masa depan

Siapakah Aku? upaya mengidentifikasi peran diri menuju masa depan

Belum ada komentar 50 Views

‘Siapakah aku?’ – Bila diucapkan dengan intonasi yang berbeda, bisa menimbulkan tafsir yang berbeda pula pada maksudnya. Ucapan Musa di dalam Keluaran 3:11 jelas sekali bernada penyangkalan, atau tepatnya pengakuan atas inkompetensinya dalam melaksanakan tugas yang Tuhan embankan kepadanya. Karena itu Tuhan memberikan penghiburan dan jaminan penyertaan-Nya agar Musa beroleh keyakinan dan ketetapan hati untuk melaksanakan tugas itu. Berdasarkan janji penyertaan itulah Musa bersedia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian.

Pemuda Pewaris Tanah Perjanjian
Bangsa Israel yang masuk ke Tanah Perjanjian adalah generasi muda yang lahir di perjalanan, atau anak anak yang masih sangat kecil ketika keluar dari Mesir, kecuali Kaleb dan Yosua. Musa, Harun dan Miriam sudah terlebih dulu meninggal dunia. Hal ini dikisahkan dalam Bilangan 4:29-33 dan Ulangan 1:35-37. Kesungguhan mengikut Tuhan dan kesetian pada perintah-Nya adalah alasan yang dipakai Tuhan untuk menetapkan hal itu.

Apa yang diucapkan Tuhan di atas adalah respons atas laporan hasil pengintaian tanah Kanaan oleh 12 pengintai selama 40 hari. Tuhan murka, karena sebagian besar dari mereka memberi laporan yang tidak membangkitkan harapan kemenangan untuk memasuki tanah Kanaan, kecuali Kaleb dan Yosua. Itu sama artinya dengan tidak mengindahkan dan memperhitungkan kehadiran Tuhan di antara mereka. Mereka hanya berpikir dengan mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Keberhasilan bangsa Israel untuk menggapai dan menguasai tanah perjanjian pun tertunda. Tidak tanggung-tanggung, empat puluh tahun lamanya mereka harus berputar-putar di padang gurun sebelum masuk ke Tanah Perjanjian.

Empat puluh tahun di padang gurun adalah masa pencucian dan pemurnian. Masa ini menempa bangsa Israel menjadi kuat, tangguh, dan mampu mempertahankan diri dari serangan musuh, bahkan mampu menaklukkan musuh yang terkuat sekalipun. Masa empat puluh tahun adalah masa penggemblengan anak-anak untuk menjadi pemuda yang tangguh, dan penggemblengan pemuda untuk menjadi manusia dewasa yang bijak, kuat, perkasa, serta mampu memikul tugas dan tanggungjawab secara penuh. Namun empat puluh tahun juga merupakan masa seleksi tentang siapa-siapa yang diperkenan dan mampu bertahan sebagai manusia-manusia pilihan untuk menerima penggenapan janji Allah dalam membentuk bangsa yang besar itu.

Yang Bukan Pewaris Tanah Perjanjian

  • Para pengintai yang menyebarkan pesimisme. Mereka melihat kebaikan tetapi tidak mensyukurinya, sebaliknya justru melihat ancaman, lalu menyebarkan ketakutan itu kepada yang lain. Mereka menjadi unsur destruktif yang justru melemahkan dan merusak semangat umat. Dan yang paling utama, mereka melupakan kuasa dan pertololngan Tuhan. Mereka berpikir berdasarkan kekuatan mereka sendiri dan melupakan sumber pengharapan yang setiap saat telah menyertai mereka.
  • Umat yang gampang bersungut sungut ketika bertemu dengan kesulitan. Umat yang kurang mampu mensyukuri berkat berkat melimpah yang senantiasa tercurah atas mereka. Mereka lebih fokus pada kekurangan dan keterlambatan pemenuhan kebutuhan mereka. Bersungut sungut juga berarti tidak menghargai, bahkan meniadakan arti kehadiran dan penyertaan Tuhan. Bersungut-sungut adalah bentuk penghujatan terhadap kebaikan Tuhan.
  • Mereka yang punya kepentingan pribadi, yang sulit dipenuhi tanpa dukungan umat. Karena itu mereka memprovokasi umat yang sedang gelisah, untuk berontak terhadap pemimpin mereka. Mereka menentang pimpinan Tuhan melalui otoritas yang dibentuk-Nya. Korah, Datan, dan Abiram adalah oknum-oknum pelaku pemberontakan nyata yang dicatat di dalam Alkitab. Miriam pun pernah dikutuk Tuhan karena perbuatannya yang salah
  • Mereka yang diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin umat., yang mengatur perikehidupan, menjaga ketertiban, dan memastikan bahwa umat mendapatkan keadilan. Mereka terutama menampilkan kehadiran Tuhan yang mereka wakili agar umat senantiasa memerhatikan dan menaati perintah-Nya. Namun ketika datang tekanan atau godaan dari umat, mereka melupakan tuntunan dan keberadaan Tuhan. Mereka tidak meminta petunjuk dan pertolongan-Nya, tapi memutuskan dengan kekhawatiran dan ketakutan, bahkan mengalah pada keinginan umat untuk menuhankan sesuatu yang lain. Harun adalah contoh nyata dalam peristiwa patung anak lembu emas.
  • Bahkan Musa! Pemimpin yang tidak diragukan integritasnya di hadapan Tuhan dan umat. Hanya karena menuruti kehendak hati dan kemarahan sesaat, ia disebut tidak taat oleh Tuhan.

Bagimana dengan Kaleb dan Yosua? “… ia mengikut Aku dengan sepenuhnya,” kata Tuhan. Kaleb dan Yosua percaya sepenuhnya bahwa Tuhan akan membawa mereka masuk ke negeri itu. Mereka menyebarkan optimisme. Mereka yakin akan pertolongan Tuhan dan melarang bangsa Israel melawan-Nya. Sepanjang Tuhan beserta mereka, tidak ada alasan untuk takut kepada orang Kanaan (Bilangan 14:8-9). Ternyata sikap hati dan kesetiaan tindakanlah yang diperhitungkan Tuhan sebagai ‘password’ untuk memasuki Tanah Perjanjian. Sikap ini mengakui keberadaan, peran serta, dan kebergantungan mereka kepada Tuhan.

Masa Depan = Tanah Perjanjian
Jika diibaratkan masa depan adalah proses menuju Tanah Perjanjian itu, termasuk golongan bangsa Israel manakah kita? Yang pesimis dan takut terhadap tekanan sehingga memilih untuk menghindar sambil menebarkan ketakutan yang sama kepada umat lain? Atau yang gampang bersungut-sungut ketika menjumpai masalah? (dengan melupakan rasa syukur yang seharusnya dinaikkan saat anugerah melimpah). Ataukah bagian yang punya kepentingan pribadi dalam kehidupan sosial, bergereja, dan berorganisasi, lalu mencari pengaruh, kalau perlu dengan memprovokasi anggota lain untuk menghujat kepemimpinan yang ada? Yang manakah?? Jangan-jangan kita justru adalah pemimpin atau pemuka umat yang diberi kepercayaan untuk membangun dan menegakkan kewibawaan Tuhan di tengah proses ini, tetapi kemudian melupakan peran utama kita karena tekanan atau godaan, lalu memilih ikut arus dan mengalah sehingga tidak menunjukkan kemuliaan Tuhan. Fungsi imamat dan kenabian kita meluntur, melemah, atau bahkan lenyap sama sekali. Tergerus oleh kuatnya keyakinan bahwa kita tidak akan mampu melawan kuasa manusia, dunia, dan bahkan langit.

Jika ini yang menjadi gambaran peran kita, yakinlah bahwa Tanah Perjanjian hanyalah sebuah mimpi, bahkan cuma ilusi. Masa depan adalah khayalan, bayang-bayang yang kadang-kadang seperti nyata, tapi tak pernah terwujud. Ada, tapi tiada. Kita tidak meragukan kuasa Tuhan untuk membangun dan menyediakannya bagi kita, tapi jika kita tidak merespons pimpinan-Nya, bagaimana Dia bisa bekerja? Bukankah Tuhan selalu membutuhkan respons manusia untuk mewujudkan karya keselamatan yang digagas-Nya?

Atau apakah kita adalah Kaleb dan Yosua? Yang punya optimism tinggi karena senantiasa bergantung pada Tuhan? Pemuda yang berjuang sambil menaruh seluruh harapannya pada janji-janji Tuhan itu? Yang percaya bahwa janji Tuhan adalah ‘Amin’ dan ‘YA’?

Minderwaardigheidscomplex
Mengapa banyak pemuda yang tidak percaya diri, bahkan menyerah kalah sebelum berperang? Padahal sudah jelas disampaikan bahwa, Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (I Timotius 4:12).

Acap kali yang terjadi bukan karena orang lain menganggap kita rendah, tapi justru kita yang sering menganggap diri rendah. Ini persoalannya, minderwaardigheidscomplex. Minderwaardig atau inferiority complex (‘kroco jiwo’, Jawa) adalah perasaan rendah diri karena kurang percaya atas kemampuan sendiri, sehingga timbul rasa bimbang, malu, dan canggung. “Perasaan minderwaardigheidscomplex itu adalah simbol budak, simbol terjajah,” kata Bung Karno.

Pemuda Harapan Masa Depan
Sebagai orang-orang yang dimerdekakan oleh Kristus, sungguh tidak patut kita bersikap seperti itu, minderwaardig. Pemuda adalah generasi harapan. Pemuda adalah kanvas Tuhan yang belum banyak berisi coretan atau warna. Pemuda adalah umat yang ‘seharusnya’ paling jernih menatap harapan ke depan dengan penyertaan Tuhan. Pemuda bukanlah orang yang tertutup matanya terhadap persoalan, tetapi yang hatinya dipenuhi harapan nyata dan sangat yakin bahwa jiwanya berada dalam genggaman Tuhan. Pemuda adalah harapan masa depan. Di tangan Pemudalah terletak masa depan Tanah Perjanjian. Pemuda adalah pendobrak. Pemuda adalah pembangun. Ketika generasi tua mampu melakukan hal-hal yang spektakuler, pemuda mampu melakukan hal-hal yang hebat dan dahsyat, yang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya. “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya …(tapi) beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” seru Bung Karno. Ketika bekerja dan menghasilkan karya besar yang tidak saja mengguncang, tapi juga membawa perubahan besar pada masa depan dunia, Yesus, Paulus, maupun Agustinus masih berusia muda. Para pemuda.

Jika diyakini gambaran pemuda adalah seperti demikian, maka mungkin akan timbul pertanyaan: “Mengapa berbeda dengan keberadaanku saat ini? Jadi siapakah aku ini? Who am I? and what happens with me?

Lahir dari Benih Juara
Kita ini sebenarnya adalah hasil karya para pemenang. Kita dilahirkan dari sebuah keunggulan. Kita bukan ditakdirkan, melainkan dibentuk dari hasil sebuah perjuangan. Kita dilahirkan dari kemenangan benih yang berjuang untuk itu. Mari kita perhatikan proses kelahiran kita semua.

Dalam proses pembuahan, sekitar 300 juta sel sperma berjuang untuk membuahi sel telur. Namun demikian, hanya akan ada satu sperma saja yang mampu mencapai sel telur itu. Perjalanan sperma mencari sel telur untuk dibuahi merupakan perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Terdapat berbagai tantangan untuk mencapai keberhasilan itu. Sperma harus mampu mengatasi lingkungan asam pada vagina agar mampu tetap hidup lama. Ia juga harus memiliki kemampuan berenang sangat kuat dan cepat agar dapat menembus lendir serviks. Ia harus berenang sekitar 18 cm dari serviks menuju ke rahim, kemudian ke tuba falopi untuk mencapai sel telur. Ia bisa terjebak atau nyasar ke tuba falopi yang salah, atau bahkan bisa mati di tengah pencariannya. Rata-rata sperma mampu berjalan sepanjang 2,5 cm setiap 15 menit. Sperma yang mampu berenang sangat cepat mungkin mampu bertemu dengan sel telur dalam waktu 45 menit atau jika tidak, maka dapat memakan waktu sampai 12 jam. Satu telur mungkin bisa didekati oleh ratusan sperma, namun hanya sperma terkuat yang dapat menembus dinding luar sel telur. Ketika ada satu sperma yang mampu memasuki sel telur sampai inti sel telur, maka sel telur membentuk pertahanan diri sehingga mencegah sperma lain memasukinya. Dan akhirnya, terjadilah pembuahan atau konsepsi karena satu sel sperma itu. Ke mana yang lain? Tertolak, terbuang, tersingkir, dan mati!!

Dari hasil perjuangan seperti itu kita dilahirkan. Benih yang ditentukan untuk menjadi perantara kelahiran kita bukanlah benih yang lambat, loyo, dan tak bersemangat, apalagi minder, tapi yang terkuat, tercepat, termotivasi, terhebat, tertangguh, dan terbaik. Selayaknyalah kita tumbuh menjadi orang yang optimis, yang mampu melihat tujuan akhir perjuangan sehingga mampu memotivasi diri sendiri untuk bisa mencapainya.

Lantas hal-hal apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan kondisi sehingga tidak semua pemuda berada pada tahap unggul seperti benih pengantaranya? Ada yang benar-benar menampilkan performa seperti idealnya, tapi tak kurang juga yang ‘begitu-begitu’ saja, bahkan tidak sedikit yang dihinggapi minderwaardigheidscomplex?

Hal itu sangat tergantung dan ditentukan oleh bagaimana para pemuda membangun hasrat mereka untuk maju dan sukses, serta seberapa serius dan fokus ia menghidupinya dalam prioritas tindakannya. Jika upaya mencapai sukses itu diibaratkan sebagai orang yang akan mendaki gunung dan menaklukkan puncaknya, maka yang hanya besar hasratnya tapi tidak cukup berupaya adalah seperti para quitters, yang sudah sampai di kaki gunung tapi membatalkan niatnya untuk mendaki. Ia melihat perjalanannya masih panjang dan puncaknya masih terlalu jauh digapai, sehingga menyerah dan meninggalkan cita-citanya. Ada juga yang cukup punya hasrat dan menghidupinya dengan upaya yang seimbang, tapi tak cukup tangguh menghadapi tantangan. Ia berhenti di tengah jalan dan menganggap cukup sampai di titik aman itu saja. Ia diibaratkan seperti para campers yang cukup menyadari panjangnya perjalanan dan bertekad menempuhnya, tapi sampai titik aman tertentu berhenti dan memilih untuk berkemah di lereng yang teduh daripada terus menggapai puncak. Sedangkan para pejuang sejati adalah para climbers yang terus fokus dan melanjutkan pendakian untuk mencapai puncak. Meskipun banyak tantangan dan rintangan yang menghadang, tapi dihadapi dengan keyakinan akan menjumpai sesuatu yang jauh lebih berharga di atas sana daripada kesulitan itu.

Ibarat apa pun saat ini pemuda berhasrat menggapai masa depan terbaiknya, bila dengan keyakinan akan penyertaan Tuhan, ia tidak akan cukup puas digolongkan dengan para campers, apalagi quitters. Bila dengan kekuatan sendiri ia tak mampu terus melakukan pendakian— tapi seperti Yosua dan Kaleb yang lebih melihat besanya penyertaan Tuhan dibandingkan kemampuan mereka sendiri untuk menuju Tanah Perjanjian—maka ia akan tetap berhasrat dan dimampukan untuk bergabung dengan para climbers.

Ayo para pemuda, bangkit dan berkaryalah bagi Tuhan dengan membangun nilai diri yang berarti. Tugas kita bukanlah menjadi juara—menjadi yang terbaik dengan mengalahkan orang-orang lain— melainkan mampu menampilkan secara optimal karunia-karunia yang dicurahkan Tuhan bagi kita. Jika ternyata upaya itu membuahkan keberhasilan yang digolongkan sebagai kemenangan—atau bahkan predikat juara—biarlah itu hanya menjadi bonus bagi perjuangan dan upaya untuk menampilkan yang terbaik dari diri sendiri. Become your best self.

Tuhan menyertai perjuanganmu dan memberkati upayamu menuju masa depan gemilang, Tanah Perjanjian.•

| SUJARWO
______________________
Dituliskan kembali dari materi khotbah di Kebaktian Pemuda/Remaja GKI Ampera, 31 Agustus 2019

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pemuda
  • tikus
    Antara Tikus & Badu
    Kita tidak nyaman dengan keberadaan tikus di rumah kita. Namun, jika kita menjadi tikus, apakah yang akan kita lakukan...
  • Efren Reyes
    Antara Si Badu Dan Efren Reyes
    Selagi kita menghabiskan waktu melihat update sosial media, seorang prodigy terus bertumbuh melakukan hal kesukaannya. Prodigy adalah seseorang yang...
Kegiatan