new normal

New Normal, New (GOOD) Habits

Belum ada komentar 19 Views

Kita tentu masih ingat ketika pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa semua pengendara sepeda motor harus menggunakan helm pengaman. Banyak orang yang tidak setuju, bahkan melakukan protes. Sulit sekali menjelaskan bahwa penggunaan helm adalah untuk faktor keamanan. Sama sulitnya ketika ada peraturan bahwa setiap pengendara mobil yang duduk di depan harus menggunakan seat belt atau sabuk pengaman. Namun sekarang, kalau naik motor tidak menggunakan helm atau menyetir mobil tanpa sabuk pengaman, rasanya tidak nyaman. Hal itu sebenarnya adalah sebuah kenormalan baru, atau yang disebut sebagai new normal dibandingkan dengan sebelumnya.

Setelah peristiwa 9/11 di New York, Amerika Serikat, pemeriksaan di bandara- bandara menjadi sangat ketat, barang bawaan kita harus di scan berkali-kali. Kita juga diharuskan melalui macam-macam detektor, bahkan di beberapa bandara, kita harus melepas sepatu. Sekarang kita merasa bahwa pemeriksaan seperti itu adalah suatu kewajaran. Ini juga menjadi sebuah new normal.

Pasca kerusuhan 1998, hampir semua kompleks perumahan memasang portal, padahal sebelumnya kita bebas masuk atau lewat ke mana saja. Sekarang kita sudah terbiasa dengan adanya portal di mana-mana. Inipun bisa dikategorikan sebagai new normal.

Pada masa pandemi ini, awalnya masyarakat enggan atau tidak mau memakai masker, karena tidak terbiasa dan merasa aneh. Namun ketika hampir semua orang memakai masker—walaupun sampai saat ini masih saja ada orang yang tidak mau memakainya—maka kalau tidak memakai masker, kita menjadi orang aneh. Memakai masker menjadi sebuah kenormalan baru. Demikian pula dengan menjaga jarak, mencuci tangan memakai sabun dengan air yang mengalir, dan tidak keluar rumah apabila tidak diperlukan.

Pandemi ini adalah sebuah gangguan yang mengubah kehidupan kita. Pandemi ini membuat seolah olah dunia terbalik. Apa yang dulu dianggap normal, sekarang dianggap abnormal. Sebelum ini, kalau kita tidak mau salaman atau berjabat tangan, kita dianggap tidak sopan, sekarang orang malah tidak mau melakukannya. Dulu, kalau ada seorang anak yang tidak mau ke gereja dan memilih untuk mengikuti ibadah online dari Youtube, pasti akan kena marah orangtuanya. Sekarang, malahan orangtua mencarikan ibadah online untuk anaknya dan bersama sama duduk untuk mengikutinya.

Kenormalan yang baru ini menimbulkan suatu kebiasaan yang baru. Ketika kita tidak bisa keluar rumah, maka mau tidak mau kita harus menggunakan teknologi. Memesan makanan, membayar tagihan, mengirim barang, semua ini bisa kita lakukan dengan menggunakan teknologi. Sesuatu yang jarang atau tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Melakukan meeting atau sekadar “bertemu” juga bisa dilakukan dengan teknologi, secara online. Kita jadi belajar sesuatu yang baru, yang lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Kita juga punya waktu untuk berolahraga, apakah itu jalan pagi atau jogging atau bersepeda di sekeliling kompleks. Sebelumnya waktu kita banyak terbuang untuk perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Dengan berolahraga tentunya kita menjadi lebih sehat.

Kebiasaan lain adalah dalam hal berbelanja atau membeli barang kebutuhan sehari-hari. Kita bisa memesannya melalui banyak aplikasi, dan barang yang kita pesan akan diantar ke rumah. Yang berbeda adalah, kita membeli atau memesan barang yang betul-betul kita butuhkan, bukan sekadar karena keinginan. Kalau kita berbelanja ke supermarket, biasanya banyak barang yang dibeli hanya karena keinginan, bukan kebutuhan.

Kebiasaan lain lagi adalah kita menjadi orang yang pembersih, menjadi lebih sering mencuci tangan, lebih sering mencuci rambut atau keramas, dan lebih sering berganti baju, terutama setelah kita ke luar rumah.

Namun sebaliknya, pandemi ini juga dapat menimbulkan kebiasaan buruk. Karena tidak harus pergi ke kantor, kita sering bangun siang. Kalau sering dilakukan, maka akan jadi kebiasaan. Kita jadi pemalas, tidak melakukan apa-apa, hanya makan tidur, akibatnya berat badan bertambah tetapi daya tahan tubuh berkurang.

Kebiasaan-kebiasaan baik bisa dibangun. Selain yang telah disebutkan di atas, kita juga bisa mulai membereskan barang-barang yang ada di lemari kita. Coba seleksi, barang-barang mana yang sudah tidak terpakai dan mana yang masih dapat dipakai. Barang-barang apa yang sudah bertahun-tahun ada di dalam lemari kita. Yang tidak terpakai dan masih dalam keadaan baik, bisa kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Biasanya kita menyimpan barang-barang yang memiliki kenangan emosional, padahal sudah bertahun-tahun tidak kita pakai, tetapi kita enggan memberikannya kepada orang lain.

Kita harus belajar dari orang Jepang. Mereka mempunyai program atau metoda yang disebut Danshari, artinya Deny Dispose Detach, Cleanse Your Home and Mind. Seiring dengan bertambahnya usia, makin melekat juga banyak barang yang punya kenangan yang sangat melekat, sehingga memenuhi tempat penyimpanan kita. Melalui metoda Danshari ini, kita diminta untuk melakukan pembersihan barang barang yang sudah tidak diperlukan lagi. Bukan membuangnya, melainkan memberikannya kepada orang-orang yang masih dapat memanfaatkannya. Melalui metoda ini kita diajak untuk mempunyai kehidupan yang minimalis, hidup dengan barang barang yang secukupnya saja, sehingga akan memberikan peace of mind.

Mungkin tidak perlu seperti itu, tetapi paling tidak kita akan mempunyai kebiasaan untuk tidak lagi menyimpan barang yang tidak diperlukan. Kita diwarisi dengan kata-kata “siapa tahu nanti diperlukan”, sehingga kita cenderung menyimpannya dan akibatnya rumah kita jadi penuh dengan barang. Selamat membangun kebiasaan kebiasaan yang baik. Salam damai.•

| SINDHU SUMARGO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • hampir sampai
    Hampir Sampai
    “Aku menghindari kampung halamanku, mataku pun tidak melihatnya. Benar, memang aku tidak mencarinya agar hatiku tidak mengikutinya. Jiwaku dari...
  • rindu
    Rindu
    Sebuah kata sederhana, tapi cukup populer, khususnya di kalangan muda-mudi (dan mereka yang sudah melewati masa itu), saat indah-indahnya...
  • Percayalah
    Percayalah
    “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (kejadian 15:6) Tatkala mata terbuka pada...
  • Keadaan & Harapan
    Keadaan & Harapan
    Alangkah merdunya ungkapan “adil dan makmur” terdengar di telinga kita dan kita resapkan di hati. Ungkapan itu bertalian erat...
  • mati
    MATI
    “Kematian bukannya lawan kehidupan. Ia adalah mitra makna kehidupan. Hanya dengan menyelami kematian, manusia bisa hidup dengan indah sekaligus...
Kegiatan