Filipus dan Filipus

Filipus dan Filipus

Belum ada komentar 275 Views

Dalam buku sejarah (Jagersma, 1991) kita jumpai nama Herodes Yang Agung (37 – 4SM). Selanjutnya, menurut cacatan sejarah raja ini mempunyai hobi unik, yakni menambah jumlah isteri dalam koleksinya.

Tetapi sejarah juga tidak lalai memberitakan kebengisannya, bahkan menurut Alkitab ia merencananakan tetapi gagal membunuh Kristus, sang Bayi Natal. Namun, gelar Yang Agung toh diberikan sejarah kepadanya berdasarkan kriterium: keluasan kekuasaan yang dimilikinya.

Terdapat asumsi bahwa bukan karena faktor kesalehannya, tetapi semata-mata untuk konsumsi politik serta demi perluasan pengaruhnya Herodes pun membuat suatu keputusan brilyan, yakni merestorasi Bait Allah.

Dari koleksi sepuluh isteri Herodes Yang Agung, Filipus adalah anaknya dengan Cleopatra dari Yerusalem (jadi bukan yang dari Mesir, teman sangat akrab Jenderal Antonius). Filipus inilah, raja Iturea dan Trakhonitis (4 SM – 33 M), dan adalah saudara tiri Herodes Antipas, raja Perea dan Galilea (Luk. 3:1). Herodes Antipas (4 SM – 39 M), anak Malthace, ternyata mewarisi perangai kebengisan ayahnya, sehingga mendapat nama julukan serigala dari Kristus (Luk. 13:32).

Pepatah mengatakan: pohon dikenal dari buahnya. Kata bersayap dari Kristus ini dapat kiranya dipakai untuk menjelaskan kasus pemindahtanganan isteri Filipus kepada Herodes, yakni Herodias (Mark. 6:17). Maka tampillah di atas panggung sejarah dua sejoli legendaris: Herodes dan Herodias.

Catatan kaki sejarah menghadirkan anak Herodias, yakni Salome, sebagai gadis cantik jelita dengan bakat yang penuh pesona di bidang seni tari. Itulah sebabnya mengapa tarian sensualnya membuat hadirin begitu terpukau, dan sang raja bahkan hampir copot jantungnya karena sangat tinggi tingkat kepekaannya di bidang ini, yang sudah menjadi rahasia umum.

Sambutan hadirin yang demikian hebat itu ditambah dorongan ibundanya, membuat Salome mematok tarif tariannya seharga kepala Yohanes Pembaptis. Herodes pun langsung melunasinya, dengan menyerahkan kepala yang dimintanya itu kepada Salome. Itulah tarian maut Salome berdasarkan koreografi hasil ciptaan ibunda tercinta, yang digelar di atas pentas sejarah dengan peran utama: Herodias dan Herodes (Mat. 14: 3-12 dan Mark. 6:17-29).

Apabila kita singkirkan raja Filipus dari fokus pengamatan kita, maka kita berhadapan dengan: Filipus dan Filipus. Lalu bagaimana membedakan mereka? Baiklah yang satunya ditampilkan sebagai rasul, karena dia memang benar rasul (bukan dari kategori imitasi kontemporer), sedang yang lainnya diberikan predikat evangelis (jabatan aslinya adalah diaken), agar memudahkan dan membantu kita membedakan keduanya.

Sekarang marilah kita berkenalan dengan “Filipus dan Filipus,” masing-masing dengan keunikannya sendiri, dalam mosaik kisah-kisah Alkitab.

Paul.P.Poli, SH


RASUL FILIPUS

Dalam daftar nama duabelas rasul, nama Filipus selalu ditempatkan pada urutan kelima, yakni setelah pasangan Simon Petrus dan Andreas, serta Yakobus dan Yohanes (Mat. 10:3; Mark. 3:18; Luk. 6:14).

apostle_philipMenurut penuturan Yohanes, pada waktu Yohanes Pembaptis bersaksi tentang Kristus: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia,” maka dua orang muridnya langsung mengikuti Kristus; dan salah satu di antaranya ialah Andreas. Karena yang empunya cerita adalah Yohanes, maka beralasan untuk disimpulkan bahwa murid yang tidak disebut namanya itu, pasti adalah Yohanes sendiri.

Perkenalan kita dengan Filipus, menurut kisah Yohanes, dimulai dengan identifikasi lokasi kampung nelayan Betsaida. Letaknya di timurlaut danau Galilea, yang kemudian berkembang menjadi sebuah kota kecil. Itulah kota asal Andreas dan Petrus bersaudara, tetapi juga tempat bermukim Filipus.

