TAKUT

Belum ada komentar 1 View

Pandemi virus COVID-19 masih belum berakhir, malah di beberapa negara jumlah penderita yang positif makin banyak. Walaupun pemberian vaksinasi sudah berjalan dan sudah banyak juga yang menerimanya, tapi keadaan belum berubah secara signifikan. Kondisi usaha dan perekonomian juga belum membaik. Saat ini masih banyak orang yang merasa takut. Takut akan masa depan, takut terhadap kelanjutan usaha mereka, takut kehilangan pekerjaan, dan banyak lagi.

Takut adalah salah satu perasaan yang ada pada setiap manusia, sama seperti perasaan senang, gembira, sedih, kecewa, marah dan sebagainya. Kalau orang pernah mempunyai perasaan senang atau sedih, kecewa atau marah, maka ia juga pasti pernah merasa takut. Berbagai macam perasaan takut antara lain, takut berbicara di depan orang banyak, takut bertemu dengan orang baru, takut gagal, takut mempelajari sesuatu yang baru, dan sebagainya. Apalagi dalam masa pandemi ini. Karena takut terpapar virus COVID-19, maka kita menjadi takut untuk keluar rumah, takut untuk bertemu dengan orang lain, takut bersentuhan dengan orang, takut pergi ke pasar atau supermarket, dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Ada pula jenis-jenis ketakutan yang lain, seperti takut kegelapan, takut ruangan kecil seperti lift, takut keramaian, dan berbagai ketakutan yang aneh dan tidak biasa, yang kita kenal sebagai phobia. Ada yang takut cicak, takut semut, dan macam-macam lagi.

Sebetulnya, perasaan takut itu tidak selalu buruk, karena takut adalah naluri, dan perasaan itu wajar. Namun kalau kita dikuasai rasa takut yang berlebihan, kita jadi tidak berani melakukan apa-apa, bahkan bisa jadi paranoid, atau bahasa gaulnya parno.

Ketakutan ini pasti ada kaitannya dengan masa lalu yang bersangkutan. Mungkin pada waktu kecil selalu sangat dijaga kebersihannya, tidak boleh pegang ini, tidak boleh pegang itu, tidak boleh main di tanah, tidak boleh duduk di lantai, dan sebagainya. Dalam hal pelajaran, harus selalu nomor satu, setiap ulangan harus mendapat sembilan atau sepuluh, kalau tidak, akan dihukum. Maka bisa kita bayangkan saat dewasanya, bukan?

Ketakutan juga bisa terjadi karena keadaan. Ketika ada gempa misalnya, kita pasti merasa takut. Bagi yang pernah mengalami, akan merasa ketakutan yang luar biasa sehingga berlari menyelamatkan diri keluar dari rumah atau gedung di mana ia berada. Ketakutan bisa muncul ketika terjadi kerusuhan. Kita pasti akan menghindar dan menyelamatkan diri. Atau ketika terjadi ledakan bom, seperti yang baru-baru ini tertjadi di Gereja Katedral Makassar. Bahkan murid-murid Yesus pun pernah merasa takut ketika Yesus, guru mereka, ditangkap.

Ada peribahasa yang mengatakan, “Berani karena benar, takut karena salah.” Namun, peribahasa itu tampaknya tidak selalu demikian. Ada orang yang salah, alih-alih menjadi takut, malah menjadi sangat berani. Seorang ibu yang ditegur karena tidak memakai masker, bukannya merasa bersalah, malah berani memaki-maki petugas. Seorang yang melakukan tabrak lari, bukannya membantu yang ditabrak, malah mengancam dan mengacungkan pistol. Ada sebagian orang yang tidak merasa takut pada virus COVID, bahkan menganggap bahwa virus itu tidak ada. Baru setelah terpapar, ia mengatakan bahwa kita semua harus berhati-hati dan selalu menjaga protokol kesehatan.

Sebenarnya orang-orang ini adalah orang-orang penakut, tetapi cara mengatasi ketakutannya dengan “keberanian”. Terbukti kalau sudah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi, dia meminta-minta maaf dan mohon untuk tidak dihukum.

Bagi sebagian orang, perasaan takut dianggap sebagai kelemahan, maka kelemahan itu harus dikompensasi dengan sesuatu yang menunjukkan kekuatan, supaya ia ditakuti oleh orang lain. Contoh, ada seorang sipil yang memasang plat nomor TNI palsu di mobilnya. Pasti tujuannya supaya orang lain takut, atau dia bisa memanfaatkan plat nomor itu untuk mendapatkan keberanian.

Banyak para ahli yang meramalkan bahwa masa pandemi ini masih akan berlangsung lama. Kita sudah punya pengalaman selama lebih dari setahun dalam menjalani pandemi ini. Penduduk yang diberi vaksinasi juga terus bertambah. Jadi kita tidak perlu terlalu takut. Teruslah menjaga kesehatan dengan berolahraga, minum vitamin, makan makanan sehat dan selalu melakukan 5M. Selebihnya kita serahkan kepada Sang Maha Kuasa.

Bagi yang sudah mendapatkan dua kali vaksinasi, jangan merasa kebal terhadap virus COVID dan boleh mengabaikan protokol kesehatan. Jangan pula lantas berkumpul melepas rindu, berjalan-jalan dan makan makan di mal seperti pada “zaman normal”. Ingat peribahasa, “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.” Salam sehat!•

|SINDHU SUMARGO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • Gereja Sampah
    menyaksikan kebaikan Tuhan dari kekumuhan dan sampah
    Simon The Tanner Church Kairo Tersembunyi di balik pemukiman kumuh di Mesir,di terdapat sebuah gereja yang disebut dengan Gereja...
  • Gegara COVID-19
    Pandemi yang sudah hampir satu tahun ini telah memorak porandakan dunia. Belum ada satu negara pun yang betul-betul bebas...
  • Cerita Seputar Natal
    bukan sebuah upaya mengubah pemahaman, sekadar pelurusan fakta
    Tahun Kelahiran Yesus Di samping tanggal 25 Desember, banyak orang beranggapan bahwa Yesus lahir pada awal tahun 1 Masehi....
  • REMEH
    REMEH
    Sebagai manusia, kita kerap kali meremehkan atau menganggap remeh sesuatu, apakah itu benda, pekerjaan, atau orang. Menganggap remeh adalah...
  • “Kasihilah Musuhmu...” - seruan surgawi untuk menciptakan perdamaian dunia