Dialog Visi, Misi dan Strategi GKI Pondok Indah (World Vision)

Belum ada komentar 307 Views

Dalam rangka pengembangan strategi pelayanan di GKI Pondok Indah (GKI PI), kembali Mabid Bangmat (Majelis Bidang Pengembangan Jemaat) bekerjasama dengan Mabid Binum (Majelis Bidang Pembinaan Umum) menyelenggarakan Forum Dialog Jemaat pada tanggal 5 Juli 2010 yang lalu dengan mengambil tema ”Dialog Visi, Misi dan Strategi GKI Pondok Indah”. Acara ini diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pnt. Rony Moenir. Kali ini penyelenggara mengundang Bapak Trihadi Saptoadi, National Director ”World Vision International Indonesia” sebagai pembicara. Diskusi dipandu oleh Pnt. Henky Wijaya sebagai moderator. Berikut ini ringkasan paparan dan hasil diskusi.

Pembicara menyiapkan pokok-pokok bahasan tentang proses perumusan visi dan misi, pilihan-pilihan (trade-off), pembelajaran pelayanan konteks perkotaan dan tantangan pelayanan ke depan. Menurutnya, pengembangan visi, misi dan strategi pada akhirnya merupakan suatu proses untuk melakukan pilihan-pilihan bersama dalam suatu organisasi guna menentukan arah dan tujuan, identitas, cara untuk mencapai tujuan dan sumber daya, dan sebagainya. Bagi organisasi/lembaga Kristen, apalagi suatu gereja, pengembangan visi, misi dan strategi seharusnya dilakukan secara bersama-sama sehingga setiap orang memiliki tempat dan kontribusinya. Selanjutnya perlu dipahami adanya beberapa pembelajaran tentang isi (content) strategi dan tantangannya.

Bagian penting dari strategi adalah keterbukaan, dan ketika kita berbicara tentang strategi, pada akhirnya kita sampai pada keputusan bersama dari pilihan-pilihan yang ada. Banyak hal dianggap penting, karena itu sering kita lihat pelayanan di gereja-gereja begitu beragam. Segala hal ingin dilakukan, sehingga hasilnya tidak optimal. Jadi dalam strategi, yang menjadi masalah ialah bagaimana kita secara bersama-sama melakukan pilihan dan kemudian menyepakatinya dengan bersama pula. Sayang, gereja (dan lembaga-lembaga Kristen) merupakan organisasi yang kemampuan dan kemauannya paling buruk dalam mengambil pilihan-pilihan (trade-off), terutama memilih antara yang baik dan baik.

Dengan dasar itu pembicara membahas pengembangan strategi yang dimulai dengan suatu proses. Organisasi bisnis melakukan proses pengembangan strategi dengan cepat dan sistematis, namun bagaimana dengan proses pengembangan strategi di gereja atau di lembaga-lembaga Kristen? Pertanyaan pertama dalam pengembangan visi, misi dan strategi adalah ”siapa kita”. Siapa diri kita ini adalah pertanyaan mendasar menyangkut tentang panggilan kita. Mengapa Tuhan meletakkan GKI PI di tempat ini, di konteks ini? Apakah ada panggilan khusus? Sebab gereja mempunyai panggilan umum seperti halnya gereja-gereja lainnya, yaitu hadir untuk mengikut Tuhan Yesus. Tapi tempat atau lokasi dan konteks di mana gereja berada juga memiliki panggilan khusus bagi gereja. Itulah sebabnya siapa kita sebagai jemaat merupakan hal yang mendasar. Jadi siapa, di mana kita, bagaimana pendekatan pelayanan kita, merupakan proses-proses strategi yang akan kita pilih.

Pembicara menawarkan dua proses yang harus kita lakukan bersama dalam pengembangan visi, misi dan strategi, yaitu proses teknis dan spiritual. Sisi teknis meliputi External Situation Analysis, Internal Situation Analysis, Ministry Minimums dan Brutal Facts. Proses SWOT analysis (analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman/tantangan-red.) terhadap faktor internal dan eksternal biasa kita lakukan, tapi lebih dari itu gereja juga harus mendefinisikan dasar-dasar pelayanannya (ministry minimums) yang tidak bisa dinegosiasikan, misalnya setiap Minggu harus ada kebaktian, harus ada Sekolah Minggu, harus ada pemahaman Alkitab (PA) dan ini semua harus disepakati bersama dengan jelas. Bila terjadi fakta brutal, yaitu fakta yang tidak sejalan dengan sikap kristiani dan bisa menghambat kemajuan jemaat, maka gereja harus berani menghadapi dan membicarakannya dalam Rapat Majelis secara terbuka tapi dengan penuh respek.

Sisi spiritual mencakup Strategic Spirituality, Strategic Discernment dan Strategic Reflection. Hal ini jarang dan bahkan tidak pernah dilakukan oleh lembaga Kristen. Semua orang yang terlibat dalam pengembangan strategi harus melakukan kontemplasi dan refleksi yang cukup mendalam. Kontemplasi tentang kehidupan kita sebagai jemaat antara lain memahami apa panggilan Allah, melihat sumber daya jemaat bukan dari keahliannya tapi juga talenta-talenta spiritualitasnya. Pertimbangan strategis mencoba memahami situasi dalam konteks teknis menurut pandangan Allah dan Alkitab, sedangkan refleksi strategis lebih banyak kepada doa dan penyembuhan, saling mendengar dan memahami panggilan.

Kedua proses di atas harus dilakukan secara bersama-sama. Proses yang pertama oleh pembicara dimisalkan sebagai hardware dan yang satu lagi disebut software. Perangkat keras dapat berisi data, misalnya jumlah kemiskinan, banyaknya gereja di lingkungan sekitar dan apa saja yang kita pandang sebagai informasi untuk mendukung pengembangan strategi. Sedangkan perangkat lunak, misalnya upaya memahami spiritualitas jemaat dan berbagai talentanya dan memahami apakah ada luka-luka di dalam jemaat yang perlu disembuhkan. Sering kali orang melakukan strategi dalam gereja untuk memperoleh hasil (outcomes) berupa program dan bujet saja, padahal semestinya juga harus ada proses penyembuhan (healing) dalam jemaat supaya jemaat kita terus maju.

Mencontohkan pengembangan strategi di Word Vision, pembicara menyampaikan bahwa ketika mengembangkan strategi, mereka menyiapkan devotion. Materi devotion dipersiapkan lalu diberi arahan dengan melakukan pendalaman selama beberapa waktu (bulan) untuk merefleksikan apa yang menjadi panggilan Allah dalam konteks bekerja di Indonesia. Jadi proses strategi tidak hanya berhenti pada terbentuknya komite, tapi lebih dari itu ada keterlibatan jemaat. Karenanya perlu dibuat sebuah paket untuk melibatkan sebanyak mungkin jemaat, yang dikemas dengan bahasa yang mudah dan sederhana, dan kemudian ditentukan bentuk pelayanan yang paling penting bagi jemaat.

Kalau kita memiliki sumber daya terbatas, kita harus berani melakukan ekspresi spiritualitas untuk merespons keterbatasan ini. Tuhan Yesus melakukan semua hal, tetapi kita sebagai gereja hanya mengekspresikan sebagian spiritualitas saja. Ada gereja yang sangat baik dalam ritual, ada yang mengonsentrasikan diri dalam pekerjaan sosial dan advokasi, ada yang mengerjakan pelayanan penyembuhan, ada yang menentukan hidup kudus sebagai pilihannya, dan ada juga gereja yang memilih sebagai penelaah Alkitab.

Diskusi lebih lanjut mempertanyakan manakah dari pilihan-pilihan itu yang nyaman (comfortable) bagi kita? Yang mana yang kita lakukan dalam hidup kita dan yang mana yang hampir tidak kita lakukan? Misalnya pertama, meditasi dalam rangka merefleksikan spiritualitas. Kedua, memastikan nilai-nilai moral atau agama diterapkan dalam kehidupan sosial dengan memperlihatkan penerapan nilai-nilai itu. Ketiga, keadilan sosial dan belas kasihan kepada orang miskin. Keempat, ekspresi spiritualitas dengan membaca Alkitab, meyakini firman Allah sebagai hal yang paling utama. Kelima, tentang ritual. Apakah kita melakukan semua atau salah satu saja?

