Mengejar Kebahagiaan

Mengejar Kebahagiaan

Belum ada komentar 10 Views

Konon, Tuhan memanggil tiga malaikat. Sambil menunjukkan sesuatu Tuhan berpesan, “Ini namanya kebahagiaan, ini sangat bernilai, makanya dicari oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat agar manusia sendiri yang menemukannya. Jangan di tempat yang terlalu mudah, nanti disia-siakan, tetapi jangan di tempat terlalu susah nanti tidak ada yang bisa menemukannya. Yang penting letakkan di tempat yang bersih.”

Di mana harus disimpan?

Malaikat pertama mengusulkan di gunung, sedangkan malaikat kedua mengusulkan di dasar samudera. Malaikat ketiga tidak setuju dan membisikkan sesuatu kepada malaikat yang lain, dan mereka bertiga setuju.

Ke manakah manusia mencari kebahagiaan?

Berwisata ke gunung, ke pantai, ke mal? Atau, melalui pekerjaan? Menikah? Menjadi kaya? Semua usaha itu sia-sia. Semuanya tidak membuat manusia menemukan kebahagiaan yang mereka cari. Untuk mendapatkan jawabannya, mari kita simak cerita berikut ini:

Suatu hari, seorang pemuda duduk di tepian telaga. Ia tampak termenung, tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah dilewatinya, namun tak ada satu pun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai terdengar suara menyapanya. Ada orang lain di sana.
“Sedang apa kau di sini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya seorang kakek tua. “Apa yang kau risaukan?” Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilometer jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?”

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Dipandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu,” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Pelahan pemuda itu bangkit. Kemudian ia melangkahkan kaki menuju taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang beterbangan di sana. Sang Kakek melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah laku pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai begerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Pelahan, namun, Hap! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruannya. Namun lagi-lagi, Hap! Ia gagal lagi.

Ia mulai berlari tak beraturan, diterjangnya sana sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana, gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum satu kupu-kupu pun yang berhasil ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan, nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat.

Sampai akhirnya terdengar teriakan, “Hentikan dulu anak muda, istirahatlah.” Tampak sang kakek berjalan pelahan. Tetapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu beterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh yang renta itu.

“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kaurusak?” Sang kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu. Sebaliknya, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu di dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari ke mana-mana. Bahkan tanpa kau sadari, kebahagiaan itu sering datang sendiri.”

Kakek tua itu mengangkat tangannya. Hap! Tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Mencari kebahagiaan seperti layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita harus belajar. Kita harus belajar bahwa kebahagiaan tak bisa didapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan. Kebahagiaan adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma udara itu. Kita belajar bahwa kebahagiaan itu memang ada di hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu menjauh.

Coba temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah kebahagiaan itu, pelahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Kebahagiaan itu ada di mana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, kebahagiaan itu beterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Ternyata, kebahagiaan tadi disimpan di dalam hati manusia. Di dalam hati yang bersih.
Selamat meraih kebahagiaan!

Diambil dari buku “SETIAP LANGKAH ADALAH ANUGERAH”, Eddy Nugroho. (Gloria Graffa).

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
  • Jangan Menyerah
    Bacaan: Lukas 18:1-8
    “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari...
  • Kejujuran, Kesantunan & Etika MAKIN PUDAR
    Jujur, santun dan beretika adalah tiga kata yang sangat menentukan dalam peringkat kehidupan seseorang atau sebuah bangsa. Negara-negara tanpa...
Kegiatan