Kesombongan atau Tinggi Hati

Kesombongan atau Tinggi Hati

Ams 16:1-9, Nas:5

Kitab Amsal, yang sebagian besar ditulis oleh Salomo, berisi ajaran tentang cara hidup yang baik dan berkenan kepada Allah. Petuah-petuahnya disampaikan dalam bentuk syair atau peribahasa. Pengajarannya banyak menyangkut tentang persoalan-persoalan sehari-hari: Hubungan keluarga, urusan perdagangan, etika pergaulan, dan lain-lain.

Dari begitu banyak petuah-petuah berhikmat di Amsal, satu ayat pilihan yang cukup menarik terdapat di ayat 5 tentang Kesombongan atau Tinggi Hati. Setiap orang bisa saja terjerat di dalam sifat kesombongan ini. Apalagi bila kita menganggap diri kita lebih dari yang lain. Lebih baik, lebih rohani, mungkin lebih kaya, lebih berpengetahuan, lebih pandai, lebih berpengalaman, lebih tinggi derajat dan martabat, lebih banyak melayani, dan sebagainya.

Selain kesombongan pribadi, ada pula kesombongan golongan, suku atau bangsa. Di kalangan kita sendiri pun bisa terjadi kesombongan ini. Kesombongan kelompok-kelompok pelayanan, komisi-komisi, kepanitiaan di mana yang satu menganggap diri lebih berbobot atau lebih baik dari yang lain.

Walaupun tidak ada ilmu yang mengajarkan tentang kesombongan ini, anehnya sikap ini bisa menghinggapi orang pandai maupun orang bodoh, bahkan yang miskin sekalipun. Kata Indro dari Warkop, biar miskin asal sombong. Apakah kesombongan itu berbahaya? Apakah kesombongan itu merusak pelayanan kita? Ya karena jika tidak berbahaya, tentu Firman Tuhan tidak sekeras itu memperingatkan kita: ”Semua orang sombong dibenci Tuhan dan Tuhan akan menghukumnya (Yakobus 4:6b dan 1 Pet.5:5).

Kesombongan adalah dosa, kualitasnya sama seperti dosa berzinah, mencuri, membunuh, dan sebagainya. Seperti yang diceritakan di dalam kitab Kejadian. Adam dan Hawa ingin menyamai Tuhan, ingin mengetahui yang baik dan jahat sehingga akhirnya Iblis menjerat mereka dengan dosa kesombongan. Tuhan menghukum bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan, karena mereka juga tidak luput dari dosa kesombongan itu. Raja Daud, yang mempunyai sistem pemerintahan yang kuat dan ekonomi yang stabil, dengan angkuh ingin menghitung jumlah mobilitas rakyatnya pada saat itu. 2 Samuel 24:10 menceritakan bahwa Tuhan menghukum kesombongannya itu. Penyakit sampar melanda bangsa Israel. ”Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini, maka sekarang Tuhan, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh,” demikian jerit Daud yang mengaku dosa kesombongannya ke hadapan Tuhan.

Raja Nebukadnesar yang terkenal itu pun akhirnya mendapat hukuman Tuhan karena kesombongannya. Ia sangat bangga akan kebesaran kota Babel dengan tembok-temboknya yang serba kuat. Istana dan kuil yang indah itupun adalah hasil usahanya dan dirancang untuk kebesaran namanya sendiri. Ia mau meninggikan dirinya di atas segala manusia, bahkan menganggap dirinya lebih agung daripada manusia, tetapi Tuhan menghukumnya lebih rendah daripada binatang. Tujuh tahun lamanya ia diasingkan di padang gurun yang sunyi, hingga akhirnya ia insaf dan menyadari dosa-dosanya.

Sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang berkarya di gedung gereja yang megah dengan segala fasilitas lengkap serta organisasi kantor dan gereja yang baik, kita semua perlu diingatkan akan jerat dosa kesombongan ini. Pelayanan kita dapat menjadi kaku karena kita lebih mengutamakan organisasi. Hubungan sesama dapat kehilangan kasih, karena status bisa membuat jarak. Gengsi atau harga diri dapat menuntut untuk selalu diutamakan. Padahal Kristus mati di kayu salib dengan mengorbankan harga diri-Nya begitu rupa dan direndahkan status-Nya seperti seorang perampok atau pembunuh.

Kita mungkin mempunyai nilai lebih, namun hal itu bukan berarti bahwa kita lebih daripada orang lain, namun justru harus membuat kita lebih bergantung kepada hikmat pimpinan Tuhan dan menjadi pelayan yang rendah hati.

Sebaliknya bila kita berpikir bahwa kita kurang berpengalaman, kurang berperan atau kurang berarti, maka selayaknya kita menyerahkan talenta kita kepada-Nya agar diberkati, sehingga pelayanan kita pun memuliakan Tuhan.

Tuhan bersabda di dalam Matius 23:12, ”Barang siapa meninggikan dirinya, ia akan direndahkan, dan barang siapa merendahkan dirinya, ia akan ditinggikan.” (MBN)

Bookmark and Share

Komentar

2 Responses to “Kesombongan atau Tinggi Hati”
  1. Eve says:

    Shalom…, setuju bangeud… Untung bukan saya Tuhannya, kalo saya pasti dah bilang “baru jadi orang aja koq sombong..” ;) Kalo menurut saya yg boleh dan layak utk sombong tu ya cuma satu, yang maha pencipta, maha kuasa, maha…. Segalanya yg baik deh pokoknya…. hanya Tuhan yg boleh sombong…. Terimakasih sudah ngingetin saya yaaa… Saya sangat diberkati melalui bacaan di atas. Kiranya Tuhan Yesus selalu memberkati talenta kalian untuk kemuliaan namaNya.

  2. Eve says:

    oya, kalo bisa di share akan lebih bagus tuch… Tx.. Gbu..

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi