Stroke Membuat Pasangan Ibu Lili dan Pak Andi Kembali ke Jalan Tuhan

Stroke Membuat Pasangan Ibu Lili dan Pak Andi Kembali ke Jalan Tuhan

Belum ada komentar 25 Views

Tuhan memanggil manusia dengan berbagai-bagai cara, agar kembali ingat dan berbalik kepada-Nya. Hal itu dialami oleh Ibu Liliyanti Sudarto dan suaminya, Pak Andi Kowara, ketika empat tahun yang lalu mobil Avanza mereka dilarikan oleh sopir pribadi mereka. Tersentak oleh musibah yang tak pernah mereka duga ini, Ibu Lili mulai mencari Tuhan yang sudah begitu lama ditinggalkannya. Pada waktu itu mereka sungguh-sungguh putus asa untuk melaporkan kehilangan tersebut ke polisi, karena mereka tak dapat menunjukkan sepotong pun identitas diri atau foto si sopir. Tetapi sungguh ajaib bahwa polisi dapat tepat menggambarkan wajah sopir itu berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Ibu Lili. Mobil merekapun ditemukan kembali di Komdak hanya 100 hari setelah peristiwa tersebut, dan si sopir tertangkap karena ternyata tinggal berdekatan dengan kantor polisi, tepat seperti yang selalu didoakan oleh Ibu Lili. Di pengadilan, kedua suami-istri ini melepaskan segala tuntutan atas sopir ini, sehingga si sopir mendapat hukuman ringan atas kesalahannya.

Namun kejadian ini baru merupakan awal dari rentetan masalah lebih berat yang kemudian datang dengan bertubi-tubi di dalam kehidupan tentram pasangan ini.

Ibu Lili lahir sebagai anak keempat dari 9 bersaudara di sebuah kota kecil dekat Brebes, Jawa Tengah, 74 tahun yang lalu. Sejak kecil orangtuanya mendidik anak-anak mereka dengan sangat keras, dan untuk mendapatkan uang jajan, anak-anak harus mencarinya sendiri dengan bekerja. Karena itu, sejak kecil Ibu Lili sudah terbiasa hidup berdisiplin dan bekerja keras.

Ketika mulai remaja, Ibu Lili pindah ke kota Cirebon dan tinggal sementara bersama keluarga Tantenya (adik ayahnya) yang sangat taat beribadah kepada Tuhan. Dari Tantenya ini, dan dari pendidikannya di sekolah Katolik, Ibu Lili mengenal Tuhan, sehingga dibaptis dan mengaku percaya pada tahun 1956. Ia bahkan pernah sangat aktif sebagai Ketua Pemuda di gerejanya.

Namun kepergian pendeta panutannya ke Bandung mulai membuatnya mundur dari persekutuan jemaat. Perpindahannya ke Jakarta dan pernikahannya dengan Pak Andi yang bukan Kristen pun semakin menjauhkan dirinya dari Tuhan. Meskipun Pak Andi akhirnya dibaptis dan mengaku percaya pada usia 60 tahun, kehidupan bergereja kedua suami-istri ini hanya rutinitas belaka. Saat itu semua terasa begitu mulus dan baik. Hidup seakan-akan mengalir di air tenang. Kesehatan mereka prima, bahkan Ibu Lili sendiri tak pernah sakit berat, apalagi sakit gigi. Mungkin karena itu Ibu Lili terlena.

Suatu hari, setelah peristiwa kehilangan mobil itu, Ibu Lili tak dapat mengangkat tangannya dan pergi ke dokter langganannya. Dokter yang memeriksanya segera menyuruhnya dirawat di rumah sakit karena tensinya tinggi. Sayang, sesampai di rumah sakit ia tak jadi dirawat, karena saudara-saudaranya yang datang kemudian, malah mengajaknya pulang ke rumah. Mereka semua tak menyadari betapa parah sebenarnya penyakit itu. Di perjalanan, Ibu Lili benar-benar terserang stroke. Akibatnya ia sekarang agak sulit berjalan dan jari-jari tangan kirinya pun belum bisa membuka.

Belum sampai ia pulih dari sakitnya, 5 bulan kemudian suaminya pun kena stroke, bahkan lebih parah daripada Ibu Lili, karena suaminya tak bisa berjalan lagi dan harus selalu duduk di kursi roda. Selain itu, karena usianya sudah 83 tahun, suaminya mulai kurang pendengarannya. Untuk merawat suaminya, tentu diperlukan seorang perawat, karena itu Ibu Lili segera menelpon sebuah yayasan untuk mengirimkan seorang perawat ke rumahnya. Sementara itu ia terus berdoa kepada Tuhan, agar perawat itu bisa segera datang. Puji Tuhan, dalam satu jam doanya dikabulkan. Demikian pula ketika perawat pertama keluar, ia segera mendapat penggantinya, sehingga sampai saat ini kehidupan mereka berdua dipelihara oleh Tuhan.

Bagaimana mereka harus hidup di dalam keadaan sakit seperti ini? Sebagian besar uang mereka sudah hilang karena dipinjam orang dan tak pernah dikembalikan lagi. Meskipun sempat terpukul oleh peristiwa yang menyesakkan itu, Ibu Lili yang tabah itu kembali menemukan semangatnya. Ia mencari bermacam-macam bisnis yang dapat menunjang kehidupan mereka berdua. Ia berjualan baju, makanan kering, dan sebagainya. Dengan rajin ia mencari barang-barang di Pasar Tanah Abang untuk dijual kembali. Ia pergi sendirian, hanya mobilnya dikemudikan oleh sopir harian yang disewanya. Keadaan tubuhnya yang berjalan terseok-seok itu tidak menyurutkan langkahnya untuk membawa barang-barang yang dibelinya. Ia mengikat kuat-kuat barang-barang itu dengan tali rafia, dan menyeretnya di lantai. Untuk menuruni eskalator, ia lemparkan barang-barang itu terlebih dahulu, lalu menyusul kemudian. Sungguh luar biasa tekadnya! Ia selalu percaya bahwa Tuhan melindungi dirinya. Padahal, ia sudah pernah terguling-guling di undakan rumahnya atau mengalami benjol di bagian belakang kepalanya karena terjatuh.

Tetapi yang lebih mengagumkan lagi ialah kesetiaannya untuk membaca Alkitab dan merenungkan firman Tuhan setiap pagi, begitu bangun tidur. Firman Tuhan selalu berbicara kepadanya, dan mengajarnya untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih taat kepada Tuhan. Ia juga rajin berdoa karena ia tahu bahwa Tuhan sungguh-sungguh memenuhi segala kebutuhannya.

Sikap hidup Ibu Lili yang positif untuk tetap giat bekerja pada hari tuanya dan sabar mendampingi suaminya, menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya untuk tidak menyerah terhadap keterbatasan fisik atau hambatan keadaan. Pengalaman hidupnya selama ini sudah mengajarnya bahwa Yesus pasti menolong dan membuka jalan baginya.

Ibu Lili sudah belajar bagaimana hidup bahagia dengan keadaannya. Ia telah membuang semua akar pahit yang pernah dirasakannya dan ikhlas mengampuni kesalahan orang lain. Ia menyadari bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). (ib)


Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Aku mencari wajah-mu, Tuhan…
    Kesaksian Dapot Parulian Pandjaitan
    Berharga di mata Tuhan (kematian) semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116:15) Oops… Kematian? Suatu kata yang sering dihindari orang...
  • Kasih-Nya Mengalir
    Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari...
  • Jalan Pagi Lagi di Antara Jiwa-Jiwa
    perjumpaan dengan inspirasi kehidupan lain yang juga mendatangkan syukur
    Upaya Menjaga Kebugaran Sungguh tak mudah memulai kembali sebuah rutinitas, terutama yang menyangkut fisik, apalagi kalau memang pada dasarnya...
  • Jalan Pagi di Antara Jiwa-Jiwa
    Perjumpaan-perjumpaan yang menginspirasi kehidupan dan mendatangkan syukur.
    Jalan Pagi Untuk menjaga kondisi dan kesehatan jasmani di masa yang menekan ini sehingga tidak banyak aktivitas yang bisa...
  • In-Memoriam: Pdt. (Em.) Timotius Setiawan Iskandar
    Bapak bagi banyak anak yang membutuhkan kasih: yang kukenal dan kukenang
    Mencari Tempat Kos Setelah memutuskan untuk mengambil kuliah Magister Manajemen pada kelas Eksekutif (kuliah pada hari Sabtu-Minggu) di Universitas...