Rasika Wiyarti: BERGUMUL DENGAN KANKER

Belum ada komentar 1369 Views

Aku seorang Katolik sejak dibaptis pada tahun 1998 dan pengetahuanku tentang Alkitab sangatlah sedikit. Sebelumnya ingin kuperkenalkan siapa diriku. Dari tahun 1985 sampai tahun 2008, aku bekerja di sebuah peternakan kuda di daerah Pamulang sebagai pelatih, baik untuk kuda maupun penunggangnya. Pada tahun 2001 musibah datang karena suamiku dipanggil Tuhan dan aku harus melanjutkan hidupku sebagai orangtua tunggal dengan 2 anak laki-laki. Menjadi orangtua tunggal sangatlah berat karena berperan sebagai bapak dan ibu sekaligus, tapi sebagai orang beriman, aku yakin dan percaya bahwa Yesus punya rencana yang indah di balik semua ini.

Pada tahun 2009 aku menekuni profesi bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam hidupku bersama anak-anak. Menjual hasil pertanian di Departemen Pertanian setiap hari Jumat, di kompleks kompleks perumahan, di lingkungan gereja dan di pasar, kulakukan dengan penuh suka cita dan selalu bersyukur seberapa pun yang kudapat setiap hari.

Lingkunganku selalu mendukungku dalam segala hal. Seiring dengan itu, iman dan kepercayaanku pada Tuhan bertumbuh dan aku makin mengasihi Nya. Roh Kudus menyadarkanku akan dosa, yang tanpa kusadari telah menjadi beban hidupku. Ia juga menunjukkan kepadaku bagaimana melakukan perubahan-perubahan yang kuperlukan dalam hidup. Dengan menaati suara Roh Kudus, aku mendapati bahwa Ia menyatakan diri kepadaku secara lebih dalam dan aku bersuka cita karena makin erat terikat dengan Penyelamatku.

Makin aku akrab dengan-Nya, makin banyak cobaan yang harus kuhadapi. Pada saat anak sulungku masuk kuliah—dan membutuhkan biaya besar—cobaan yang lebih berat lagi datang pada bulan Agustus tahun 2013, ketika aku didiagnosis mengidap penyakit kanker, yakni kanker ovarium (cystadeno carcinoma serosum). Aku menjalani operasi pengangkatan rahim. Setelah itu, aku menjalani kemoterapi dengan segala efek samping (mual, tidak enak makan, rambut rontok) yang tidak mengenakkan. Aku bukan hanya menderita secara fisik, melainkan juga secara rohani: amat mudah kehilangan iman, meragukan cinta Allah, merasa takut dan putus asa. Ketika itu terpikir di benakku, jika aku mati, siapa yang akan mengurus anak-anak?

Aku menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali, dan pada bulan Januari 2019 aku harus menjalani operasi lagi (muncul di serviks), sehingga kemoterapi dilanjutkan kembali hingga selesai.

Betapa bahagianya aku, ketika pada akhir tahun 2014, aku diberitahu bahwa kankerku menyusut. Aku menyadari bahwa menyusut tidak berarti menghilang. Namun, aku memiliki harapan besar bahwa masa ini akan berlangsung cukup lama. Sayangnya, mulai bulan Maret 2017, kankerku muncul lagi, kali ini menyerang hati (liver). Mengapa ini harus terjadi lagi? Apakah karena aku terlalu lelah, merasa tubuhku sehat dan tidak ada kanker lagi? Ternyata kanker muncul kembali jika aku terlalu capek, banyak pikiran atau stres, juga karena makanan yang tidak terkontrol. Namun, aku tak punya pilihan selain kembali menjalani kemoterapi (artinya sesi kedua) sebanyak 6 kali yang selalu disertai dengan efek samping. Pertempuran tampaknya tak akan pernah berakhir. Pada tahun 2017 ini, aku jalani prosedur hingga 21 September dan pada bulan Januari 2018, hasil PET-scan sudah bersih, dan hasil tes darah (CA 125) juga bagus.

Pada tahun 2018, ada kenaikan yang sangat drastis dalam pemeriksaan darah (CA 125) dari 11 sampai dengan 252 w/ml (tumor marker). Dilakukan CT scan dan hasilnya bagus, lalu “laparaskopi” ternyata tidak ditemukan apa-apa. Dokter onkologi pun kebingungan, apa sebenarnya yang terjadi. Akhirnya diputuskan untuk melakukan PET-scan (9 April 2019) agar hasilnya lebih akurat. Kendalanya adalah masalah biaya (harus ditanggung sendiri) sebesar Rp 10.200.000 padahal saat itu di tabunganku hanya ada Rp 2.000.000.

Aku merasa takut dan cemas, lalu aku berseru kepada Tuhan dan kuceritakan semua yang menekan hati ini. Sering kali orang tidak dapat berterus terang tentang perasaannya kepada anggota keluarga maupun teman-teman. Apalagi di kalangan masyarakat Asia, pasangan suami-istri atau anggota keluarga lain sangat jarang dapat berkomunikasi dengan lancar perihal emosi. Mereka tidak terbiasa seperti itu dan dalam situasi krisis seperti yang kualami ini, tak seorang pun tahu hal tepat yang harus dikatakan. Namun aku dapat menceritakan semuanya kepada Yesus dan Ia mengerti. Tuhan memberikan jalan melalui sahabatku berinisial M untuk mengumpulkan dana agar aku segera melakukan PET-scan dan puji syukur, dalam waktu singkat dana tersebut dapat terkumpul.

Setelah dana terkumpul, langsung dilakukan PET-scan. Tiga hari kemudian, dengan rasa cemas dan takut, aku buka lembar hasilnya. Ternyata tampak nodul mesenterial yang menangkap FDG pada regio hepatorenal ukuran 4,5 x 4,5 cm (sebelumnya 3,2 x 2 cm). Aku langsung lemas dan bisa merasakan bahwa kemoterapi sudah menanti di depanku. Setibanya di rumah, kepada kakakku di Jakarta Selatan aku bercerita bahwa aku harus menjalani kemoterapi lagi. Kemudian aku berdoa kepada Yesus, karena Ia akan mendengar serta menanggapi ceritaku dengan lembut. Mengapa Yesus mau mendengarkan aku?

Jawabannya sederhana. Sebab, Ia mencintai dan memerhatikanku. Ia peduli! Ia mengerti perasaanku. Maka, aku dapat berbicara kepada-Nya lebih baik daripada siapa pun. Ia akan memberi ‘Sang Penghibur’ kepadaku, yaitu Roh Kudus yang mendampingi, menguatkan dan mendorongku. Dengan hati tenang dan yakin, aku menjalani kemoterapi lagi sementara anak-anakku berkorban untuk menemani saat aku dirawat inap. Puji syukur, anak sulungku sudah bekerja, sedangkan anak bungsuku sedang menyelesaikan S1-nya.

Pada bulan Juni 2019, aku mulai menjalani kemoterapi. Setelah kujalani dari tahun 2013 sampai tahun 2019, aku baru sadar bahwa Yesus memintaku menjadi ‘motivator’ untuk memberikan semangat dan motivasi kepada teman-teman yang menderita kanker. Saat dirawat, aku selalu memberikan arahan bahwa mati dan hidup ditentukan oleh Tuhan, tetapi sebagai umat yang percaya kepada Nya, kita harus tetap bersemangat dan percaya bahwa kita akan sembuh. Sebagai anak Allah, rasa takut dalam diriku perlu dibuang, karena Yesus bersamaku sepanjang masa. Ia menuntun tanganku, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, karena Engkau besertaku.” Janji kepada umat Israel juga diterapkan kepada kita: “Janganlah takut, karena Aku menyertai engkau. Janganlah bimbang, karena Aku ini Allahmu. Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau. Aku akan memegang engkau dengan tangan kananku” (Yes. 41:10).

Saat sedang berkonsultasi ke dokter, aku bertemu dengan teman-teman sependeritaan. Aku selalu menghibur mereka dan membuat mereka tertawa dan bersemangat kembali. Aku membantu mereka saat ada kesulitan. Mereka selalu berkata, “Ibu tidak terlihat sakit” lalu kujawab, “Saya memang sehat dan hanya kangen sama dokter.” Ucapan ini yang selalu keluar dari lubuk hatiku. Aku mengajarkan mereka untuk selalu berpikir positif supaya segera sembuh dan sehat kembali.

Selama 6 kali kemoterapi ini, aku selalu ditemani anak sulungku. Juga mendapat dukungan dan doa dari saudara-saudaraku, terutama kakakku Heruma yang ditemani oleh Siti (salah seorang pegawainya); kemudian juga saudara-saudaraku Paguyuban Pelangi GKI; sahabat-sahabatku SD, SMP, SMA, dan Fakultas Peternakan Unpad. Aku tahu bahwa anak bungsuku tidak bisa menemani, tetapi aku yakin bahwa ia selalu mendoakan.

Aku menderita karena rupa-rupa efek samping kemoterapi, makanan apa pun tidak enak, merasa sangat lelah, rasa mual selama 6-7 hari, dan yang pasti rambutku rontok kembali. Sebenarnya rasa tegang dan kecemasan dapat menyebabkan kesakitan atau membuat keadaan menjadi lebih buruk. Namun aku belajar untuk santai dan memercayakan diri kepada Tuhan. Aku belajar untuk tidak langsung berprasangka buruk, tetapi bersikap optimis dan positif. Kubayangkan bahwa tubuhku makin sehat, bukan makin buruk. Aku melakukan sesuatu yang membuatku merasa senang. Kepada teman-temanku yang mengalami hal yang sama, aku menganjurkan untuk berenang seandainya hal itu menyenangkan, berjalan-jalan di taman, pergi memancing, melihat film yang jenaka, bermain catur, membaca cerita cerita lucu, melakukan apa saja yang membuat kita senang dan menjauhkan pikiran kita dari rasa sakit. Agar aku merasa senang, aku ikut paduan suara di Paguyuban Pelangi, bernyanyi puji pujian untuk Tuhan.

Pada bulan September 2019, dilakukan CT scan abdomen-pelvis, dan hasilnya Regio hepatorenal menunjukkan penurunan dalam ukuran, dari 4,5 x 4,5 cm menjadi 2,5 x 2,5 cm. Aku merasa senang, tetapi kemoterapi harus terus berjalan. Aku menyelesaikan kemoterapi pada bulan November 2019. Setelah itu, aku masih harus tetap kontrol ke dokter dan periksa darah. Setelah bulan November 2019 selesai, pada bulan Januari 2020, dilakukan CT scan lagi untuk memastikan apakah sudah bersih atau belum. Rasa takut dan khawatir muncul kembali. Sebelum hari pengambilan hasil CT scan, selama 2 hari aku berdoa dan membaca injil Lukas 12:32, “ Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Sebab, Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan Surga.’”

Tibalah waktunya untuk pengambilan hasil pada tanggal 12 Januari 2020. Aku buka perlahan-lahan hasilnya dengan jantung berdebar dan hati was was. Ternyata benar dugaanku bahwa masih ada sisa Regio hepatorenal sebesar 1,8 x 1,8 cm, tapi aku bersyukur bahwa dengan kemoterapi bisa berkurang ukurannya. Aku harus membawa hasil ini kepada dokter onkologiku. Saat bertemu, aku terkejut dengan ucapannya, “Maaf sekali, karena setelah kami rapatkan, ibu harus kemoterapi lanjut.” Aku bertanya dengan tegas walau perasaanku sedih sekali, “Berapa kali harus saya lakukan?” dan beliau menjawab, “Tiga kali.” Baik dokter, aku akan lakukan ini untuk kesehatanku…