Yang unik dalam relasi Kristus dengan Filipus, ialah bahwa hubungan itu dimulai dengan suatu ajakan singkat, karena terdiri dari hanya dua patah kata: “Ikutlah Aku” (Yoh. 1:43). Filipus demikian yakin, sehingga tanpa ragu-ragu langsung menerima ajakan itu. Tetapi sekaligus dia juga menyadari bahwa lonjakan sukacita yang dirasakannya itu sudah sepatutnya dibagi dengan orang lain. Oleh karena itu ia pun mengajak Natanael.

Percakapan antara Natanael dan Filipus memberikan kesempatan untuk mengenal pribadinya dari dekat, yakni sebagai orang yang selalu tanggap dan memiliki kejernihan berpikir. Pembawaan itu memampukannya untuk langsung mengenali persoalan (problem recognition). Tetapi tidak sampai di situ saja. Karena kemampuan itu memungkinkannya dengan cepat mencari dan menemukan kunci penyelesaian (problem solving). Di dalam pergaulan sesehari orang demikian itu biasanya diberikan predikat yang bermakna pemecah persoalan (troubleshooter).

Baiklah fokus kita diarahkan kepada kasus pertama Filipus, yakni masalah Natanael, yang berpendapat: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kejernihan berpikir Filipus langsung membuatnya mengenali masalah, bahwa tidak ada manfaatnya berdebat kusir dengan Natanael. Maka solusi yang diberikannya, ialah: “Mari dan lihatlah!” Ternyata benar antisipasi Filipus. Percakapan dengan Kristus berhasil merombak seluruh pola berpikir lama dan diganti paradigma baru, yang disimpulkan sendiri oleh Natanael, katanya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.”

Kasus berikut adalah mujizat pemberian makan kepada lima ribu orang (Yoh. 6: 1-15). Pemecahan masalah diminta Kristus dari Filipus, yang kontan menjawab: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekali pun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Suatu jawaban yang rasional, terarah dan tepat sekali, karena mengenai inti permasalahan.

Penalaran Filipus memang benar, bahwa tidak mungkin ada solusi atas persoalan yang diajukan Kristus. Tetapi justru reaksi itulah sengaja dipancing Kristus, karena: “Hal itu dikatakan-Nya untuk mencoba dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.” Dengan demikian, Filipus dan semua yang hadir dapat melihat dan menjadi saksi suatu peristiwa di luar jangkauan rasio mereka. Mujizat itu dilakukan Kristus, karena: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Penampilan Filipus selanjutnya adalah setelah peristiwa Kristus dielu-elukan di Yerusalem. Pada kesempatan itu (Yoh. 12:20-22) ada beberapa orang Yunani yang mendekatinya dengan permintaan: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Perannya sebagai troubleshooter kembali muncul di permukaan, karena sifatnya sebagai orang mudah didekati oleh mereka yang membutuhkan pertolongan. Dapat juga diambil kesimpulan, bahwa orang Betsaidi ini ternyata menguasai dan dapat berbicara bahasa Yunani.

Injil Yohanes mengungkapkan percakapan yang berisikan pesan-pesan terakhir, menjelang penangkapan Kristus (Yoh. 14:1-31). Menanggapi pernyataan Kristus kepada Tomas, bahwa: “Tidak seorang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” maka Filipus pun melakukan interupsi. Dia pasti mengharapkan bahwa kesempatan ini dapat memberikan kepadanya suatu penglihatan bermakna wahyu, yakni menyaksikan kemuliaan Allah Bapa. Oleh karenanya Filipus minta: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”

Pertanyaan itu mengingatkan kita akan permintaan Musa kepada Tuhan: “Perlihatkanlah kemuliaan-Mu kepadaku.” (Kel. 33:18). Tetapi Kristus dengan tangkas menjelaskan tentang inkarnasi-Nya seraya menjawab, bahwa: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”

Itulah perjumpaan dan perkenalan kita dengan rasul Filipus, yang setelah melaksanakan Amanat Agung di mana-mana, menurut tradisi ia meninggal dalam usia lanjut di Hierapolis, nama kota yang disebut rasul Paulus dalam kaitan dengan sahabatnya, Epafras (Kol. 4:13).

EVANGELIS FILIPUS

Devangelist_philipi dalam pelayanan-Nya Kristus selalu memperlihatkan pola pendekatan sistemik, yaitu holistik. Hal itu dapat kita lihat dalam struktur Doa Bapa Kami, di mana kebutuhan akan makanan mendapat tempat yang wajar dalam kegiatan peribadatan, di luar liturgi kebaktian. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan mengapa Kristus mempertaruhkan pribadi-Nya dalam seruan diakonal-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat. 25:45).

Jemaat pertama di Yerusalem menyadari sepenuhnya akan hal itu, sehingga menggunakan paradigma itu dalam hidup persekutuan mereka. Pada waktu keseimbangan terganggu dalam kegiatan kesaksian dan pelayanan, mereka pun segera mencari solusi. Keputusan yang diambil berhasil mencegah para rasul dari “melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.”

Dapat disimpulkan, bahwa tugas “melayani meja” dipahami mereka sebagai bagian integral dari ibadah yang bermakna holistik. Jadi tidak dikenal pemisahan dikotomis antara sakral dan profan. Pemahaman itu sesuai ajaran Kristus dalam Doa Bapa Kami, yakni: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Permohonan itu sekaligus berfungsi sebagai pernyataan penyerahan diri total pendoa kepada Tuhan, tanpa syarat apa pun. Oleh karena itu tidak ada tempat bagi paham dikotomi.

Dalam program peningkatan efisiensi kegiatan kesaksian dan pelayanan secara seimbang, kita jumpai kebijakan yang diambil oleh jemaat Yerusalem untuk mengangkat tujuh orang diaken (Kis.6:1-7). Tetapi dari tujuh diaken itu, ternyata lima nama tidak muncul lagi dalam Alkitab, dan hanya dua saja yang menemani ingatan kita, yakni Stefanus dan Filipus. Masa jabatan Stefanus singkat sekali, dan berakhir dengan cara yang sangat dramatis. Peristiwa itu berhasil mengukir dan membentuk perbendaharaan ingatan kolektif jemaat pertama, yang maknanya masih tetap relevan dan dijunjung tinggi, kini dan di sini.

Anehnya ialah, bahwa setelah pengangkatan ke dalam jabatannya, kita tidak menjumpai peristiwa-peristiwa yang mengungkapkan bagaimana diaken Filipus menjalankan tugas-tugas diakonalnya. Yang menonjol dalam pemberitaan dokter Lukas, justru kegiatannya sebagai evangelis. Hal tersebut rupanya diakibatkan hobi seorang yang bernama Saulus dari Tarsis, yang gemar memburu para pengikut Kristus.

Kegiatan pemburuan Saulus itu menyebabkan terpencarnya anggota-anggota jemaat Yerusalem, dan ada yang pergi ke kota Samaria. Dengan panduan dokter Lukas sebagai narasumber, maka di kota itulah kita jumpai evangelis Filipus dengan hasil panen luar biasa bagi Kristus (Kis. 8:1-13). Bahkan si tukang sihir pun, yakni: “Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi.”

Sewaktu sedang sibuk berpanen raya di kota Samaria, Filipus sekonyong-konyong menerima bisikan Roh Kudus untuk menuju ke selatan, yang begitu kontras lingkungannya dengan suasana kota Samaria. Di tengah-tengah kegersangan gurun yang sepi itu dia berjumpa dengan seorang sida-sida Etiopia, yang sedang asyik membaca pasal 53 Kitab Yesaya. Filipus menjelaskan tentang berita kesukaan, yakni bahwa nubuat Yesaya yang dibacanya itu mengisahkan karya kasih Allah, yang telah dipenuhi Kristus (Kis. 8:25-40).

Peristiwa itu membuktikan, bahwa Filipus adalah penginjil pertama yang membawa berita kesukaan kepada orang-orang non-Yahudi, dan melalui pertobatan pejabat pemerintah Etiopia itu Injil diperkenalkan di benua Afrika. Sebagai telah disinggung sebelumnya, pelayanan evangelis Filipus kepada orang non-Yahudi justru diakibatkan Saulus, si pemburu pengikut Kristus. Dan korban pertamanya adalah diaken Stefanus, rekan Filipus. Tetapi akhirnya pembunuh itu dikenal sebagai Paulus, pemberita Injil terbesar di kalangan umat non-Yahudi. Memang Tuhan bekerja dengan cara-cara penuh rahasia dan menakjubkan.

Sebagai penutup, dokter Lukas menampilkan evangelis Filipus dalam kisah perjalanan rasul Paulus, bahwa: “Pada keesokan harinya kami (termasuk Lukas) berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, yaitu satu dari ketujuh orang yang dipilih di Yerusalem, dan kami tinggal di rumahnya. Filipus mempunyai empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat.”

Hubungan yang demikian akrab mengungkapkan kemurnian empati Filipus, yang tak ternilai manfaatnya bagi pelayanan rasul Paulus, khususnya sewaktu dia bergumul dalam penjara Kaisarea selama dua tahun (Kis. 23:31-35 dan Kis. 24:23, 57).

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
  • Pemimpin: Hamba atau Sahabat
    Tema yang akan diteropong ini bukan tema yang baru, oleh karena itu ketika membacanya, kita pasti sudah mempunyai pemahaman...
Kegiatan