Allah Peduli. Kita Peduli pada yang Allah Peduli

Allah Peduli. Kita Peduli pada yang Allah Peduli

Belum ada komentar 437 Views

Ketika membuat tulisan ini, setahu saya, sebagai bagian perayaan Paska GKI-PI akan diadakan “Bulan Kesaksian dan Pelayanan”. Program ini dulunya bernama “Bulan Peduli” yang saat itu dalam banyak hal lebih menitik-beratkan pada fungsi diakonia. Walaupun tentu dalam kegiatan-kegiatan tersebut terkandung juga fungsi “koinonia” (persekutuan) dan “marturia” (pekabaran Injil), namun mulai kali ini diharapkan warna “marturia” mulai dikontraskan mengingat kepedulian bukan hanya untuk kebutuhan duniawi lewat kegiatan-kegiatan diakonia, tetapi kita diharapkan juga peduli untuk hal-hal yang bersifat kekal yang menjadi penekanan dalam fungsi “marturia” dari gereja-gereja Kristus di seluruh dunia.

Bukan kebetulan bahwa nama gereja kita disingkat “GKI-PI”. Dari singkatan ini, kita sebenarnya telah dipanggil, bukan hanya menjadi warga GKI yang gedung gerejanya terletak di kawasan “Pondok Indah”, tetapi juga warga gereja yang menjalankan misi “Pekabaran Injil”. Bila menjadi warga GKI-PI sudah memberi kita sejumlah berkat khusus dengan adanya sejumlah kenyamanan yang tidak banyak gereja yang dapat menikmatinya, maka menjalankan “Pekabaran Injil” sebenarnya justru merupakan “upah” bagi kita (1 Korintus 9:18). Kiranya tulisan ini dapat saling melengkapi kita dalam lebih membuka perspektif dan arah pelayanan kita.

ALLAH PEDULI

Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Esensi ayat di atas menunjukkan ALLAH yang begitu peduli dengan kita. Kepedulian ALLAH sangat totalitas karena IA melaksanakannya bukan dengan hanya memberi kita sejumlah aturan, juga bukan dengan mengirim malaikat atau makhluk sorgawi lainnya sebagai wakilNya untuk menyelamatkan kita. Tetapi, IA sangat peduli sehingga ALLAH sendiri yang turun menjadi manusia, yang lebih luar biasanya lagi, bukan untuk menikmati kehidupan sebagai manusia, tetapi justru sebaliknya untuk menjalani cara hidup yang sejak awal menunjukkan penyangkalan diri ALLAH dan kepedulianNya kepada manusia dan hal-hal yang tersisih dan kurang dianggap.

IA lahir dari seorang perawan. Tempat lahirnya pun di kandang binatang.1 Ketika masih kanak-kanak, IA sudah dikejar-kejar tentara Herodes untuk dibunuh sehingga Yusuf harus membawa Maria dan Yesus menyusuri padang pasir berhari-hari dan kesusahan lainnya selama bersembunyi di pelbagai tempat di Mesir.

Sekembali dari Mesir, IA tinggal di Kota Nazareth, suatu kota yang begitu sederhana sehingga ketika itu tidak tercantum di peta dan bahkan dalam Yohanes 1:46, Natanael berkata kepada Filipus: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Sampai usia 30 tahun, Yesus tinggal di Nazaret dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana sebagai anak tukang kayu, dan selanjutnya menjadi tukang kayu setelah Yusuf mati, guna menunjang kebutuhan hidup. Kehidupan itu lebih jauh lagi membuatnya akrab dengan kayu sehingga dalam pelayananNya banyak muncul kalimat-kalimat seperti “kuk” (Matius 11:30) dan “pintu” (al., Matius 7 dan 23) sekaligus untuk mempersiapkan tubuh fisiknya agar kelak cukup kuat menahan siksaan fisik dan memikul kayu salibNya sendiri menuju tempat penyaliban.

Di dalam pelayananNya selama kurang lebih tiga tahun, IA juga menunjukkan kepedulian yang sangat besar dengan manusia, khususnya mereka yang tertindas dan tersingkir. IA menyapa dan bergaul dengan nelayan seperti Andreas dan Petrus, kaum perempuan, orang cacat, orang miskin dan mantan pelacur. Isi Khotbah Di Bukit dalam Matius 5 menunjukkan lebih lanjut kepeduliannya yang begitu besar bagi kaum marjinal.

Di malam terakhir kehidupanNya, Yesus menunjukkan kerendahan hati yang sangat-sangat total: IA mencuci kaki Petrus. Padahal, sebagai seorang yang dianggap sebagai Rabbi, Yesus sangat dihormati. Menurut adat Yahudi, seorang Yahudi yang bertemu dengan seorang Rabbi akan segera berinisiatif mencium tangan Rabbi tersebut sebagai tanda hormat. Tetapi, dalam hal Yesus, justru Yesus sendiri yang aktif, bukan mencium tangan Petrus, tetapi mencuci kaki Petrus. Kaki adalah bagian yang terbawah dari tubuh manusia sekaligus memberi arti betapa “rendah” nya penilaian simbolik atas kaki. Tindakan Kristus ini menjadi bukti konkret penyangkalan dan pengosongan diri Kristus (dan, dalam dunia manajemen modern, juga menjadi rujukan dasar bagi metode yang dikenal sebagai “Servant Leadership” yang kini banyak dipraktikkan oleh perusahaan-perusahaan modern, seperti Starbuck).

Ketika ditangkap di Taman Getsemani pun, IA sangat peduli. IA tidak melawan dan masih menyempatkan diri memasang dan memulihkan kembali telinga seorang prajurit Kayafas yang ditebas Petrus.

Di sekitar sembilan jam terakhir hidupnya. IA diolok-olok, dirajam, disiksa dan kemudian, dalam kondisi fisik sangat-sangat lemah karena tidak tidur, tidak makan dan kekurangan darah, dipaksa memikul sendiri salibnya seberat kira-kira 30kg menjalani jalan kesengsaraan sejauh kurang lebih 2km di muka umum. Betapa sengsaranya Yesus. Kelemahan fisik luar biasa tadi makin diperparah dengan tekanan psikologis bahwa ujung perjalanan tadi bukan sesuatu kelepasan yang memberi kenyamanan, tetapi sebaliknya, harus menghadapi kematian.

Di dalam proses Via Dolorosa, Yesus masih menunjukan kepedulianNya menanggapi banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia di antara sejumlah besar orang mengikuti Dia (Lukas 23:28).

Setelah di atas kayu salib, di tiga jam terakhir kehidupanNya di dunia dalam kondisi fisik dan psikis yang sangat lemah, IA masih terus sangat peduli. Dari sejumlah kalimat terakhir Yesus di kayu salib, tiga di antaranya langsung menunjukkan kepedulianNya kepada manusia:

  1. Yesus meminta kepada ALLAH Bapa agar mengampuni mereka yang menyalibkanNya (Lukas 23:28);
  2. IA meminta agar murid-muridNya merawat Maria, IbuNya (Yoh.19:25-27); dan
  3. IA memberi pengampunan kepada penjahat yang ikut disalib di sampingNya dan mengakui dosanya (Lukas 23:43).

Setelah mengalami kelahiran dan kehidupan yang sangat menyangkal diri, IA menjalani proses kematian dengan cara paling hina dan paling menyakitkan: disalib dengan tangan dan kaki dipaku dan dibiarkan hingga maut sendiri yang mengakhiri penderitaan itu. Tetapi, yang paling menyakitkan bagi Yesus adalah ALLAH Bapa meninggalkanNya (Markus 15:34). Tritunggal yang semestinya menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan, pada momen ini harus mengalami keterpisahan. Karenanya, kesengsaraan dan kematian fisik bukanlah menjadi penderitaan dan pengorbanan terbesar Kristus. Inilah puncak kepedulian ALLAH bagi manusia: mengorbankan kesatuan Tritunggal dimana ALLAH Bapa harus meninggalkan ALLAH Anak. Kristus sampai mengeluarkan keringat darah (chromidrosis) ketika IA menggumuli hal ini dengan sangat di Taman Getsemani.

Memang, IA begitu peduli dengan kita secara total.

KITA PEDULI PADA YANG ALLAH PEDULI

1 Yohanes 3:16: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”

Ada suatu keindahan Ilahi ketika kita menyandingkan Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 3:16. Kedua ayat ini merupakan satu napas dalam memahami Kasih dan Kepedulian Kristus. Yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Ketika kita benar-benar memahami dan menghargai kepedulian total ALLAH dalam Yohanes 3:16, sebenarnya kita dengan sendirinya akan mengamini isi 1 Yohanes 3:16.