Mental dan fisik kupersiapkan untuk kemoterapi lanjut ini. Pada tanggal 13 Februari 2020, aku masuk rawat inap lagi sampai tanggal 4 April 2020 hingga aku selesai menjalani kemoterapi. Anak sulungku selalu berkata: “Jangan sampai kembali lagi ke RS. Dharmais untuk kemoterapi.” Dan kujawab: “Siapa yang mau sakit seperti ini?” Namun Tuhan akan memakaiku sebagai perpanjangan tangan-Nya. Selesai kemoterapi pada tanggal 8 Mei 2020, aku lakukan CT scan dan kali ini aku yakin pasti hasilnya bagus. Dalam beberapa kesempatan, aku berdoa. Bulan Mei adalah bulan Rosario, karena itu aku melakukan doa rosario setiap malam dan juga membaca Kitab Suci.

Tiba saatnya aku bertemu dokter hematologi untuk membawa hasil hasil tersebut. Setelah dibuka lembarannya, hasilnya dinyatakan bagus. Aku ingin berteriak, “Puji Tuhan, terima kasih ya Tuhan.”

Sesampai di rumah, aku renungkan kembali bahwa rasa takut, cemas dan gelisah berakar pada persoalan yang lebih dalam lagi, persoalan kurang percaya.

Tuhan berjanji membantu Anda dalam menghadapi segala masalah. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Tuhan akan menyelesaikan segala masalah Anda. Kitab Suci tidak pernah menjamin kesehatan kita, tetapi Tuhan menjanjikan seluruh rahmat yang Anda perlukan untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan. Hati yang teguh karena percaya pada Allah, tidak akan dikuasai oleh rasa takut dan cemas.

Waktu Anda berjuang melawan kanker, jalankan setiap hari dengan tenang saja. Tuhan selalu memberikan rahmat yang memadai, tidak berkelimpahan, tetapi cukup untuk setiap hari. Jangan cemas untuk hari esok, perhatikan hari ini saja. Yesus sangat bijaksana ketika Ia menasihati kita: “Janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34). Anda tidak dapat mengubah apapun dengan khawatir terus, serahkan bebanmu kepada Tuhan!

Bila aku lesu dan tak bersemangat lagi, aku luangkan waktu untuk memandang salib. Inilah Allah-Putra yang dipaku di kayu salib. Kejahatan Nya apa? Apa yang telah dilakukan Nya? Jawabannya: “Aku wafat untukmu.” Yesus wafat supaya aku hidup. Tak perlu berpikir jauh bahwa Yesus wafat untuk kemanusiaan, untuk semua orang. Pikirkan saja: “Yesus wafat untukku.” Apalah artinya ketidaknyamanan tubuh dan rasa sakit dibandingkan penderitaan yang dialami Yesus di kayu salib. Penderitaan, penyakit atau kanker sekalipun tidak dapat merampas kasih Allah dari kita. Kasih manusia dapat mati, tetapi kasih Allah tak akan pernah padam. Saat kita menderita kanker, kepastian bahwa Allah sendiri memerhatikan dan mengasihi kita akan menjadi penghiburan besar, memberi kita harapan dan kegembiraan baru. Allah setia dan tidak pernah meninggalkan kita.

Inilah kisah perjalananku saat aku divonis menderita kanker dan kuserahkan seluruh hidupku kepada Yesus Kristus, Tuhanku. Aku berdoa supaya Tuhan menganugerahi seluruh pembaca majalah ini iman yang diperbaharui serta dorongan semangat bagi mereka yang dibebani rasa cemas, takut, dan putus asa.

Terima kasih kepada ibu Diana (ketua Paguyuban Pelangi) yang telah memberi kesempatan kepadaku untuk menulis sepenggal kisah tentang pergumulanku dengan kanker.

Catatan Dwiriyo Suryo Sasmoko
Aku adalah anak bungsu dari Ibu Rasika Wiyarti, dan di sini aku ingin sedikit berbagi cerita bagaimana perasaanku ketika tahu bahwa Ibu divonis kanker. Ketika pertama kali mengetahui bahwa Ibu divonis kanker pada tahun 2013, aku merasa sangat sedih dan terpukul. Ketika itu aku bertanya pada diri sendiri, apakah ada yang salah selama ini? Apa yang bisa membuat Ibu sampai divonis kanker? Sepertinya tidak habis cobaan untuk Ibu selama hidupnya, menjadi single parent sejak tahun 2001, hingga sekarang menghadapi kenyataan bahwa ia harus melawan kanker.

Sering kali ketika aku menemani Ibu menjalani kemoterapi di RS. Dharmais, aku bertemu beberapa pasien lain yang berada satu kamar dengannya. Banyak yang tampak lemas dan lesu, seperti sudah tercabut semangat hidupnya. Namun aku melihat Ibu berbeda: perawakan dan semangatnya tetap sama seperti orang sehat pada umumnya. Tak jarang pasien lain atau keluarganya bertanya, “Ibu kena kanker tapi kok keliatannya kaya orang sehat ya?” dan Ibu menjawab kurang lebih seperti ini, “Ya dijalani saja hidup ini, harus tetap semangat dan rajin berdoa.” Ibu memang selalu bersemangat dalam kondisi apa pun di hidupnya, dan juga pendoa yang tekun. Mungkin semangat hidup yang membara dan tekun berdoa itulah yang menjadi “resep” bagaimana Ibu bisa menjalani hari-harinya dengan penuh semangat, seperti tidak pernah divonis kanker.

Dalam perjalanannya menjalani kemoterapi, aku melihat bahwa bukan proses kemoterapi yang paling melelahkan, melainkan hari hari sesudahnya. Ibu cenderung lemas dan tidak nafsu makan. Tidak banyak yang bisa Ibu lakukan, hanya mengistirahatkan badannya dan memaksa diri untuk makan dan minum. Aku sedih, tapi aku percaya bahwa Ibu tetap bisa dan kuat menghadapinya.

Sudah bertahun-tahun Ibu bergumul dengan kanker, dan aku selalu berharap dan berdoa agar Ibu bisa sembuh total dari penyakit ini. Aku ingin agar Ibu bisa hidup sehat tanpa perlu rutin kemoterapi kembali, karena aku tahu betapa hal itu sangat melelahkan. Aku serahkan semua kepada kuasa Tuhan Yesus agar Ibu dan seluruh pembaca dikaruniai hidup yang sehat dan penuh iman, harapan, dan kasih.•

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kasih-Nya Mengalir
    Namanya Helen Jayanti, biasa dipanggil Helen. Saat ini sedang menjalani Praktek Jemaat 1 di GKI Pondok Indah. Lulusan dari...
  • Jalan Pagi Lagi di Antara Jiwa-Jiwa
    perjumpaan dengan inspirasi kehidupan lain yang juga mendatangkan syukur
    Upaya Menjaga Kebugaran Sungguh tak mudah memulai kembali sebuah rutinitas, terutama yang menyangkut fisik, apalagi kalau memang pada dasarnya...
  • Jalan Pagi di Antara Jiwa-Jiwa
    Perjumpaan-perjumpaan yang menginspirasi kehidupan dan mendatangkan syukur.
    Jalan Pagi Untuk menjaga kondisi dan kesehatan jasmani di masa yang menekan ini sehingga tidak banyak aktivitas yang bisa...
  • In-Memoriam: Pdt. (Em.) Timotius Setiawan Iskandar
    Bapak bagi banyak anak yang membutuhkan kasih: yang kukenal dan kukenang
    Mencari Tempat Kos Setelah memutuskan untuk mengambil kuliah Magister Manajemen pada kelas Eksekutif (kuliah pada hari Sabtu-Minggu) di Universitas...