Gereja adalah Rumah Kita, Rumah adalah Gereja Kita

Belum ada komentar 231 Views

Sebuah lagu yang berulang kali terdengar dinyanyikan dalam rumah tangga di Hamburg-Jerman dengan sengaja mengajarkan setiap pribadi dalam keluarga itu untuk terus-menerus menghadirkan Tuhan dalam segala kegiatan mereka, agar setiap orang dalam rumah itu disadarkan pada Tuhan yang hadir, Tuhan yang campur tangan, dan yang tidak pernah meninggalkan mereka sendiri.

Lagu “Wo Zwei oder Drei”, yang konon adalah lagu karangan Johan Sebastian Bach, merupakan lagu dengan melodi yang sederhana, dalam pengertian bahwa liriknya gampang dihafal dan melodinya dapat dimainkan dengan mudah, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Lagu ini didasarkan pada ayat firman Tuhan di Matius 18:20, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Sambil bergandengan tangan melantunkan lagu itu menambah keakraban dalam keluarga sebelum mereka makan bersama dan sesudah makan bersama. Mungkin tidak semua keluarga di Jerman melakukan hal itu. Namun gambaran ini sangat menarik sebagai bagian dari perwujudan iman Kristen yang sering didengungkan dan diajarkan dalam persekutuan di gereja. Ayatnya pendek saja sehingga gampang dihafal, dan yang penting ketika terjadi pengulangan-pengulangan, maka doa yang pendek itu menjadi suatu kebiasaan yang membantu keluarga tersebut ketika mengalami situasi yang sulit dalam kehidupan ini.

Gereja, sebagai wujud persekutuan orang-orang yang dipanggil Tuhan untuk menyatakan misi Allah di tengah dunia ini, harus memberikan gambaran yang nyata, sederhana dan gampang dipahami oleh setiap anggotanya. Makin sulit ajaran atau berita yang disampaikan dalam persekutuan orang percaya itu, makin sulit pula orang dapat dan ingin mewujudkannya.

Gambaran sederhana dalam keluarga di atas merupakan perwujudan konkret bagaimana orangtua dalam sebuah keluarga mengajarkan kepada anggotanya, betapa mudahnya menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan ini, hanya dengan menyanyikan lagu yang singkat tersebut. “Wo Zwei oder drei in meinem Namen versammelt sind, da bin ich mitten unter ihnen.” – pendek bukan? Anda pun dapat menyanyikannya. Jika Anda ingin mempelajari lagu tersebut, silakan googling (buka di google).

ALLAH ADALAH KASIH

Kata ‘gereja’ dalam Alkitab Perjanjian Baru bahasa asli Yunani ditulis dengan kata ‘εκκλησια – ekklêsia’, secara harfiah, kata ‘εκ – ek’ = keluar; dan kata ‹καλεω – kaleô› = memanggil.

Dengan demikian, secara singkat dapat dikatakan bahwa gereja sebenarnya merupakan wujud kumpulan orang-orang yang dipanggil untuk menjalankan misi Allah. Untuk menjalankan misi Allah, perlu selalu menghadirkan Allah (seperti dalam lagu “Wo Zwei Oder Drei”). Karena Allah adalah kasih, maka menghadirkan Allah dalam gereja berarti menghadirkan kasih. (bacalah I Johanes 4:8 – “Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”)

Bunda Teresa, seorang tokoh Katolik yang mempersembahkan dirinya untuk melayani orang-orang yang tak berdaya, yang papa dan membutuhkan pertolongan, mengatakan dalam acara penganugerahan Nobel Perdamaian pada tahun 1979, bahwa, “Cinta dimulai dari rumah, dan bukan seberapa banyak yang kita lakukan, tapi seberapa banyak cinta yang kita masukkan ke dalam tindakan yang kita lakukan.”

Rumah dalam bahasa Inggris dapat diartikan sebagai home dan house.

Home diartikan sebagai tempat tinggal yang penghuninya memiliki pengalaman menyenangkan. Pengalaman tersebut menciptakan perasaan untuk berlama-lama di dalam rumah tersebut. Home mengartikan rumah dalam pengertian suasana rumah yang menyenangkan, sehingga menyebabkan seseorang betah tinggal di sana. Betah karena persahabatan, saling merindukan (gak ada lu gak rame), saling membutuhkan, saling menghargai dan menghormati. Atau sebaliknya, orang merasa tidak betah tinggal di rumah, karena sering terjadi pertengkaran, saling curiga, sulit untuk saling memahami dan menghargai, merasa menghadapi tekanan yang tak kunjung usai, dan hal-hal lainnya yang membuat resah anggota keluarga itu.

Sedangkan house menggambarkan tempat tinggal dan bangunannya. Pengertian house lebih kepada pemahaman fisik daripada psikologis. Sebagai contoh adalah rumah presiden Amerika yang disebut dengan white house. Setiap presiden Amerika tinggal di istana berwarna putih itu.

Pengertian Dan Fungsi Rumah Menurut Para Ahli

Rumah dapat dijadikan sebagai tempat untuk mewujudkan kasih Allah melalui penanaman nilai-nilai yang baik melalui kebiasaan. Ada masanya dalam diri mereka, anak-anak memiliki minat yang tinggi untuk mengetahui hal-hal yang mereka anggap baru. Di sinilah pentingnya peran orangtua untuk membiasakan anak dengan sikap dan perilaku yang baik. Biasanya sosialisasi seperti ini dilakukan dengan pendampingan dan tentu saja dalam dialog, karena setiap anggota keluarga berinteraksi satu dengan yang lain, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki. Dalam relasi kasih seperti ini, di mana setiap anggota keluarga dapat mengomunikasikan apa pun dengan sikap terbuka dan tanpa curiga, maka keluarga akan merasa nyaman, relaks dan betah tinggal di rumah, karena mereka bisa menceritakan apa pun pada anggota keluarganya.

Gereja dalam pengertian yang sebenarnya bukanlah gedungnya, melainkan wujud dari kumpulan orang yang dipanggil untuk menjalankan misi Kristus di dunia ini. Kumpulan ini seperti sebuah keluarga yang hidup dalam rumah, yang akan menjamin kepentingan keluarga untuk tumbuh, memberi kemungkinan untuk hidup bergaul dengan tetangganya, dan tentu saja dapat memberikan ketenangan, kesenangan, kebahagiaan dan kenyamanan. Seperti rumah, gereja juga harus dapat menjadi tempat sosialisasi dan pendidikan. Penanaman nilai-nilai yang baik melalui kebiasaan dapat dilakukan dengan menciptakan dialog antar anggotanya sehingga masing-masing merasa nyaman dan betah untuk menceritakan banyak hal. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, membutuhkan dialog dengan orang lain, tapi manusia sebagai makhluk individu juga memerlukan waktu untuk berpikir sendiri, merenungkan segala sesuatu tentang kehidupannya. Dan seperti rumah, gereja pun harus memberikan tempat bagi anggotanya untuk berinteraksi (baca berhubungan) dengan orang lain, maupun dengan dirinya sendiri.

Gerejaku Rumahku atau Rumah Singgahku?

Dalam sebuah program “Live in” di Yogyakarta bersama para siswa SMP Tirtamarta BPK PENABUR kelas IX, kami melakukan kunjungan ke rumah singgah. Di tempat inilah tinggal anak-anak jalanan yang sehari-hari berada di persimpangan-persimpangan jalan. Biasanya mereka berkumpul bersama anak-anak lainnya yang memiliki nasib yang tidak berbeda.

Dalam kesempatan berdialog, para siswa menanyakan alasan yang menyebabkan mereka (“anak-anak jalanan”) tidak lagi tinggal di keluarga kandung mereka. Ternyata ada banyak jawaban yang diberikan seperti, akibat perceraian kedua orangtua, mengalami situasi keterpurukan karena kemiskinan, mengalami tindak kekerasan dalam keluarga yang terjadi terus-menerus, tidak ada keharmonisan dalam keluarga, tempat tinggal atau rumah yang tidak lagi nyaman karena sering muncul prasangka buruk, merasa seperti orang asing di rumah sendiri, orangtua tidak pernah ada di rumah karena kesibukan pekerjaan mereka masing-masing, dan masih banyak lagi hal negatif lainnya yang hampir tidak pernah absen mereka alami setiap hari.

Bagaimana pertumbuhan mereka? Anak-anak jalanan memiliki pertumbuhan yang buruk, baik fisik, mental, maupun rohani mereka. Kebanyakan mereka putus sekolah. Mereka sering menjadi korban kekerasan dari orang-orang yang memanfaatkan mereka, namun tidak jarang mereka juga menjadi pelaku tindakan-tindakan kriminal yang membahayakan orang lain.

Hal ini dapat dimengerti karena pola asuh dan alat kontrol yang menjadikan mereka anak-anak yang baik dan berhasil—yaitu keluarga—tidak pernah atau sangat jarang mereka alami. Hidup mereka berpindah-pindah, tergantung dari komunitas mana yang bisa membuat mereka hidup dan diterima. Sayangnya, komunitas jalanan bukanlah tempat bertumbuh yang benar dan baik.

Gambaran tentang rumah singgah di atas dapat menjadi ilustrasi yang menggambarkan anggota gereja yang tidak betah tinggal dan aktif di gerejanya sendiri. Mungkin ia merasa tidak nyaman karena tidak ada komunikasi atau dialog dengan anggota yang lain, mungkin ia merasa disepelekan atau dianggap remeh karena hanya anggota biasa yang tidak memiliki posisi apa pun dalam jemaat, mungkin ia memiliki penafsiran dan pengertian yang berbeda tentang dogma atau ajaran gereja, atau mungkin ia merasa tidak dipedulikan ketika mengalami situasi yang sulit (seperti kematian anggota keluarga) dan membutuhkan teman yang mendampingi (namun tidak ada yang bisa hadir sebagai wujud kepedulian untuk menguatkan dan menghiburnya, dan hanya menghubunginya melalui SMS atau WA). Mungkin juga ia merasa tidak memiliki peran apa pun karena memang tidak pernah ada yang mengajaknya untuk berperan, mungkin ia merasa seperti orang asing dalam lingkungan, mungkin ia tidak memiliki teman sharing (berbagi) yang dapat dipercaya, dan mungkin saja masih banyak alasan lainnya, seperti tidak cocok dengan musiknya, pengkhotbahnya, pelayanannya, dan lain-lainnya…

Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang percaya dan menerima Kristus dalam kehidupannya adalah bait Allah, sebab Roh Allah diam di dalamnya (baca 1 Korintus 3:16). Karena itu gereja sebenarnya merupakan kumpulan orang-orang yang di dalamnya diam Roh Allah atau Roh Kasih. Namun gejala atau fenomena yang sering tampak dalam perkembangan pelayanan gereja saat ini menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang enggan terikat pada satu gereja tertentu. Mereka lebih memilih menjadi simpatisan saja, sehingga bisa bebas singgah di rumah-rumah yang mereka suka setiap Minggunya.

Pertanyaannya, mengapa tidak banyak anggota jemaat yang tinggal, diam dan berhenti dalam satu gereja saja? Bukankah hakikat gereja adalah persekutuan satu tubuh Kristus? Jika gereja hanya menjadi rumah singgah—karena orang kurang mendapat perhatian, kurang memiliki peran, kurang cocok dengan ajarannya, kurang menikmati khotbah, musik atau liturginya yang terlalu tenang dan kurang semangat—bagaimana orang itu dapat dikatakan sebagai bagian dari satu tubuh Kristus? Sebab sebagai bagian dari tubuh, jika satu anggota sakit, maka yang lain pun akan ikut merasakan kesakitan atau penderitaannya, dan anggota-anggota tubuh itu akan saling melindungi. Terutama anggota yang lemah harus mendapatkan perhatian dan perlindungan yang khusus (bacalah 1 Korintus 12:12-27).

