Persahabatan

Belum ada komentar 15 Views

Setiap kali saya membaca kata “persahabatan”, kata itu memberikan rasa hangat di hati saya. Kata itu membawa ingatan saya pada wajah para sahabat dan pengalaman yang telah kami lalui bersama. Persahabatan adalah sebuah relasi penerimaan yang membawa kita pada sebuah perjalanan untuk bertumbuh bersama. Saya yakin bahwa setiap orang membutuhkan sahabat dalam hidupnya, sebab setiap orang membutuhkan ruang untuk menerima, diterima, berbagi dan membagi.

Relasi kita dengan orang lain biasanya kita lakukan secara berlapis. Lingkaran paling luar adalah orang-orang asing yang kita temui dalam keseharian. Mereka yang berada di lingkaran ini tidak punya keterkaitan dekat dengan kita dan sering kali kita bersikap tidak acuh. Kalaupun kita menunjukkan kepedulian, sering kali hal itu sebatas memberikan bantuan. Kita merasa tidak punya kepentingan apa-apa untuk mengenal mereka lebih dalam.

Lingkaran berikutnya, kita sebut pertemanan. Mereka yang berada di lingkaran ini adalah sekelompok orang yang kita kenal. Kita membangun relasi dengan mereka, tetapi tidak ada kedekatan khusus. Pengenalan kita pada mereka pun sangat minim dan terbatas. Lingkaran berikutnya adalah persahabatan. Mereka yang berada di lingkaran ini adalah orang orang dekat dengan hidup kita. Kita bersedia membagi rahasia-rahasia hati dan pergumulan kita kepada mereka. Kita memiliki kedekatan hati dan kepedulian untuk saling memperhatikan. Lingkaran berikut adalah keluarga, orang-orang pertama yang hadir dalam hidup kita. Lingkaran keluarga belum tentu menciptakan relasi kedekatan yang intim dibandingkan relasi persahabatan. Di banyak kasus, relasi keluarga sama seperti relasi dengan orang asing yang hanya dipertemukan karena faktor ikatan darah atau tinggal bersama. Kedekatan tidak tercipta, apalagi kehangatan.

Pembedaan di atas saya tuliskan untuk memberikan gambaran pada umumnya bagaimana kita memperlakukan sesama kita. Pembedaan itu tentu didasarkan pengamatan pada umumnya dan tidak bersifat mutlak. Mari kita bandingkan dengan semangat persahabatan yang kita hayati dalam hidup bergereja di GKIPI. Apakah itu artinya, semangat persahabatan yang hendak kita bangun adalah relasi persahabatan dengan orang-orang yang memang sudah biasa kita perlakukan sebagai sahabat atau yang berada dalam lingkaran persahabatan kita?

PERSAHABATAN DENGAN ORANG ASING
Semangat persahabatan yang kita hidupi adalah semangat menyambut siapa saja di dalam relasi persahabatan, bahkan orang asing. Apakah mungkin? Tentu sangat mungkin! Membangun semangat persahabatan dengan orang asing, wajah-wajah yang tidak kenal, orang-orang yang biasa kita abaikan, kepada mereka kita bersikap menyambut, menerima, merangkul dan membuka ruang untuk saling mengenal lebih baik.

Relasi persahabatan yang kita bangun adalah semangat menyapa sesama manusia tanpa batas di dalam kehangatan cinta Allah. Semangat yang dibangun dengan dasar pemahaman dan keyakinan iman bahwa setiap orang berharga dan patut diperlakukan, disambut seperti hakikat dirinya. Membangun persahabatan adalah tindakan iman kita di dalam Kristus yang telah lebih dahulu mengangkat dan merangkul kita menjadi sahabat-Nya.

Relasi yang hendak kita bangun ini justru ingin menghancurkan lingkaran lingkaran yang membatasi kita dengan orang lain. Pembedaan tersebut dapat berdampak buruk bagi kehidupan, karena kita bisa bersikap sangat kejam pada orang asing dan ramah pada sahabat. Kita tidak memiliki integritas dalam menghadirkan diri bagi sesama, semua akan diperlakukan baik tergantung kepentingannya bagi diri kita. Untuk itu, relasi persahabatan yang hendak kita bangun justru men dobrak tindakan memandang muka. Persahabatan adalah keterbukaan kita menyambut sesama tanpa memandang muka seperti kasih Bapa.

PERSAHABATAN: DEKAT TAPI JAUH, KENAL TAPI ASING
Relasi persahabatan harus ditempatkan pada posisi tarik menarik dalam hal jarak (dekat dan jauh) dan juga pengenalan (asing dan akrab). Artinya, persahabatan adalah ruang bebas untuk dimasuki, dikenali dan mengenal tanpa paksaan. Persahabatan memberi ruang untuk menjauh, tetapi tak membiarkannya terlepas. Ia memberi ruang untuk dekat, tetapi tak mengikatnya tanpa kemerdekaan. Persahabatan adalah relasi yang memerdekakan seseorang untuk menjadi dirinya sendiri, untuk memperjuangkan karya dalam semangat dan pengharapan. Pada saat hal itu dijaga dalam ketegangan yang seimbang, maka penghargaan dan penerimaan menjadi cara kita membangun dan menjaga persahabatan.

Persahabatan adalah kemauan dan usaha mengenal dan membiarkan keasingan menjadi misteri untuk diselami dan dikenali lebih dalam. Orang yang kita anggap sangat kita kenal, di saat yang sama sesungguhnya memiliki bagian dan sisi kehidupannya yang tidak kita kenal. Kesadaran inilah yang membuat kita terus bertahan dan bertumbuh dalam relasi persahabatan. Kemauan dan semangat untuk mengenal lebih dalam menjadi sebuah perjalanan pertualangan menarik yang dijalani bersama. Hal ini berlaku dalam relasi suami istri. Pada saat kita merasa mengenal pasangan kita, di saat yang sama ada sisi yang belum kita kenal, yang terasa asing bagi kita. Ketegangan inilah yang membuat relasi suami istri bertahan untuk terus belajar saling mengenal dalam pengalaman pengalaman menarik dan tak terduga.

MEMBANGUN PERSAHABATAN
Di tengah dunia yang egosentris, sikap pengabaian menjadi tindakan yang dianggap biasa dan umum dilakukan. Kehadiran orang lain menjadi penting sebatas ada kebutuhan dan kepentingan yang menguntungkan. Orang-orang kecil yang memiliki posisi lemah dalam tawar menawar menjadi sekelompok orang yang diperlakukan semena-mena. Mereka dikenal tanpa nama, dipanggil sebatas angka, disapa pada saat suara mereka diperlukan untuk kepentingan pribadi. Lihatlah bagaimana mereka diperlakukan sebatas Pemilu, pada saat suara mereka menjadi penting untuk pundi-pundi penguasa dan kemudian dilupakan. Mereka kembali menjadi sosok orang tanpa nama, dan kehadiran mereka tidak diperhitungkan.

Visi Misi GKIPI mengangkat nilai persahabatan sebagai respons iman kita di dalam Kristus yang telah memberi teladan untuk membangun persahabatan dengan siapa pun tanpa batas dan tanpa kecuali. Relasi persahabatan yang meruntuhkan tembok pemisah. Nilai persahabatan menjadi penting dihidupi oleh gereja, orang beriman yang dipercaya Tuhan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Semangat membangun persahabatan adalah semangat mengubah wajah dunia seperti yang dihendaki Kristus dalam rencana-Nya yang mendatangkan damai sejahtera. Misi ini perlu dihidupi, bukan hanya pada saat kita melakukan program program gereja, melainkan juga berkelanjutan dalam kehidupan kita sesehari, menghadirkan diri sebagai sahabat bagi sesama. Setiap orang berhak diperlakukan baik, berharga dan mulia, sebab demikianlah cara Allah menciptakan dan memperlakukan umat-Nya. Mari kita memperjuangkannya.•

|PDT. DAHLIA VERA ARUAN

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Menjadi Warga Kerajaan Allah
    Sebagai sebuah gereja di masa pascapandemi ini, kita bertekad untuk meneruskan perjalanan menuju masa depan bersama sebagai sebuah komunitas...
  • Harta Paling Berharga
    “Harta yang paling berharga adalah keluarga…” Kalimat di atas adalah penggalan lagu sinetron ‘Keluarga Cemara’ yang pernah ditayangkan TVRI...
  • Bersyukur
    Oma Ra (bukan nama sebenarnya) adalah perempuan lansia yang telah berumur 83 tahun. Ia terbaring di tempat tidurnya karena...
  • Siapakah Sesamaku?
    Pertanyaan ini sangat familier kalau kita suka membaca kitab Injil. Para ahli Taurat pernah mengajukan hal itu kepada Tuhan...