Dia Datang untuk Melayani

Dia Datang untuk Melayani

Belum ada komentar 108 Views

Kelahiran Yesus Kristus, diperingati sebagai “Terang”. Kristus lahir untuk melayani dengan mengorbankan diri-Nya sebagai “Penebus” umat manusia. Bagaikan “lilin” yang termakan “api” untuk menerangi dunia kelam. Terang, telah memberi jalan kebenaran bagi kehidupan umat manusia agar mengikuti teladan-Nya dalam melayani sesama.

Kita orang percaya yang telah dimerdekakan oleh Kristus diajak agar “tidak mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Galatia 5:13).

Natal, seharusnya mengingatkan kita agar selalu menjalankan Firman-Nya untuk melayani sesama dengan penuh kasih yang tulus. Sayangnya, kita umat manusia kerap kurang mencermati makna kelahiran Kristus. Bahkan setelah Natal tahun lalu, kita diingatkan dengan keras – melalui berbagai bencana, mulai Tsunami, badai Katrina, gempa bumi di Khasmir, penyakit flu burung sampai kelaparan di Kabupaten Yohukimo, Papua – agar antar kita saling melayani dan saling mengasihi.

Ketika bencana terjadi, memang berhasil menggugah kesadaran manusia untuk saling membantu dan berbagi kasih. Relawan dari berbagai penjuru, berdatangan untuk melayani. Seolah-olah, kehidupan saling melayani dan mengasihi di antara umat manusia, sudah membudaya. Solidaritas antar sesama manusia, tampak mengemuka. Beragam perbedaan – politik, ekonomi, ras ataupun agama – seolah sirna oleh rasa kemanusiaan sebagai toleransi dadakan akibat bencana.

Dahsyatnya bencana, seharusnya membuka mata kita semua untuk menyadari perlunya hidup rukun saling melayani, saling membantu dengan tulus. Bahkan kita harus patuh akan Firman-Nya;

“Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:35-36). Firman inilah yang telah menggerakkan orang-orang percaya untuk selalu berbagi kasih dengan sesama, tanpa pandang bulu.

Namun, begitu bencana lewat, karakter asli manusia – yang lebih mementingkan kekuasaan duniawi – kembali mencuat kepermukaan. Kekuasaan mengalahkan rasa kasih. Hasrat untuk melayani sesama jadi sirna ditelan kepentingan pribadi. Kecongkakan kekuasaan, bermunculan. Ketidak-pedulian kepentingan sesama, semakin mengemuka.

Demi arogansi kekuasaan, bom bunuh diri kembali terjadi di Bali, di India, di Israel, seolah jiwa manusia tak berharga. Pertengkaran antarsuku, konspirasi politik, peperangan antarmanusia, serta perseteruan antaragama, terus terjadi. Bahkan pembunuhan kejam atas tiga siswi sekolah Kristen di Poso, yang ditebas kepalanya, dipertontonkan sebagai refleksi kekuasaan sekegelintir manusia.

Kapan kita menyadari untuk bisa hidup saling melayani?

Melayani penuh kasih, sangat diperlukan

Melalui berbagai cara, orang ingin mempertontonkan kekuasaan. Bahkan, teror pun, digunakan sebagai senjata perjuangan untuk meraih kekuasaan. Apakah kita umat manusia, sudah tidak punya hati untuk saling melayani dengan penuh kasih?

Rasanya, ini benar adanya, karena kemunafikan sikap manusia. Ini terungkap dalam Firman berikut: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Matius 15:8-9). Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, pencabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat (Matius 15:19).

Kedahsyatan berbagai bencana, semoga bisa menggugah kesadaran manusia untuk saling mengasihi. Melalui Firman-Nya, kita diingatkan; “kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah” (1Petrus 2:17).

Di balik petaka berbagai bencana alam yang menyedihkan itu, ternyata ada “kasih” yang mengetuk hati semua anak bangsa. Setiap hati yang terluka akan sembuh apabila kita menjalankan firman-Nya; “Kasihilah sesama manusia seperti diri sendiri …”(Markus 12:31).

Sebab, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih”(I Yohanes 4:18).

Memang harus disadari bahwa “Untuk segala sesuatu ada masanya; untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Ada waktunya kita merasa bebas merdeka. Namun harus selalu mawas diri. Janganlah “over acting” apabila kita – sebagai petinggi atau pejabat – yang memiliki kekuasaan. Janganlah mentang-mentang berkuasa, segalanya bisa dilakukan seenak perut dan dengan bebas berperilaku semena-mena.

“Jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan” (I Korintus 8:9). Ingatlah bahwa hidup bagaikan mimpi saja. Hanya dalam waktu singkat, kehidupan manusia – bisa ditelan bencana – sehingga kehidupan kita berubah drastis. “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14).

