Hadapi Kecemasan Dengan Mendekat Kepada Tuhan

Belum ada komentar 99 Views

Menurut analisis beberapa ahli, pada tahun 2017 ini kita akan dihadapkan pada beberapa masalah dalam bidang ekonomi, politik dan sosial. Para alumnus Universitas Gajah Mada (UGM), dalam pertemuan mereka dengan Harian Kompas tanggal 16 Desember yang lalu, berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal, antara lain berkenaan dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dengan berbagai kebijaksanaannya yang mungkin akan memengaruhi perekonomian Indonesia. Sedangkan faktor internal adalah gejolak sosial politik, karena tahun ini merupakan ajang Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak di negeri kita, yang dapat menimbulkan berbagai kegaduhan dan keresahan, bahkan juga dikaitkan dengan masalah suku, ras dan agama.

Lalu, bagaimana kita sebagai umat Kristen menghadapi berbagai kecemasan itu? Apakah kita perlu takut? Apakah yang harus kita lakukan, dan bagaimana sikap kita? Tentu saja kita perlu berusaha untuk tidak menambah keresahan, baik pada keluarga maupun komunitas kita, dan menjaga agar mereka tetap tenang dan mendekat kepada Tuhan melalui doa. Kita mohon pertolongan-Nya agar kita dikuatkan dan dapat memancarkan “damai sejahtera” di mana pun kita berada, sesuai dengan pesan Natal yang baru saja kita rayakan. Kecemasan malah akan menimbulkan berbagai masalah, baik menyangkut kesehatan kita, maupun sikap kita kalau bertemu dengan kelompok yang berbeda.

Kita diingatkan untuk selalu mendekat kepada Tuhan dan tidak bersikap ragu seperti Petrus dalam peristiwa Yesus “berjalan di atas air” (Mat. 14:22-32), yang kisahnya juga terdapat di dalam

Mark. 6:45-52 dan Yoh. 6:16-21. Dalam peristiwa ini, Injil Matius juga mencatat bahwa Yesus selalu berusaha mengambil waktu untuk berdoa (ayat 23), dan Injil Markus mengatakan bahwa meskipun Yesus tahu kesulitan umat-Nya, namun Dia tidak serta merta menolong (ayat 48).

Yesus melihat betapa payah murid-murid-Nya mendayung perahu yang diserang oleh angin sakal. Semula Dia hendak melewati mereka (untuk melihat apakah mereka minta pertolongan atau tidak), namun ketika mereka berseru kepada-Nya, Dia naik ke dalam perahu dan angin pun reda (ayat 51). Mereka selamat.

Memang rasa cemas bisa terjadi dan mengancam hidup kita, tetapi bagaimana kita menanggapinya? Perlu diingat bahwa Yesus tidak membiarkan kita. Dia selalu memerhatikan dan mengamati perjalanan hidup kita. Dalam percakapan “Inspirasi Natal” di TV pada tanggal 17 Desember yang lalu, Adrianus, seorang pastor Katolik, juga mengatakan bahwa di tengah kesulitan, Allah tetap menunjukkan kasih dan kepedulian-Nya kepada manusia, karena itu kita harus selalu bersyukur kepada-Nya. Sang Juru Selamat sendiri, yaitu Yesus Kristus yang kelahiran-Nya baru kita rayakan, berdoa untuk para murid-Nya dengan berkata: “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (lih. Yoh. 17:15). Dia mau menolong kita pada waktunya, tetapi Dia juga mau agar kita memercayakan persoalan hidup kita kepada-Nya. Dia menuntut agar kita mengundang-Nya ke perahu kita dan mengambil waktu untuk bersekutu dengan-Nya.

Firman dalam Yak. 4:7-8a berkata: “Karena itu tunduklah kepada Allah dan lawanlah iblis, maka ia akan lari daripadamu. Mendekatlah kepada Allah dan Dia akan mendekat kepadamu.” Kalau Allah dekat kepada kita, maka sudah tentu kita aman, karena Dia punya kuasa untuk menopang hidup kita. Namun bila kita meninggalkan-Nya, maka Dia juga akan meninggalkan kita. Petunjuk itu dapat kita temui dalam 1 Taw. 28:9, dan dalam 2 Taw. 15:2 yang berbunyi: “Tuhan beserta dengan kamu bila kamu juga beserta dengan Dia. Bila kamu mencari-Nya Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bila kamu tinggalkan Dia kamu juga akan ditinggalkan-Nya.”

Bila kita selalu berpegang pada perintah-Nya atau selalu mendekat kepada-Nya, maka Dia akan berjalan di depan untuk membimbing kita, di belakang untuk mendorong dan memberi semangat kepada kita, di samping untuk menjaga kita, dan di atas untuk melindungi perjalanan hidup kita.

Gelombang dan guntur akan silih berganti, tetapi selama kita tidak keluar dari bahtera Allah, hidup kita akan terpelihara. Di dalam bahtera Allah, orang tidak akan tergoncang.

Serahkanlah dan percayakanlah sumber kecemasanmu kepada
Tuhan dan berdoalah mohon pertolongan-Nya.

Tuhan memberkati!

» R. Sihite

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
  • Pemimpin: Hamba atau Sahabat
    Tema yang akan diteropong ini bukan tema yang baru, oleh karena itu ketika membacanya, kita pasti sudah mempunyai pemahaman...
Kegiatan