Gereja hanya akan menjadi rumah kita, jika kita sebagai anggota-anggotanya memiliki loyalitas atau kesetiaan kepada gereja tersebut dan menjadikannya sebagai ‘rumah’ kita. Dengan demikian, setiap anggota me-miliki peluang sangat besar untuk bertumbuh seperti apa yang Tuhan inginkan, dibandingkan dengan simpatisan.

Rumah kita hanya akan menjadi gereja kita, ketika kita merasa nyaman mengungkapkan apa pun karena percaya kepada para anggotanya, ketika kita ingin tumbuh bersama dengan peran yang berbeda-beda, ketika yang lain memberikan penguatan dan pendampingan kepada anggota yang mengalami kesulitan atau musibah, ketika setiap anggota keluarga merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi pertumbuhan sikap dan perilaku anggota lainnya, dan ketika ada dialog atau komunikasi yang akrab antar anggota keluarga. Pendapat tidak usah selalu sama, namun semua dilakukan untuk kemajuan dan pertumbuhan setiap anggotanya dan untuk kemuliaan nama Tuhan.

HOSPITALITAS – KERAMAHTAMAHAN SEBAGAI WUJUD CINTA

Setiap hubungan yang baik antara dua atau lebih banyak orang, entah itu namanya persahabatan, perkawinan atau komunitas, selalu menciptakan ruangan. Dalam ruangan itulah orang asing dapat masuk dan menjadi sahabat. Persahabatan yang baik selalu terbuka dan ramah (“ramah” adalah terjemahan dari kata latin hospitalitas, yang berarti sikap sebagai tuan rumah yang baik). Kalau kita masuk ke sebuah rumah dan merasa diterima dengan hangat, kita akan segera melihat bahwa cinta yang hidup di antara orang-orang yang tinggal di rumah itulah yang membuatnya demikian. Keramahan adalah wujud kasih yang hidup di antara orang-orang yang tinggal di rumah itu.

GKI Pondok Indah mencanangkan bulan Oktober ini sebagai bulan keluarga, di mana berita firman Tuhan setiap Minggu terkait erat dengan keluarga atau rumah tangga. Program bulan keluarga ini dirancang oleh ang-gota, dari anggota dan untuk anggota gereja. Kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang tidak terpisahkan satu dengan lainnya. Anak-anak kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari Tubuh Kristus yang adalah Gereja kita ini. Tanpa kehadiran mereka, maka Tubuh Kristus tidaklah utuh.

Baik sebagai gereja maupun keluarga, kita perlu melihat kehadiran anak-anak sebagai anugerah yang menuntut keterlibatan aktif kita dalam mendidik mereka. Tanggung jawab pendidikan ajaran Injil ini perlu disadari oleh setiap orangtua, dan tidak bisa begitu saja diserahkan kepada gereja. Dengan sinergi yang baik antara orangtua dan gereja, maka anak-anak dapat mengenal kasih Tuhan dan bertumbuh dalam iman kepada-Nya.

Gereja hanya akan menjadi rumah kita, ketika setiap anggota jemaat merasakan keramahtamahan diwujudkan secara nyata melalui tindakan kasih, seperti saling peduli, saling menghormati, saling menghargai, saling berbagi cerita, dan saling percaya satu dengan yang lain. Cinta Tuhan dirasakan melalui kehadiran keluarga dalam gereja Tuhan, sehingga setiap anggotanya betah untuk terus hadir dalam persekutuan orang-orang yang terpanggil menyatakan kasih dan misi Allah di dunia ini.