Bagian mana yang mau diekspresikan oleh gereja kita mengingat keterbatasan sumber daya? Karena sulit melakukan semuanya maka gereja harus memilih. Sumber daya kita (yang terbatas-red.) akan kita habiskan untuk melayani ke dalam atau ke luar gereja? Kita mau inklusif atau eksklusif, melayani orang Kristen saja atau semua orang? Bermitra dengan agama lain, misalnya dengan NU atau Muhammadiyah saja atau hanya dengan gereja-geraja GKI dan yang seasas (atau ke denominasi yang lain-red.)? Pendekatan kita akan secara kristiani atau sekuler? Dalam pelayanan untuk mengatasi kemiskinan, kita mau menjadi ambulance, misalnya charity saja, bikin klinik gratis, dan sebagainya, atau menyelesaikan kemiskinan struktural, melawan ketidakadilan dan korupsi? Mana yang dipilih: GKI PI mau berperan lokal, nasional atau global? Melayani orang miskin di sekitar gereja atau di Jakarta saja, atau pelayanan ke provinsi-provinsi lain di Indonesia, atau ke luar negeri? Mau melayani secara kecil-kecilan atau besar-besaran ala pasar swalayan dengan melakukan konsorsium GKI atau dengan gereja lain untuk mengalokasikan sumber daya yang besar. Atau memilih sebagai pemasok (supplier) untuk menyalurkan dana saja?

Tentang pembelajaran pelayanan perkotaan, disampaikan bahwa lembaga yang sukses dalam hal ini sangat sedikit, karena persoalannya sangat kompleks menyangkut heterogenitas manusia, terutama di daerah-daerah kumuh (lawless). Tingkat urbanisasi yang masif dan cepat, definisi kemiskinan yang berbeda di perkotaan, serta kontinum perkotaan-perdesaan menambah persoalan di mana kaum perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang selalu paling menderita. Karena kompleksnya persoalan itulah banyak kegagalan dialami oleh Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan gereja dalam melayani masyarakat ini. Selain itu, dari sudut pandang lain gereja juga gagal menjadi pusat masyarakat karena yang hadir (exist–red.) hanya bentuk fisik bangunannya saja sedangkan orang-orangnya berada di luar masyarakat di mana gereja berada. Ini realita perkotaan. Orang-orang gereja tidak merasa menjadi bagian dari masyarakat sekitarnya, sehingga akhirnya masyarakat pun merasa bukan menjadi bagian dari gereja tersebut. Tantangan lainnya adalah sulitnya mengukur keberhasilan pelayanan perkotaan, seperti membangun infrastruktur, mengambil alih tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Lembaga yang berhasil dalam hal ini biasanya bermitra dengan pihak lain dan secara inklusif bekerjasama dengan agama-agama lain dan memiliki jaringan yang baik.

Tantangan besar yang banyak berdampak terhadap pelayanan gereja di Indonesia ke depan adalah perubahan demografi di mana orang lanjut usia semakin banyak tapi masih produktif. Perubahan iklim dan lingkungan memperluas kekeringan dan mengakibatkan kelaparan. Migrasi global membuat gereja kehilangan tenaga muda profesional. Juga berkembangnya teknologi informasi dan media memunculkan aktor-aktor baru dan pergeseran perilaku di bidang sosial, politik, agama dan pembangunan. Isu kesehatan global belum teratasi dan kematian ibu dan anak masih sangat tinggi. Indonesia diperkirakan akan gagal memenuhi target millennium development goal 2004–2015 tentang angka kematian anak dan ibu. Di samping itu terjadi kelangkaan energi sumber daya alam dan keberdayaan iman Kristen di tengah pluralisme dan fundamentalisme agama. Juga ada isu-isu tentang krisis ekonomi global, korupsi di bidang politik, hukum, ekonomi dan sosial, krisis dan keamanan pangan, melebarnya kesenjangan sosial dan ekonomi, demokrasi dan good governance, menurunnya peran institusi agama dan terakhir isu tentang sekularisasi. Bagi kita tidak masalah jika sekularisasi diartikan sebagai pemisahan agama dan gereja dari hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi jika sekularisasi menjadi sekularisme, artinya Allah disampingkan dari kehidupan spiritual kita, ini yang menjadi masalah.

