Berpisah Untuk Bersatu

Berpisah Untuk Bersatu

Belum ada komentar 237 Views

Para petugas wanita yang mengenakan baju merah dan sarung, tampak mempesona dengan tudung kepala berbentuk tanduk dari ulos, sedangkan para petugas pria mengenakan baju hitam yang dipadankan dengan tenun merah bersalur-salur yang dililitkan di bahu dan dipakai sebagai penutup kepala pada ibadah Batak Karo Minggu, 15 Agustus yang lalu. Suasana tampak ceria, hangat dan meriah. Bagian miring dinding yang menghadap ke jemaat dilipit dengan motif anak-anak panah hijau bertepikan garis kuning keemasan, dan bagian depan mimbar dihias dengan tenun merah bersalur-salur yang mengalasi rangkaian bunga dan keranjang buah berwarna kuning dan merah. Di balkon menjuntai beberapa ulos dengan warna-warna yang indah.

Kebaktian hari itu dilayani oleh Pdt. Rehpelita Ginting dari Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Jakarta Pusat II, dengan didampingi oleh kelompok musik dari GBKP Bekasi dan kelompok tari dari GBKP Rawamangun dan Bekasi. Paduan Suara Wilayah Lebak Bulus juga mempersembahkan beberapa pujian dalam bahasa Batak Karo, seperti “Mejuah-juah” dan “Ise Kin Kami Enda O Bapa.”

Ibadah diawali dengan tiga pasang penari yang dengan gemulai menari dengan iringan musik khas Batak untuk menyambut prosesi pendeta dan para penatua yang memasuki gedung gereja. Seluruh rombongan tampak larut dalam sukacita dan ikut menari.

Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Masyarakat Karo mempunyai istilah kesayangan untuk Tanah Karo, yaitu Tanah Karo Simalang (Karo yang damai dan sejuk).

Permulaan usaha perkabaran Injil di daerah Karo bermula dari gagasan J.T. Craemers, seorang pemimpin perkebunan di Sumatera Timur. Ia berpendapat bahwa jalan terbaik agar penduduk asli daerah itu tidak menentang dan mengganggu usaha-usaha perkebunan ialah dengan mengabarkan Injil kepada mereka. Dengan meyakinkan maskapai perkebunan terhadap pendapatnya, Craemers meminta kepada zending Belanda untuk membuka penginjilan di daerah Sumatera Timur, dengan biaya yang dibebankan kepada maskapai-maskapai. Permintaan itu diterima dan dilaksanakan pada tahun 1890-1930.

Pada tanggal 20 Agustus 1893 dilakukan pembaptisan pertama bagi enam orang suku Karo di desa Buluh Awal, Sibolangit oleh Pdt. J.K. Wijngaarden. Lalu Pdt. Joustra meneruskan jejaknya dan menerjemahkan 104 ceritera-ceritera Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Karo (104 turi-turian). Sampai tahun 1900, orang Karo yang sudah dibaptiskan baru sekitar 25 orang. Pertumbuhan dalam kurun waktu 10 tahun pertama sangat sulit. Kegigihan suku Karo dalam mempertahankan tradisi dan adat istiadat membuat mereka merasa aman dalam sikap hidup lama di tengah-tengah tahap kebudayaan yang bersifat magis, mistis dan animistis. Selain itu, semangat penginjilan yang pantang mundur dalam memperkenalkan Injil Kristus, sering salah dimengerti oleh orang-orang Karo.

Kedatangan Pdt. J.H. Neuman pada tahun 1900 membawa harapan baru dalam sejarah Pekabaran Injil di Karo. Ia menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Karo. Pada tanggal 23 Juli 1942, Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) ditetapkan di Sibolangit dan pada saat yang sama ditahbiskan dua orang pendeta pertama dari putra Karo yaitu Pdt. Palem Sitepu dan Pdt. Thomas Sibero. Gereja tumbuh perlahan-lahan. Dua periode pertumbuhan cepat terjadi pada tahun 1966-1967 dengan pembaptisan sekitar 60 ribu orang pada saat represi pemberontakan komunis G-30 S, dan pada tahun 1980 melalui model pendekatan keluarga penginjilan. Kini GBKP memiliki sekitar lima ratus ribu warga jemaat yang tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Membuka khotbahnya yang didasarkan pada Lukas 12:49-56, Pdt. Rehpelita Ginting mengatakan bahwa saat ini warga Karo tidak lagi menetap di Tanah Karo saja, tetapi juga di seluruh Indonesia dan bahkan juga di luar negeri. Biasanya kalau mereka bertemu, mereka bersalaman dengan mengucapkan “Mejuah-juah” dan dibalas pula dengan “Mejuah-juah,” yang berarti “Syalom,” atau damai sejahtera.

Namun hari ini Yesus menyapa dengan keras dan tajam. Ia mengatakan, “Aku datang tidak dengan membawa damai, tetapi pertentangan.” Tidak biasanya Yesus menyapa dengan begitu keras. Ternyata Ia mempunyai alasan untuk marah. Yesus paling tidak suka melihat orang yang munafik, yang penuh kepura-puraan dan kepalsuan.

Di dalam Lukas 11:39, Yesus menegur orang-orang Farisi yang penampilannya indah, namun hati mereka penuh dengan kebobrokan. Mereka memberi persepuluhan, tetapi hidup dengan menindas orang lain (ayat 42), sehingga Yesus berulang kali mengatakan, ”Celakalah kamu.”

Yesus ingin agar jika seseorang menjadi murid-Nya, ia meninggalkan kehidupan yang tidak benar. Karena itu kita patut bersyukur bahwa Injil masuk ke Tanah Karo dan mengubah pola pikir masyarakatnya. Suatu ketika, sebelum Injil masuk ke sana, seorang ibu meninggal dalam proses persalinan sedangkan anaknya hidup, sehingga anak itu dianggap penduduk sebagai pembawa sial dan harus dibuang. Tetapi seorang penginjil Belanda mengatakan bahwa anak ini tidak sial. Ia memungutnya dan menamainya Sangat (keberuntungan). Anak inilah yang pertama dibaptis di sana.

Injil mengubah moralitas dan praktik-praktik yang tidak benar. Suatu saat seorang anggota jemaat mendapat sms untuk mengikuti ibadah bersama di depan istana guna meminta perhatian Pemerintah akan seriusnya masalah pengrusakan beberapa gereja. Ia lalu bertanya kepada Pak Pendeta, bagaimana seharusnya ia bersikap. Pak Pendeta lalu menjawab bahwa secara institusi tidak ada instruksi untuk ikut, tetapi jika secara pribadi ia merasakan ketidakadilan, ia dapat menyuarakannya.

Yesus marah, bukan karena Ia berpihak pada suatu kelompok tertentu, tetapi kepada ketidakbenaran. Di dalam Yeremia 23:23-29 juga dikatakan bahwa Allah marah terhadap nabi-nabi palsu. Begitu juga Yesus marah karena banyaknya kepalsuan. Ia datang untuk melemparkan api kebenaran dan kebenaran tidak boleh dimatikan oleh kemunafikan dan ketidakadilan. Kita selalu mengatakan bahwa negara kita rukun, tetapi sebenarnya banyak orang yang melakukan ketidakbenaran. Firman Tuhan seperti api yang menyala, karena itu janganlah kita berkolusi dengan ketidakbenaran.

Praktik-praktik ketidakadilan sering terjadi di tengah-tengah keluarga. Anak-anak ada yang pro-Papa dan ada yang pro-Mama. Biasanya gesekan di dalam keluarga terjadi karena adanya hubungan yang dekat. Begitu juga di gereja Batak Karo yang jemaatnya homogen. Karena kedekatan satu sama lain, berita dengan cepat menyebar ke mana-mana, baik itu kabar baik atau kabar buruk. Bayangkanlah kalau di dalam rumah terjadi perselisihan antara suami-istri atau orangtua–anak.

Rumah Batak Karo yang dinamakan “siwaluh jabu” biasanya dihuni oleh 8 keluarga. Tidak ada pembatas ruangan di dalam rumah tersebut, tetapi para penghuninya bisa hidup rukun, karena mereka belajar menerima perbedaan. Demikianlah seharusnya kehidupan keluarga orang beriman. Menerima perbedaan dan tidak membuat perpecahan.

Hari ini Yesus mengingatkan kita untuk memutuskan sikap kita yang tidak baik. Kita harus membangun komunitas dan hidup sebagai anak Tuhan yang menjalankan firman Tuhan. Dalam komunitas, penderitaan dan pengorbanan bisa saja terjadi. Para petugas wanita yang memakai tudung yang berat mau berkorban demi pelayanan. Yesus mau berkorban bagi kita. Dan supaya komunitas bersatu, kita juga harus mau berbagi. Tidak seperti kisah di dalam Lukas 12:13-15 di mana orang berkelahi dengan saudaranya gara-gara pembagian harta. Oleh karena itu, kita harus meninggalkan praktik kemunafikan dan menggantikannya dengan keadilan, sukacita dan persekutuan. Kiranya semangat komunitas yang baru ini akan terus kita pelihara.

Seusai kebaktian, jemaat dihibur di plaza dengan lagu-lagu Batak yang riang. Beberapa pasangan menari di panggung sementara jemaat lainnya membeli makanan yang dijual di sana.

We cannot display this gallery

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Antar Kita
Kegiatan