…Ia pun bangun dan melayani Dia. (Matius 8:15b)
Ada dua kata yang diajarkan oleh orangtua ketika kita masih kecil, yaitu “tolong” dan “terima kasih”. Kita diajarkan untuk mengatakan “tolong” ketika membutuhkan bantuan atau meminta sesuatu. Kita juga diajarkan untuk mengucapkan “terima kasih” sebagai ungkapan rasa syukur. Rasa terima kasih dapat dinyatakan dalam berbagai cara, baik melalui ucapan maupun tindakan kasih.
Setelah menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum, Yesus dan murid-murid-Nya singgah di rumah Petrus. Di sana, Yesus menjumpai ibu mertua Petrus yang sedang menderita demam. Tanpa diminta, Yesus menyentuh tangannya, dan seketika itu juga ia sembuh. Memang, Injil tidak mencatat bahwa ia mengucapkan “terima kasih”. Namun, ia menunjukkan bentuk ucapan terima kasih yang lain, yaitu melalui tindakannya: “Ia pun bangun dan melayani Dia.” Pelayanan tersebut merupakan ungkapan syukur yang sejati.
Kita sering mendengar kata “melayani”. Bahkan, mungkin kita sendiri kerap mengucapkan dan menggunakannya untuk menggambarkan berbagai kesibukan dan aktivitas di gereja. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa dan untuk apa aku melakukan semua ini?” Bersyukurlah jika kita menemukan jawabannya: “Aku mau melayani Tuhan karena aku telah disembuhkan dan dibebaskan dari kuasa dosa. Aku melayani karena aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan.” [Pdt. Nanang]
DOA:
Tuhan, ajar kami untuk tahu berterima kasih, supaya kami melayani-Mu dengan tulus dan gembira. Amin.
Ayat Pendukung: Yer. 15:10-14; Mzm. 26:1-8; Mat. 8:14-17
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.