Esensi Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 3:16 adalah totalitas. Sebagaimana pelayanan kita lainnya kepada TUHAN, ketika kita membagikan Injil kita dituntut standar tertinggi, yang tidak lebih tinggi dari yang sudah Yesus sendiri lakukan, yakni pengorbanan, bahkan nyawa kita, bila memang harus. Give God what is right, not what is left. Mati bagi Kristus menjadi bagian paling paripurna dari pelayanan pekabaran Injil. Makanya, istilah “martir” dan “marturia” datang dari akar kata yang sama2 , dan sejarah pekabaran Injil juga diwarnai pengorbanan diri total dari para pemberita Injil, mulai dari Stevanus, salah seorang murid Yesus yang menjadi martir pertama.

Mati sebagai martir adalah hak istimewa. Bukankah dalam Matius 16:25 dikatakan, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”, dan dalam Mazmur 116:15: “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Namun, tidak semua pelayanan pekabaran Injil akan selalu berakhir dengan kematian fisik sebagai martir. TUHAN memberi kita bijaksana untuk melakukan penginjilan sehingga apa pun proses dan hasilnya tidak akan sia-sia, atau bahkan kontra produktif terhadap Kerajaan ALLAH. Apa pun proses dan ujung setiap penginjilan, semua dilakukan dengan kesungguhan hati dan kerinduan untuk membagikan kepada sebanyak mungkin orang dalam jangkauan waktu dan tempat kita, hal terbaik dalam hidup kita: keselamatan kekal.

Ron Hutchcraft, salah satu penulis Kristen, dalam tulisannya “Your Life’s Most Memorable Legacy” mencatat kisah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan salah satu presiden Amerika Serikat terbesar: Ronald Reagan. Kehidupan Ronald Reagan sangat mempengaruhi banyak orang Amerika dan dunia ini, yang tragisnya ia sendiri pelan-pelan terlupakan karena penyakit Alzheimer yang dideritanya. Prestasinya sebagai aktor Holywood, Gubernur California dan Presiden Amerika Serikat, akhirnya terhapus dalam ingatannya sendiri. Tetapi ada satu kenangan yang terus diingatnya hingga akhir hidupnya, Ia mempunyai satu foto yang mengabadikan dirinya dalam seragam penjaga pantai di Kota Rock River, Illinois. Tiap kali orang menanyakan tentang foto itu yang digantung di kantornya setelah ia pensiun dan melupakan sebagian besar kisah hidupnya sendiri, ia akan dengan ceria menjawab, “Oh, foto itu diambil ketika saya berusia 17 tahun. Ketika itu, saya menyelamatkan 77 orang!”

Setelah semua yang dilakukan dan dikatakannya, hal yang paling dan masih diingatnya adalah tetap mengenai orang-orang yang pernah ia selamatkan dari ancaman kematian. Memang, tidak ada yang lebih bernilai dalam hidup ini daripada hal hidup dan mati, khususnya bila hal itu mengenai hidup dan mati secara kekal. Amsal 11:30 dalam versi NIV, berkata: “he who wins souls is wise”. Memenangkan jiwa adalah kebijakan dan kebajikan utama.

Di Sorga kelak, yang akan diperhitungkan kepada kita, bukan mengenai prestasi duniawi kita di dunia ini, tetapi berapa jiwa yang kita bawa kepada Kristus, langsung maupun tidak langsung. Tidak ada prestasi yang memberi efek kekal selain memberitakan Injil Yesus Kristus. Tidak ada kebahagiaan yang lebih bernilai selain melihat orang-orang di sekitar kita saat kita hidup di dunia ini, apalagi orang-orang yang kita kasihi dan peduli, sama-sama dengan kita menikmati kekekalan. Mari kita semua punya cita-cita yang sama: masuk Sorga, dan membawa sebanyak mungkin orang ke Sorga.
`
Untuk itu, PERGI DAN KATAKANLAH bahwa ALLAH sangat peduli dan kita juga peduli pada yang ALLAH peduli! Friends of Jesus tell their friends about Jesus.

Fabian Buddy Pascoal

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Bible Talks
  • Pengharapan Akan Hari Esok
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)
    Kepada sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan, saya pernah mendoakan sambil menyerahkan...
  • Pemimpin: Hamba atau Sahabat
    Tema yang akan diteropong ini bukan tema yang baru, oleh karena itu ketika membacanya, kita pasti sudah mempunyai pemahaman...
  • Musa, Sahabat Allah
    Dihapus dari Kitab Kehidupan Musa adalah seorang tokoh besar dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Nama besar Musa dikenal karena...
Kegiatan