Rumah hanya akan menjadi gereja kita, ketika di dalam rumah diwujudkan kasih Allah melalui keramahtamahan setiap anggotanya, yaitu dengan menyatakan kepedulian, kejujuran, perhatian dan keinginan untuk berkorban bagi yang lain.

Wariskanlah kepada anak-anak kita, baik di gereja maupun di rumah masing-masing, harta “warisan rohani” yaitu, takut akan Tuhan, hidup yang bersyukur, merawat dan mengembangkan sebaik mungkin kepercayaan yang Tuhan berikan dalam keluarga, serta kerinduan untuk memberikan pelayanan yang optimal dalam persekutuan. Semua ini adalah warisan yang tidak rusak dimakan ngengat atau lekang karena hujan, matahari dan cuaca buruk. Sebaliknya, berhati-hatilah dengan perpecahan yang dapat terjadi dalam rumah atau gereja akibat kebencian, kemarahan, iri hati dan kecurangan lainnya, yang—disengaja atau tidak—bisa diwariskan dalam diri anak-anak kita melalui perbedaan pendapat yang menajam dan tidak pernah berakhir.

Anak-anak adalah tamu bagi orangtua mereka. Mereka masuk ke dalam ruang yang disediakan bagi mereka, dan tinggal di sana untuk sementara—lima belas, dua puluh, atau dua puluh lima tahun—lalu pergi untuk menciptakan ruang mereka sendiri. Meskipun orang-tua berbicara mengenai “anak kita”, ia bukanlah milik mereka. Dalam arti dan kadar tertentu, anak-anak adalah orang asing. Orangtua harus mengenali mereka, menemukan kekuatan serta kelemahan mereka, dan menuntun mereka menuju kedewasaan dengan membiarkan mereka membuat keputusan mereka sendiri.

Anugerah terbesar yang dapat diberikan orangtua kepada anak-anak mereka adalah cinta mereka satu terhadap yang lain. Dengan cinta itu, mereka menciptakan ruang yang bebas dari kegelisahan, yang memungkinkan anak-anak tumbuh dan makin percaya kepada diri sendiri serta bebas memilih cara hidup mereka.

Salah satu perjuangan rohani yang paling berat ialah hidup tanpa prasangka. Kadang-kadang kita bahkan tidak sadar betapa dalamnya akar-akar prasangka dalam diri kita. Mungkin kita berpikir bahwa kita memandang orang-orang yang berbeda dengan kita—karena alasan wana kulit, agama atau gaya hidup—sebagai sesama kita. Namun dalam kenyataannya, pikiran spontan kita, kata-kata yang lepas dari mulut kita, atau reaksi-reaksi kita yang lain menunjukkan bahwa kita masih memiliki prasangka terhadap orang-orang itu.

Orang-orang asing dan yang berbeda dari kita, menimbulkan rasa takut, tidak enak, tidak senang, atau bahkan curiga dan benci. Mereka membuat kita kehilangan rasa aman hanya karena mereka itu lain. Hanya kalau kita yakin bahwa Allah mencintai kita dengan cinta yang tanpa syarat, dan memandang orang lain sebagai orang-orang yang dicintai dengan cinta yang sama, kita akan mengalami bahwa keberagaman di antara umat manusia adalah bukti kebesaran hati Allah yang tanpa tara. Dengan demikian, prasangka terhadap orang lain sedikit demi sedikit terkikis.

Kiranya Bulan Keluarga kali ini men-jadi berkat bagi anak-anak dan orang-orang dewasa untuk makin menikmati keramahtamahan kehidupan di gereja, sehingga orang dapat berkata, “Gereja adalah rumahku (kita) dan rumah adalah gerejaku (kita)”.

“Lakukan hal-hal biasa dengan cinta yang luar biasa.” (Mother Teresa)

***
» Pdt. Tumpal Tobing

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Beragam itu Anugerah
    Ketika menggumuli tema dalam teropong ini, muncul pertanyaan yang menantang untuk didalami: keberagamaan itu sebenarnya anugerah atau kepahitan ya?...
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan