Tuhan itu Baik

Tuhan itu Baik

Belum ada komentar 42 Views

Setiap orang pasti ingin merasakan kebaikan di dalam hidupnya, meski kalau ia ditanya, “Apa baik itu?” “Kebaikan seperti apa yang kauinginkan?” ia akan sangat sulit menjawabnya. Setiap orang bisa memiliki pengertian tentang kebaikan menurut versinya sendiri. Artinya, kebaikan bersifat subjektif. Kalau ‘begini’ baru baik, atau kalau ‘begitu’ baru bisa dikatakan baik. Kita pasti memiliki penilaian tersendiri untuk sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Lalu bagaimana kita melihat kebaikan Tuhan? Semua orang percaya pasti setuju bahwa Tuhan itu baik. Namun, siapa yang menentukan kriteria-kriteria untuk mengatakan bahwa Tuhan begitu baik bagi kita?

Dalam hal ini, sangat menarik ketika kita mencoba membahas bagaimana bangsa Israel menyaksikan kebaikan Tuhan. Ketika mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka begitu mampu mengatakan betapa baiknya Tuhan. Keluaran 15:1-18 mencatat bagaimana Musa dan bangsa Israel bernyanyi memuji-muji Tuhan. Namun ingatkah kita bahwa sebelumnya mereka (bangsa Israel) meragukan dan mempertanyakan kebaikan Tuhan? Persis ketika mereka belum menyeberangi laut Teberau dan berada dalam pengejaran Firaun, mereka berkata, “Apakah kerena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?” (Keluaran 14:11).

Mari kita bayangkan perbedaan yang sangat signifikan ini. Di satu sisi memuji Allah, di lain kesempatan meragukannya. Bahkan setelah itu, tidak jarang Israel tetap bersungut sungut. Mereka sering kali menilai dan menyaksikan kebaikan Tuhan menurut cara pandang mereka sendiri. Kalau saja—menurut mereka—Tuhan melakukan suatu hal yang menjawab keresahan mereka, maka Tuhan itu baik. Kalau tidak sesuai kemauan, maka mereka mengeluh, bahkan meragukan kebaikan Tuhan.

Bagaimana dengan kita saat ini? Kita tentu memiliki latar belakang masing-masing dengan kebutuhan dan harapan yang berbeda-beda dalam hidup ini. Ada yang mau A, mau B, dst. Sering kali kita berelasi dengan Tuhan dengan cara give and take. Kita memberi dan melakukan sesuatu untuk Tuhan, dan berharap bisa membuat Tuhan melakukan apa yang kita mau. Perspektif seperti ini berujung pada kekaburan kita untuk melihat kebaikan Tuhan. Kita bisa mengeluh, ragu, bahkan tidak percaya karena ada banyak hal sulit yang terjadi dalam hidup ini. “Tuhan ke mana? Mengapa Engkau menjadikan aku begini, Tuhan?”

Kedewasaan iman sangat diperlukan dalam melihat kebaikan Tuhan, sehingga kita tidak menggunakan keinginan atau kebutuhan pribadi untuk melihat kebaikan tersebut. Kebaikan Tuhan tidak bersifat momentum, hanya dihitung melalui peristiwa-peristiwa baik yang terjadi dalam hidup kita. Sama seperti Israel melihat bahwa Tuhan baik saat membebaskan mereka dan melakukan mukjizat-mukjizat lainnya. Kebaikan Tuhan perlu dipandang sebagai suatu rancangan yang sangat panjang. Sebuah rancangan melalui cinta Allah yang abadi. Kebaikan Tuhan yang begitu besar ini tidak bisa kita masukkan ke dalam kotak ego kita yang kecil ini.

Kita perlu melihat bahwa kebaikan Tuhan sudah ada sejak sebelum kita diciptakan. Karena itu, apa pun yang terjadi, Tuhan tetap baik. Kita percaya bahwa ada rancangan yang baik di dalam kehidupan yang sering kali penuh dengan masalah. Melalui kacamata iman yang percaya kepada Tuhan, maka kita mampu melihat kebaikan Tuhan dengan lebih utuh. Berelasi dengan Tuhan pun tidak bersifat give and take lagi, melainkan hanya “give”. Kita memberi, melayani, tetap percaya, karena sudah tahu bahwa Tuhan sungguh baik kepada ciptaan-Nya. Bukankah itu yang dinamakan kasih? Seperti seseorang yang sedang benar-benar jatuh cinta melihat segala sesuatu yang dilakukan kekasihnya selalu baik, apakah dengan cinta itu pula kita mampu melihat kebaikan Tuhan di dalam hidup kita masing-masing? Selamat menikmati kebaikan Tuhan.•

|PDT. LUISYE SIA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
  • Mengasihi Sesamaku
    Mengasihi Sesamaku
    Siapakah yang pernah membayangkan bahwa kehadiran pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) ternyata telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat?...
  • CARPE DIEM
    sebuah strategi menghindari kesia-siaan dalam singkatnya kehidupan
    Kesia-siaan Kitab Pengkhotbah sering dianggap sebagai kitab yang menyuarakan keputusasaan, ketiadaan harapan, serta kesia siaan hidup, seperti yang tersurat...
  • Harapan yang Membawa Sukacita
    Harapan yang Membawa Sukacita
    Setiap orang selalu mengharapkan hal yang baik terjadi dalam hidupnya. Rasanya tidak ada yang dalam keadaan stabil mengharapkan sesuatu...
  • Merayakan Kerapuhan Dalam Kegembiraan untuk Menyelami Cinta Allah
  • Kecemasan Sakral