God’s Glorious Refusal

God’s Glorious Refusal

Belum ada komentar 137 Views

Dalam hidup kita, kita pasti pernah mengajukan permohonan melalui doa, namun tidak kunjung dijawab. Dalam Alkitab ada setidaknya tiga tokoh yang hidup begitu dekat dengan Tuhan, tetapi permintaan mereka melalui doa tidak dikabulkan-Nya. Tokoh pertama adalah Musa. Peristiwa ini dapat dibaca dalam kitab Ulangan pasal 3:23-29:

“Juga pada waktu itu aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau? Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon.

Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku. Naiklah ke puncak gunung Pisga dan layangkanlah pandangmu ke barat, ke utara, ke selatan dan ke timur dan lihatlah baik-baik, sebab sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi.

Dan berilah perintah kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatinya, sebab dialah yang akan menyeberang di depan bangsa ini dan dialah yang akan memimpin mereka sampai mereka memiliki negeri yang akan kaulihat itu. Demikianlah kita tinggal di lembah di tentangan Bet-Peor.”

Penolakan Tuhan terhadap permohonan Musa dilatarbelakangi oleh perbuatan Musa pada waktu ia memukul dua kali tongkatnya ke batu sehingga keluar air.

Musa cukup lama hidup dekat dengan Allah. Bahkan dalam Keluaran 33:11, Tuhan berbicara muka dengan muka dengannya, seperti seorang laki-laki yang berbicara kepada sahabatnya. (“The Lord would speak to Moses face to face, as a man speak with his friend.”)
Ia juga seorang pendoa yang besar (Yeremia 15:1). Karena itu, kita dapat membayangkan betapa terenyuh (gundah) hati Musa yang sudah begitu lama memimpin bangsa Israel, ketika Tuhan menolak permintaannya. Justru ketika mereka sudah di ambang pintu tanah perjanjian, Musa tidak diizinkan masuk. Di sini kita belajar tentang prinsip Tuhan sebagai Bapa yang baik, yang tetap memberlakukan disiplin. Tuhan tetap teguh melaksanakan kehendak-Nya, apa pun konsekuensinya.

Kita tahu betapa inginnya Musa memasuki tanah perjanjian dan menghirup udara di sana, tetapi Tuhan memberikan tempat yang lebih indah, dan hal itu tercatat dalam Injil Matius 17:1-8, yaitu peristiwa transfigurasi di atas gunung Nebo, ketika Musa muncul bersama dengan Tuhan Yesus dan Nabi Elia.

Bagaimana situasi iman Musa setelah mengetahui keputusan Tuhan, tercermin dalam Mazmur 90:12, 14, dan 16 (diambil dari Prayer Bible):

  • Teach us to make the most of our time so that we may grow in wisdom.
  • Satisfy us in the morning with your unfailing love, so we may sing for joy to the end of our lives.
  • Let us see your miracles, to our children see your glory at work.

Doa Getsemani
Tidak ada bapa yang tidak tergerak hatinya jika anaknya, yang dalam keadaan tidak berdaya, berseru minta tolong. Tuhan Yesus telah berdoa tiga kali, namun Bapa di Surga tidak menjawab-Nya. Namun kita harus meneliti kata-kata doa Yesus yang diakhiri dengan “janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Dengan demikian doa Tuhan Yesus lebih bermakna karena Ia bukan menolak cawan itu, tetapi memohon agar Bapa di surga memberikan kekuatan pada-Nya. Jawaban doa Yesus adalah kebangkitan-Nya.

Duri Dalam Daging
Sebagaimana doa Getsemani di atas, Rasul Paulus juga memohon tiga kali namun Tuhan tiga kali menjawab “tidak“. Peristiwa ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi orang percaya, terlebih-lebih bila doa yang sangat didambakannya, ternyata tidak dikabulkan Tuhan.

Apa yang dimaksud dengan duri sampai sekarang tidak diketahui, namun yang kita ketahui dengan jelas adalah bahwa Rasul Paulus menerima keputusan itu. Justru dengan keputusan tersebut, ia makin rendah hati dan makin memahami kehendak Tuhan. Sebelum ia mengajukan doa itu, ia mengalami sebuah peristiwa dahsyat yang tercantum di dalam 2 Korintus 12:3-5:

Aku juga tahu tentang orang itu, –entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya– ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.

Kesombongan seseorang dalam bentuk pengalaman rohani dapat menyingkirkan fokusnya terhadap Tuhan dan kemuliaan-Nya, dan memindahkan semuanya kepada dirinya sendiri. 1 Petrus 5:5 mengatakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Rasul Paulus sangat menyadari hal ini dan dengan sukacita menolak segala sesuatu yang dapat merampas kemuliaan Tuhan. Bila permohonannya agar Tuhan mengangkat duri dalam dagingnya itu dikabulkan, maka hal itu baik bagi dirinya karena penderitaannya berkurang, namun bila ia harus menanggung semua kelemahan, kesulitan, penghinaan, penyiksaan dan hukuman itu agar nama Tuhan makin dimuliakan, ia menerimanya sebagai kenikmatan spiritual. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu , sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Korintus 12:9).

Pelajaran penting dari semua kisah di atas adalah bahwa kita harus menerima kebijakan Tuhan yang menolak permohonan kita. Apbila Tuhan mengatakan “tidak“, pasti Tuhan menyediakan jawaban “yayang lebih baik. J. Calvin, tokoh reformasi, mengatakan bahwa Tuhan sering kali mengabulkan permohonan doa kita, tetapi dengan rancangan yang berbeda dengan rancangan kita. Rasul Paulus semula berpikir bahwa jika Tuhan mengangkat duri di dalam dagingnya, hal itu akan memuliakan–Nya dan mendatangkan hasil yang baik, namun ternyata ia tidak mendapatkan apa yang diinginkankannya.

Doa:
Bapa di surga, hamba mengasihi-Mu ketika Engkau mengabulkan permohonan hamba, Namun ketika Bapa tidak mengabulkan permohonan hamba, hamba tetap taat kepada keputusan-Mu, karena meyakini bahwa Engkau mengasihi hamba dan rencana-Mu pasti yang terbaik bagi hamba.

Refleksi:
Apakah saat ini Anda sedang mendambakan sesuatu yang belum terwujud? Inilah saatnya bagi Anda untuk merenungkan kembali, karena barangkali dalam permohonan tersebut ada sesuatu yang tidak berkenan kepada-Nya.

 

Nono Purnomo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan