Pengalaman

Belum ada komentar 1 View

Orang paling bodoh di dunia ini adalah penggali lubang yang dua kali jatuh pada lubang yang pernah ia gali (Anonim)

Sedari kecil kita sudah mengenal ungkapan “pengalaman adalah guru terbaik”, yang artinya kita diminta untuk belajar dari pengalaman kita sendiri. Kalau ada hal-hal yang tidak baik jangan kita ulangi, tetapi kalau ada hal yang baik boleh kita ulangi. Ungkapan itu seolah-olah bertolak belakang dengan ungkapan lain, yaitu “jangan pernah menyerah, kalau gagal coba lagi sampai berhasil”. Dikatakan seolah-olah bertolak belakang, karena kalau kita mencoba lagi dengan cara yang sama tentu akan kembali gagal, tetapi dengan kegagalan itu harusnya kita mencoba lagi dengan cara yang berbeda. Misalnya kalau dalam olahraga, kita memperbaiki cara kita berlari supaya lebih cepat, cara memukul bola dengan benar, dan sebagainya. Kalau kita melakukannya dengan cara yang sama, maka kita menjadi lebih bodoh dari seekor keledai, karena seekor keledai saja tidak mau terperosok kedua kali pada lubang yang sama. Albert Einstein pernah mengatakan bahwa, “hanya orang gila saja yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi tetap menggunakan cara-cara yang sama.”

Ada pula ungkapan “pengalaman orang lain adalah guru terbaik”. Di sini kita diminta untuk melihat, mendengar atau membaca pengalaman-pengalaman orang lain dan kita belajar bagaimana seseorang itu bisa berhasil atau kita juga bisa belajar dari kegagalan orang lain, supaya kita tidak usah mengalami kegagalan yang sama.

Dalam sebuah teori wawancara yang berbasis perilaku, ada ungkapan atau jargon “past behavior predict future behavior”, atau perilaku di masa lampau cenderung untuk muncul atau diulangi pada masa yang akan datang. Tentunya ada cara atau metode tertentu untuk mengungkapkan hal itu. Contoh, kalau seseorang berhasil memimpin sebuah perusahaan di masa lalu, maka ia cenderung berhasil pula di masa yang akan datang. Sebaliknya, kalau seseorang selalu mengalami kerugian dalam berbisnis, maka janganlah ia diminta untuk menjalankan bisnis lagi. Ini tentunya tidak mutlak, tetapi ada kecenderungan seperti itu. Oleh karena itu, sangat perlu melihat rekam jejak atau track record seseorang dalam mengambil sebuah keputusan.

Baru-baru ini ada seorang petinggi dari sebuah konglomerasi yang ditangkap KPK karena menyuap pejabat. Ternyata petinggi tersebut beberapa tahun yang lalu pernah ditangkap dan dihukum karena perbuatan yang sama. Rupanya ia tidak percaya bahwa pengalaman adalah guru terbaik, dan mungkin ia juga tidak percaya kalau keledai tidak mau terperosok pada lubang yang sama.

Sedari kecil pula kita diajar untuk tidak berbohong. Berbohong itu tidak baik, berbohong itu dosa. Namun kita juga mengenal ada berbohong untuk kebaikan atau white lies, atau ada juga yang mengatakan bahwa dosa karena berbohong itu lebih ringan daripada dosa karena membunuh.

Belakangan ini banyak orang menggunakan berbagai cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan, istilahnya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, termasuk dengan cara berbohong. Dengan menggunakan jargon teori wawancara di atas, kalau di masa lalu seseorang suka berbohong, maka ia juga akan cenderung suka berbohong. Kebohongan yang menghebohkan dunia beberapa waktu yang lalu, kalau dirunut ke belakang ternyata si ibu yang dioperasi plastik itu juga sering berbohong. “Cerita khayal entah diberikan setan mana ke saya,” katanya. Lo…, ternyata ia malah menyalahkan makhluk lain, itu saja sudah merupakan kebohongan.

Kalau saja si ibu belajar dari pengalaman orang lain, sebagaimana disampaikan oleh seorang dokter spesialis bedah plastik yang juga seorang penyanyi, maka seharusnya ia diam-diam saja mengurung diri di rumah sampai luka-luka bekas operasinya sembuh dan wajahnya menjadi cantik, baru kembali beraktivitas. Namun ketika ada yang melihat dan bertanya, seyogyanya ia mengatakan bahwa ia habis menjalani operasi plastik, jangan berbohong. Seseorang memutuskan untuk menjalani operasi plastik karena ingin terlihat lebih cantik atau lebih muda, hemat saya sah-sah saja dan tidak perlu ditutup-tutupi, apalagi dengan sebuah kebohongan. Saya teringat akan kata-kata dari seorang tokoh reformasi yang kemudian menjadi Ketua MPR. Beliau mengatakan, “suatu kebohongan akan ditutupi dengan kebohongan lain dan kebohongan lain itu akan ditutupi oleh kebohongan lain lagi, demikian seterusnya.” Artinya, kalau kita sekali berbohong, maka akan menghasilkan kebohongan-kebohongan lain.

Jadi mana yang lebih baik atau yang terbaik, belajar dari pengalaman sendiri atau dari pengalaman orang lain?

Sebetulnya kedua ungkapan tersebut tidak bisa dipisahkan, karena keduanya bisa terjadi dalam hidup kita, kebaikan dan keburukan akan datang silih berganti, keberhasilan dan kegagalan bisa terjadi kapan saja. Kita dianugerahi pikiran dan akal budi yang bisa menentukan mana yang terbaik. Bukankah hidup ini adalah pilihan?

Yang terpenting, kita harus percaya bahwa seekor keledai saja tidak mau terperosok ke dalam lubang yang sama. Salam damai.

>> Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • KURSI PALING DEPAN
    Kursi Paling Depan
    Konser 10 tahun Syahrini sedang jadi bahan perbincangan para netizen. Harga tiket untuk kelas teratas sebesar Rp 25 juta...
  • Mox Salvus Redeas
    Ingar bingar pulang kampung—yang biasa disebut mudik—sudah hampir berakhir. Ribuan atau bahkan ratusan ribu orang yang dari Jakarta pulang...
  • Penjara
    Ada sebuah artikel di kompas.com yang sangat menarik, yaitu tentang lansia di Jepang yang kerap melakukan kejahatan ringan dengan...
  • perasaan
    Perasaan
    Kalau yang dipikirkan ‘kan bisa bohong, tetapi kalau yang dirasakan tidak bisa bohong. (Sultan Hamengku Buwono X) Hari Minggu...
  • Diaspora Menjadi Perhatian Banyak Negara
    Beberapa tahun terakhir, diaspora menarik perhatian banyak negara untuk dimanfaatkan. Kata “diaspora” dalam bahasa Ibrani adalah tefutzah, yang artinya:...
Kegiatan