Melihat Tuhan dalam Injil Yohanes 20

Melihat Tuhan dalam Injil Yohanes 20

Belum ada komentar 37 Views

Kata “melihat” mendominasi kisah kebangkitan dalam Injil Yohanes. Diawali dengan narasi Maria Magdalena yang melihat batu kubur telah terbuka (ay. 1). Dari sana, cerita Injil Yohanes disusun. Hampir semua bicara tentang melihat. Pengecualian mungkin ada pada saat Maria dipanggil dengan panggilan akrabnya (ay. 16). Itupun didahului dengan Maria “… melihat Yesus berdiri di situ (ay. 14). Beberapa penafsir bahkan menyimpulkan bahwa dalam Injil Yohanes iman adalah melalui penglihatan. Ketika membaca narasi selanjutnya, kita kemudian menemukan sekurang-kurangnya ada empat model atau pola kepercayaan manusia terhadap Yesus yang bangkit. Pola kepercayaan itu berangkat dari “melihat.” Apa yang dilihat ternyata menentukan keyakinan mereka.

Model pertama adalah model orang yang percaya setelah melihat tanda kebangkitan. Kita menemukannya dalam Yohanes 20:8, “Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.” Murid yang lain adalahmurid yang dikasihiYesus. Tentang dia, tradisi menyebutnya sebagai Yohanes. Dikatakan ia melihatnya. Kata “nya” di sini adalah kata ganti untuk kain kafan yang menutupi tubuh Yesus. Ia tidak melihat Yesus. Ia hanya melihat tanda kebangkitan, namun ia percaya. Tentu saja percaya di sini sangat mungkin berarti percaya bahwa mayat Yesus dicuri, sebagaimana yang dikatakan Maria sebelumnya (ay. 2). Hal ini semakin dikuatkan dengan ayat 9 yang menyatakan mereka belum mengerti. Dari model pertama ini, kita bisa menyimpulkan orang menjadi percaya dengan melihat tanda kebangkitan.

Model ini kerap kali dapat kita saksikan pada kesaksian orang yang pergi ke Israel. Beberapa kali terungkap kekaguman orang-orang yang pergi ke Israel, dan betapa mereka merasakan pertumbuhan iman. Ada yang mengatakan mereka melihat kubur orang-orang di zaman Yesus, dan juga melihat bahwa batu penutup kubur saat itu besar dan berat. Dengan melihat itu, mereka dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa Yesus memang bangkit. Tidak mungkin manusia mampu menggulingkan batu sebesar itu.

Kelemahan model ini, kita harus pergi ke tempat-tempat yang menunjukkan kebesaran Tuhan. Misalnya tanah Israel. Sebab Yesus bangkit di tanah Israel. Waduh, masak sih harus jadi orang kaya baru bisa percaya kalau Yesus bangkit?

Model kedua terlihat pada Yohanes 20:20. Di sana tertulis: “Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. “Perhatikan, Alkitab mencatat “ketika mereka melihat Tuhan.” Mereka percaya pada Yesus setelah melihat Yesus yang bangkit, lengkap dengan tanda-tanda di tubuh Yesus. Kepercayaan di model ini adalah baru percaya setelah melihat Yesus.

Biasanya model ini kita dengar dari orang yang mendapatkan pengalaman rohani berjumpa dengan Yesus. Saulus adalah salah satu contoh. Melihat Yesus dalam perjalanan, yang kemudian membawanya pada pertobatan.

Di zaman sekarang, tak jarang pula kita mendengar kesaksian sejenis itu. Pernah ada kesaksian, seorang bapak dirawat di sebuah rumah sakit. Bapak itu menceritakan di pagi hari, merasa dikunjungi oleh seorang dokter yang sangat luar biasa baik, memberi kenyamanan yang tidak dapat disebutkan. Dokter itu berambut panjang dan brewokan. Ia ingin ketemu dokter itu lagi. Seluruh rumah sakit bingung, karena tidak ada dokter yang gondrong dan brewokan. Tiba-tiba, entah karena apa, seorang perawat membawakan foto Yesus. Demi melihat foto itu, dengan segera bapak itu mengatakan, itu dia dokter yang datang pagi tadi. Alhasil, si bapak itu bertobat dan minta dibaptiskan.

Kesaksian semacam ini memang baik. Tetapi, persoalannya, tidak semua orang punya pengalaman rohani semacam itu. Bahkan bermimpi Yesus pun belum tentu. Malah lebih banyak yang bermimpi yang dikejar-kejar setan, sampai-sampai ngompol ketakutan.

Model ketiga, terlihat melalui diri Tomas. Ayat 25 mengatakan: “Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Dan itulah yang terjadi. Yesus memperlihatkan diri kepada Tomas dan mempersilakan Tomas memegang bekas lukanya. Itulah “Ya Tuhanku dan Allahku” (ay. 27). Dalam model ini, manusia percaya, bukan sekadar karena melihat tetapi juga menyentuh. Karena kalau melihat saja bisa berarti mimpi, tetapi kalau menyentuh itu pasti.

Nah, kalau di bagian ini, bukti kebangkitan itu harus konkret, nyata. Harus bisa dibuktikan bukan saja dengan mata, tetapi juga dengan sentuhan. Para peneliti Yesus sejarah bermaksud mencari bukti hidup Yesus yang konkret, nyata. Selama tidak konkret, selama tidak nyata, mereka tidak percaya.

Sulitnya, yang konkret dan nyata itu seperti apa? Masih ingatkah kasus kain kafan Turin? Pada waktu itu, ada begitu banyak orang menyebut kain kafan Turin adalah bukti konkret kebangkitan Yesus. Tetapi ketika dibuktikan kalau kain itu tidak berasal dari zaman Yesus, gaung kain kafan Turin lenyap. Orang terjebak mencari bukti konkret kebangkitan Yesus. Akibatnya apa? Kita tambah bingung.

Konon, empat ahli arkeologi bertemu untuk membuktikan usia seonggok tulang manusia. Arkeolog dari Jerman dengan kecanggihan teknologi dalam waktu enam bulan berhasil menyimpulkan kalau tulang itu tulang manusia berasal dari abad pertama sebelum masehi. Arkeolog dari Jepang dalam waktu 3 bulan berhasil menyimpulan kalau tulang itu adalah tulang manusia berkelamin laki-laki yang berasal dari tahun 89 sebelum masehi. Arkeolog Amerika dalam waktu satu bulan berhasil membuktikan kalau tulang itu berasal dari seorang laki-laki berusia 45 tahun dan kurang gizi. Arkeolog Indonesia berhasil membuktikan kalau orang itu bekerja sebagai gembala, tinggal di kota kecil Kana, meninggal karena kurang gizi dan bernama Yusuf. Dan, hebatnya, hanya dalam waktu tiga jam itu bisa dibuktikan oleh arkeolog Indonesia. Tentu ini mendapatkan kekaguman yang luar biasa. Ditanyakanlah apa metodenya? Dengan enteng arkeolog Indonesia menjawab. Kita gebukin aja sampe dia ngaku.

Mencari bukti konkret kebangkitan Yesus, bukanlah perkara yang mudah dan sering kali justru tidak membawa manfaat. Banyak buku yang katanya mau mencari pembuktian itu, tetapi dengan cara yang sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sekarang, kita melihat model keempat. Model ini dapat kita lihat pada ayat 29b: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

Pada model ini, tidak ada bukti baik berupa tanda benda-benda bekas kebangkitan Yesus, atau Yesus sendiri yang memperlihatkan dirinya, maupun bukti konkret apapun. Pada model ini, manusia tidak melihat bukti tapi sungguh-sungguh percaya.

Betul-betul percaya, sekali pun tanpa bukti, tidaklah mudah. Dalam ajaran lain, ada banyak hal yang menjadi bukti kalau kita beriman. Misalnya, menjadi kaya. Dalam pemahaman ini dikatakan bahwa kita ini anak raja. Karena raja kita kaya, sudah pasti kita juga kaya. Yang kere, pasti tidak beriman. Atau, ada lagi pemahaman lain yang mengatakan, bahwa tanda orang percaya adalah bisa berbahasa roh. Kalau tidak bisa berbahasa roh, berarti tidak beriman.

Justru hal-hal semacam itu yang ditolak Yesus. Dengan tegas, sekali lagi, Yesus mengatakan: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Model ini tidak membutuhkan bukti dalam bentuk apapun. Model inilah yang disebut Yesus berbahagia. Maukah kita menjadi orang yang berbahagia? Tentulah kita tahu model mana yang perlu kita pilih.

Pdt. Addi S. Patriabara

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan