Bulan Budaya GKI Pondok Indah

Bulan Budaya GKI Pondok Indah

Belum ada komentar 387 Views

Allah menciptakan berbagai suku bangsa dan menyatukannya sebagai bangsa Indonesia. Masing-masing mempunyai budaya dan adat-istiadatnya sendiri, yang kadang-kadang tidak kita ketahui. Seringkali karena ketidaktahuan ini, kita kurang bisa mengerti sesama kita.

Di bulan Agustus 2008, dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia, suasana kebaktian diterapkan sesuai dengan berbagai suku bangsa yang ada di negeri kita, karena Gereja Kristen Indonesia adalah gereja yang terbuka bagi semua etnik yang ada di negara kita ini. Kegiatan ibadah dengan format liturgis GKI yang dibalut dengan nuansa etnik merupakan simbol keterbukaan GKI bagi semua etnik.

Minggu Pertama: Nuansa Papua, Identitas Diri yang Baru

080901_1Nuansa Papua, dibuka dengan penayangan sebuah film tentang Penyebaran Injil di Papua dan penjelasan dari Bapak Albert, mantan Ketua Sinode dari Papua. Kemudian disampaikan ucapan selamat datang dalam bahasa Papua oleh Kel. Musa Fakdawer, disusul dengan tabuh tifa dan nyanyian “Yesus Dombe.”

Semarak Papua tidak saja tampak dalam hiasan gereja yang khas Papua, tetapi juga dalam rumbai-rumbai, perhiasan dan ikat kepala yang dikenakan oleh semua orang yang melayani ibadah hari Minggu itu.

Sebelum khotbah, Mannenkoor memersembahkan lagu dari Biak yang khusus dikirimkan untuk kesempatan ini: “Ruri Sara Nden”, ciptaan Theo Yembisar dengan adaptasi not oleh A. Simon.

Khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Rudianto Djajakartika merangkum seluruh pembacaan Alkitab yang diambil dari Kejadian 32:22-32, Mazmur 17:1-7, Roma 9:1-5 dan Matius 14:13-21, dan terutama mengupas kisah pergumulan Yakub sebelum ia bertemu kembali dengan Esau, setelah belasan tahun berpisah dengan kakaknya itu.

Pergumulan Yakub, layaknya tontonan TV, “Smack Down,” yang merupakan suatu pergumulan dan pergulatan yang sangat seru. Namun kalau “Smack Down” hanya berlangsung selama beberapa menit, pergumulan Yakub berlangsung dari petang sampai fajar. Pergumulan ini diletakkan di dalam konteks Yakub yang sudah menipu saudaranya, pamannya, dan melakukan kelemahan-kelemahan manusiawi, tetapi sekarang harus melakukan rekonsiliasi dengan Esau. Ia harus mengulurkan tangan, merendahkan diri dan meminta maaf. Di sisi lain, Esau juga harus menerima uluran tangan Yakub dan mengatakan bahwa ia memaafkannya.

Tentu tidak mudah mengulurkan tangan, merendahkan diri dan meminta maaf. Begitu juga bila kita berada di posisi Esau yang disakiti dan harus menyambut uluran tangan itu, memeluk dan memaafkan. Bukankah kisah ini juga sering muncul di tengah-tengah kita? Suami dan istri, orang tua dan anak, yang harus melakukan rekonsiliasi. Suatu bangsa yang bertikai dan pada akhirnya melakukan rekonsiliasi. Sungguh tidak mudah untuk mengatakan bahwa kita mau memaafkan karena kita punya harga diri.

Di ruang pastoral, sering datang pasangan-pasangan yang mau bercerai. Mereka mengatakan bahwa keputusan mereka sudah final, tidak mau rujuk lagi. Pada saat itu, mereka diperhadapkan pada pergumulan untuk memaafkan atau tidak, maju atau tidak. Suatu pergumulan yang panjang. Tetapi kita patut bersyukur bahwa dalam kisah Yakub, Yakub menang. Di dalam ayat 28 dikatakan bahwa Yakub bergumul dengan Allah dan menang. Sebenarnya menang di sini bukan berarti bahwa Yakub menang terhadap Allah, tetapi menang melawan kemanusiawiannya. Pergumulan Yakub ialah untuk merendahkan dirinya dan datang kepada Esau. Oleh karena kemenangannya itu, Tuhan memberinya identitas baru, yaitu Israel, karena Allah menyertainya dan memampukannya untuk menang.

