Adikarya Terbesar Allah Yang Membawa Transformasi

Adikarya Terbesar Allah Yang Membawa Transformasi

Belum ada komentar 98 Views

1. PADA MULANYA, ALLAH MENCIPTAKAN LANGIT…

ALLAH kita adalah causa prima, Sebab Yang Utama, Pencipta segala sesuatu. Ayat pertama Alkitab menegaskan bahwa IA adalah Pencipta alam semesta. Tahukah Saudara seberapa luas alam semesta kita? Tidak ada seorang pun yang dapat menjangkau dan memahami hal ini sepenuhnya. Upaya manusia untuk itu sama saja dengan, seperti contoh yang diberikan St. Agustinus, mengisi seluruh lautan dalam lobang kecil yang kita gali di pinggir pantai. Jangankan mengukur batas alam semesta, hingga kini tidak ada seorang pun yang dapat memastikan batas alam semesta.

Artikel di harian Kompas, 30 April 2005 mencatat hasil penelitian suatu tim astronom di European Southern Observatory yang dipimpin Roser Pelló dan Daniel Schaerer. Mereka (hanya) berhasil memperpanjang jangkauan manusia atas sisi terjauh alam semesta yang dapat diraih manusia. Di bulan Maret 2004, mereka mengumumkan adanya suatu galaksi yang diberi nama Abell 1835 IR1916, yang menjadi galaksi terjauh sebatas jangkauan manusia hingga saat ini. Jarak galaksi tersebut berjarak sekitar 13,23 miliar tahun cahaya dari kita, yang artinya bahwa cahaya yang bergerak dengan kecepatan 300.000 kilometer/detik membutuhkan 13,23 miliar tahun untuk menjangkau lokasi tersebut.

Sementara itu, Galaksi Andromeda yang adalah galaksi terdekat dengan galaksi Bima Sakti, tempat tata surya Matahari kita berada, jaraknya “hanya” dua juta tahun cahaya. Galaksi Bima Sakti kita mempunyai ukuran 100.000 tahun cahaya antara kedua sisinya, dan didiami oleh sekitar 250 miliar bintang yang mirip dengan Matahari kita dan kebanyakan jauh lebih padat dan besar dari Matahari kita, padahal ukuran Matahari kita saja sudah sekitar 110 kali ukuran Bumi.

TUHAN menempatkan Matahari sebagai pusat tata surya Bumi kita. Setiap detik di dalam inti (nucleus) Matahari, 564.000.000 ton hydrogen berproses menghasilkan 560.000.000 gas helium yang menghasilkan cahaya, terang dan panas yang luar biasa tinggi. Matahari diperkirakan telah ada selama 5.000.000.000 tahun dan diperkirakan masih akan terus menjalankan fungsinya yang sekarang selama 5.000.000.000 tahun lagi sebelum ia padam.

Di dalam sistem tata surya yang mengitari Matahari, sejauh ini sejak ditemukannya planet Pluto di tahun 1930 baru ada 9 planet yang diterima secara umum sebagai bagian dari tata surya kita. Namun, baru-baru ini California Institute of Technology mengumumkan penemuan objek angkasa yang sedang dipertimbangkan untuk menjadi planet ke-10 tata surya kita setelah Pluto (http://www. kompas.com/teknologi/news/0403/15/125008.htm). Perhitungan awal menduga benda langit itu, yang diberi nama “Sedna” -nama yang diambil dari Dewi Samudra bangsa Inuit – berada antara 7,5 milyar hingga 10 milyar kilometer dari Bumi.

Semua benda di angkasa raya tersebut dirangkai dengan suatu harmoni yang begitu dahsyat dan mengagumkan melalui keseimbangan yang begitu akurat. Tata surya kita tetap dapat berada di tempatnya selama ini, disebabkan adanya keseimbangan antara gravitasi Matahari dan apa yang disebut sebagai gaya sentrifugal planet-planet yang mengorbit Matahari.

Ukuran Matahari yang luar biasa besar tersebut menghasilkan gravitasi yang sebenarnya sanggup menarik dan akhirnya “menelan”ke-9 (atau bahkan ke-10 planet kalau “Sedna” benar adalah planet) yang mengorbitnya, kalau saja tarikan Matahari tersebut tidak “dilawan” dengan gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh gerakan planet-planet tersebut.

Masing-masing planet berputar pada sumbunya (rotasi) pada kecepatan yang berbeda satu planet dengan planet lainnya, yakni pada kecepatan putaran yang harmonis terhadap kebutuhan kekuatan yang diperlukan planet bersangkutan untuk tetap mempertahankan orbitnya terhadap Matahari. Kecepatan putaran tersebut harus berbeda pada setiap planet karena setiap planet mempunyai massa dan jarak yang berbeda satu sama lain terhadap Matahari. Kecepatan putaran yang terlalu kecil akan melemahkan “daya lawan” planet tersebut terhadap gaya tarik Matahari dan dapat membuat planet dimaksud “terjungkal” ke dalam hisapan gravitasi Matahari. Sebaliknya, rotasi yang terlalu besar akan melempar planet tersebut keluar dari keseimbangan gravitasi Matahari dan pola orbit tata surya, hanyut ke ruang hampa.

Siapakah yang dapat menciptakan keajaiban tersebut selain ALLAH Sang Maha Pencipta?
Tetapi, langit bukanlah Adikarya Terbesar ALLAH.

2. …DAN BUMI.

Kekaguman kita atas kedahsyatan penyataan ALLAH melalui ciptaan-Nya di langit tidak akan ada habis-habisnya. Kedahsyatan penyataan ALLAH di dalam langit mencerminkan “sidik jari” dan “tanda tangan” ALLAH yang mengungkapkan identitas ALLAH sebagai Sang Maha Pencipta, pernyataan mana berlangsung dan tercermin juga pada karya-karya ALLAH di Bumi ini.

Bumi kita juga sungguh luar biasa. Bumi mempunyai lingkar ekuator sepanjang 40.076.594 km, dengan luas permukaan sekitar 510.100.000 km persegi yang terdiri atas sekitar 149.400.000 daratan dan sekitar 360.700.000 lautan.

TUHAN menempatkan Bumi sejauh 149.509.000 km, ukuran yang memadai untuk menjaga lintasan bumi terhadap Matahari dan keseimbangan kehidupan di bumi. TUHAN juga menempatkan bulan pada jarak 384.365 km dari bumi, jarak yang harmonis untuk mengendalikan pasang surut air laut, dan memantulkan sinar Matahari di waktu malam untuk menghiasi dan menerangi malam hari. Ketika bagian tertentu Bumi berada pada titik terdekat dengan Bulan, air pada bagian tersebut tertarik dan menyebabkan arus pasang, dua kali sehari.

TUHAN memberi Bumi tiga samudera. Samudera Pasifik yang meliputi wilayah 100.000.000 sqm. adalah samudera terdalam, antara 4.050m hingga 11.030 m, diikuti oleh Samudera India (75.000.000 sqm), dengan kedalaman antara 3.900 m hingga 9.200 m. Selanjutnya Samudera Atlantik (106.000.000 sqm), dengan kedalaman 3.300 m hingga 9.200 m. Di dalam setiap samudera dan lautan TUHAN menempatkan segala satwa dan fauna laut sebagai isi lautan yang mengungkapkan dunia bawah air yang tidak kalah indahnya dengan dunia daratan yang kita alami sehari-hari.

Matahari bukan hanya menjaga keteraturan lintasan planet-planet dalam tata surya sebagaimana disebut di atas, tetapi juga memberi kehidupan bagi semua makhluk yang ada di bumi. Tanpa sinar Matahari, tumbuhan tidak akan tumbuh, dan bumi kita akan menjadi sangat dingin.

Matahari pada dasarnya adalah suatu objek yang terdiri atas awan gas berwarna merah dengan lidah-lidah api raksasa dengan panjang berjuta kilometer disertai badai raksasa. Tingkat cahaya dan panasnya jelas mematikan manusia. Tetapi, TUHAN telah menempatkan di bumi kita ini atmosfir dan medan magnet pada kadar memadai yang menyaring sinar Matahari sebelum sempat sampai kepada kita. Sekitar 20 km di atas bumi, TUHAN menempatkan lapisan ozon yang menangkal sinar ultraviolet Matahari yang berbahaya bagi manusia.

TUHAN juga menciptakan pelbagai jenis satwa dan tumbuhan untuk, antara lain, diolah dan dikonsumsi manusia. Semua ciptaan TUHAN ini merupakan karya ilahi yang tidak dapat ditiru oleh manusia. Sehebat-hebatnya teknologi manusia, belum ada alat yang apabila diisi rumput akan menghasilkan susu sebagaimana dihasilkan sapi. Atau, diberi makan biji-bijian dan keluar telur dengan segala nutrisi di dalamnya, sebagaimana dihasilkan ayam. Atau, diisi serbuk yang berasal dari bunga dan mengeluarkan madu sebagaimana dihasilkan lebah madu. Juga tidak ada teknologi buatan manusia yang dapat mengubah seekor ulat menjadi kupu-kupu dengan sayap yang sangat indah dan unik. Semua yang dihasilkan satwa ciptaan ALLAH tersebut memang sungguh luar biasa. Tetapi, berapakah harga pasar atau berapa lamakah umur seekor sapi, ayam, lebah madu atau kupu-kupu?

Namun, sebagaimana langit, bumi juga bukan Adikarya Terbesar ALLAH.

3. ALLAH JUGA MENCIPTAKAN MANUSIA

Tubuh manusia mewakili mekanisme alamiah yang luar biasa. Tubuh kita terdiri atas jutaan sel dan terdiri atas sekitar 200 tulang dan 600 otot. Setiap sel tubuh bekerja keras dan secara terus menerus dibarui.

Untuk dapat terus bekerja, sel-sel tubuh membutuhkan suatu jenis gula tertentu yang disebut glukosa yang disalurkan melalui darah. Darah mendapatkan glukosa dari hati yang menyediakan glukosa tersebut dengan sangat pelan sesuai yang dibutuhkan.

Hati mendapatkan darah dari pembuluh nadi (arteri) dan urat darah halus (vein). Arteri menyediakan hati dengan darah yang membawa energi untuk bekerja, dan vein memberi hati darah yang berasal dari usus kecil.

Jadi, dari semua makanan yang kita makan, hati menyimpan glukosa hingga glukosa tersebut diperlukan bagian tubuh manapun. Sebaliknya, apabila terdapat makanan yang tidak diperlukan setelah proses pencernaan, sisa makanan tersebut akan disaring oleh ginjal atau disalurkan ke usus besar untuk dikeluarkan dari tubuh.

ALLAH juga melengkapi kita dengan organ-organ tubuh lainnya yang begitu luar biasa. Ambil contoh, paru-paru kita. Tahukah saudara bahwa saluran pernapasan kita sebenarnya adalah air conditioned (AC) terbaik di dunia? Ketika kita berada di daerah dingin bersalju, saluran pernapasan kita mengkondisikan udara dingin yang masuk sedemikian rupa sehingga tidak membuat beku paru-paru kita. Juga sebaliknya, bila kita berada di daerah yang sangat panas, saluran pernapasan kita melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga paru-paru kita tidak kekeringan atau kepanasan. Kita juga harus bersyukur karena ALLAH memberikan tubuh kita otot-otot refleks yang bekerja terus menerus di luar kesadaran kita. Kita tidak akan dapat hidup apabila untuk tiap tarikan napas, kita harus memberi perintah pada otot saluran pernapasan dan paru-paru kita.

Kemaha-besaran ALLAH juga tampak dari keunikan setiap manusia. Lihatlah sidik jari kita. Di dunia ini tidak ada orang yang mempunyai sidik jari yang sama dengan sidik jari orang lain, walaupun dengan saudara kembarnya. Bahkan mata manusia pun diketahui membawa rumus yang unik pada setiap orang, sebagaimana sidik jari.

Kendati demikian, kehebatan tubuh manusia masih bukan Adikarya Terbesar ALLAH. (Semua ciptaan ALLAH yang kelihatan hanya bagaikan pulau di tengah lautan, yang mungkin hanya merupakan puncak dari suatu gunung besar di lautan tersebut, di mana justru bagian terbesar gunung tersebut tertutup oleh lautan. ALLAH memang mengijinkan manusia mengalami pernyataan ALLAH, tetapi tetap memegang hal-hal yang tersembunyi yang menjadi hak ekslusif TUHAN [Ulangan 29:29]).

4. AKHIRNYA, … ALLAH MENGIRIMKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL…

Kulit manusia tidak sepopuler kulit sapi, pakaian buatan manusia belum tentu menyaingi keindahan sayap kupu-kupu, ikan hias dan bulu ayam sekalipun. Tulang manusia pun tidak lebih mahal daripada gading gajah. Tetapi, apakah yang membuat manusia jauh lebih berharga dari semua ciptaan lainnya dari ALLAH ? Ada dua alasannya:

(1) Manusia dicipta menurut peta dan teladan ALLAH; artinya, manusia mencerminkan dan membawa sifat-sifat ALLAH, antara lain, kekekalan dan daya cipta. Dan, tidak kalah penting adalah (2) bahwa kehidupan manusia ditebus dengan darah Kristus yang sangat mahal harganya (I Petrus 1:19).

Untuk penebusan itu, ALLAH mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal untuk datang ke dunia, menjalani kehidupan sebagai manusia seutuhnya, dan menderita hingga mati di kayu salib guna menebus dan membebaskan manusia dari cengkeraman dosa. Apakah yang mendorong ALLAH Pencipta Langit dan Bumi untuk secara aktif dan dengan inisiatif-Nya sendiri mau turun menjangkau manusia yang sebenarnya hanyalah debu yang bahkan kemudian memberontak terhadap ALLAH? Tiada lain hanya karena kasih ALLAH sendiri kepada manusia.

Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” God so loved the world that HE did not send a committee, but His own, only Son. Jesus is the GIFT, and We are the reason!

Anugerah ALLAH melalui kedatangan Kristus adalah Adikarya Terbesar ALLAH. Karya ALLAH lainnya sebagaimana sebagian kecil diuraikan di atas, walaupun sangat luar biasa, adalah tidak abadi dan karenanya pada saatnya akan lalu dari sejarah dunia.

Karya ALLAH itu semua juga hanya merupakan objek Karya ALLAH yang berada di luar diri ALLAH. Tetapi, karya kelahiran dan kedatangan Kristus ke dunia (a) merupakan Karya ALLAH yang membawa sifat kekekalan karena menyangkut jiwa manusia yang tidak akan pernah lenyap walaupun ciptaan lainnya sudah berlalu dan (b) sepenuhnya melibatkan ALLAH sendiri sebagai Esensi satu-satunya dari Karya Keselamatan tersebut.

Kolose 1:15-17: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Kristus adalah Sang Pencipta itu sendiri. Namun, kedatangan-Nya ke dunia mengambil rupa dan cara yang begitu bersahaja. Walaupun kaum Israel menantikan Sang Mesias dalam segala kebesaran-Nya menurut ukuran manusia (yang hingga kini masih dinantikan kaum Yahudi), Kristus justru datang dengan kelahiran di kandang binatang. Bagaimana mungkin ALLAH Pencipta langit dan bumi harus masuk ke dunia ciptaan-Nya sendiri dengan cara sedemikian rupa?

Kelahiran Kristus sudah membawa pesan dan makna sejak awal kehadiran Kristus sebagai manusia di dunia ini bahwa keselamatan manusia dimulai dari penyangkalan diri, sebagaimana ALLAH sendiri menyangkal keilahianNya dengan mengosongkan diri dari segala sifat keilahian dan statusnya sebagai Raja Segala Raja. Hanya bila kita menyangkal diri, kita akan mengakui bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri dan karenanya akan mampu mengosongkan diri kita sehingga kita dapat dilayakkan menerima curahan anugerah kasih ALLAH dari atas.

Kata “karunia” pada ayat Yohanes 3:16 menunjukkan bahwa keselamatan itu datang-Nya dari atas ke bawah (top down), bukan bottom up. Segala keterbatasan manusia yang karenanya tidak akan mampu memenuhi standar ALLAH yang terlalu tinggi bagi manusia hanya akan membuat segala usaha bottom up manusia menjadi mboten up, yang (dikombinasikan dengan istilah bahasa Jawa) artinya “tidak naik-naik”. Bagaimana mungkin manusia yang adalah ciptaan dan karenanya terbatas akan mampu memenuhi standar ALLAH Sang Pencipta? Sebaik-baiknya manusia, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa. Sesedikit apapun dosa manusia tersebut, dosa itu telah me-negasi-kan “kebaikan relatif” yang dilakukannya.

Yakobus 2:10: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Sorga adalah Maha Suci. Tidak boleh ada dosa di Sorga. Sebagaimana pisau bedah yang harus selalu steril, satu kuman saja yang melekat di pisau bedah tersebut telah membuat seluruh pisau bedah menjadi tidak lagi memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam suatu pembedahan.

Lebih jauh lagi, dosa manusia sebenarnya bukanlah masalah kuantitas dosa pada manusia, tetapi lebih terletak pada hal “kualitas” manusia. Manusia disebut berdosa bukan karena melakukan dosa, tetapi karena nature atau sifat manusia itu sendiri sudah berdosa. Semua manusia sudah berdosa (Roma 3:10, 23). Sejak kejatuhan Adam yang mewakili seluruh umat manusia yang diturunkannya, seluruh umat manusia sudah menjadi berdosa. Bukti? Manusia selalu mempunyai hasrat atau kecenderungan untuk melakukan dosa.

Pendidikan dengan kuantitas dan kualitas yang makin tinggi setiap tahun tetap tidak berhasil mengurangi dekadensi moral manusia. Anak-anak kecil pun, walaupun selalu diajar dengan budi pekerti, masih mempunyai kecenderungan melakukan hal-hal yang tidak baik yang tentunya tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya, tetapi datang dari dalam dirinya sebagai suatu sifat bawaan manusia.

Agama-pun belum berhasil menyelesaikan masalah pemberontakan manusia kepada ALLAH. Ironis dan tragisnya, justru karena dalih agama, sejumlah orang mengambil cara-cara yang dilarang ALLAH, antara lain, membunuh orang-orang yang bahkan mungkin tidak dikenal atau mengenalnya. “…it is not our culture to sin, it is our nature to sin; and only GOD will change that nature.”

Hanya melalui Kristus sajalah, dosa manusia dapat dibereskan. Kristus harus datang ke dunia agar manusia diselamatkan. Tidak ada jalan lain ke Sorga selain melalui Kristus. Hanya Yang Datang Dari Sorga sajalah yang dapat menunjukkan jalan ke Sorga. Di antara para pendiri agama, hanyalah Kristus yang datang dari Sorga. Karena Ia dari sana, Ia tentu tahu jalan ke sana.

Tetapi, Yesus bukan hanya tahu jalan ke Sorga, tetapi Ia sendirilah Jalan (satu-satunya) ke Sorga. Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Kisah Para Rasul 4:12: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Kristus adalah ALLAH sendiri yang turun ke dunia menjadi manusia. Ia bukan ciptaan sebagaimana manusia (termasuk mereka yang disebut nabi). Ia adalah Sang Pencipta itu sendiri. Memang harus ALLAH sendiri yang turun membereskan dosa manusia dan menjadi Juru Selamat.

Apabila Juru Selamat itu adalah seorang manusia biasa, orang itu akan mengalami tragedi terbesar dalam sejarah upaya penyelamatan manusia dari dosa. Dengan menjadi juru selamat berarti ia harus menanggung seluruh dosa manusia yang karenanya akan ditimpakan atasnya dan selanjutnya membuat yang bersangkutan orang paling berdosa di dunia ini. Status ini akan membuatnya tidak layak untuk masuk sorga. Bukan begini Sang Juru Selamat sejati.

Juru Selamat sejati haruslah Pribadi yang tidak terbatas yang karenanya haruslah Sang Pencipta itu sendiri sehingga Ia akan secara tanpa batas sanggup menanggung dosa sebanyak mungkin orang yang menerimanya sebagai Juru Selamat. Tetapi, di sisi lain, Sang Juru Selamat haruslah mengambil rupa seorang manusia karena karya keselamatan-Nya adalah mewakili umat manusia menerima murka ALLAH. Hanya manusia yang dapat mewakili manusia. Dengan menjadi manusia, maka Juru Selamat tersebut dapat mati, dan karena Ia juga adalah ALLAH, Ia akan dapat bangkit dari maut dan karenanya mengalahkan maut sekaligus membebaskan manusia dari maut (Ibrani 2:14). Semua manusia pasti mengalami maut sebagai upah dosa (Roma 6:23).

Begitulah, kedatangan Kristus yang kita rayakan lewat natal, merupakan suatu kisah yang paradoks: (a) Kristus yang adalah Pencipta alam semesta, datang ke dunia dengan cara yang terlalu sederhana, (b) Ia harus lahir sebagai manusia agar Ia dapat mati sebagai manusia guna menebus dosa manusia, dan (c) Kematian-Nya di kayu salib kemudian seolah-olah merupakan kekalahan, tetapi sejatinya justru merupakan kemenangan karena Kristus mati bukan karena dibunuh tentara Romawi atau plot orang Yahudi, tetapi semata-mata karena Ia secara rela dan atas inisiatif-Nya sendiri menyerahkan diriNya untuk mati sesuai maksud kelahiran-Nya ke dunia sebagai manusia. Hanya kematian Kristus yang terjadi bukan sebagai upah dosa, karena kematian Kristus justru adalah kematian yang menelan kematian.

5. KEDATANGANNYA MENGUBAHKU

Perayaan Natal memang seharusnya tidak hanya berisi informasi tentang kedatangan Kristus ke dunia, tetapi lebih jauh lagi harus membawa transformasi (perubahan) bagi kehidupan manusia. Apabila natal hanya diidentikan dengan bingkisan dan perayaan natal, maka esensi natal hanya akan stagnan sebagai informasi bahwa saat untuk baju baru dengan segala ritual natal sudah datang kembali sebagaimana tahun-tahun yang lalu. Natal hanya akan membawa transformasi yang sejati dan esensial, apabila transformasi tersebut membawa akibat kepada kekekalan, yakni kekekalan yang menyangkut keselamatan jiwa manusia, karena where death finds you, eternity will keep you.

Transformasi sedemikian hanya dapat berlangsung apabila kita benar-benar memahami dan menerapkan arti, semangat dan esensi natal sejati, yakni “penyangkalan diri” dan menjadi bagian dari Adikarya keselamatan ALLAH. Hanya apabila Kristus menjadi Juru Selamat pribadi kita dan kita hidup dalam kesatuan denganNya setiap hari, maka hidup kita akan mengalami perubahan (transformasi). Hidup yang sudah diubahkan lebih lanjut juga akan mencerminkan karakter Kristus, yakni senantiasa memberi diri, untuk membagikan Adikarya keselamatan ALLAH melalui Kristus, kepada orang lain. Masing-masing kita yang sudah menerima bingkisan natal sejati, yakni keselamatan dalam Kristus, haruslah meneruskan keselamatan tersebut kepada sebanyak mungkin orang. Changed Lives Change Lives!

Dalam salah satu Ibadah Minggu GKI Pondok Indah, Pnt. Riani Josaphine memperkenalkan istilah “circle of blessing”. Konsep dalam istilah tersebut sangat penting untuk kita terapkan karena konsep ini mengajar kita untuk meneruskan berkat ALLAH yang sudah kita terima. (Mungkin ada di antara kita yang sudah pernah menonton film “Paying Forward”. Inti cerita film tersebut sejalan dengan konsep “circle of blessing”). Konsep “circle of blessing” dimaksud akan membawa arti yang lebih agung bila yang kita teruskan bukan hanya berkat duniawi, tetapi lebih dari itu, berupa kabar keselamatan dalam Kristus sebagai berkat ALLAH terbesar yang dapat, dan sudah, kita terima. Setiap berkat yang TUHAN anugerahkan pada kita mempunyai sisi kedua yang berisi tanggung jawab untuk menggunakan berkat tersebut untuk kemulian ALLAH sebagai sumber berkat. Much is given, much is required!

Salah satu sub-tema perayaan natal GKI PI tahun 2005 ini adalah “Kusambut DIA dengan karyaku”. Karena yang kita sambut adalah Pencipta Langit dan Bumi dan Juru Selamat kita, karya apakah yang pantas kita tampilkan? ALLAH tentu sangat menghargai setiap dan semua karya yang kita lakukan dengan motif memuliakan ALLAH. Tetapi sudah seharusnya bila kita juga berkarya dengan membagikan kepada sebanyak mungkin orang kabar baik bahwa Kristus sudah datang dan membawa keselamatan jiwa kita. Adakah kabar dan karya yang lebih baik lagi selain kabar dan karya yang bersifat kekal? Adakah cita-cita dan karya yang lebih mulia selain “masuk sorga dan membawa-serta sebanyak mungkin orang ke sorga?” By receiving we make living, by giving we make life!

Keselamatan melalui Kristus dapat diperoleh secara gratis, sebagaimana kita dapat menikmati secara gratis ciptaan-ciptaan ALLAH yang paling bernilai bagi kehidupan. Tetapi, berbeda dengan ciptaan ALLAH yang terjadi hanya dengan perintah ALLAH, keselamatan melalui Kristus adalah Adikarya ALLAH yang sangat mahal karena Adikarya yang ini tidak melalui jalan pintas, tetapi untuk itu, Kristus harus menderita dan mati untuk bangkit mengalahkan maut. Hanya ada satu-satunya Jalan mengalami transformasi, yakni Jalan yang ALLAH sendiri sediakan bagi kita.

Around 2000 years ago heaven touched earth, and the rest is ‘His story’. Selamat Natal 2005 dan Tahun Baru 2006 ! Don’t count your days- make your days count.

Fabian Buddy Pascoal

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan