Apakah yang ”Mulia dan Ajaib Benar” dari ”Anugerah”?

Apakah yang ”Mulia dan Ajaib Benar” dari ”Anugerah”?

Belum ada komentar 107 Views

Nomor 28 adalah nomor rumah kami. Ketika kami mempertimbangkan untuk membelinya, sang pemilik “memberi pencerahan” bahwa nomor ini (menurut salah satu budaya) merupakan apa yang dikenal umum sebagai “nomor cantik”. Artinya, angka “8” menunjukan keberuntungan, dan angka “2” menggandakan keberuntungan tersebut. Begitu kata beliau.

Karena informasi yang diberikan merupakan kabar baik, saya menerimanya sebagai suatu masukan, kendati bukan merupakan faktor penentu bagi keputusan kami membeli rumah tersebut. Baru belakangan saya menyadari bahwa angka “28” adalah juga bagian dari Efesus 2:8: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman…”. SOLA GRATIA! Hanya karena Anugerah ALLAH. Kami mengamini bahwa rumah kami yang sekarang ini semata merupakan Anugerah TUHAN dalam segala dan setiap rinciannya, baik sumber keuangan, waktu, hikmat dan kesempatan.

Saya memang sempat terlewatkan menemukan makna alkitabiah angka “28” ini, sebagaimana juga saya sering melewatkan atau bahkan menempatkan pelbagai Anugerah TUHAN sebagai sesuatu yang “taken for granted” bahwa sudah sewajarnya saya mendapatkan apa yang saya nikmati tersebut. Hal ini berbeda sekali dengan John Newton yang menulis lagu “Amazing Grace” yang kita kenal di Indonesia sebagai Kidung Jemaat No. 40: AJAIB BENAR ANUGERAH. (Beberapa waktu lalu, ensembel Imago Dei secara luar biasa membawakan lagu ini di kebaktian minggu GKI-PI.)

John Newton meninggalkan bangku sekolah saat berusia 11 tahun dan menjalani kehidupan yang keras sebagai pelaut. Ia kemudian menghidupi dirinya sebagai pedagang budak dengan menangkap penduduk di Afrika Barat dan menjual mereka ke seluruh dunia. Pada 9 Maret 1748, kapal yang diawakinya diobok-obok oleh badai besar yang tidak diduga sebelumnya. Dilanda ketakutan luar biasa, ia mulai membaca buku Imitation of Christ tulisan Thomas a Kempis, yang kemudian membawa perubahan drastis dalam hidupnya. Keesokan harinya di dalam keputus-asaan yang luar biasa ia berteriak kepada TUHAN dan TUHAN mendengar doanya sehingga akhirnya ia diselamatkan. Dari pengalamannya sendiri itu, John Newton menemukan kontras antara Kasih ALLAH dan dirinya dengan profesi sebagai seorang pedagang budak belian. Ia bahkan menyebut dirinya “wreck” (barang rongsokan). Ia begitu memahami dan menghidupi begitu ajaibnya Anugerah ALLAH.

Melalui tulisan ini, kita akan merenungkan pertanyaan “Apakah yang Ajaib Benar dari Anugerah ALLAH?” Saya melihat setidaknya ada tujuh (7) keajaiban yang luar biasa dalam Anugerah ALLAH. Sesuai dengan konteks Efesus 2:8, maka istilah “Anugerah” yang digunakan di sini merujuk pada “Anugerah Khusus” ALLAH, yakni keselamatan kekal melalui Yesus Kristus.

Kedatangan Kristus yang kita rayakan dalam semangat natal ini merupakan Anugerah Terbesar ALLAH. Berbeda dengan “Anugerah umum”, seperti sinar matahari dan udara, yang dapat dinikmati oleh semua ciptaan, “Anugerah Khusus” hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mengambil pilihan untuk bertobat dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat satu-satunya.

1. ALLAH Memungkinkan Keselamatan

Pertama-tama, kita perlu memahami tentang konsep “dosa”. Tanpa itu, tawaran keselamatan ALLAH bukan akan menjadi kabar baik, tetapi sebaliknya dapat membuat tersinggung orang yang mendengarnya.

Beberapa waktu lalu ketika mengendarai mobil di luar negeri, saya tanpa sengaja memasuki jalur yang hanya boleh digunakan oleh mereka yang menjadi pelanggan jalur tol elektronik. Karena mobil yang saya kendarai tidak mempunyai alat pengenal elektronik sebagai pelanggan, sensor lalu lintas di tempat itu mendata pelanggaran saya.

Sekembali ke Indonesia, saya diberitahu adik saya yang tinggal di sana bahwa ia telah membayarkan denda atas pelanggaran tersebut. Kalau saja adik saya tidak memberitahu adanya pelanggaran yang mendasari hukuman denda yang dibayarkannya untuk dan atas nama saya itu, saya akan tersinggung dengan menangkap berita tersebut sebagai suatu penghinaan dan tuduhan tidak berdasar. Tetapi, karena saya diberitahu dan sadar bahwa saya memang melakukan pelanggaran dan karenanya patut mendapatkan hukuman denda, saya menanggapi inisiatif “penebusan” oleh adik saya tersebut sebagai kabar baik.

Demikian juga dengan konsep dosa dalam hubungannya dengan pemberitaan injil tentang pengampunan ALLAH. Isi Injil bahwa Kristus sudah mati bagi dan menebus dosa kita akan ditangkap oleh mereka yang tidak sadar akan dosanya, sebagai penghinaan karena ia tidak akan merasa berdosa, dan karenanya tidak memerlukan Karya Penebusan Kristus. Sebaliknya, bila ia memahami dosanya, maka ia akan mengakui dan menghargai bahwa Karya Penebusan benar merupakan kabar baik baginya. Hanya orang berdosa yang butuh pengampunan dosa. Tragisnya, semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan ALLAH.

Dosa bukan lagi menjadi “culture”, tetapi sudah menjadi “nature” manusia. Artinya, dosa sudah tidak lagi merupakan produk di luar diri manusia, tetapi sudah menjadi sifat integral di dalam manusia. Sebegitu merasuknya sifat dosa, manusia akan senantiasa mempunyai kecenderungan berbuat dosa. Bahkan, manusia tidak dapat lagi menghindari dosa.

Marthin Luther pernah berkata bahwa dalam setiap perbuatan baik, selalu ada potensi dosa. Misalnya, ketika kita membagikan roti, dalam hal rinci, pasti ada satu yang medapatkan lebih daripada yang lain. Berlaku tidak adil sudah merupakan dosa. Ketika kita berusaha menaati Hukum Taurat, bukankah Yakobus 2:10 berkata: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”.

Dosa manusia telah membuat manusia menjadi seperti daun kering yang dihadapkan dengan Kesucian ALLAH yang, menurut Ulangan 4:24 dan Ibrani 12:29, adalah seperti api yang menghanguskan (consuming fire). Dosa telah membuat manusia tidak dapat mendekati dan bersatu dengan ALLAH. Daun kering akan langsung hancur ketika bertemu atau tersentuh dengan api. Dosa memang telah memisahkan manusia dan ALLAH. Karena ALLAH adalah Sumber Hidup yang Pokok, maka keterpisahan kita dengan Sumber Hidup berarti kematian yang kekal. Makanya Roma 6:23 berkata bahwa upah dosa ialah maut.

Hingga titik ini, sejarah manusia akan berakhir tragis. Semua manusia akan menuju ke neraka. Tetapi, terpujilah ALLAH. Ia adalah Kasih. ALLAH tahu bahwa tidak ada seorangpun dapat menjangkauNya dengan usaha manusia sendiri.

Kendati dalam setiap manusia TUHAN sudah menempatkan benih naluri Ilahi (God spot) untuk menyembah Suatu Subjek di luar manusia yang jauh lebih berkuasa daripada manusia, manusia tetap tidak akan mampu mengupayakan sendiri keselamatannya melalui segala agama dan aliran kepercayaan yang merupakan produk manusia. Kriteria untuk bersatu dengan ALLAH di Sorga hanyalah kesucian ALLAH yang sempurna, artinya kita harus sempurna seperti ALLAH.

Padahal di hadapan ALLAH, menggunakan istilah dalam Kitab Yesaya, kita seperti kain kotor. Karena itu, terpujilah TUHAN, di tengah-tengah ketidak-berdayaan manusia dalam menciptakan jembatan keselamatan dengan ALLAH, ALLAH sendiri berinisiatif menyediakan keselamatan itu.

Keselamatan yang disediakan ini bahkan sudah dirancangNya ketika (bahkan sebelum) manusia pertama kali jatuh dalam dosa. Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu…” Kristus di dalam kekekalan (kairos) telah dirancang untuk menjadi manusia biasa sebagai keturunan Adam dan Hawa untuk kemudian mati disalib sehingga menjadi satu-satunya Jembatan dan Kompas yang menghubungkan dan menunjuk arah ke keselamatan kekal (I Kor. 2:7, Yoh. 17:5,24, Ef. 1:4 dan I Pet.1:20).

2. ALLAH Menyediakan Jalan Keselamatan dan Jalan Itu adalah Anak Tunggal Nya Sendiri
TUHAN tidak berkata, “Oke dech, kamu manusia, kamu nanti bisa selamat; tapi jalannya kamu cari sendiri, yah..”. Kalau ALLAH demikian, kita akan bertanya, niat nggak sih ALLAH ?

ALLAH sendiri menyediakan Jalan Keselamatan, bukan sekedar membuka kemungkinan untuk selamat. Hanya sayangnya manusia masih berusaha menjangkau ALLAH dengan jalan agama dan aliran kepercayaan yang notabene adalah produk manusia sebagai bagian dari kebudayaan. Tanpa mengurangi penghargaan atas niat dan sisi baik umumnya dari usaha-usaha ini, Amsal 14:12 berkata “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Di dunia ini tidak ada pendiri agama manapun yang pernah berada di ujung perjalanan tersebut dan kembali lagi, kecuali Yesus Kristus yang adalah ALLAH itu sendiri. Amsal 30:4 “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun?”

Dalam salah satu buku terbarunya “The Journey”, Billy Graham memperkenalkan ilustrasi berikut.

Suatu ketika seorang pengelana tersesat di hutan. Setelah berusaha mencari jalan keluar, ia akhirnya menemukan dua rute. Ia bingung, manakah rute yang harus ia ambil? Ia melihat bahwa salah satu rute kelihatannya lebih lebar dan lebih gampang dilalui, serta tampaknya lebih banyak dipilih orang. Ia sempat tergoda untuk mengambil rute tersebut karena, pikirnya, kalau banyak orang yang mengambul rute tersebut, itu pastilah rute yang benar. Sebelum ia membuat keputusan, datang seseorang. “Aha, mungkin ia dapat membantu ku”, pikir pengelana tersebut. Ia lantas bertanya kepada orang kedua tersebut apakah ia mengetahui rute yang benar dan seharusnya diambil di antara kedua rute yang ada tersebut.

Orang yang baru datang itu kemudian dengan sangat yakin menunjuk ke rute kedua, yakni rute yang sempit dan tidak banyak dilalui orang. Menurut orang kedua tadi, hanya dengan rute itu, pengelana yang kehilangan arah tadi akan dibawa ke tujuan yang dituju. Sang pengelana takjub melihat cara orang kedua tadi memberi petunjuk, dan kemudian bertanya “Kenapa Anda begitu yakin bahwa inilah jejak yang benar?”. “Tentu”, jawab orang kedua tadi, “karena akulah yang membuat rute tersebut; aku memang kembali sedang menuju ke tujuan yang sama dengan Anda, dan akan menemani Anda supaya Anda tidak tersesat”.

Begitulah pula Jalan Kristus. Hanya Jalan Kristus-lah yang menuju tujuan yang benar, yakni Sorga, sebab Kristus sendirilah yang membuat rute tersebut. Karena Kristus memang dari Sorga, Jalan yang Ia buat tentu mengambil arah yang benar. Terlebih lagi, Jalan itu adalah Kristus sendiri. Jalan itu bukan suatu objek, tetapi Subjek.

Sayangnya, Jalan Kristus itu bukan jalan yang favorit. Matius 7:13-14: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Memang, orang lebih banyak memilih jalan lain di luar Kristus. Mengapa? Karena, terutama, Jalan Kristus adalah Jalan Salib.

Orang yang berpikir bahwa Jalan Kristus selalu dipenuhi kesuksesan duniawi, akan kecewa. Hanya orang-orang yang mempunyai iman sejati akan benar mengambil Jalan Kristus walau harus memikul salib selama di dunia ini. Memang, God does not promise a comfortable journey, only a safe landing dan bahwa the cross we bear precedes the crown we will wear.

Sebaliknya, ada juga orang yang melihat fakta bahwa Jalan Kristus tidak menuntut akumulasi perbuatan baik, tetapi hanya pertobatan sejati dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat, adalah sesuatu yang too good to be true. Padahal, Jalan Kristus sedemikian justru adalah so good that it must be true!

3. IA Mengampuni Dosa Kita Kendati Dosa Kita yang Membawa Kristus, AnakNYA yang Tunggal, ke Salib
IA mengampuni kita bukan karena siapa kita atau karena apa yang kita perbuat, tetapi semata-mata adalah karena siapa ALLAH itu sendiri dan karena apa yang ALLAH perbuat.

ALLAH mempunyai dua sifat utama. IA adalah Maha Adil sekaligus Maha Kasih. Keadilan ALLAH mengharuskan yang bersalah untuk dihukum. Karena tidak seorangpun yang benar, dan semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan Kemuliaan ALLAH, maka Keadilan ALLAH menuntut semua kita menerima penghukuman ALLAH.

Ada pandangan yang mengatakan bahwa ALLAH berkuasa menghapus dosa manusia begitu saja. Bukankah IA Maha Kasih? Memang benar ALLAH Maha Kasih, tetapi sebatas bahwa Dia tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sifatNya yang lain. Di dalam dunia ini saja, seorang hakim yang adil akan menghukum mereka yang bersalah. Keadilan tidak akan ditegakkan kalau hakim tersebut tidak menghukum yang bersalah.

Kedua sifat utama ALLAH tadi, yakni Maha Adil dan Maha Kasih tadi memang kelihatannya saling bertentangan. Berbeda dengan sifat pertama, sifat ALLAH yang Maha Kasih justru menjadi sumber anugerah pengampunan dosa. Kedua sifat utama ALLAH tersebut hanya menemukan harmoninya di dalam Kristus. Kematian Kristus menjadi tempat Keadilan ALLAH ditumpahkan sekaligus di mana Kasih ALLAH berupa pengampunan dosa dari ALLAH dicurahkan pada saat yang sama. 2 Korintus 5:21: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”

Kristus menjadi Objek Murka ALLAH di mana Kristus menerima upah dosa, yakni maut, menanggung dosa seluruh umat manusia. IA mati supaya kita tidak mati. Kristus dapat saja meluputkan diri dari Salib, tetapi dengan begitu IA tidak akan dapat menyelamatkan kita. Ketika Yesus disalib, berlegiun-legiun pasukan Malaikat Sorga sudah siap turun ke bumi untuk menebas habis para penyalib Yesus, hanya dengan sekali komando dari Yesus. Tetapi, IA tetap menjalani tujuan satu-satunya dari inkarnasiNya ke dunia, yakni menjadi manusia agar IA dapat mati dan selanjutnya bangkit mengalahkan maut (Ibrani 2:14) yang adalah musuh terbesar dan terakhir manusia.

Kristus harus mati karena dosa kita. Dosa kita yang memaku Dia. Tetapi yang menahan Dia tetap di kayu salib bertahan hingga mati bukanlah paku di tangan dan kakiNya, tetapi semata-mata KasihNya kepada kita. Kita diselamatkan bukan dengan rumus akumulasi perbuatan-perbuatan “baik” kita, tetapi hanya dengan rumus Anugerah: “GOOD – GOD = 0” dan “1 cross + 3 nails = 4given”. Kasih ALLAH tercurah kepada manusia lewat kematian Kristus karena dengan kematian Kristus manusia dapat kembali berdamai dengan ALLAH. Tirai pemisah di Bait Suci terbelah dua ketika Kristus mati, yang menandakan tiadanya lagi tabir pemisah antara ALLAH dan mereka yang menerima Kristus sebagai Juru Selamat.

4. Anugerah Diberikan “Meskipun…”, bukan “Karena…” atau “Supaya…”
Dosa manusia sudah jelas mengarahkan manusia ke penghukuman kekal dan tidak ada seorang pun dengan usahanya sendiri dapat merubah arah rute tersebut. Tetapi, karena ALLAH itu Kasih, ALLAH kemudian berinisiatif turun menjangkau kita melalui Kristus. IA turun begitu jauh, sungguh jauh, di mana IA rela menyangkal dan mengosongkan diriNya lahir sebagai bayi manusia yang tidak berdaya. ALLAH sendiri yang turun, karena tidak seorangpun dapat naik menjangkau ALLAH dengan usaha sendiri.

Kalau kita memahami konsep ini kita akan jauh lebih menyadari betapa ajaibnya Anugerah ALLAH. Dosa bukan hanya membuat kita tidak layak untuk menerima Anugerah ALLAH, tetapi bahkan melayakan kita menerima penghukuman ALLAH. Itulah Kasih Agape yakni Kasih ALLAH yang tidak bersyarat dan dicurahkan meskipun kita sebenarnya tidak layak menerima dan meskipun kita sebenar-benarnya hanya pantas menerima kebalikannya, yakni murka ALLAH. Anugerah pengampunan melalui Kristus diberikan bukan “karena kita telah berbuat sesuatu bagiNya”, juga bukan “supaya kita berbuat sesuatu bagiNya”.

Karena itulah “Anugerah (grace)” menjadi ciri terpenting dalam kekristenan yang sekaligus tidak dapat ditemukan di agama lain. Bukan konsep “inkarnasi”, karena dalam agama-agama lain juga terdapat konsep dewa menjadi manusia. Bukan pula “kebangkitan”, karena kebangkitan juga terjadi dalam tradisi agama dan kepercayaan lain. Tetapi, memang benar, hanya dalam kekristenan saja kita dapat menemukan adanya Kasih ALLAH yang dianugerahkan turun dari atas kepada kita bukan karena siapa kita dan perbuatan kita terhadap ALLAH, tetapi karena siapa ALLAH dan perbuatan ALLAH bagi kita.

5. ALLAH Mengangkat Kita Menjadi AnakNya
Dalam kerusuhan etnik di Rwanda, seorang wanita bernama Deborah kehilangan anak tunggalnya yang mati terbunuh. Sekian bulan setelah kematian anaknya tersebut, Deborah dikunjungi seorang anak muda. Ia mengaku telah membunuh anaknya dan meminta Deborah membawanya ke pihak berwajib untuk menerima hukumannya. Kalimat-kalimat anak muda tersebut sungguh luar biasa, tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah tanggapan Deborah: “Aku tidak hendak menegakkan keadilan untuk menggantikan kematian anakku. Aku memintamu mau menjadi anakku”.

Sejalan dengan butir (3) dan (4) di atas, kita mempunyai bagian dalam kematian Kristus, di mana sebelum mati IA terlebih dulu didera, dirajam, dimahkotai duri, disuruh memikul salibNya sendiri setelah kehilangan darah begitu banyak, dan dipaku di kayu salib. Setelah 33 tahun sebelumnya lahir ke dunia dengan cara yang bagi seorang wanita merupakan hal paling memalukan: hamil tanpa suami, Kristus kemudian harus mati dengan cara paling hina ketika itu: disalib.

ALLAH karenanya mempunyai semua alasan untuk menyalahkan dan menghukum kita. Tetapi, sebagaimana kisah di Rwanda di atas, kita yang telah ikut berperan dalam kematian Kristus, Anak Tunggal ALLAH, sebaliknya justru diberi kesempatan oleh ALLAH untuk menjadi anak-anak ALLAH bila kita bertobat dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat.

6. Anugerah itu Gratis Tetapi Sangat Mahal
Salah satu keanehan dalam hidup ini adalah bahwa barang-barang yang sangat esensial bagi kehidupan, seperti udara dan sinar matahari, tersedia bagi kita secara gratis (sehingga kita sering melihatnya sebagai sesuatu yang taken for granted). Di sisi lain, barang-barang yang tidak (terlalu) esensial bagi kehidupan, seperti emas, permata dan berlian, hanya dapat kita peroleh dengan harga yang mahal.

Lebih ajaib lagi, fakta di atas yang berlaku dalam dunia sementara ini tidak menandingi fakta bahwa Anugerah kehidupan kekal dapat kita peroleh secara gratis. Namun, fakta ini harus juga dilengkapi oleh kesadaran penuh bahwa kita kini dapat memperolehnya secara gratis karena Kristus sendiri yang telah membayarnya bagi kita dengan harga yang sangat mahal, yakni nyawaNya. 1 Petrus 1:18-19: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”

Memang, tidak ada sesuatu di dunia ini yang sangat mahal tetapi gratis, kecuali Anugerah Pengampunan ALLAH melalui Kristus. “GRACE”: God Redemption At Christ’s Expense”.

7. Kehendak Bebas
Salah satu anugerah umum luar biasa yang TUHAN berikan hanya kepada manusia sebagai makhluk yang TUHAN buat menurut gambar dan rupaNya sendiri adalah “free will”, yakni kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan moral. ALLAH tidak memaksa manusia untuk menerima Kristus. IA memberi manusia kebebasan karena IA ingin agar manusia mencintaiNYA bukan karena tidak ada pilihan lain (forced love), tetapi justru walaupun ada pilihan lain, manusia tetap memilih mencintai TUHAN. Bukankah cinta sejati lahir ketika ada pilihan?

Anugerah yang satu ini dapat juga menjadi kutuk terbesar bagi kita, bila kita salah menggunakannya, yakni membuat pilihan di luar Anugerah Khusus dalam Kristus. Efeknya sangat serius karena akan membawa kita menjalani konsekuensi pilihan itu dalam kekekalan. Memang, kendati kita bebas membuat pilihan, tetapi kita tidak bebas dari konsekuensi pilihan kita. Setelah kita menetapkan pilihan dan menghembuskan napas terakhir, kita akan mencapai “point of no return”. Kali ini, tiket perjalanan kita hanya “one way ticket” dan kita akan berada di tujuan tersebut secara kekal.

Demikianlah, Kedatangan Kristus sungguh menjadi Anugerah Paling Ajaib dari ALLAH bagi kita. Kita diminta bukan hanya memuliakan kedatanganNya, tetapi lebih jauh lagi, untuk memancarkan kemuliaan kedatanganNya. Kristus adalah matahari kita, Sumber Cahaya. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk membuat matahari lebih terang bersinar. Usaha kita untuk itu akan ibaratnya seperti kita menggarami lautan, atau mengajari Rudy Hartono bermain bulu tangkis.

Yang harus kita lakukan adalah menjadi seperti bulan, yang bersinar bukan dari dirinya sendiri, tetapi semata memantulkan cahaya matahari sehingga malam-pun tetap mendapatkan cahaya, sebagaimana yang dapat saya nikmati juga dari rumah saya yang nomor 28 tadi.

Fabian Buddy Pascoal

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Kemenangan Kebangkitan
    Puncak kegagalan upaya Iblis menghambat Misi Allah
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah, dengan harapan ia akan bersifat dan berkepribadian seperti (yang dikehendaki) Allah, serta dirancang untuk...
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
  • Pemimpin: Hamba atau Sahabat
    Tema yang akan diteropong ini bukan tema yang baru, oleh karena itu ketika membacanya, kita pasti sudah mempunyai pemahaman...
Kegiatan