Bagaimanakah dengan pergumulan kita sehari-hari? Kita sering mengalami pergumulan yang sulit, dibanting, diangkat seperti smack down. Ada banyak pergumulan antara suami dan istri, juga antara suku-suku bangsa seperti Apartheid di Afrika, konflik di Aceh, Poso, Ambon dan beberapa daerah lainnya. Oleh karena itu kita harus mengalahkan ego kita dan kemanusiawian kita. Dan kalau kita berhasil mengalahkannya, kita akan mendapat identitas baru.

Bukankah kita sudah mendapat identitas itu? Kita disebut Kristen, pengikut Yesus yang disalib, yang punya bela rasa, yang tak memikirkan diri sendiri. Namun apakah perbedaan Yakub sebagai Israel dan keturunan Yakub sebagai Israel? Yakub sudah mendapat identitas baru karena ia sudah bergumul dan menang. Tetapi keturunannya menerima status Israel sebagai taken for granted. Karena itulah sering terjadi kesenjangan antara perilaku dan identitas sebagai bangsa Israel, sehingga Paulus menangisinya (Roma 9:3). Paulus melihat bahwa ternyata perilaku orang Israel tidak sama dengan identitas mereka. Oleh karena itu ia rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaranya, kaum sebangsanya itu.

Keberadaan orang Israel itu, bukankah sama seperti kita yang Kristen tetapi tidak bergumul? Kita hanya ikut katekisasi karena disuruh oleh orang tua, hanya karena kewajiban. Firman Tuhan juga dibaca tanpa pergumulan dan tanpa upaya untuk melaksanakan ibadah dengan sungguh-sungguh. Semua hanya sekadar kebiasaan, dan sampai di rumah, Firman itu dilupakan. Akibatnya ada orang-orang dengan identitas baru sebagai Kristen, tetapi perilaku mereka masih yang lama. Tidak ada kasih dan pengampunan, tidak ada rekonsiliasi dan bela rasa. Yang ada hanya ego, pride, kedagingan! Hari ini kita memasuki Bulan Budaya. Agama Kristen melekat dengan Papua, tetapi budaya minum-minum juga melekat dengan Papua. Karena itu kita perlu mendukung gerakan Pekabaran Injil di sana.

Marilah kita mengikut teladan Yesus yang memberi makan kepada 5 ribu orang, teladan Paulus yang berbelarasa, dan teladan Yakub yang bergumul. Tuhan memberkati kita di dalam pergumulan kita. Setelah saat hening, Mannenkoor menyanyikan lagu “Mawono Berokro” (Menggema Bunyi Tifa).

Begitu pula setelah Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Syafaat, Kel. Fakdawer kembali menyanyikan kidung pujian dalam bahasa Papua untuk mengiringi persembahan. Ibadah diakhiri dengan menyanyikan “Satu Pintu Masuklah” dan ucapan berkat. Haleluya! (ib)

Minggu Kedua: Nuansa NTT, Ini Aku, Jangan Takut!

080901_2Minggu kedua Bulan Budaya tahun ini menampilkan nuansa Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Rote, yang menurut penjelasan Bapak Paul Poli merupakan wilayah paling selatan di Indonesia. Pulau ini terkenal dengan kekhasan budidaya pohon Lontar yang juga disebut sebagai pohon kehidupan, musik Sasando yaitu semacam Harpa dari daun Lontar dengan 45 dawai, dan topi adat Ti’i Langga. Rote terkenal dengan gulanya. Penduduk biasanya mengolah nira Lontar menjadi gula dan sopi, yang merupakan fermentasi nira dan mengandung alkohol tinggi. Agama Kristen masuk ke Pulau Rote melalui misi Belanda pada tahun 1725.

Dengan diiringi lagu “Saya Mau Ikut Tuhan” dalam bahasa Rote, paduan suara wilayah Pondok Indah yang mengenakan topi Ti’i Langga dari daun lontar serta selendang dan kain dari tenun ikat, memasuki gereja. Semua orang yang berperan serta di dalam kebaktian mengenakan busana dan perlengkapan adat Rote. Hiasan pernak-pernik khas NTT juga menambah kesemarakan ibadah. Tahun ini GKI Pondok Indah memang menampilkan budaya dari beberapa daerah di Indonesia untuk meningkatkan kepedulian jemaat kepada saudara-saudara seiman yang tinggal di wilayah-wilayah tersebut, dan memberikan dukungan bagi perkembangan mereka.

Setelah votum dan salam berkat, anak-anak kecil dari kelompok Kiut dengan penuh keceriaan menyanyikan lagu “Hati yang Gembira Adalah Obat,” disusul oleh paduan suara yang melantunkan “Lais Manekat” (Saling Mengasihi).

Dalam khotbahnya yang diambil dari Matius 14:22-33, yaitu kisah tentang murid-murid Yesus yang ketakutan karena perahu mereka diombang-ambingkan oleh angin sakal lalu Yesus datang menghampiri mereka dan berkata, “Ini Aku, jangan takut,” Pdt. Agus Susanto mengemukakan bahwa kata-kata “jangan takut” sudah sering kita dengar dan sering pula diucapkan oleh orang lain. Tetapi siapakah yang dapat membebaskan diri dari perasaan takut dan mengatakan, “Saya tak takut lagi?” Perasaan takut tidak saja dialami oleh orang-orang kecil dan miskin yang tak tahu apa yang akan dimakan besok, namun juga oleh orang-orang yang berkelimpahan harta. Para pensiunan tidak menguatirkan pemanasan global, namun takut apakah ada dana cukup untuk menghadapi hari tua mereka. Orang tua takut apakah ia mampu memersiapkan anak-anaknya dengan baik. Bahkan para koruptor pun kini takut menghadapi KPK.

Bagaimanakah kita mengatasi rasa takut? Ketakutan yang paling mendasar di dalam hidup manusia bukanlah tentang masalah-masalah yang praktis, tetapi mengenai ketidakpastian hidup. Apabila orang merasa pasti, ia akan exist, karena ia tahu bahwa ada pendamping yang menopangnya di dalam menghadapi kehidupan ini, seperti yang dikatakan oleh pemazmur di dalam Mazmur 23, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Di dalam kisah Injil Matius ini, para murid menghadapi situasi yang tidak dapat mereka atasi. Sebenarnya mereka adalah nelayan-nelayan yang berpengalaman dan mengetahui kesulitan-kesulitan yang menghadang mereka di laut. Tetapi ketika situasi itu menjadi kritis dan tak ada kepastian bahwa mereka dapat menyelamatkan diri, mereka menjadi takut. Rasa takut, pesimis, tak bisa berpikir secara nalar dan akal sehat ini bahkan membuat mereka menyangka bahwa Yesus adalah hantu, padahal sebenarnya mereka sudah sangat kenal dengan sosok Yesus dan tak mungkin salah lihat.

Yang menarik ialah bahwa Yesus menawarkan diri dengan hanya mengatakan, “Ini Aku, jangan takut.” Dengan kata lain, Yesus mengatakan, “Inilah Aku yang siap dan selalu bersamamu. Aku selalu menopang dan mencintaimu.” Ketidakpastian para murid dijawab Yesus dengan menampakkan diri dan memberikan jawaban yang pasti. Ia tahu bahwa ketakutan hanya dapat diatasi dengan semangat cinta, sehingga orang akan merasa aman. Sama seperti seorang anak yang meronta-ronta dan menangis, tetapi kemudian didekap oleh ibunya dan akhirnya merasa tenang.

Di dalam kehidupan ini, kita menghadapi berbagai ancaman. NTT merupakan daerah yang terancam kemiskinan. Tetapi di dalam ketidakpastian akan masa depan ini, Yesus mengatakan, “Ini Aku, jangan takut.” Inilah semangat cinta yang kita perlukan, sebab orang yang memiliki semangat cinta tidak akan merasa putus asa.

Petrus menanggapi undangan Yesus dengan tindakan iman. Ia melangkah dan berani berjalan di atas air. Selama ia memusatkan pandangannya kepada Yesus, ia bisa melakukannya, tetapi ketika ia melepaskan perhatian daripada-Nya, ia mulai tenggelam. Akhirnya ia berseru, “Tuhan, tolonglah aku yang tak percaya.” Pada saat Petrus tidak bisa, Tuhan mengulurkan tangan-Nya sehingga Petrus merasakan kasih Yesus yang mencintainya. Tetapi iman Petrus tidak selamanya kuat melainkan terus diproses. Kita ketahui bahwa di dalam perjalanan hidupnya, ia masih menyangkali Yesus, sampai pada akhirnya ia benar-benar diteguhkan dan membuka diri bagi-Nya.

Semangat cinta itu juga kita jumpai di dalam diri Yusuf (Kej. 37:1-4, 12-28) yang mengalami perjalanan hidup yang berliku-liku. Semula ia merasakan suasana cinta kasih orang tuanya, tetapi ketika ia dijual, ia menghadapi realita baru, yaitu hidup yang sangat menderita dan penuh kesulitan. Meskipun demikian, ia tetap exist karena ia memiliki kekuatan cinta itu.

Ketika akhirnya ia menjadi mangkubumi dan saudara-saudaranya yang dulu menjualnya meminta maaf kepadanya, Yusuf mengatakan, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Itulah kekuatan cinta yang mengalahkan ketakutan. Itulah spirit cinta yang tumbuh di hati kita dan menjadi berkat, karena kita merasakan cinta Tuhan. Cinta itu mau mengampuni orang yang bersalah terhadap kita.

Alangkah damainya negeri kita apabila spirit cinta itu ada di dalam hati setiap orang. Namun untuk mengalami perubahan itu, kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Apakah semangat cinta itu ada di dalam diri kita? Marilah dengan semangat cinta kita mewarnai orang-orang di sekeliling kita.

Paduan suara kemudian menyambut khotbah dengan menyanyikan “Hoi Ale’ To Tafa” (Hai Umat Tuhan). Setelah kebaktian diadakan bazaar di plasa gereja dengan iringan lagu-lagu khas NTT yang riang gembira. (ib)

Minggu Ketiga: Nuansa Merah-Putih, Rekonsiliasi dan Hidup Rukun

080901_3Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan, jemaat GKI Pondok Indah dan pos-pos pelayanannya di Desa Kemang dan Telaga Kahuripan bersama-sama memeringati Hari Kemerdekaan negeri kita ke-63 yang tahun ini jatuh pada hari Minggu, 17 Agustus. Bendera-bendera merah-putih yang melatari mimbar dan menghiasi sepanjang tepi balkon, rangkaian bunga putih di mimbar dan tonggak-tonggak ramping di sisi-sisi lorong gereja dengan bunga-bunga yang menyembul di atasnya, membawa jemaat pada suasana gembira. Para ibu dari Kolintang Gloria dan Hosiana dengan cekatan mengiringi seluruh lagu yang dinyanyikan jemaat di dalam ibadah ini.

Sebelum kebaktian dimulai diadakan upacara penyerahan akte kelahiran anak oleh Majelis GKI Pondok Indah yang diwakili oleh Bapak Zilvanus sebagai Ketua Majelis, kepada keluarga Hong Sin sebagai wakil dari Desa Kemang. Akte lahir bagi 40 anak dan 5 orang dewasa keturunan Tionghoa di Desa Kemang ini merupakan wujud nyata kepedulian jemaat gereja kita, yang bekerja sama dengan LADI telah mengurus akte-akte tersebut sampai selesai.

Tiga pemuda pembawa bendera mendahului iring-iringan Majelis dan Pendeta memasuki ruang gereja. Sebuah sajak tentang kemerdekaan dibacakan sementara ketiga pemuda itu menancapkan bendera yang mereka bawa. Setelah Pdt. Riani Josaphine mengucapkan votum dan salam berkat, jemaat dengan serempak menyanyikan lagu “Indonesia Raya” diikuti dengan lagu “Dirgahayu Indonesiaku” yang dilantunkan dengan penuh semangat oleh anggota-anggota senior kita dari P.S. Effata.

Di dalam khotbahnya, Pdt. Riani mengungkapkan bahwa di dalam Thesaurus, rekonsiliasi berarti perdamaian. Sejak 1 Januari 2000, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendorong masyarakat internasional untuk mengusahakan perdamaian dunia dengan menetapkan Hari Perdamaian dan Anti Kekerasan Bagi Anak-Anak Sedunia. Namun sementara dunia menggerakkan perdamaian, mengapakah di dalam kisah Matius 15:10-20 Yesus justru memulai pertengkaran? Mengapakah Ia mengucapkan kata-kata yang begitu menantang dan keras kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat? Kalau orang-orang Farisi dianggap tidak tahu Taurat, tentu hal ini akan memicu pertengkaran dengan mereka.

Banyak orang mengira bahwa rekonsiliasi berarti diam. Padahal, apabila sebuah keluarga terlihat rukun dan hidup bersama, belum tentu keluarga itu hidup damai, sebab apa yang kelihatan pada permukaan yang tenang dapat menyimpan ranjau. Orang juga menyangka bahwa damai itu harus tutup mulut dan mengikuti cara-cara lama. Seperti orang-orang Farisi yang mengikuti cara-cara lama yang sesungguhnya merupakan peraturan-peraturan atas tafsiran terhadap 10 hukum Taurat. Misalnya hukum tentang kekudusan, mereka menganggap seseorang kudus bila ia menyuci tangannya. Peraturan-peraturan inilah yang ditentang oleh Yesus.

Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rekonsiliasi berarti perbuatan mengembalikan ke keadaan semula. Yesus melakukan tiga langkah untuk memulihkan peraturan di dalam Taurat:

  1. Mengingat sambil mengonfrontir atau membuka kesalahan. Di dalam Injil, Yesus membuka kesalahan-kesalahan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ada kisah tentang seorang pemuda yang berniat menguburkan masa lalunya karena ketika masih kecil, ia mengalami pelecehan yang sangat melukai hatinya. Namun sebenarnya yang harus dilakukannya ialah mengingat peristiwa pahit itu, karena dengan mengingatnya, proses pemulihan dimulai. Begitupun dengan Yusuf (Kej. 45:1-15) yang berusaha mengingat dan membuka kesalahan kakak-kakaknya. Mengingat tidak sama dengan menyalahkan, tetapi mengingat itu perlu untuk memulai proses perdamaian. Oleh karena itu, agar hati kita damai, luka-luka lama yang kita alami di dalam berbangsa dan bernegara juga harus dibuka untuk memulai proses rekonsiliasi, sehingga kita dapat merasa bangga dengan identitas kita sebagai suatu bangsa.
  2. Memerbaharui. Yesus mengatakan bahwa apa yang tidak kudus bukanlah yang masuk ke dalam mulut, tetapi yang keluar dari hati manusia. Kita perlu mempunyai hati yang bersih dan pikiran yang baik. Hati yang bersih itu bersyukur, tidak mengeluh, jujur dan tidak bersumpah palsu. Memerbaiki juga berarti memulihkan relasi seperti yang telah dilakukan oleh Yusuf. Di dalam kehidupan berbangsa, kita dipanggil untuk memerbaharui citra bangsa dengan pembaharuan karakter, dengan semangat yang mau berdamai dan hidup di dalam cinta kasih. Hati manusia diibaratkan sebagai salep maafin. Kalau kita membuka dan mengeluarkan isinya berupa senyum perdamaian, hal itu seperti embun Gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion (Maz 133). Mungkin kita masih menyimpan dendam sebagai korban kebodohan massa, karena itu kita perlu membereskan diri kita dan membiarkan kekuatan Ilahi mengampuni dan memerbaiki hidup bersama Tuhan, Sang Pengampun. Maukah kita?
  3. Mengampuni. Yesus tidak berbicara kepada orang-orang Farisi, tetapi kepada murid-murid-Nya. Hal ini dilakukan-Nya untuk menetralisir hati mereka yang sakit karena teguran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu. Di dalam bahasa sehari-hari kira-kira dapat diterjemahkan demikian, Yesus berkata, “Jangan ambil hati pada perkataan mereka, jangan ambil pusing. Mereka tidak mengerti makna Taurat seperti kita.” Yesus tidak memerkeruh suasana. Yusuf pun demikian. Ia memeluk dan mengampuni saudara-saudaranya. Ada legenda abad pertengahan tentang seorang uskup yang bertemu dengan seorang zuster yang konon dapat melihat Yesus. Si uskup lalu berpesan kepada zuster itu untuk menanyakan kepada Yesus, dosa terbesar apakah yang dilakukannya sebelum ia menjadi uskup. Ternyata Yesus menjawab, “Saya tidak ingat lagi.” Yesus bukan pelupa, tetapi pengampun. Kitapun diajarkan hal yang sama. Jika kita mengalami hal-hal buruk di dalam sejarah bangsa kita, kita harus dapat mengampuni agar kita dapat kembali merasa bangga pada bangsa kita.

Paduan Suara Pos Pelayanan Kahuripan kemudian menyambut khotbah dengan menyanyikan “It Is Well With My Soul.” Setelah rangkaian ibadah usai, diselenggarakan bazaar di pelataran gereja yang ramai dikunjungi oleh jemaat. (ib)

Minggu Keempat: Nuansa Toraja, Diselamatkan untuk Menjadi Pembebas

080901_4Jemaat GKI Pondok Indah yang datang ke kebaktian Minggu tanggal 24 Agustus disambut dengan keindahan balutan kain-kain tenun ikat Toraja di pilar-pilar gereja dan di meja altar, replika mini bagian depan rumah Toraja (Tongkonan) di belakang mimbar dan hiasan-hiasan kerucut berumbai-rumbai di beberapa tempat.

Agama Kristen diperkenalkan pertama kali di Toraja oleh utusan Zending dari Nederland, Antonie Aris van de Loosdrecht, pada tahun 1913. Meskipun ia kemudian mati syahid pada tahun 1917 akibat ditombak oleh penduduk setempat, namun Pekabaran Injil terus meluas di seluruh wilayah Tana Toraja, terutama di Makale dan Rantepao.

Setelah ucapan “Selamat Datang” disampaikan oleh sepasang warga Toraja, paduan suara wanita Gracia dengan busana merah, coklat, hijau, biru dan ungu memasuki gereja. Jemaat kemudian menjawab ajakan penatua dengan menyanyikan “O Puang, Tontong Bang Kupudi SangamMi” (Ya Tuhan, Kami Puji Nama-Mu Besar), sementara pendeta dan penatua-penatua lainnya memasuki ruang kebaktian dengan didahului oleh beberapa pasang pemuda-pemudi berbusana Toraja.

“Puang Manna Unnampui Kasendean Sae Lako “(Kami Puji Dengan Riang) menyambut ayat pembuka, dan setelah jemaat saling memberikan salam damai, Bapak Agus Tangyong membacakan Firman Tuhan dalam bahasa Toraja dari Amsal 2:6-9. Paduan Suara Gracia menyanyikan lagu “O Puang Pentiongananku” (Ya Tuhan, Kau Perlindunganku) sebelum pelayanan khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Cipto Martalu Sapangi dari GKI Kali Pasir Bandung, dalam rangka pertukaran mimbar untuk memeringati Hari Ulang Tahun GKI yang ke-20.

Dalam khotbahnya, Pdt. Cipto terlebih dahulu menanyakan kepada jemaat, siapa tokoh pejuang hak asasi manusia (HAM) Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa dengan keteladanan sampai akhir hayatnya. Ternyata dia adalah Yap Thiam Hien, pengacara yang telah membuktikan integritasnya sebagai penegak hukum, keadilan dan HAM di negeri kita. Setelah pendidikannya di negeri Belanda, Yap aktif di dalam organisasi kepemudaan bahkan pernah menjadi penatua di GKI Samanhudi. Ia sering membela orang yang lemah, orang yang didiskriminasikan dan diperlakukan tidak adil, orang miskin. Pada saat peristiwa G-30-S PKI, ia membela Soebandrio sehingga Soebandrio dipulihkan harga dirinya. Ia juga berjuang bagi pembebasan tahanan politik di Pulau Buru. Perjuangannya sering dikritik, ia dicap pemfitnah oleh aparat negara dan bahkan pernah dipenjarakan. Namun Yap pantang menyerah. Ia adalah pembebas sejati bagi orang-orang yang terpinggirkan. Begitu juga Romo Mangun yang mengangkat harkat dan martabat masyarakat pinggiran Kali Code di Jogjakarta.

Namun Yesus adalah pembebas yang terbesar. Berbeda dengan murid-murid lainnya yang menganggap Yesus hanya seorang nabi, Simon Petrus dengan yakin mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-20). “Mesias” berarti, Orang yang diurapi, Raja besar yang menyelamatkan manusia dari dosa dan maut. “Anak Allah yang hidup” mencerminkan hubungan yang harmonis antara Yesus dengan Allah Bapa. Karena keyakinannya ini, Simon Petrus dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah.

Suatu hari Bunda Teresa tergerak hatinya untuk membantu sebuah keluarga miskin dengan 8 anak. Ia membawa nasi dan lauk-pauk kepada mereka, tetapi ia sungguh heran ketika si ibu tidak segera memberikan makanan itu kepada anak-anaknya yang sudah lapar, tetapi membagi dua makanan tersebut, lalu membawa separuhnya keluar rumah. Ternyata si ibu memberikannya kepada tetangganya, seorang nenek yang tinggal seorang diri. Ibu itu, di dalam kemiskinannya, tetap menolong orang lain. Sikapnya itu menunjukkan bahwa ia adalah rekan sekerja Allah. Ia melakukan tindakan nyata untuk membebaskan sesamanya yang kelaparan.

Paulus prihatin terhadap keberadaan jemaat Kristen di Roma (Roma 12:1-8) yang kaya tetapi cenderung tidak menunjukkan kekudusan mereka. Oleh karena itu Paulus mengajak mereka untuk berubah dan saling mengasihi.

Di dalam Keluaran 2:1-10 dikisahkan tentang putri Firaun yang tidak percaya kepada Allah namun dapat dipakai Allah untuk menyelamatkan orang percaya. Tuhan tidak tinggal diam ketika terjadi bencana pembunuhan bayi-bayi laki-laki bangsa Yahudi. Ia menyelamatkan Musa melalui tangan putri Firaun. Jika Tuhan menghendaki, keselamatan dapat diberikan kepada setiap orang.

Jemaat diajak Pdt. Cipto untuk bermain, yaitu dengan melipat tangan di depan dada dan meletakkan masing-masing tangan di bawah ketiak. Setelah itu lipatan dibalik. Jika sebelumnya tangan kanan di atas, sekarang tangan kirilah yang di atas. Ternyata jemaat merasa tidak nyaman ketika posisi diubah. Ini menandakan bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk mengubah kebiasaan.

Begitu juga permainan lain, yaitu jemaat diminta untuk menganggukkan kepala jika berkata “tidak” dan menggelengkan kepala jika berkata “ya.” Ketika beberapa pertanyaan diajukan oleh Pdt. Cipto, jemaat harus benar-benar berkonsentrasi agar tidak salah menjawab. Memang manusia pada umumnya sulit mengubah kebiasaan, terutama kebiasaan jelek, karena manusia lebih cepat menangkap yang jelek daripada yang baik. Bagaimana kita bisa menjadi pembebas dan rekan sekerja Allah kalau kita tidak dapat membuang kebiasaan-kebiasaan jelek kita? Kebiasaan terlambat datang ke kebaktian, mengobrol dalam ibadah, tidak menyiapkan persembahan, gosip, dsb.?

Kita perlu meneruskan semangat keteladanan Yesus yang merendahkan diri dan mengosongkan diri demi menyelamatkan manusia. GKI dalam perkembangannya telah sangat diberkati Tuhan, namun janganlah itu menyebabkan kita berbangga hati. Kita harus menjadi perpanjangan tangan Allah bagi orang-orang yang terpasung kebebasannya, yang dilecehkan moralnya, yang diambil hak hidupnya. Kita harus membangun solidaritas sosial. Sudahkah kita mengenal anggota-anggota jemaat yang diduk di sekitar kita, keluarganya, kegiatannya? Ataukah kita hanya membangun kemegahan diri sendiri, menonjolkan individualisme dan masa bodoh kepada orang-orang yang terpuruk?

Orang-orang membutuhkan bantuan kita sebagi pembebas, sebagai rekan sekerja Allah yang menolong sesama kita dan mau menyuarakan kebenaran di tengah-tengah segala kepalsuan.

Paduan suara Gracia menyambut khotbah dengan menyanyikan “Pabantangmi Mamaseku” (Kuatkanlah Aku, Tuhan). Setelah kebaktian, jemaat diajak menikmati hasil karya budaya Toraja di pelataran gereja. (ib)

Album Kegiatan

We cannot display this gallery

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan