rindu

Rindu

Belum ada komentar 25 Views

Sebuah kata sederhana, tapi cukup populer, khususnya di kalangan muda-mudi (dan mereka yang sudah melewati masa itu), saat indah-indahnya berpacaran, bercinta-ria; lalu kata ini, rindu, ikut nimbrung membaur di sela-sela relung hati yang sedang dibuai dan disanjung asmara. Rindu bukan sekadar kata lain pada umumnya, melainkan punya arti dan bobot, bahkan ‘kekuatan’ yang spesifik dalam kehidupan ini, apalagi dikaitkan dengan cinta-kasih. Pernah dengar lagu Benci Tapi Rindu yang dinyanyikan Diana Nasution dengan merdu dan syahdu, dengan suara manja penuh perasaan … jeritan kerinduan? Terbesit pula lebih kuatnya rasa rindu daripada benci, sehingga mengesankan bahwa rindu dapat mengatasi dan mengalahkan kebencian. “Sakitnya hati ini, namun aku rindu. Bencinya hati ini, tapi aku rindu,” begitu cuplikan lirik lagu tersebut.

Bagi yang merantau ke luar negeri— entah karena meneruskan studi, tugas kantor, atau mencari pekerjaan—tentu pernah merasakan home-sick, rindu akan kampung halaman. Seorang teman bercerita, suatu ketika sewaktu ia jauh di rantau, ia sayup-sayup mendengar lagu Rayuan Pulau Kelapa, dan tiba-tiba merasa begitu rindu akan tanah airnya, Indonesia. “Rasanya ingin pulang ke kampung halaman, tapi … aku lupa halaman berapa, ya?” (He he he… just a joke!)

Penulis sendiri pernah muda (sekitar tahun tujuh puluh lima-an) dan tentunya juga … pacaran. Awal ketemu biasa saja, hari lewat hari, minggu pindah ke minggu berikutnya, habis bulan muncul bulan purnama yang lain, lama kelamaan kok jadi luar biasa. Bagaimana tidak! Makin lama makin ingin ketemu dan ketemu lagi. Kalau sehari saja ngga ketemu, rasanya ada yang kurang, atau kalau di paduan suara Serafim atau Haleluya, serasa ada yang fals, aneh sungguh aneh! Baru sadar kalau ini yang disebut rindu. Kangen banget, Pakde! Rindu pol, Amang! Mau ke rumahnya? Masak ya tiap hari … Untungnya di rumah kami masing masing ada telepon (ngga seperti sekarang, dikit-dikit nge-hape, sebentar-sebentar mojok). Dan singkat cerita, akhirnya sang pacar ganti status menjadi belahan jiwaku, obat penawar rinduku … Cespleng, kagak bakalan ‘kumat-kumat’ lagi deh! Manjur amat lo, Bang! Ya, dengan manunggalnya kami berdua, rindu muda-mudi kami diganti dengan suka cita. Dari cerita dan pengalaman di atas, dapat dikatakan bahwa rindu adalah ciri dan indikator cinta-kasih yang sejati dan benar-benar peduli pada sesama, sejauh dikelola dan ditangani dengan baik.

Dalam Perjanjian Lama, baik Yusuf maupun Daud pernah merasakan rindu. Dikatakan, “Hati Yusuf meluap karena rasa rindu dan sayang kepada adiknya. Ia hampir tak dapat menguasai dirinya, karena itu pergilah ia dari situ dengan tiba-tiba lalu masuk ke kamarnya dan menangis” (Kej. 43:30). Dalam 2 Sam. 23:15, “Daud rindu akan kampung halamannya dan berkata, “Ah, sekiranya aku diberi minum air dari sumur dekat pintu gerbang di Betlehem!”. Maz. 42:2-3 mengungkapkan, “Seperti rusa merindukan air sungai, demikian jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Aku merindukan Allah yang hidup, kapan aku boleh pergi beribadat di Rumah Nya?”. Kerinduan ini benar-benar menyukakan hati Tuhan. Tampak jelas kasih seseorang kepada Allah melalui kerinduan dari relung hati yang terdalam.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus sedemikian cinta kepada manusia sehingga rela berkurban dan disalibkan. Kerinduan Yesus ialah agar manusia yang dikasihi Nya—Anda dan saya—berada bersama-Nya nanti di dalam kekekalan dan tinggal di rumah Bapa. Karena itu, Dia sering wanti-wanti agar kita tidak pernah melupakan kasih setia-Nya, kerinduan kita kepada-Nya. Apakah kita tega membiarkan-Nya bertepuk sebelah tangan? Tanpa respons?

Lalu… Apakah kalian pernah merindukan majalah Kasut? Some say “Yes”, but some say “Bodo amat”. Boro-boro rindu, mengambil saja ogah. Sebuah pengakuan yang jujur … Padahal, majalah Kasut itu istimewa lo, ya kertasnya, ya desainnya, ya isinya yang berbobot; ibarat seorang pemuda ganteng dari seberang atau putri Solo yang anggun. Dan gratis pula, bukan hanya untuk warga, melainkan simpatisan pun boleh ambil, jangan ragu! Kata sang Kasut, “Ra po po kok, Mas! Monggo kerso, bro! Silakan ambil saja.”

Dan pertanyaan berikutnya: Bagaimana rindumu kepada Junjungan kita?

Sampai di sini, bisakah Anda merasakan dan menghayati kerinduan Yesus? Kita sebagai satu persekutuan jemaat di GKI PI khususnya (dan semua gereja-Nya) sebaiknya mempersoalkan kerinduan kita kepada-Nya, baik secara pribadi atau bersama! Ada ngga, sih? Kalau toh hanya secuil atau dua cuil, cukuplah untuk digarap sebagai modal awal, asal ada kesungguhan. Ini bukan hanya tanggung jawab gereja—pendeta dan majelis—melainkan juga kita sebagai warga jemaat yang saling peduli. Merespons kasih-Nya dengan baik dan benar, dan memerhatikan rasa rindu kita kepada Yesus dengan rajin membaca firman-Nya, renungan harian setiap hari, berdoa, mengikuti Pemahaman Alkitab, hadir dalam Kebaktian Minggu, dsb. Hal-hal yang tadinya hanya rutinitas, tradisi keluarga atau kewajiban, menjadi suatu kerinduan jiwa dan roh untuk mengetahui, mengenal dan berelasi, bukan hanya dalam nalar pikiran, melainkan juga masuk dan mengisi kekosongan hati serta menghayati kehadiran Tuhan. Blaise Pascal pernah berkata, “Ada sebuah ruang vakum dalam hati manusia yang—tidak bisa tidak—hanya bisa diisi dengan Tuhan saja.” Betapa indahnya bila semua ini berlanjut sampai akhir hayat, bahkan masuk kekekalan. Selalu bersama dengan Yesus, bagai mempelai laki-laki dan perempuan.

Sekali lagi, tanyakan pada diri sendiri sampai di mana kerinduan Anda kepada Yesus? Jangan hanya manis di bibir, pandai memuji-muji, dan rindu hanya sejauh nalar. Sebagai respons kita terhadap cinta kasih-Nya, bangkitkan rasa haus akan firman Nya, rindukan untuk menjumpai-Nya dalam doa, hidupkan persekutuan dengan-Nya, dan rasakan indahnya “manunggaling kawula kalian Gusti” dari sekarang sampai pada kekekalan, dan masuk dalam kerajaan-Nya. Semoga kehidupan rohani kita makin bertumbuh dewasa.

Jangan abaikan kerinduan kita pada Kekasih kita yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Jangan biarkan Yesus bertepuk sebelah tangan. Sambutlah Dia sambil mengingat Yak. 4:10, “Rendahkanlah hatimu di hadapan Tuhan, maka Ia akan meninggikanmu.”

| Bibit Sudibyo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • new normal
    New Normal, New (GOOD) Habits
    Kita tentu masih ingat ketika pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa semua pengendara sepeda motor harus menggunakan helm pengaman. Banyak orang...
  • hampir sampai
    Hampir Sampai
    “Aku menghindari kampung halamanku, mataku pun tidak melihatnya. Benar, memang aku tidak mencarinya agar hatiku tidak mengikutinya. Jiwaku dari...
  • Percayalah
    Percayalah
    “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (kejadian 15:6) Tatkala mata terbuka pada...
  • Keadaan & Harapan
    Keadaan & Harapan
    Alangkah merdunya ungkapan “adil dan makmur” terdengar di telinga kita dan kita resapkan di hati. Ungkapan itu bertalian erat...
  • mati
    MATI
    “Kematian bukannya lawan kehidupan. Ia adalah mitra makna kehidupan. Hanya dengan menyelami kematian, manusia bisa hidup dengan indah sekaligus...
Kegiatan