Dinamika Hubungan Ibu Mertua dan Menantu Perempuan

Dinamika Hubungan Ibu Mertua dan Menantu Perempuan

1 Komentar 963 Views

Dalam bidang pelayanan konseling, tidak sedikit konseli yang datang kepada konselor mengeluh mengenai hubungannya dengan mertua atau menantu. Banyak yang mencari cara agar hubungan mertua-menantu yang sedang dijalani, dapat berjalan dengan baik dan penuh keharmonisan. Sayangnya, tidak semua mertua/menantu bisa memiliki hubungan yang harmonis. Terlalu banyak faktor bawaan dari mertua/menantu yang menjadi masalah bagi hubungan mereka.

Artikel berikut, akan menolong Anda untuk mengurai lagi faktor-faktor apa saja yang mengakibatkan masalah-masalah tersebut, dan bagaimana cara agar hubungan mertua-menantu bisa berjalan dengan baik.

Dalam banyak kebudayaan, hubungan ibu mertua dan menantu perempuan dianggap penuh dengan ketegangan. Pepatah dan lelucon umum mencerminkan adanya kecenderungan permusuhan antara seorang ibu mertua dan menantu perempuannya. Contohnya, sebuah pepatah Tunisia, suatu negara di Afrika bagian utara, mengatakan: “Semoga anak perempuanku menjadi mentari di musim dingin. Semoga menantu perempuanku menjadi mentari di musim panas.” (Mentari di musim dingin menghangatkan badan. Sebaliknya, terik mentari di musim panas membuat tidak nyaman). Seorang ibu mertua tidak memunyai hak istimewa yang sama seperti seorang ibu.

Kitab Rut menggambarkan hubungan ibu mertua dan menantu perempuan dengan perbedaan mencolok. Naomi dan Rut yang tinggal di tanah Israel dan Moab, mempunyai hubungan yang saling memperhatikan dan mendukung. Hubungan mereka menjadi contoh ideal dalam hubungan ibu mertua dan menantu perempuan.

Banyak dari kita akrab dengan kedua kutub hubungan mertua-menantu: hubungan yang akrab dan penuh perhatian, serta hubungan yang apatis dan penuh kebencian. Di antaranya, terdapat jenis hubungan dengan tingkat kedekatan dan variasi yang berbeda-beda.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempersulit hubungan ibu mertua dan menantu perempuan.

1. Sudut Pandang Menantu Perempuan

Awal permasalahan sering timbul saat pertemuan pertama antara calon mertua-menantu menjelang pernikahan. Calon mempelai perempuan resah: “Apakah Ibu mertuaku menyukaiku? Apakah dia merestui aku sebagai pilihan putranya?” Mempelai perempuan yang peka mengetahui perasaan ibu mertuanya dari kesan pertama. Seorang mempelai perempuan yang masih muda menyadari penolakan itu: “…karena aku sudah hamil.”

Bagi beberapa menantu perempuan, kesulitan berawal dari keterlibatan ibu mertua dalam merancang pernikahan: “Itulah alasan kami kawin lari–beliau ingin mengambil alih pernikahan kami.” Seorang lainnya menggambarkan sosok ibu mertuanya: “(Dia) berteriak kepadaku untuk mengundang ayahnya ke pernikahan, untuk tidak menghapus nama mereka dari surat undangan, dan seterusnya”.

Seorang suami mungkin menjadi pihak yang salah. Secara tidak sengaja ia menyebabkan perasaan-perasaan buruk antara istri dan ibunya, ketika ia tidak menjadikan istrinya sebagai prioritas utama. Kekurang pekaan ini membuka pintu bagi daftar tuntutan waktu, uang, kasih sayang, dan kesetiaan dari mertua yang semakin panjang. Sang menantu perempuan mungkin mengeluh: “Suamiku membiarkan ibunya mengatur hidupnya” atau “Ibu mertuaku mendatangi rumah kami kapan pun beliau mau.”

Bapak-ibu mertua bisa menjadi keterlaluan dan tidak menunjukkan rasa hormat atas privasi pasangan yang telah menikah. Lalu, kita mendengar cerita-cerita “seram” seperti: “Ibu mertuaku datang ke pemeriksaan kandunganku (dia seperti perawat di ruang dokter) dan meminta dokter untuk merayuku, lalu dia berbohong dan menyangkal semuanya di depan suamiku.”

Sumber persoalan lain dalam hubungan mertua-menantu adalah mertua yang suka melontarkan kritik, alih-alih menghargai perbedaan. Menantu perempuan yang selalu menganggap dirinya dikritik, alih-alih dipuji oleh ibu mertuanya merasa sakit hati, tidak dipahami, dan marah.

2. Sudut Pandang Ibu Mertua

Barangkali, menantulah yang terkadang mengkritik ibu mertua yang sering berkunjung, namun tidak mau mengasuh atau bermain dengan cucunya. Seorang suami mungkin menjadi pihak yang salah. Secara tidak sengaja ia menyebabkan perasaan-perasaan buruk antara istri dan ibunya, ketika ia tidak menjadikan istrinya sebagai prioritas utama.

