keseimbangan

Keseimbangan

Belum ada komentar 10 Views

Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yang teratur, itulah kunci hidup sehat. (Bob Sadino)

Dunia ini selalu membutuhkan keseimbangan. Seimbang berarti sama kuat, sama besar, sebanding. Ada kehidupan ada kematian, ada kanan maka ada kiri, ada atas maka harus ada bawah, ada gelap maka ada terang, ada datang ada pergi, ada masuk ada keluar, dan seterusnya. Kalau kita hendak mendayung perahu agar berjalan lurus, kita harus mendayung secara seimbang antara kanan dan kiri, kalau tidak maka perahu itu akan berbelok, bahkan hanya akan berputar-putar. Dalam hal mendengarkan musik stereo, juga harus ada keseimbangan antara speaker kiri dan kanan, barulah musik itu enak didengar. Dalam tubuh manusia juga ada organ untuk keseimbangan tubuh yang terletak di dalam telinga kita, yang memungkinkan kita dapat berdiri dengan stabil dalam lift yang naik turun atau duduk dalam mobil yang bergerak.

Dalam hidup ini, kita juga harus memiliki keseimbangan dalam aspek aspek kehidupan yang ada. Aspek apa saja yang ada dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, ada aspek Keluarga, aspek Pekerjaan, Kesehatan, Sosial, Spiritual, Finansial dan lain-lain. Apakah kita sudah bisa memberikan waktu yang seimbang untuk aspek aspek tersebut? Pada umumnya, kita akan menjawab, “belum”. Untuk bisa memberikan keseimbangan bagi semua aspek, kita terkendala oleh waktu. Kita hanya punya waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan soal waktu ini yang selalu menjadi alasan untuk tidak melakukannya. Kita cenderung menyalahkan sang waktu yang cuma 24 jam sehari itu, padahal kalau kita diberi waktu 36 jam sehari, juga tidak akan jauh berbeda. Dalam hidup ini, pada umumnya kita lebih mengutamakan beberapa aspek saja dan memberikan waktu sekadarnya untuk beberapa aspek yang lain berdasarkan prioritas.

Biasanya yang kita prioritaskan adalah aspek pekerjaan, karena aspek inilah yang paling penting (menurut kita), khususnya dalam menunjang kehidupan. Pekerjaanlah yang akan menghasilkan uang, dan tentunya uang sangat dibutuhkan dalam hidup ini. Aspek lain yang sering diprioritaskan adalah aspek sosial. Kita suka berkumpul bersama dengan teman-teman dalam komunitas dan juga aktif di media sosial seperti Facebook, Instagram maupun WAG. Sesekali kita juga berpartisipasi dalam aksi-aksi sosial yang digagas oleh teman atau komunitas kita.

Aspek spiritual umumnya hanya terbatas pada ibadah hari Minggu, berdoa, dan ikut dalam beberapa pelayanan. Kita tahu bahwa kegiatan untuk lebih mengenal dan lebih dekat dengan Tuhan, seperti membaca Alkitab dan merenungkan Firman Tuhan, mesti mendapat prioritas utama, tetapi lagi-lagi sang waktu yang menjadi kambing hitam. Aspek Kesehatan, seperti makan makanan sehat dan berolahraga teratur juga belum mendapat porsi yang cukup. Selain masalah waktu, faktor malas juga cukup besar. Nanti kalau sudah mengidap suatu penyakit tertentu, barulah kita menjaga untuk tidak makan sembarangan dan berolahraga secara teratur, dan semua itu dilakukan karena takut. Aspek Keluarga biasanya mendapat porsi yang tidak besar-besar amat, karena kita beranggapan bahwa keluarga akan baik-baik saja sepanjang kita menyediakan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Ironisnya, dalam masa pandemi yang sudah berjalan selama hampir delapan bulan ini, di mana kita memiliki lebih banyak waktu dibandingkan dengan sebelum masa pandemi, tetap saja kita belum bisa memberikan waktu yang cukup untuk aspek-aspek kehidupan sebagaimana disebutkan di atas agar menjadi lebih seimbang. Padahal, saat ini kita lebih banyak berada di rumah dan sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk memberi waktu yang lebih banyak untuk keluarga. Menjadi lebih dekat dengan pasangan dan anak-anak. Lebih dekat dengan orangtua, kakak atau adik. Namun pada kenyataannya, tidak mudah untuk menjadi lebih dekat, lebih akrab, hanya karena sering bertemu, malah dengan seringnya kita bertemu timbul masalah baru. Banyak hal yang sebelumnya biasa-biasa saja, sekarang ini menjadi masalah yang serius dan menimbulkan konflik.

Mempunyai banyak waktu juga tidak membuat kita lebih memberikan waktu untuk aspek spiritual, apalagi dengan ibadah secara virtual, sering membuat nilai-nilai spiritual menjadi kurang dirasakan. Kekhusyukan beribadah sebagaimana kita rasakan sebelumnya, saat ini berkurang.

Aspek sosial biasanya mendapatkan porsi yang lebih besar, karena kita mempunyai banyak kemudahan di antara waktu yang sedikit. Teknologi yang ada di gawai kita sangat membantu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-teman. Walaupun sebetulnya aspek Sosial bukan semata-mata punya banyak teman dan komunitas.

Aspek Kesehatan juga mungkin mendapat perhatian yang lebih besar. Banyak orang yang mulai mencoba untuk belajar memasak, membuat makanan sehat untuk keluarga, sekaligus juga mempromosikannya di media sosial. Lumayanlah untuk menambah-nambah pendapatan. Olahraga juga mendapatkan porsi yang lebih besar. Saat ini banyak sekali orang yang menjadi penggemar sepeda. Hampir setiap hari kita melihat penggemar sepeda melakukan kegiatannya, baik secara perorangan maupun secara berkelompok.

Lebih ironis lagi, dalam masa-masa yang sulit ini, ada banyak orang yang justru mengalami kehilangan. Karena beberapa hal, mereka mengalami kehilangan kesehatan sehingga menghambat kegiatan, terutama yang bersifat fisik. Ada juga yang mengalami kehilangan pekerjaan, kehilangan usaha, sehingga mereka tidak lagi mempunyai penghasilan dan merasa sudah kehilangan masa depan. Ada yang mengalami kehilangan anggota keluarga yang menimbulkan kesedihan yang mendalam. Banyak yang mengalami kehilangan kebebasan karena tidak bebas untuk pergi, tidak bebas melakukan kegiatan seperti sebelumnya, tidak bisa lagi melakukan perjalanan, travelling dan rekreasi. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi sehingga bisa membuat frustrasi. Banyak sekali yang merasakan kehilangan suasana mal, biasanya sekurang-kurangnya seminggu sekali mengunjungi mal, paling tidak untuk bertemu keluarga, saudara, teman, atau untuk makan siang seusai ibadah Minggu.

Kehilangan-kehilangan itu juga menimbulkan ketidakpastian, sampai kapan kondisi seperti ini akan berakhir. Ketidakpastian ini harus dapat dikelola dengan baik, karena ketika kita mengalami ketidakpastian yang berkepanjangan di mana kita tidak tahu ujungnya, bisa jadi timbul berbagai gejala psikis seperti kecemasan (anxiety), depresi dan gangguan kejiwaan lainnya.

Jadi, untuk hidup sehat, sediakanlah waktu yang cukup untuk menyeimbangkan aspek-aspek kehidupan yang ada, serta tidak ada salahnya kita renungkan nasihat dari Bapak Bob Sadino. Salam damai.•

| SINDHU SUMARGO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • What Makes Games So Addictive?
    What Makes Games So Addictive?
    Who would want people to look at you with wonder, respect and appreciation? We all do. As a human...
  • N.I.A.T
    Tentu kita masih ingat beberapa bulan yang lalu saat hampir semua kegiatan terhenti akibat pandemi COVID-19. Banyak sekali saran,...
  • Antara Si Badu & Holy Lance
    Antara Si Badu & Holy Lance
    Ada saatnya berbicara, ada saatnya berdiam. Ada saatnya berpendapat, ada saatnya merenung. Sebelum kita merasa paling pintar, ada baiknya...
  • new normal
    New Normal, New (GOOD) Habits
    Kita tentu masih ingat ketika pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa semua pengendara sepeda motor harus menggunakan helm pengaman. Banyak orang...
  • hampir sampai
    Hampir Sampai
    “Aku menghindari kampung halamanku, mataku pun tidak melihatnya. Benar, memang aku tidak mencarinya agar hatiku tidak mengikutinya. Jiwaku dari...
Kegiatan