Mukjizatnya Disediakan Bagiku

Belum ada komentar 7 Views

Suatu malam pada pertengahan bulan Oktober 2016, saya tidak bisa tidur sama sekali sepanjang malam. Hal tersebut tidak pernah terjadi. Saya berusaha untuk memejamkan mata, tapi tetap tidak bisa terlelap. Saya paksakan bangun pukul 04.30 dan ke luar rumah untuk jalan pagi. Hari itu saya ada acara ke Bogor dengan suami. Anehnya, meskipun malam sebelumnya saya tidak bisa tidur, dan saya pergi seharian ke Bogor, pada malam harinya saya tetap tidak bisa tidur.

Keesokan paginya kembali saya jalan pagi, tiba-tiba dada terasa sesak sekali. Setelah ko dengan seorang teman dokter, nsultasi saya disarankan untuk periksa jantung di Rumah Sakit Pondok Indah oleh dokter Kaligis. Dari hasil EKG, dokter Kaligis menyatakan bahwa kejadian yang saya alami kemarin merupakan serangan jantung dan beliau menyarankan saya untuk rawat inap. Namun, saya menolak dan meminta untuk dirawat di rumah saja. Dokter mengizinkan, dengan catatan bahwa saya tidak boleh melakukan apapun yang membuat saya lelah dan harus minum obat yang sudah diberikan.

Dua hari kemudian, saya dan suami kembali ke RS Pondok Indah untuk membaca hasil lab. Saat itu dokter jantung memberitahukan bahwa saya harus menjalani tindakan kateterisasi (cath) untuk memastikan ada penyumbatan dalam pembuluh darah jantung saya. Dokter memberi saya waktu seminggu untuk menjalani cath tersebut dan pemasangan ring. Untuk tindakan tersebut biaya yang dibutuhkan sekitar 150 juta rupiah.

Karena biaya tersebut cukup besar, saya dan suami mencoba untuk mengajukan perawatan dengan BPJS.

Mengawali proses administrasi kami mengajukan permintaan rujukan melalui Klinik DK di Bintaro. Oleh Klinik DK, kami disarankan untuk ke RS Suyoto. Namun karena di RS Suyoto hanya ada 1 dokter jantung dan mendapat daftar tunggu 1 minggu, maka kantor BPJS di rumah sakit tersebut menyarankan kami untuk pergi ke RSUD Pasar Minggu. Kami pun pergi ke sana. Rupanya rumah sakit tersebut online dengan Rumah Sakit Harapan Kita, dan saya mendapat rujukan ke Rumah Sakit Harapan Kita—seperti yang saya harapkan dari semula.

Memang melalui BPJS harus melewati beberapa tahapan dan harus sabar mengantre. Untuk antrean tensi dan EKG di RS Harapan Kita, saya menunggu lebih dari 3 jam. Tapi semua proses tersebut saya siap jalani. Ada puluhan dokter spesialis jantung di rumah sakit ini, tapi saya terus berdoa, berserah kepada Tuhan, biarlah Dia yang memberikan dokter yang terbaik. Saya bertemu dengan dokter Basuni Radi, yang berkata kepada saya bahwa proses yang harus saya jalani memang tidak instan, tetapi saya harus terus bersabar untuk mengikuti semuanya. Beliau menyarankan kepada saya agar segera menjalankan cath dan pemasangan ring. Setelah bertemu dokter, kami langsung ke loket penjadwalan, dan ternyata saya akan bergabung dengan beberapa orang yang akan menjalani cath besok paginya.

Dengan berpuasa 3 jam sebelumnya, pukul 9 pagi, saya tiba di RS Harapan Kita untuk menjalani tindakan cath. Dokter menjelaskan bagaimana prosesnya agar pasien mengerti. Saya menunggu antrean pasien dari pukul 09.00 dan baru dipanggil pukul 14.30. Saya tetap bersabar dan terus berdoa mohon pertolongan Tuhan.

Pukul 14.30 proses cath dimulai dan dilakukan di tangan kanan, berlangsung selama kurang lebih 40 menit. Setelah selesai, saya diizinkan untuk istirahat di dalam ruangan. Pukul 17.00, suster mengganti perban di tangan sambil menjelaskan hasil cath. Hasilnya adalah: jantung kanan bersih, namun pada jantung kiri ada penyumbatan 80%. Setelah itu saya diizinkan pulang ke rumah dan beristirahat.

Beberapa hari kemudian saya kembali bertemu dokter Basuni dan memberikan hasil cath. Dokter menyarankan saya untuk pasang 1 ring. Saya kembali ke loket penjadwalan, dan saya menentukan waktu untuk pasang ring pada tanggal 15 November 2016.

Namun rencana-Nya bukan rencana saya. Pada tanggal 8 November pukul 11 malam, kembali saya tidak bisa tidur dan parahnya saya tidak bisa bernapas melalui hidung karena dada saya terasa penuh. Dengan napas yang sangat terbatas melalui mulut, saya langsung berteriak memanggil suami dan suami pun cepat-cepat membawa saya ke UGD rumah sakit terdekat, yaitu RS Pondok Indah. Sampai di RS, saya langsung diberi oksigen dan dirontgen. Hasilnya, paru-paru saya penuh dengan cairan. Paramedis mengambil tindakan cepat dengan memberikan infus obat-obatan dan saya dirawat di Ruang ICCU. Pagi harinya dokter Kaligis berkunjung, dan beliau berkata bahwa saya harus segera menjalani pemasangan ring dan beliau membuat rujukan ke RS Harapan Kita untuk perawatan selanjutnya. Siang harinya, dengan menggunakan ambulans saya dibawa ke RS Harapan Kita. Saya bersyukur karena Tuhan memberi kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan ke rumah sakit.

Setelah melalui beberapa pemeriksaan di RS Harapan Kita, saya dipindah dari IGD ke ruang ICCU. Selama 4 hari saya menjalani perawatan intensif. Saya terus berdoa dan minta pertolongan Tuhan untuk kesembuhan dengan segala obat yang diberikan kepada saya. Setelah 4 hari, kondisi jantung saya makin membaik sehingga saya dipindahkan ke ruang ICU. Dokter jaga menyarankan agar saya lepas oksigen dan mencoba tidur telentang. Setelah 3 hari di ICU, dokter Basuni kembali memeriksa saya dan menyatakan bahwa saya sudah siap untuk pemasangan ring pada tanggal 15 November sesuai jadwal semula.

Pada tanggal 15 November pukul 08.30 saya menjalani proses pemasangan ring dengan tim dokter yang dipimpin oleh dokter Sunarya. Saya bersyukur bahwa Tuhan memudahkan saya dalam segala hal. Untuk menghilangkan ketakutan, saya terus bernyanyi, berserah kepada Tuhan, “Bagi Tuhan tak ada yang mustahil, bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin.” Proses pemasangan ring berlangsung dalam waktu singkat selama 30 menit dan setelah itu saya kembali ke ruang ICU untuk dimonitor hasil pemasangan ring. Keesokan harinya, dokter Basuni memeriksa saya kembali dan mengizinkan saya pulang dengan catatan saya tidak boleh terlalu lelah dan tidak boleh naik turun tangga.

Saya bersyukur kepada Tuhan atas segala kelancaran dan kekuatan yang diberikan kepada saya. Tuhan telah memberikan napas dan semangat baru untuk saya. Saya ingin terus melayani Nya, memberikan waktu saya untuk pelayanan. Betapa pun sakitnya, saya percaya dan beriman bahwa Tuhan menolong tepat pada waktunya dan tidak pernah terlambat. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil! Dalam kesempatan ini saya ingin berterima kasih kepada suami dan anak-anak saya yang selalu setia menjaga dan merawat saya. Terima kasih juga atas dukungan doa semua saudara, sahabat sepelayanan dan Pdt. Riani Josaphine yang telah memberikan bimbingan agar saya tetap tegar dan berserah diri pada Tuhan.

‘Ku yakin saat Kau berfirman ‘Ku menang saat Kau bertindak Hidupku hanya ditentukan oleh perkataan-Mu

‘Ku aman kar’na ‘Kau menjaga ‘Ku kuat kar’na ‘Kau menopang Hidupku hanya ditentukan oleh kuasa Mu

Bagi Tuhan tak ada yang mustahil Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin Mujizat-Nya disediakan bagiku ‘Ku diangkat dan dipulihkan-Nya

|MUTHIA TRIHASTUTY SUNARYO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Jalan Pagi Lagi di Antara Jiwa-Jiwa
    perjumpaan dengan inspirasi kehidupan lain yang juga mendatangkan syukur
    Upaya Menjaga Kebugaran Sungguh tak mudah memulai kembali sebuah rutinitas, terutama yang menyangkut fisik, apalagi kalau memang pada dasarnya...
  • Jalan Pagi di Antara Jiwa-Jiwa
    Perjumpaan-perjumpaan yang menginspirasi kehidupan dan mendatangkan syukur.
    Jalan Pagi Untuk menjaga kondisi dan kesehatan jasmani di masa yang menekan ini sehingga tidak banyak aktivitas yang bisa...
  • In-Memoriam: Pdt. (Em.) Timotius Setiawan Iskandar
    Bapak bagi banyak anak yang membutuhkan kasih: yang kukenal dan kukenang
    Mencari Tempat Kos Setelah memutuskan untuk mengambil kuliah Magister Manajemen pada kelas Eksekutif (kuliah pada hari Sabtu-Minggu) di Universitas...