Seorang ibu mertua mengeluh, “Menantu perempuanku hanya meneleponku jika dia ingin aku membelikan sesuatu atau mengasuh cucu. Di luar itu aku tidak dianggap.” Seorang lainnya mengeluh: “Menantu perempuanku tidak peduli dengan hidupku.” Siapa pun, tanpa memandang usia, ingin dihargai.

Sebuah catatan untuk Anda yang pertama kali menjadi ibu mertua: Ibu mertua tidak mempunyai hak istimewa yang sama dengan seorang ibu. Dia tidak lagi bisa menghubungi atau berkunjung setiap saat. Dia tidak bisa memasuki kehidupan putranya sambil meminta pertolongan secepatnya seperti: “Bantu Ibu membersihkan garasi atau memperbaiki jendela.” Sang istri, menantu perempuannya, sekarang menjadi prioritas utama putranya. Kebutuhan sang istrilah yang harus didahulukan sekarang.

Bagaimana Cara Memperbaiki Hubungan Ibu Mertua dan Menantu Perempuan?

Setiap orang pasti merasa dirinya penting dan layak dihargai. Perasaan ini akan bertumbuh ketika kita memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat sejak awal hubungan tersebut. Seorang mempelai perempuan berkata kepada ibu mertuanya dalam pernikahan: “Terima kasih banyak untuk putra Anda.” Sang ibu mertua masih diliputi kebahagiaan 10 tahun kemudian ketika ia teringat perkataan menantu perempuannya. Mengucapkan “terima kasih” atau menulis ucapan tersebut merupakan hal penting. Seorang ibu mertua yang berkata kepada menantu perempuannya: “Aku bahagia David memilihmu dan kalian bahagia bersama,” merupakan awal yang sangat bagus.

Lagipula, pasangan suami istri harus saling meyakinkan bahwa dia menghargai pasangannya sebagai pribadi yang paling penting dalam hidupnya. Banyak gangguan oleh mertua berkurang, bahkan hilang, ketika pasangan yang telah menikah merasa yakin bahwa pasangannya adalah prioritasnya.

Nasihat bagi para ibu mertua: Ibu mertua tidak memiliki hak-hak yang sama dengan menjadi ibu. Anda tidak lagi bisa leluasa memberikan nasihat, berkunjung, atau menelepon anak-anak Anda yang telah menikah, khususnya pada tahun pertama. Mundurlah dan tahanlah diri Anda saat ingin memberikan saran dan kritik yang tidak diminta.

Nasihat bagi para menantu perempuan: Berusahalah untuk memperbaiki hubungan dengan bersikap peduli dan penuh rasa hormat. Hargailah ibu mertua Anda sebagai seorang pribadi, bukan untuk memanfaatkannya. Ingatlah bahwa beliau mengharapkan dan membutuhkan penghargaan dan rasa hormat sebagaimana diri Anda sendiri.

“Sopan santun dan tata krama yang sederhana itu seumpama angin dan air yang dapat mengubah benda-benda keras.” Ungkapan ini adalah aturan penting baik bagi menantu perempuan maupun ibu mertua. Rasa hormat dan kebaikan hati dibutuhkan kedua belah pihak untuk menikmati hubungan yang berpotensi menjadi luar biasa ini.

(t/Dicky)

Sumber:
http://c3i.sabda.org/http://www.wholefamily.com/aboutyourmarriage/in-laws/article/smooth_and_rough.html

Judul asli artikel: Daughter-In-Law/Mother-in-Law Relationship: The Smooth and The Rough
Penulis: Leah Shifrin Averick, LCSW

1 Comment

  1. Jenny Karuh

    Terima kasih artikelnya. Topik yang selalu menarik dan tak pernah bosan dibahas. Meskipun jaman semakin modern dan tingkat pendidikan orang semakin tinggi, tetapi tetap saja masalah klasik : Mertua vs Menantu banyak terjadi dalam rumah tangga. Pernah kami mengadakan seminar tentang hal ini ketika bulan keluarga. Sayangnya yang dibahas maupun audiensnya selalu satu sisi : mertua atau menantu saja. Jadi pada sessi komentar atau tanya jawab keluarlah ‘curhat’ para mertua bila pesertanya mertua atau ‘curhat’ para menantu ketika yang menjadi peserta adalah menantu. Jadi terpikir ke depannya mungkin lebih baik pesertanya digabung : para mertua dan para menantu. Wahhh…pasti seru sepertinya… Tetapi sisi negatifnya mungkin akan semakin runyam permasalahannya ketika terjadi perdebatan dalam seminar, di saat ada ‘perjumpaan’ ketidaksepahaman pandangan mertua vs menantu. Itulah yang (kadang) membuat kami ragu mempertemukan keduanya dalam satu seminar atau pembinaan menyangkut masalah klasik ini. Tekad tetap ada, keberanian dansemangat serta rasa optimis memacu kami : mengapa tidak kita pertemukan mereka dalam satu event seminar atau bina atau gathering ? Minimal niat hati mengubah paradigma yang ada selama ini untuk lebih positif, lebih baik dan lebih membangun. Semoga tahun ini bisa terlaksana.

    Terima kasih sudah berbagi artikel. Terus berkarya dan menjadi berkat.
    Salam.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan