Kiranya lanjut umurnya selama matahari beredar, dan selama bulan bersinar, turun-temurun! (Mazmur 72:5)
Dari pelajaran di sekolah, kita mengetahui bahwa matahari tidaklah beredar dan bulan tidaklah bersinar. Bumilah yang sesungguhnya mengitari matahari. Sinar bulan juga bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan merupakan pantulan dari cahaya matahari.
Eh, bukan berarti kita hendak menyalahkan Salomo, sang pemazmur, lho. Sebab dia memang tidak bermaksud menjelaskan pergerakan matahari dan sinar bulan secara ilmiah. Sebagai seorang pujangga, Salomo mengamati matahari dan bulan yang setia hadir dan menerangi pada waktunya masing-masing. Baik ketika dunia tengah berkabung maupun berperang, jika saatnya tiba, matahari dan bulan akan hadir menemani kita. Tidak ada hari, bulan, atau tahun yang tidak dihadiri matahari atau bulan, bukan? Sungguh konsistensi yang layak diacungi jempol!
Mengagumi konsistensi matahari dan bulan sedemikian rupa, Salomo menjadikannya doa panjang umur untuk sang raja. Sang raja tidak hanya didoakan agar hidup lama, tetapi juga agar hingga usia lanjutnya tetap menunjukkan kualitas kebaikan dan keadilan. Sungguh sebuah doa yang sangat serius! Namun, bukan hanya seorang raja yang membutuhkan doa seperti ini. Kita semua berharap bisa menua dengan tetap menunjukkan kualitas terbaik yang kita miliki, bukan? Jadi, mari kita tetap berdoa dan berupaya mewujudkan doa kita menjadi nyata. [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Umur yang panjang bukan sekadar kebanggaan, melainkan kesempatan untuk bermanfaat sebaik-baiknya.
Ayat Pendukung: 1 Raj. 10:1-13; Mzm. 72; Ef. 3:14-21
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.


Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.