Berpengetahuan

Berpengetahuan

Belum ada komentar 6 Views

Dalam banyak kasus orang kaya dan orang berpengetahuan (pintar) merujuk pada manusia yang berbeda. Orang-orang yang dikagumi karena kekayaannya, sebagian besar tidak menunjukkan pengetahuan yang mengagumkan. Sementara orang-orang yang kita kagumi karena pengetahuannya yang luar biasa, tidak memiliki kekayaan yang berlimpah. Orang pintar yang juga kaya raya atau orang kaya yang juga berpengetahuan luas jumlahnya sangatlah sedikit di masyarakat. Namun, ada sinyalemen yang mengatakan bahwa jumlah yang sedikit ini nampaknya akan meningkat secara signifikan di waktu-waktu mendatang. Mengapa?

Sejarah menunjukkan kepada kita tentang berbagai macam sosok orang super-kaya di muka bumi ini.

  • Pertama, para tuan tanah yang sebagian berarti raja-raja dan kaum bangsawan yang mendapatkan sejumlah hak istimewa karena kelahirannya di negeri tertentu.
  • Kedua, kaum penguasa politik yang memiliki tentara dan menempatkan dirinya dalam daftar nama kaum diktator yang merampas apa saja yang mereka inginkan dari pihak lain.
  • Ketiga, kaum penemu dan pemilik tambang, entah tambang emas, timah, minyak, batubara, dan sebagainya.
  • Keempat adalah pemilik pabrik, kaum industrialis yang mulai hadir sejak Revolusi Industri di akhir abad ke-18.
  • Kelima adalah kaum investor yang menguasai pasar keuangan dunia.
  • Keenam adalah kaum pedagang yang menangguk keuntungan dari proses negosiasi untuk disribusi dan pertukaran barang antar perusahaan sampai antara negara dan benua.

Itulah wajah enam kelompok besar orang-orang super kaya yang ditunjukkan sejarah kepada kita. Di antara kelompok itu, mungkin saja ada segelintir orang kaya raya yang juga dikenal karena kepintarannya. Jumlahnya yang segelintir membuat kita sulit mencari nama untuk disebutkan sebagai contoh konkret.

Belakangan ini, sejarah juga mulai mencatat nama-nama baru dalam daftar orang-orang terkaya yang sering dipublikasikan majalah seperti Forbes di Amerika sana. Dan kalau disimak daftar nama itu dalam 20-an tahun terakhir, maka ada sejumlah nama yang menarik untuk disimak.

Pendiri dan pemilik Microsoft Corp Bill Gates, misalnya, telah bertahan sedikitnya 14 tahun sebagai orang terkaya nomor wahid. September 2007 kekayaannya sekitar 59 miliar dollar AS atau 560 triliunan. Pendiri dan CEO Oracle Larry Ellison, dengan kekayaan 26 miliar dolar AS, ditempatkan di urutan ke-4. Ellison juga telah berulang kali bertengger dalam daftar orang-orang terkaya itu.

Yang baru masuk dalam daftar 10 peringkat teratas versi Forbes 2007 adalah pasangan pendiri Google Inc, yakni Sergey Brin dan Larry Page. Di usia 34 tahun, mereka menduduki peringkat ke-5 dengan total kekayaan 18,5 miliar dolar AS, empat kali lipat dibanding 3 tahun lalu. Dan jangan lupakan juga Michael Dell yang sempat menjadi orang terkaya di bawah usia 40 tahun beberapa waktu silam.

Mereka inilah yang mencatatkan sejarah baru dan sekaligus mengajarkan kita bahwa dengan modal pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan tentang komputasi, orang bisa masuk dalam daftar orang terkaya dunia. Dan karena pengetahuan merupakan sumber daya yang terbarukan, maka mereka-setidaknya telah dibuktikan dalam kasus Bill Gates dan Larry Allison-bisa menjadi kaya secara berkelanjutan. Dan jangan lupa bahwa orang-orang terkaya dengan modal pengetahuan ini juga dianggap sebagai orang-orang yang paling berpengetahuan, orang pintar yang menjadi kaya karena kepintarannya.

Yang juga menarik dari kisah-kisah orang kaya bermodalkan pengetahuan itu adalah modal awal usaha mereka relatif terbatas. Ellison memulai Oracle tahun 1977 dengan modal 2.000 dolar AS. Michael Dell memulai usahanya di awal tahun 80-an dengan modal 1.000 dolar AS, menggunakan asrama mahasiswa sebagai tempat kerja. Jadi, modal terbesar mereka bukan uang dan bukan fasilitas yang luar biasa. Modal utama mereka adalah pengetahuan tentang komputasi dan spirit kewirausahaan yang membara. Mereka bukan tipe orang pintar yang suka menghambakan diri untuk mendapatkan gaji. Sebaliknya, mereka justru orang yang lebih percaya bahwa gagasan-gagasan mereka-sekalipun nampak tidak galib bagi lingkungan kala itu-bernilai tinggi dan layak diperjuangkan mati-matian. Mereka memiliki penglihatan yang tajam dan visi bisnis yang membangkitkan gairah untuk mendedikasikan hidupnya di bidang yang menantang pemikiran terbaik. Mereka memulai bisnis mereka sebagai individu-individu otonom, manusia-manusia swasta, orang-orang yang otentik, di awal usia 20 tahunan.

Kenyataan seperti ini mungkin akan mengingatkan kita pada visi warisan dewa manajemen paling terkemuka di abad ke-20 lalu, Peter F. Drucker. Dalam Management Challenges for the 21st Century Drucker antara lain mengatakan, “Aset paling berharga bagi perusahaan pada abad ke-21 adalah pengetahuan dan pekerja terpelajar. Pengetahuan telah menjadi modal bagi pembangunan ekonomi, menggantikan sumber daya alam yang tidak dapat menjadi andalan karena dapat terdepresiasi, bahkan mengakibatkan perusakan lingkungan yang ujungnya merugikan umat manusia”.

Mengingat Drucker, tiba-tiba saya merindukan di daftar nama 10 orang terkaya di Indonesia versi majalah GLOBE ASIA di tahun 2012 dan seterusnya, akan muncul nama-nama baru. Nama-nama yang menunjuk kepada orang-orang muda usia 30-an tahun, yang menjadi orang terkaya bukan karena bau tembakau. Bukan pula karena warisan persekongkolan bisnis era Orde Baru atau Orde Reformasi. Melainkan menjadi kaya karena berpengetahuan dalam bidang tertentu. Mereka yang memulai usaha dengan modal terbatas dan tidak mendapatkan fasilitas istimewa dari penguasa politik negeri ini. Mereka yang memiliki jiwa manusia swasta, individu otonom, yang menjadi inspirasi baru bagi generasi internet. Mereka yang percaya bahwa keunggulan kompetitif Indonesia tidak boleh didasarkan pada sumber daya alamnya lagi, melainkan harus diutamakan pada basis pengetahuan yang terus berkembang dan terbarukan. Mereka yang paham benar arti kata learning, unlearning, and re-learning.

Apakah saya bermimpi? Bagaimana pendapat Anda?

Tabik Mahardika!

Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator www.pembelajar.com


Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Edukasi
  • Doketisme
    doktrin keilahian yang kebablasan
    Fanatisme Spiritualitas Fanatisme sebuah spiritualitas yang secara berlebihan menekankan hal-hal tertentu dan kurang menganggap penting hal-hal lain, sering kali...
  • Become Our Best Selves
    meraih sukses tidak dengan menakhlukkan orang lain, …tapi menampilkan yang terbaik dari diri sendiri Tujuan dan Target Belajar/Sekolah Pada...
  • media sosial
    Bijak Menggunakan Media Sosial
    Keberadaan Internet, yang pada mulanya berfungsi untuk menjelajah dan mengirim email, terus berkembang penggunaannya untuk saling berinteraksi di media...
  • Dendam Menutup Pengampunan
    Polisi Korea Selatan di Seoul menangkap Kim, yang berusia 37 tahun, karena dia menikam Song hingga tewas. Song adalah...
  • Komunikasi yang Efektif
    APAKAH KOMUNIKASI YANG EFEKTIF? Kolose 4:6 berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu...
Kegiatan