… datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Matius 2:1-2)
Dari berbagai informasi, kita mengetahui bahwa orang- orang majus bukanlah hanya orang-orang kaya yang menghabiskan waktu mereka dengan berkeliling dunia. Mereka memang kaya, tetapi tidak sekadar kaya. Mereka adalah orang-orang bijak yang cermat menyimak berbagai peristiwa di alam semesta. Itu sebabnya mereka bisa menghubungkan kemunculan sebuah bintang dengan kelahiran seorang raja.
Dengan keahlian yang mereka miliki, tidakkah cukup bagi mereka untuk melakukan perjalanan dengan panduan sang bintang? Jika bintang itu terlihat di sebelah kanan, misalnya, orang-orang majus berjalan ke arah kanan. Atau, kalau bintang itu ada di arah kiri, mereka berbelok ke kiri. Namun, sebagaimana kita ikuti dalam bacaan hari ini, sekalipun orang-orang majus itu tahu membaca arah yang ditunjukkan bintang itu, tetap saja mereka perlu bertanya kepada orang-orang untuk bisa sampai di tempat Yesus berada.
Dibandingkan dengan era para majus, perkembangan ilmu pengetahuan pada saat ini sudah melesat jauh. Informasi apa pun bisa dalam sekejap mata kita dapatkan, tanpa perlu bertanya kepada siapa pun. Namun demikian, belajar dari pengalaman orang-orang majus, berkomunikasi dan berelasi dengan sesama di sekitar kita tetap perlu dilakukan. Jangan lupa, sejak awal Tuhan tidak menciptakan kita seorang diri. Selalu ada sesama di sekitar kita. [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Sekalipun tampaknya kita tidak membutuhkan orang lain, sesungguhnya manusia selalu membutuhkan sesamanya.
Ayat Pendukung: Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-7, 10-14; Ef. 3:1-12; Mat. 2:1-12
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.


Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.