Catatan Perjalanan ke Sebuah Desa di Kaki Gunung Merbabu

Catatan Perjalanan ke Sebuah Desa di Kaki Gunung Merbabu

3 Komentar 773 Views

Semula, pelayanan ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen ini merupakan gagasan dari salah satu sesepuh PS. Wilayah Lebak Bulus, tetapi berkat kasih karunia Tuhan, dapat bersama-sama diwujudkan oleh seluruh anggota paduan suara kami.

Sejalan dengan program pelayanan keluar PS. Wilayah Lebak Bulus, dan berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Pdt. Em. Agus Susanto, pengurus dan panitia mulai menyelidiki keberadaan Desa Kenalan yang terletak di dekat Salatiga (Jawa Tengah) yang sejuk, sekitar sejam perjalanan dari kota itu. Kami pun melakukan penelusuran melalui website untuk menemukan lokasi desa tersebut.

Untuk mematangkan rencana kami, sebuah tim melakukan survei pendahuluan. Sesampai rombongan ini di tempat tujuan, mereka sangat takjub menyaksikan kemegahan sebuah gedung gereja di pedalaman kaki Gunung Merbabu dengan jumlah jemaat sekitar 400 orang, termasuk anak-anak. Dari bincang-bincang dengan 3 orang majelis GKJ Kenalan, diketahui bahwa 90% jumlah penduduk di sana tercatat beragama Kristen.

Sejarah berdirinya GKJ Kenalan diawali dengan pelaksanaan baptis massal yang diikuti oleh 150 orang warga desa yang menjadi pengikut Kristus. Peristiwa ini menyentuh hati banyak orang, termasuk yayasan misionaris di Kanada yang pada awal tahun 1990 membiayai pembangunan gereja tersebut. Selain itu ada juga banyak jemaat dari gereja lain, baik di pusat maupun di daerah, yang ikut membantu pendirian rumah ibadah GKJ Kenalan yang terletak di daerah terpencil ini.

Sekembalinya tim ke Jakarta, pelayanan ke Ds. Kenalan dan Ds. Kendakan di kaki Gunung Merbabu dibicarakan dengan seluruh anggota PS Wil Lebak Bulus. Para anggota dengan antusias segera mengumpulkan bantuan berupa Alkitab dan buku-buku bacaan rohani untuk pertumbuhan rohani anak-anak di sana.

Hari Sabtu tanggal 13 Maret, rombongan berjumlah 39 orang berkumpul di gereja untuk bersama-sama berangkat ke Semarang. Perjalanan dengan pesawat terbang ditempuh dalam waktu 45 menit. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Salatiga dengan menggunakan bus, lalu makan siang di Ungaran dan mampir di Bandungan, daerah wisata yang berhawa sejuk. Dari sana kami menuju hotel Beringin di Salatiga untuk beristirahat. Sore hari sebelum makan malam kami melakukan latihan terakhir di hotel di bawah pimpinan Sdr. Yafet.

Hari Minggu tanggal 14 Maret pukul 6.30 kami sudah siap untuk melakukan perjalanan menuju Ds. Kenalan yang terletak 1400 m di atas permukaan laut. Bus yang kami tumpangi tidak dapat mencapai tempat tersebut, sehingga kami harus naik kendaraan yang lebih kecil.

Kami mengikuti kebaktian Minggu yang dimulai pukul 09.00 dan dipimpin oleh seorang anggota Komisi PI dari GKI Pajajaran, Magelang. Sampai kini GKJ Kenalan belum memiliki pendeta. Ibadah Minggu dihadiri oleh sekitar 250-300 orang. Ps. Wilayah Lebak Bulus melayani puji-pujian dalam ibadah Minggu itu dengan menyanyikan tiga buah lagu, yaitu “Yesus Nahkoda Agung,” “Tak Terkira Kasih-Mu” dan “Tiup Nafiri.”

Kami disambut hangat oleh para majelis dan jemaat GKJ Kenalan. Seusai ibadah, kami menyerahkan Alkitab, Alkitab bergambar untuk anak-anak, Kidung Jawa dan berbagai buku bacaan yang mendukung pertumbuhan rohani anak-anak jemaat gereja tersebut. Di samping itu, kami juga menyerahkan sumbangan pendidikan. Karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat melaksanakan bincang-bincang berkelompok dengan jemaat, seperti yang semula kami rencanakan. Seusai acara ramah-tamah dengan suguhan kudapan ringan khas desa yang sangat lezat, kami berfoto bersama di depan gedung gereja sebelum berpamitan dan menuju Pepantan (Bakal Jemaat) GKJ Ngablak di Ds. Kendakan, yang terletak agak jauh dari Ds. Kenalan. Beberapa anggota Paduan Suara tidak ikut ke sana karena jauhnya lokasi tersebut, dan menunggu selama 1,5 jam di GKJ Kenalan. Meskipun demikian, mereka dapat memanfaatkan waktu dengan mengikuti kegiatan Sekolah Minggu yang diadakan seusai kebaktian umum. Pak Lukas, salah seorang guru Sekolah Minggu kita, bahkan dapat membagikan pengalamannya kepada para guru Sekolah Minggu di sana tentang cara mengajarkan Fiman Tuhan kepada anak-anak.

Untuk menuju Pepantan GKJ Ngablak kami membutuhkan waktu 30 menit dengan berkendaraan. Jalan yang menanjak dan terjal menuju desa yang sangat terpencil dan jauh dari keramaian ini menjadi salah satu alasan lamanya perjalanan. Pepantan GKJ Ngablak tidak sebesar GKJ Kenalan, jemaatnya kurang lebih berjumlah 30 orang. Desa ini merupakan desa tertinggi di kaki gunung Merbabu, bahkan menurut salah seorang penduduk, desa ini terletak di “pinggang” gunung sehingga udara dingin sangat terasa dibandingkan dengan Ds. Kenalan.

Setiba di sana, kami tidak mengikuti ibadah Minggu dan bernyanyi seperti di GKJ Kenalan, namun hanya beramah-tamah dan menyampaikan bahan bacaan kepada jemaat. Bantuan yang diberikan tidak jauh berbeda dari yang kami berikan kepada GKJ Kenalan, yaitu berupa Alkitab, Alkitab bergambar buku nyanyian, dan sumbangan pendidikan.

Setelah menyerahkan bantuan, kami disuguhi makan siang dengan brokoli sebagai menu utama, karena daerah ini merupakan penghasil Brokoli! Sesudah makan siang, kami segera kembali berkumpul dengan anggota paduan suara yang tertinggal di GKJ Kenalan.

Sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, masih ada satu pelayanan lagi yang harus kami laksanakan, yaitu di GKJ Salatiga. Pukul 16.00 kami sudah berangkat ke sana. Perjalanan ditempuh kurang dari 30 menit, karena jaraknya dekat dan tidak ada kemacetan seperti yang biasa terjadi di Jakarta. Di GKJ Salatiga kami mengikuti kebaktian sore yang dipenuhi oleh muda-mudi, karena sebagian besar jemaat adalah mahasiswa Universitas Satya Wacana. Kami melantunkan tiga buah lagu pujian, dengan dipimpin oleh Sdr. Yafet. Seusai kebaktian, kami dijamu oleh para penatua GKJ Salatiga dan disuguhi makan malam sambil beramah-tamah. Setelah berfoto bersama maka kami pun berpamitan untuk kembali ke hotel tempat kami menginap.

Senin 15 Maret 2010, kami membeli oleh-oleh khas Salatiga sebelum berangkat ke Semarang. Setiba di sana, kami juga mampir sebentar untuk membeli oleh-oleh sebelum kembali ke Jakarta.

Cuaca yang kurang baik membuat penerbangan kami ke Jakarta tertunda selama beberapa jam, namun puji Tuhan, kami sampai dengan selamat di Terminal 3 Soekarno-Hatta pada pukul 20.00 dan tiba di GKI Pondok Indah pada pukul 22.00.

Sebuah pengalaman baru yang tidak terlupakan melekat di hati setiap anggota Ps. Wilayah Lebak Bulus yang mengikuti kunjungan ke dua desa di kaki Gunung Merbabu ini. Walaupun terletak di pedalaman dengan taraf hidup yang sangat sederhana sebagai petani sayur-mayur, jemaat di sana memiliki iman yang kuat kepada Tuhan Yesus Kristus, sebagai Juru Selamat dan Penolong mereka yang setia. Perjalanan ini juga semakin mempererat hubungan antara anggota PS. Wilayah Lebak Bulus.

(Candace Anastassia Limbong)

We cannot display this gallery

3 Comments

  1. Jakarta Berdoa

    Syalom,
    Baru hari ini saya meng-unggah (upload) cerita kesaksian tentang GKJ Kenalan. Dan melalui jelajah (browsing) saya menemukan artikel ini yang akan saya unggah juga sebagai kelanjutan kesaksian itu. Mohon dapat diberikan izin dan silakan kunjungi situs saya agar bisa mengetahui seperti apa kesaksian itu.
    Salam kasih,
    Deny S Pamudji
    http://jakartaberdoa.blogspot.com

  2. Jakarta Berdoa

    Syalom,
    Senang sekali bisa membaca tentang GKJ Kenalan. Baru saja saya upload kesaksian tentang GKJ Kenalan.
    Salam kasih,
    Deny S Pamudji

  3. sarmanpsagala

    mudah-mudahan pelayanan yang diberikan selalu menjadi berkat bagi orang2 sekitar.. amin GBU

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan