Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan-jalan-Nya! (Mazmur 128:1)
“Apa kriteriamu dalam mencari pasangan? Mama ingin mendapatkan menantu yang takut akan Tuhan. Kalau kaya dan pintar, ya puji Tuhan. Namun, yang utama adalah takut akan Tuhan.” Demikian pertanyaan sekaligus pernyataan yang dilontarkan seorang ibu kepada putrinya. “Carilah yang seperti papamu,” lanjutnya dengan tenang.
Takut akan Tuhan memang sebuah keutamaan. Jika Amsal mengatakan bahwa takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat dan pengetahuan, pemazmur menyatakan bahwa takut akan TUHAN adalah kunci kebahagiaan. Orang yang berbahagia adalah orang yang mengetahui jalan-jalan TUHAN dan mengikutinya. Alhasil, hidupnya penuh keberkahan. Kebutuhan sehari- hari tercukupi, istri dan anak-anak hidup bahagia serta produktif, dan keluarga mereka memiliki masa depan. Mereka berumur panjang, dapat melihat cucu-cucu mereka, dan hidup penuh damai sejahtera. Semua ini adalah berkat bagi orang yang takut akan TUHAN.
Takut akan Tuhan harus menjadi pegangan kita dalam kehidupan. Bukan hanya untuk mencari pasangan atau menantu, seperti dalam cerita di atas, melainkan juga untuk membangun keluarga, karier, dan pekerjaan; bahkan saat kita memimpin di gereja maupun di mana pun. Takut akan Tuhan lahir dari iman bahwa Tuhan ada dan melihat kita, serta terus dipupuk dengan firman. Niscaya, hidup kita akan dipenuhi kebahagiaan dan damai sejahtera. [Pdt. Hariman A. Pattianakotta]
REFLEKSI:
Hidup bahagia adalah dambaan, dan akan menjadi kenyataan jika kita bertekun dalam firman dan hidup penuh rasa hormat kepada Tuhan.
Ayat Pendukung: Bil. 21:4-9; Mzm. 128; Ibr. 3:1-6
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.