pak Som takut sekali makan kacang, udang, dan kepiting. Niscaya karena banyak kolesterol. Semua anggota keluarganya anti kalau ditawari makan seafood, nanti kena kolesterol. Di mana kelirunya anggapan keluarga ini?

Kacang tidak ada yang berkolesterol. Hanya yang berasal dari hewan yang mengandung kolesterol, sedang yang berasal dari tumbuhan tidak ada kolesterolnya. Yang ada lemak jenuh atau lemak tak jenuh. Lemak jenuh berbeda dengan kolesterol. Dua-duanya memang jahat bila dikonsumsi berlebihan. Namun berapa banyak layaknya kita makan udang, cumi, atau kepiting sehingga mendongkrak kolesterol darah menjadi tinggi.

Selama tidak berlebihan, misal tidak makan udang sampai sekilo, terutama pada yang berbakat kolesterol darahnya tinggi, tentu saja tak sampai menjadi tak menyehatkan. Normalnya, jika kita mengonsumsi udang, atau cumi yang ditakuti itu, tak lebih dari satu ons sekali santap, agaknya tidak berpengaruh amat. Satu butir telur mengandung sekitar 250 miligram kolesterol. Sebagai gambaran, tubuh membutuhkan sekitar 500 mg kolesterol setiap harinya. Kita tahu, tubuh sendiri memproduksi kolesterol.

Tak sedikit ibu hamil yang takut minum air es, karena yakin anak yang dikandungnya nanti bisa gemuk. Ada kasus ibu gedongan yang kaya raya, masuk rumah sakit karena HO (honger oedem), saking kelewat ketat pantang makan. Yang sama terjadi juga lantaran sangat patuh berpantang, sehingga tubuh kekurangan sejumlah zat gizi.

Yang benar itu sikap hidup yang seimbang. Kodrat tubuh kita sebagaimana tercermin dari gigi-geligi kita, bahwa manusia itu sejatinya pemakan segala. Dia juga harimau, kambing, sekaligus kera. Maka apa yang bumi sediakan di alam, itu semua sumber penyehat badan kita. Satu saja tubuh kekurangan zat gizi, maka mesin tubuh akan pincang berputar.

Seperti yang kebanyakan terjadi sekarang. Tampaknya saja sehat, namun kalau diperiksa, badannya kekurangan satu, atau bisa jadi lebih, zat gizi yang tubuh perlukan. Termasuk asam amino esensial, asam lemak esensial, selain vitamin dan mineral esensial yang tubuh tak bisa produksi sendiri, dan harus datang dari luar.

Itu pula penyebab kenapa sekarang makin banyak orang kelihatan lekas tua, lesu, letih, lemah, dan pucat, padahal duitnya banyak dan hartanya berlimpah, pasti tak kekurangan untuk mengisi meja makannya dengan menu paling lengkap sekalipun. Mitos menyesatkan itu gara-garanya.

Mitos jangan minum banyak, sama salahnya dengan mitos harus minum luar biasa banyak. Bagi tubuh yang masih normal, perlu kecukupan minum agar kerja ginjal tidak capek menyaring darah dan membuang ampas metabolisme tubuh. Hanya apabila ginjal sudah bermasalah, minum perlu dibatasi.

Sebaliknya minum sangat berlebihan, alih-alih menyehatkan, malah bikin tubuh keracunan air (water intoxication), yang membahayakan tubuh. Masih banyak lagi mitos yang bukannya menambah kita sehat, malah membawa sengsara. Mandi malam tidak bikin encok, tapi yang sudah encok bisa kambuh kalau mandi malam. Gula tidak bikin kencing manis, tapi bagi yang sudah kencing manis, sesendok gula saja sudah bikin kencing manisnya bertambah parah.

Klinik Kasut
Dr HANDRAWAN NADESUL

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Kesehatan
  • Jangan Terus Membohongi Pasien
    Baru-baru ini pihak Departemen Kesehatan mulai tergugah menertibkan peredaran iklan-iklan kesehatan yang merugikan masyarakat karena terbukti tidak benar, atau...
  • Menjadi Inem di Rumah Sendiri
    Satu yang keliru untuk menjadi sehat rata-rata orang sekarang, adalah kebanyakan duduk dan kurang gerak (sedentary lifestyle). Kodrat tubuh...
  • Perut Kita Bukan Apotek
    Sukar dibayangkan masyarakat kita begitu gampang memakai obat layaknya kacang goreng. Pergi ke toko obat tinggal bilang apa keluhannya,...
  • Jurus Mencegah Kanker
    Angka kejadian kanker di dunia terus meningkat. Separuh dari kasus telah meninggal dunia, dan diperkirakan penderita kanker akan berlipat...
  • Malapraktik dan Komunikasi DOKTER-PASIEN
    Malapraktik dan Komunikasi DOKTER-PASIEN
    Kasus pasien yang tidak puas terhadap dokter lebih disebabkan oleh tidak terbangunnya komunikasi dokter-pasien. Terjalinnya komunikasi ini menentukan kepuasan...
Kegiatan