Menurunnya peran institusi gereja terlihat dari bergesernya anak-anak muda yang sebelumnya gemar berkumpul di gereja dan kini berpindah ke tempat-tempat perbelanjaan dan mal. Anak-anak zaman sekarang dengan multi-tasking yang akrab dengan berbagai media elektronika, akan merasa bosan bila hanya mendengarkan cerita dan khotbah di Sekolah Minggu karena hal itu dianggap tidak mampu menstimulasi indra mereka. Karena itu, kita harus berkompetisi dalam metode pembelajaran dan pengaruh lingkungan.

Berbeda dengan LSM, gereja mempunyai jemaat. Namun gereja sering lupa bahwa asetnya yang paling utama dan pertama adalah jemaat sehingga sebenarnya gereja lebih memiliki kesempatan untuk mengembangkannya. Jemaat adalah sasaran yang dapat dikembangkan dan sekaligus sumber daya, sehingga melakukan interaksi ke dalam dan membangun komitmen di gereja semestinya jauh lebih mudah ketimbang di organisasi lain di luar gereja seperti LSM (karena jemaat menerima khotbah setiap Minggu–red.).

Gereja mempunyai keunikan. Pertama-tama, jemaat adalah aset dan sumber daya, kedua, gereja adalah salah satu lembaga di dunia yang paling berkelanjutan. Ketiga, gereja adalah bagian dari persekutuan jemaat yang jauh lebih besar lagi. Sayang, kebanyakan hubungan gereja dengan Klasis, Sinode dan PGI tidak dimanfaatkan secara maksimal. Gereja dalam GKI bisa dipandang sebagai diversifikasi atau keanekaragaman talenta yang dimiliki. Gereja juga berhubungan dengan lokasi, walaupun gereja di perkotaan seringkali teralinasi karena jemaatnya tinggal di mana-mana. Gereja juga punya tempat (foot print) di mana ia berdiri dan kokoh, karena mempunyai kaki yang jelas di suatu tempat untuk melayani. Hal ini merupakan keuntungan yang tidak dimiliki oleh lembaga lain. Selain itu, kemiskinan yang terjadi di banyak tempat merupakan peluang besar bagi institusi seperti gereja untuk merumuskan strategi pelayanannya.

Menjawab pertanyaan tentang prioritas utama dalam memilih strategi, pembicara menyampaikan bahwa kalau boleh memilih apa yang gereja lakukan, apakah untuk internal ataupun eksternal, sumber daya gereja akan difokuskan hanya untuk investasi membangun manusia. Secara internal upaya akan dilakukan habis-habisan, misalnya dengan membuat Sekolah Minggu yang benar-benar bagus meskipun tidak harus mahal. Juga segala sesuatu yang berhubungan dengan membangun manusia harus menjadi prioritas tertinggi, apakah itu jemaatnya atau orang luar yang berkaitan dengan karakter manusia yang utuh. Gereja sebagai fisik bisa berhenti melayani, tapi tidak bagi jemaatnya.

Dalam konteks Indonesia, prioritas kedua kita adalah ikut mengatasi ketidakadilan dan kemiskinan, karena ini merupakan tempat kesaksian yang paling baik. Mengapa Tuhan Yesus demikian efektif melayani? Hal itu disebabkan karena Ia memang benar-benar menghabiskan waktu-Nya di dunia untuk melawan ketidakadilan. Salah satu cara kesaksian kristiani yang terbaik adalah melalui pelayanan gereja yang berhubungan dengan ketidakadilan dan kemiskinan. Melawan kemiskinan dan ketidakadilan selalu menjadi pelayanan yang efektif, dan Tuhan Yesus melakukannya. Yang ketiga, menurut pembicara, ialah kalau kita punya sumberdaya, kita dapat membangun persekutuan dan kemitraan dengan siapa saja. Letakkan prioritas gereja untuk membangun jaringan yang baik, tidak hanya dengan sesama GKI, tetapi juga dengan kantor cabang NU dan Muhammadiyah setempat, dan sebagainya. Kita membangun hubungan kemitraan sebanyak-banyaknya untuk melayani orang lain, karena dengan ketiga hal ini kita berharap bahwa upaya pelayanan kita mengena pada panggilan koinonia, diakonia dan marturia kita sebagai jemaat Tuhan.

Berkenaan dengan struktur organisasi pelayanan, pembicara mengemukakan bahwa struktur organisasi gereja di Indonesia secara umum tidak berubah selama 50 tahun terakhir ini dalam hubungannya dengan koinonia, diakonia dan marturia. Kalaupun mungkin berubah, hanya beberapa perubahan di Tata Gereja dan Pedoman Pelaksanaannya. Gereja tidak mempunyai advokasi untuk ikut memengaruhi legislasi di DPR, mengaji-ulang (review) semua peraturan dan perundang-undangan. Mengenai masalah struktur ini, selanjutnya pembicara juga membenarkan bahwa di gereja, strategi dibuat tanpa melihat struktur dan hanya dibuat dengan menyesuaikan dengan struktur yang sudah ada. Dalam hal demikian strategi dibuat mengikuti struktur, padahal seharusnya strukturlah yang mengikuti strategi. Setelah strategi dibuat, barulah strukturnya diatur kembali. Tentang kaitan strategi dengan kepemimpinan stewardship, pembicara berpendapat bahwa hal ini sangat mendasar, karena pengembangan strategi tidak sekadar memilih siapa yang kita layani dan bagaimana melayaninya, berapa sumber daya yang kita butuhkan dan bagaimana cara mendapatkannya, tetapi juga harus mendefinisikan budaya dan kepemimpinan yang bagaimana yang kita harapkan ada di gereja. Jadi kita tidak hanya mendefinisikan apa yang mau kita capai dalam hal perangkat keras, outcomes yang bisa diukur, tapi juga perilaku-perilaku budaya dalam jemaat.

Untuk menyeimbangkan pendekatan teknis yang hardware dan spiritual yang software dalam pengembangan visi, misi dan strategi, dibutuhkan kepemimpinan pendeta dan Majelis Jemaat. Melibatkan banyak orang melakukan spiritualitas dan decernment memang sulit. Pendetalah yang bertugas untuk mengajak jemaat melihat konteks di mana jemaat berada menurut pandangan Allah. Paradigma harus dibangun dalam merespons brutal facts yang terjadi.

Penyelenggaraan Pemahaman Alkitab harus mengalami perubahan dengan memberdayakan kepemimpinan awam sebagai mitra pendeta, sekaligus untuk membantu pendeta mengurangi akumulasi ketertekanan. Sebab membiarkan gereja hanya bergantung kepada teolog atau pendeta adalah sikap yang sangat tidak bertanggung jawab bagi kehidupan pendeta dan keluarganya, dan juga terhadap kehidupan jemaat secara umum.

Brutal facts di masyarakat memang relatif lebih mudah diubah, namun itu bukan berarti bahwa di gereja tidak bisa diubah. Jemaat sangat perlu diarahkan untuk memahami konteks yang menjadi panggilan bersama. Bila orang-orang datang berjemaat karena merasa menghadapi tantangan pelayanan bersama, maka mereka bisa digerakkan untuk lebih berpartisipasi dalam pelayanan. Memang rendahnya partisipasi dan kontribusi merupakan penyakit gereja menengah ke atas. Mengenai persoalan ini, pada akhirnya kita harus memilih untuk mengambil keputusan mengajak jemaat melayani ke luar dalam pengembangan proyek pelayanan bersama. Jadi dalam hal ini, strategi untuk membangun jemaat harus memiliki proyek bersama, karena bila jemaat merasakan manfaatnya, mereka akan terinspirasi untuk lebih berpartisipasi.

Pada bagian akhir diskusi, pembicara menjawab pertanyaan dan sekaligus menekankan pendapatnya bahwa pelayanan sosial melalui pendekatan media komunikasi dan promosi adalah baik. Makna pelayanan adalah keterlibatan dan komitmen bersama, karena itu semakin banyak orang terlibat akan semakin baik sehingga transformasi diharapkan dapat terjadi. World Vision mempunyai seorang sponsor yang profesinya hanya sebagai penjaga kantin di suatu sekolah, ia bukan orang kaya. Meskipun demikian ia menyediakan 150 ribu Rupiah setiap bulan untuk mensponsori anak lewat Word Vision.

Transformasi harus terjadi di dua pihak: Orang (miskin) yang kita layani dan orang yang memberi, harus berlandaskan motto: “Tidak ada orang yang terlalu miskin untuk memberi dan tidak ada orang yang terlalu kaya untuk menerima,” demikian ungkapnya. Forum Dialog ditutup dengan doa oleh Pdt. Purboyo WS. Susilaradeya. (dsr)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan