Si Kembar : AKU INGIN HIDUP!

Belum ada komentar 23 Views

Dering telpon di kantor pada siang hari itu memecah konsentrasi Papa. “Ed,” terdengar suara gembira seseorang yang begitu dikenalnya, “Selamat ya, anakmu sudah lahir!”

Sejenak Papa tertegun. Bagaimana bisa ia punya anak lagi? Putrinya yang keenam, Rini, belum lagi genap empat bulan usianya. Tetapi kemudian ia teringat akan perjanjian yang pernah diikatnya dengan Oom Dewanto dan istrinya beberapa bulan yang lalu ketika kami sekeluarga bertandang ke Magelang. Waktu itu Mama sedang hamil besar, dan Tante Anna, istri Oom Dewanto, juga sedang hamil tiga bulan. Dengan bercanda Papa berkata kepada Oom Dewanto bahwa kalau kelak anaknya lahir kembar dan laki-laki semuanya karena Oom Dewanto sudah memiliki tiga putra pada saat itu sedangkan anak yang dikandung Mama nanti perempuan lagi, ia minta agar salah satu dari bayi kembar itu diberikan kepadanya. Ketika itu Oom Dewanto tertawa lebar sambil mengangguk setuju, karena ia sendiri tidak yakin bahwa istrinya mengandung anak kembar. “Mana mungkin punya kembar,” ujarnya, “tidak ada yang kembar di kedua keluarga kami!” Pemeriksaan ultrasonik (USG) belum dikenal orang pada tahun 60-an, sehingga setiap kehamilan merupakan penantian yang penuh harapan sampai kelahiran tiba.

Oom Dewanto memang sepupu Mama dari pihak ayahnya, tetapi juga saudara jauh Papa dari pihak ibunya. Oleh karena itu hubungan kami dengan mereka cukup dekat, apalagi kedua keluarga sering saling mengunjungi. Pagi itu Tante Anna melahirkan kembar laki-laki di RS Tentara Magelang. “Tolong Ed, kata Oom Dewanto, segeralah ambil anakmu itu. Ia lahir prematur dan sangat kecil. Ia harus segera diselamatkan.”

Papa menelpon Mama di rumah untuk memberitahukan kabar gembira itu. Mama terkejut, karena tidak pernah membayangkan harus merawat seorang anak lagi dalam waktu dekat. Meskipun demikian, ia sepenuhnya mendukung niat Papa untuk mengambil bayi itu. Setelah Papa menyerahkan pekerjaan kantor kepada asistennya yang sudah lama bekerja padanya, ia pergi ke RS St. Elisabeth Semarang untuk menghubungi dokter anak yang sudah dikenalnya dengan baik. Atas petunjuk dokter itu, ia lalu mengatur dengan pihak rumah sakit untuk meminjam seorang perawat dan sebuah inkubator yang akan dibawanya ke Magelang keesokan harinya.

Semua berjalan dengan baik, dan keesokan hari sekitar pukul 10.00, Papa dan perawat itu sampai dengan selamat di RS Tentara Magelang. Papa disambut dengan bahagia oleh Oom Dewanto, yang segera mengajaknya melihat kedua bayi yang diletakkan di dalam inkubator. Ketika Papa tiba di ruang bayi, terdengar tangis keras dari salah satu bayi itu, yang justru paling kecil dari keduanya. Oom Dewanto berbisik kepada Papa, “Ed, itu anakmu.” Papa mengangguk dengan terharu. Bayi itu seakan-akan memanggil dan meminta pertolongannya. Namun saat Papa mengunjungi Tante Anna yang berbaring lemah di tempat tidurnya, dilihatnya air mata Tante Anna mengucur deras. “Berat rasanya memberikan anakku,” katanya sedih, “masakan kulepas anak yang sudah kukandung di bawah jantungku.” Tetapi akhirnya ia mengalah setelah disadarkan bahwa kondisi putranya yang terkecil berada di ujung tanduk, sehingga untuk menyelamatkan nyawanya, ia harus segera dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya. “Kita bisa mengunjunginya nanti kalau kita ke Semarang,” kata Oom Dewanto membujuknya, “toh dia dirawat oleh saudara sendiri.”

Sadewa, begitulah nama yang diberikan kepada bayi kecil ini, segera masuk RS St. Elisabeth sesampai di Semarang, sedangkan Nakula tetap diasuh oleh kedua orang tuanya. Berat Sadewa yang hanya 1,3 kg ketika lahir, tidak tampak banyak bertambah selama perawatan enam bulan di sana. Memang pada masa itu sangat jarang ada bayi dengan berat serendah itu dapat tetap bertahan hidup, dan bagi pihak rumah sakit, Sadewa merupakan kasus yang luar biasa. Setiap pagi Mama berjalan kaki ke rumah sakit yang tidak jauh letaknya dari rumah untuk menengoknya, sedangkan Papa mencari waktu berkunjung di sela-sela pekerjaan kantornya yang sibuk. Suatu siang dokter anak, yang memantau perkembangan Sadewa, berbicara serius kepada Papa. “Saya rasa sebaiknya bayi ini dirawat saja sendiri di rumah,” katanya, “ia sangat membutuhkan kasih sayang kalian. Saya kagum karena kemauan hidupnya sangat besar, tetapi di sini kemajuannya hampir tidak ada.” Papa meminta waktu sehari untuk membicarakannya dengan Mama di rumah. Untunglah Mama tidak berkeberatan, karena Rini sudah berumur 10 bulan dan merupakan bayi yang tenang dan sehat, sehingga Mama dapat membagi waktu untuk mengurus Sadewa kecil ini.

Meskipun demikian, ketika Sadewa benar-benar dibawa pulang, Mama sangat terkejut melihatnya. Bayi ini masih keriput, kecil dan rapuh dengan kepala yang lebih besar daripada badannya, sehingga Mama harus ekstra hati-hati memandikan atau mengganti bajunya. Selain itu ia juga tidak bisa minum susu dari botol, sehingga Mama harus telaten memberinya minum dengan pipet. “Ya Tuhan, tolonglah agar ia bisa tumbuh normal,” doa Mama setiap kali ia menggendongnya dengan hati-hati. Papa juga sangat memperhatikan Sadewa. Kedua daun telinga bayi kecil ini yang terkulai, diplesternya berhari-hari dengan hati-hati agar bisa membuka kembali. Ia juga mengamati bahwa mata Sadewa juling, lalu mengambil gagasan untuk sekali-sekali menutup mata kanannya yang aktif dengan plester, agar menggiatkan mata kirinya yang malas. Hasilnya luar biasa. Mata Sadewa berfungsi dengan baik. Mama yang hangat dan periang, sering membelai dan mengurut Sadewa sambil mengajaknya berbicara. Ia juga mengajari kami, sebagai kakak-kakak Sadewa, untuk membantu mengurusnya. Mula-mula kami memang merasa ngeri memegangnya, tetapi Sadewa ternyata bayi yang kuat dan tahan uji. Ia tidak pernah sakit, dan pertumbuhannya sangat menggembirakan, seakan-akan mengejar ketinggalannya. Dulu berat badannya waktu lahir terlalu rendah sehingga terdapat keterlambatan dalam bicara, jalan dan perkembangan otaknya. Namun ternyata belum genap tiga tahun usianya, Sadewa sudah bisa berjalan, dan karena ia banyak bermain dengan Rini, perlahan-lahan ia mulai ber-bicara dengan terbata-bata. Alangkah bahagianya hati Papa dan Mama!

Sadewa mendapat tempat istimewa di hati Papa yang sudah sekian lama merindukan seorang putra. Ia berbagi kecintaan Papa pada mobil, dan betah melewatkan waktu berjam-jam lamanya di garasi untuk bersama-sama Papa membetulkan sebuah kerusakan atau mempelajari sesuatu yang baru. Keterampilan tangan Sadewa inilah yang kelak menunjang hidupnya.

Oom Dewanto dan Tante Anna sering mengunjunginya di rumah kami, sehingga sejak kecil Sadewa sudah tahu bahwa ia mempunyai saudara kembar dan keluarga di Magelang. Meskipun demikian, ia tetap merasa paling aman bersama kami. Setelah remaja, Tante Anna memintanya untuk berkumpul kembali dengan saudara-saudara kandungnya, agar ia tidak cenderung berperilaku seperti perempuan, karena selalu berada di lingkungan kami. Papa dan Mama setuju dan melepaskannya pergi, tetapi hubungan dengannya tetap terpelihara, sehingga setelah ia bekerja, ia tak ragu-ragu kembali ikut Papa, yang ketika itu sudah pindah ke Jakarta.

Tahun-tahun cepat berlalu dan Sadewa sekarang sudah berumah tangga dan mempunyai dua putra yang sehat dan pandai. Cintanya dan kesetiaannya kepada Papa kami yang sudah tua Mama sudah lebih dahulu meninggal dunia†sangat dalam dan mengharukan. “Aku berhutang nyawa kepada Papa dan Mama,” katanya selalu, “Aku takkan melupakannya seumur hidupku.” (ibp)

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. (1 Korintus 2:8)


Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Aku mencari wajah-mu, Tuhan…
    Kesaksian Dapot Parulian Pandjaitan
    Berharga di mata Tuhan (kematian) semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116:15) Oops… Kematian? Suatu kata yang sering dihindari orang...
  • Kasih-Nya Mengalir
    Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari...
  • Jalan Pagi Lagi di Antara Jiwa-Jiwa
    perjumpaan dengan inspirasi kehidupan lain yang juga mendatangkan syukur
    Upaya Menjaga Kebugaran Sungguh tak mudah memulai kembali sebuah rutinitas, terutama yang menyangkut fisik, apalagi kalau memang pada dasarnya...
  • Jalan Pagi di Antara Jiwa-Jiwa
    Perjumpaan-perjumpaan yang menginspirasi kehidupan dan mendatangkan syukur.
    Jalan Pagi Untuk menjaga kondisi dan kesehatan jasmani di masa yang menekan ini sehingga tidak banyak aktivitas yang bisa...
  • In-Memoriam: Pdt. (Em.) Timotius Setiawan Iskandar
    Bapak bagi banyak anak yang membutuhkan kasih: yang kukenal dan kukenang
    Mencari Tempat Kos Setelah memutuskan untuk mengambil kuliah Magister Manajemen pada kelas Eksekutif (kuliah pada hari Sabtu-Minggu) di Universitas...