Sulit rasanya menerima kenyataan, berbagai bencana silih berganti terjadi begitu cepat dan mencekam hati. Dalam menghadapi musibah, terkadang merasa bahwa Tuhan tidak adil. Kita merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Namun harus disadari bahwa setiap langkah kita telah diatur oleh-Nya. Namun sayang, kita sebagai manusia, kerapkali tidak mempercayai janji janji-Nya melalui firman-Nya.

Kita harus yakin bahwa janji-janji-Nya adalah benar adanya, karena Tuhan berkata “Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah…(Maleakhi 3:6). Demikian pula firman-Nya tidak akan berubah.

Janji ini jelas terungkap dalam firman-Nya “Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Ku-kehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Ku-suruhkan kepadanya” (Yesaya 55:11-12).

Mengapa banyak orang gagal menerima berkat yang telah disediakan Tuhan? Mungkin kita tidak mengerti bahwa Allah akan memenuhi apa yang kita butuhkan. Masalahnya kita kurang meyakini bahwa janji-janji Allah melalui firman-Nya adalah benar. Tanpa keyakinan tersebut rasanya sulit bagi kita untuk bisa menikmati semua berkat berkat-Nya. Sebab berkat Tuhan tak terhitung jumlahnya.

Terkadang terpikir, apa yang menjadi tujuan hidup ini sebenarnya? Dan mengapa kita perlu membangun keluarga, sampai mempunyai keturunan dan akhirnya meninggal? Untuk apa semua itu? Apakah kita hidup sekadar untuk cari makan dan kekayaan duniawi? “Bukankah hidup itu lebih penting dari makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?” (Matius 6:25). Untuk itu kita harus memahami esensi kehidupan kita. Caranya “…carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu!” (Matius 6: 33).

Dalam hidup ini, kita harus memahami benar semua firman Allah dengan sepenuh hati. “Hai anakku, perhatikanlah perkataan-Ku, arahkan telingamu kepada ucapan-Ku; janganlah semua itu menjauh dari matamu. Simpanlah itu dilubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka” (Amsal 4: 20-22). Firman Allah tidak akan menjadi dasar kehidupan dan kesembuhan jiwa beserta tubuh, sebelum firman itu didengar, diterima dan diyakini.

Untuk menjaga kesehatan jasmani, setiap hari kita makan dua atau tiga kali. Tetapi ini tidak cukup menjamin kesembuhan jiwa, sebab “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Jika kita ingin memperoleh kehidupan dan menerima kesembuhan dari Tuhan, sediakan waktu untuk mendapatkan firman Tuhan setiap hari demi ketenangan jiwa. “… marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibrani 12:1).

Harus diyakini bahwa kehidupan kristiani merupakan suatu perlombaan yang telah digariskan bagi kita. Perlombaan ini harus diwarnai dengan suatu kualitas yang baik yakni “ketekunan” dan “kesabaran”. Perhatian dan mata kita harus tertuju kepada Kristus Yesus. Kita tak boleh berpaling dari pada-Nya agar kita tidak akan kehilangan kemampuan untuk memenangkan perlombaan. Sebab Kristus Yesus adalah Pemimpin kita dalam iman. Dia yang mendukung iman kita dan membawa iman kita menjadi sempurna.

Kita diingatkan untuk melayani

Bencana tsunami telah membuka mata hati manusia akan pentingnya kebersamaan untuk saling malayani. Relasi antarpribadi manusia agar bisa saling melayani, harus terus dipererat melalui tali kasih. Sebab, manusia sebagai makhluk sosial, sangat membutuhkan relasi antarsesama secara tulus.

Kebersamaan hidup antarsesama, semakin terasa penting, begitu kita hidup di era informasi. Kemajuan teknologi, telah mengucilkan kehidupan pribadi. Sekarang ini, berjuta-juta manusia – baik lelaki maupun perempuan – banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Sepulang kerja pun, kita disibukkan dengan acara televisi, berselancar ke berbagai situs di internet, menyimak “infotaintement dan gosip di acara berbagai stasiun TV, bermain PS2 atau sekadar menonton DVD.

Banyak di antara kita sudah tidak punya waktu untuk instrospeksi. Tidak sempat meluangkan waktu untuk bercanda dengan keluarga atau tetangga. Tidak bisa menyisihkan waktu untuk berdoa atau mencermati Firman Tuhan.

Sebagai makhluk sosial, kita perlu bersosialisasi. Namun, karena jarak pemukiman dengan tempat kerja yang jauh, di mana kondisi lalu lintas begitu padat, mengakibatkan kita terperangkap pada kesibukan. Keseimbangan hidup kita, terganggu. Kehidupan terasa semakin menekan. Untuk mengeliminasi stres, kita perlu membangun relasi antarsesama untuk bisa saling memberi dan saling menghibur melalui pelayanan kasih.

Relasi antarmanusia yang bertumpu pada asas saling melayani dan saling mengasihi, sangat diperlukan. Sebab setiap manusia perlu menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dengan kehidupan iman spiritualnya. Melalui peristiwa berbagai bencana yang kita alami bersama, tampak jelas bahwa relasi antar manusia agar mau saling melayani dengan penuh kasih yang tulus, sudah menjadi faktor penentu keseimbangan hidup umat manusia, sebab:

  1. Relasi antarsesama untuk saling melayani, telah memberi makna kehidupan yang berarti. Begitu bencana tsunami ataupun topan Katrina, ditayangkan melalui berbagai stasiun televisi, rasa kasih untuk saling melayani antar sesama, muncul disugesti bawah sadar mereka. Rasa kasih antarsesama – tanpa pandang bulu – mencuat kepermukaan dilandasi oleh kuatnya keinginan untuk saling melayani. Hubungan antarmanusia – yang muncul dengan tulus dalam mengatasi bencana – telah memberi arti penting bagi kehidupan. Kebersamaan dalam kasih merupakan dasar untuk saling melayani. “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri” (Roma 14:7).
  2. Relasi antarmanusia bisa menjadi jalan-terang bagi kehidupan saling melayani dengan penuh kasih. Menjalin hubungan, relasi atau networking dengan sesama, sangatlah penting. Jejaring hubungan antarsesama, bisa membuka jalan bagi kehidupan. Kita bisa saling membantu, saling memberi atau saling melayani. Pelayanan penuh kasih, telah memberikan terang bagi kehidupan umat manusia yang saling membutuhkan akibat pergumulan hidup dalam menghadapi kesulitan.
  3. Relasi antarmanusia merupakan peluang baik untuk membangun kehidupan penuh kasih. Memang, hubungan antarmanusia, harus didasarkan pada saling pengertian untuk mau saling malayani dengan kasih yang tulus. Allah sendiri menghendaki kita untuk membangun kehidupan menurut kehendak-Nya untuk saling melayani dengan kasih. “Untuk itu carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu!” (Matius 6:33).

Hari Natal merupakan peluang bagi kita untuk terus belajar membangun rasa kasih untuk saling melayani. Karena ini merupakan investasi yang akan memberikan imbalan maha besar. Kasih tidak pernah gagal – tak pernah ketinggalan zaman atau tidak pernah akan obsolet atau tidak akan berakhir – …(I Korintus 13:8). Lebih-lebih Allah Bapa begitu kasih, sampai-sampai kesalahan manusia tidak pernah diungkit-ungkit. Kebesaran dan keagungan Rahmat-Nya yang mendorong kita untuk selalu patuh akan Firman-Nya. Melalui Kuasa dan Fiman-Nya lah, pola pikir dan perilaku manusia akan mudah diubahnya ke jalan yang benar.

Pertengkaran, permusuhan atau perseteruan antar sesama akan teredam apabila kita menjalankan firman-Nya, seperti yang tercatat dalam Markus 12:31 “Kasihilah sesama manusia seperti diri sendiri…” Dalam arti, apabila kita gampang mengampuni kesalahan atau kejahatan orang lain dengan penuh kasih, kita akan merasakan kebahagiaan dalam hati. Sebab, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (I Yohanes 4:18).

Untuk mengampuni dan mengasihi memang tidak gampang. Sebab untuk mengasihi seseorang secara tulus, kita harus menyisihkan waktu, bersedia berkorban, mampu menekan perasaan dan penuh kesabaran dalam melayani dengan kasih yang tulus. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Korintus 13:4). Agar kita mampu bersikap panjang sabar, kita harus tahan menghadapi godaan, kita harus selalu tekun dalam doa.

Janganlah beranggapan bahwa apabila kita sudah mapan, kita tidak perlu membangun hubungan antarmanusia dan merasa bisa mandiri. Ini tidak benar. Sebagai makhluk sosial, kita harus bisa hidup dalam kebersamaan. Memerlukan hubungan antar manusia untuk saling mengasihi.

Di sini diperlukan kematangan iman. Di mana untuk memelihara iman, kita secara berkesinambungan harus berupaya menerima, memahami, menghayati dan meyakini semua firman Allah sebagai landasan keseimbangan hidup. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12).

Hidup saling melayani dan saling mengasihi, perlu terus dipraktekkan melalui kehidupan yang harmonis. Melalui persekutuan. Melalui kehidupan bergereja agar kita bisa memantapkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dengan kebutuhan rohani. Semangat kebersamaan untuk saling melayani penuh kasih inilah yang akan menumbuhkan kerinduan untuk bisa hidup bersama dengan sesama. “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tak berguna” (1Korintus 13:2).

Sampai di mana kesiapan hati kita untuk meneladani Kristus, yang lahir untuk melayani dengan penuh kasih yang tulus? Semoga kita mampu meneladani Kristus

Roesanto

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Saling Menerimalah
    Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)...
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
Kegiatan