Ketika Aku Positif!

My days with COVID

Belum ada komentar 2 Views

Bicara tentang COVID-19 berarti bicara tentang sesuatu yang sangat personal. Pada dasarnya saya tergolong sehat, karena walaupun gendut, saya cukup rajin berolah raga. Penyakit yang akrab paling-paling flu, batuk, asam lambung, dan masuk angin, itu pun kalau masuk angin termasuk kategori penyakit. Dalam menyikapi pandemi COVID-19, saya termasuk cukup ketat mencuci tangan pakai sabun, memakai masker dengan disiplin, dan menjaga jarak. Ketat, tapi tidak termasuk yang senewen atau paranoid.

Memasuki bulan November yang lalu, tingkat kesibukan saya melonjak. Memang benar, pekerjaan saya semua dilakukan dengan sistem work from home, tapi pada saat yang sama saya harus menghadapi pembuatan 3 buku laporan (semua dalam bahasa Inggris dan Indonesia), bahkan juga launching laporan itu sendiri, shooting video SOP pembukaan PAUD, dan tugas pelayanan dalam bentuk menangani seminar online. Bisa dipastikan, dengan kesibukan tersebut saya sama sekali tidak punya waktu lagi untuk berjemur, apalagi berolah raga. Rupanya hal-hal tersebut membawa dampak langsung pada stamina.

Minggu terakhir November, saya mulai mulai sakit-sakit dan agak demam, tapi saya masih pede untuk doping dengan vitamin C dosis tinggi. Namun, begitu kegiatan terakhir kelar hari Sabtu tanggal 28 November, saya tiduuuuur sepanjang hari, karena rasanya badan remuk, kayak habis dilindas truk dan maraton tidur dilanjutkan pada hari Minggunya. Senin saya merasa lumayan enak, tapi puncak kepala saya mulai terasa sakit sekali. Saya tahu kalau ini sudah tidak bisa dibiarkan dan harus periksa. Kebetulan hari itu kakak saya bilang, kita serumah akan di-swab oleh petugas yang datang ke rumah. Selasa pagi badan saja lebih enak, dan kami semua di-swab PCR. Saya pede sekali kalau hasilnya akan baik (negatif).

Rabu sore, kakak saya memberikan info kalau saya dan Timothy (putra saya) positif COVID, sementara yang lain semua negatif. Biasanya kalau kita dapat nilai positif artinya baik. Baru sekali ini saya mendapatkan hasil positif tapi bikin bingung. Terus terang saya bingung, harus ngapain. Saya sadar saya harus isolasi mandiri, tapi gimana, di mana, prosedurnya gimana? Bersyukur sekali, kakak saya dengan network-nya langsung mengurus untuk memasukkan kami berdua ke rumah sakit. Sekitar sejam kemudian, kakak saya bilang sudah dapat kamar di Rumah Sakit Fatmawati. Puji Tuhan! Segera saya mengepak baju dan laptop untuk siap berangkat.

Malam itu kami berangkat ke Rumah Sakit Fatmawati. Setelah melapor dengan membawa surat hasil swab ke UGD, kami diperiksa, termasuk rontgen thorax. Walau Timothy tidak bergejala, dokter memutuskan agar kami berdua diinfus, sambil menunggu kamar siap. Wih, ruang UGD Fatmawati penuuuuh sekali, dan sebagian besar adalah pasien positif COVID. Terlihat seluruh tenaga kesehatan sampai satpam sibuk tanpa henti. Tengah malam kamar kami siap, dan karena kami masih merasa kurang nyaman. Badan rasanya termasuk sehat, kami langsung jalan kaki ke kamar.

Malam itu saya tidur tanpa banyak mikir, karena memang badan saya sama sekali tidak nyaman. Paginya baru saya mikir, kenapa dan dari mana saya mendapatkan COVID ini, dan saya tahu kalau itu salah saya sendiri karena tidak menjaga stamina saya. Namun dari mana saya tertular masih tetap misteri yang tidak saya pikirkan lebih lanjut. Hari pertama saya di rumah sakit, saya hanya memberi tahu teman-teman terdekat saya. Bukan karena malu kena COVID, karena buat saya penyakit ini bisa mengenai semua orang, tapi lebih karena saya males disibukkan dengan pertanyaan ini-itu lewat WA, sementara badan rasanya tidak nyaman.

Dua hari di rumah sakit, saya baru memerhatikan rekan sekamar saya: seorang ibu bertubuh kecil. Kondisinya kurang baik, bolak-balik ke kamar mandi karena muntah, sampai harus pakai oksigen karena tubuhnya melemah dan saturasi oksigennya turun. Wah, saya bersyukur sekali dengan kondisi saya. Dibandingkan dia, sakit saya tergolong ringan. Rasa syukur ini juga yang membuat saya semangat untuk cepat sembuh. Dan rasa syukur serta rasa sepenanggungan juga membuat saya memberikan perhatian besar kepadanya, bahkan dengan senang hati mendoakannya.

Hari ketiga, badan saya sudah terasa sangat segar dan enak, walau batuk masih parah, karena dipacu oleh asam lambung yang naik lantaran efek COVID-nya. Hari itu saya sudah bisa mulai membuka laptop saya untuk bekerja, karena banyak pertanyaan soal Natal yang perlu dijawab dan revisi buku yang perlu approval. Hari ini saya sangat menikmati betapa bersyukurnya saya punya banyak saudara dan teman yang begitu peduli.

Memang benar, setiap orang bertanya hal yang sama,“Gimana bisa kena? Kenanya di mana? Apa gejalanya? Sekarang gimana rasanya? Mau dikirimi apa?” Benar juga, saya harus berkali-kali menjawab pertanyaan yang sama. Namun saya merasakan besarnya kasih Tuhan lewat perhatian setiap orang yang bertanya, setiap orang hebat yang mendoakan, dan setiap orang yang dengan penuh kasih memberikan obat, suplemen, sampai makanan.

Masa saya dirawat di rumah sakit cukup panjang, sehingga saya punya waktu untuk memerhatikan berbagai hal di sana. Saya memerhatikan tetangga tidur saya dan belajar menjadi tempat curhatnya. Saya juga memerhatikan semangat dan perjuangan setiap tenaga kesehatan yang melayani kami setiap hari. Dengan mengenakan APD penuh, mereka tetap berdedikasi dan berusaha memberikan pelayanan yang baik. Saya juga memerhatikan menu makanan yang tidak pernah absen dari tahu cina. Bahkan saya sempat memerhatikan kaca kamar mandi kami yang kotor. Namun di masa ini saya juga memerhatikan daftar doa saya yang makin panjang. Tuhan mengajarkan saya untuk mendoakan setiap orang.

Masa perawatan ini juga mengajarkan saya tentang betapa benarnya Amsal 17:22, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Terasa sekali kalau semangat menjadi modal dalam memerangi virus COVID ini. Bahkan untuk saya, yang terlahir sebagai orang yang selalu antusias dan semangat, ada masa-masa mendung selama perawatan. Mendung itu hadir dalam bentuk teknisi rontgent thorax yang mengatakan bahwa paru-paru saya belum terlalu bersih. Wah, itu rasanya kok drop banget, padahal sebelumnya saya pede sekali kalau saya sudah sehat dan bisa segera pulang, karena hari itu juga Timothy sudah boleh pulang. Mendung makin tebal dengan berita tentang anggota jemaat gereja yang juga kena COVID dan harus masuk ICU rumah sakit yang sama dengan kondisi tidak baik. Dan terakhir adalah berita tentang istri teman saya yang meninggal dunia. Wah, ternyata sebagai manusia, mendung ini benar-benar memengaruhi pikiran dan mematahkan semangat. Puji Tuhan, saya punya supporting system yang terus menyuntikkan kata-kata semangat. Perkataan tersebut menjadi penyemangat buat saya. Keep the spirit, for God has been sooo good to me.

Saya keluar dari rumah sakit tanggal 13 Desember. Total saya dirawat 11 hari plus isolasi mandiri di rumah selama 1 minggu penuh. Waktu yang cukup panjang untuk menikmati kasih Tuhan dan penyertaan-Nya, dan kesempatan untuk melihat berkat Tuhan yang luar biasa. Saya menyadari tentang kekuatan doa dan perhatian yang tidak putus-putusnya dari semua orang hebat di dalam kehidupan saya. Walau gejala saya bisa dibilang tidak parah, tapi saya tahu bahwa saya bisa Natalan dalam kondisi sehat itu adalah karena perkenanTuhan.

Kalau ditanya apa arti tahun 2020 buat saya? Saya belajar tentang kasih Tuhan, penyertaan-Nya dan kuasa-Nya yang luar biasa. Saya bersyukur untuk kesempatan hidup lebih lama, untuk kesehatan, untuk setiap orang terdekat saya, untuk setiap saudara dan teman. Apa COVID mengerikan? Ya, karena memang ada yang tidak berhasil melewatinya, tapi saya tahu satu hal yang lebih penting yaitu: Tuhan saya jauh lebih berkuasa.•

|MAUREEN TUAHATU

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • In Memoriam: Sanatalayan Henky Wijaya
    Sebagai penatua kala itu, aku selalu bersukacita bila ada pengangkatan penatua baru karena hal itu berarti bertambahnya armada pelayan...
  • isolasi
    ISOLASI
    ‘Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Nya, sebab Ia yang memelihara kamu’ (1 Petrus 5:7) Peristiwa yang terjadi pada minggu terakhir...
  • Bersukacita Dalam Kelemahan
    Pasutri Bertha Eta & Anung
    Bulan Juli merupakan bulan yang sangat berat bagi kami berdua, terutama bagi suami saya, Anung. Pikiran dan hati kami...
  • Ayahku Yang Sederhana
    Ayahku Yang Sederhana
    Bila kukenang kembali, ah… keindahan itu telah berumur 54 tahun yang lalu. Waktu itu aku meninggalkan kampung halamanku dan...
  • Rasika Wiyarti: BERGUMUL DENGAN KANKER
    Aku seorang Katolik sejak dibaptis pada tahun 1998 dan pengetahuanku tentang Alkitab sangatlah sedikit. Sebelumnya ingin kuperkenalkan siapa diriku....