Suara Tuhan

Mendengar Suara Tuhan

Belum ada komentar 63 Views

Pak Pendeta Yth.

Saya sering mendengar kesaksian beberapa orang yang berkata bahwa Tuhan berbicara kepada mereka. Misalnya, ketika harus membuat suatu keputusan penting Tuhan berkata kepada orang itu bahwa ia harus terus maju dan menyingkirkan ketakutannya. Bagaimana orang itu dapat meyakini bahwa ia mendengar suara Tuhan, dan bukan suara hatinya sendiri?

Pertanyaan yang hampir sama, bagaimana beberapa pembunuh yang ditangkap dan dipenjara juga mengaku bahwa mereka mendengar suara yang menyuruh mereka membunuh.

Atas pencerahannya terima kasih.(Ani)

Jawab:

Saudara Ani yang baik,

Batasnya tipis sekali antara ‘suara Tuhan’ dan ‘suara hati’. Karena itulah Firman Tuhan mengajar kita untuk menguji segala sesuatu:
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21)
“dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan” (Efesus 5:10).

Jika Anda menemukan bahwa apa yang Anda dengar itu adalah sesuatu yang jahat (seperti para pembunuh itu) ya jangan Anda lakukan. Sebaliknya ketika Anda menemukan bahwa apa yang Anda dengar itu baik, Anda perlu melakukan saringan kedua dengan bertanya kepada para sahabat, atau orangtua, atau siapa pun yang Anda pikir layak untuk ditanya. Pertimbangkanlah jawaban-jawaban yang ada dan putuskanlah apakah Anda harus melakukannya atau tidak. Setelah itu doakanlah rencana Anda, dan kalau Anda tetap yakin bahwa rencana Anda ini dari Tuhan, ya lakukanlah dengan tetap bersiap diri untuk segala risikonya.

Bisakah keputusan Anda pada akhirnya merupakan sebuah kesalahan dalam arti bukan kehendak Tuhan? Bisa saja, tetapi sepanjang kita sudah menguji dan mendoakannya, maka percayalah, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Segala sesuatu itu, termasuk kesalahan kita, akan bisa Tuhan ubahkan menjadi kebaikan. Jadi, jangan takut melangkah, tapi berhati-hatilah dengan mengujinya terlebih dahulu. Sebaliknya, jangan terus menguji dan tidak melangkah. Semua harus seimbang. Pada akhirnya kita harus berani melakukan sesuatu yang baik dan memercayakan yang baik itu untuk disempurnakan oleh Tuhan.

Kadang Tuhan punya kehendak spesifik bagi kita, seperti kata Tuhan kepada Yunus untuk pergi ke Ninewe. Namun yang spesifik seperti ini jarang sekali. Yang banyak ya Tuhan bekerja melalui kehendak bebas manusiawi kita (tentu yang baik) dan Dia akan menyempurnakan-Nya. Artinya, ada banyak pilihan dan kita yang harus memilihnya dan melakoninya bersama Tuhan.

Sekali lagi, jangan takut melangkah, ujilah dan lakukanlah dengan terbuka terhadap penyempurnaan Tuhan!

>> Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • baptisan
    Baptisan Belum Sah?
    Bapak Pendeta yang baik, Jika memerhatikan apa yang diceritakan dalam Kisah Rasul 8:14-17, terutama pada ayat 16 yang menyatakan:...
  • Seragam Paduan Suara
    Bapak Pendeta yang baik, Bapak Pendeta, Akhir-akhir ini saya memer hatikan bahwa setiap paduan suara atau grup kolintang di...
  • Kerajaan Maut
    Tentang Baptisan Ulang
    Pak Pendeta yang baik, Bapak Pendeta yang baik, Mohon penjelasannya untuk beberapa hal yang masih membingungkan saya: Bukankah semua...
  • upacara gereja
    Pernikahan Beda Agama
    Pak Pendeta yang baik, Perkenankan saya bertanya: Apa dasar pertimbangan GKI Pondok Indah membuka diri untuk memberkati pernikahan pasangan...
Kegiatan