Keadaan & Harapan

Keadaan & Harapan

Belum ada komentar 24 Views

Alangkah merdunya ungkapan “adil dan makmur” terdengar di telinga kita dan kita resapkan di hati. Ungkapan itu bertalian erat dengan “negara dan hukum”. Keadilan bukanlah pengertian yang di awang awang, tapi harus diperjuangkan. Itulah sebabnya negara harus bisa mengatur rakyatnya dengan adil dan benar.

Posisi Pemerintah bukan hanya sebagai hakim dan pelindung bagi negara, melainkan juga penolong rakyatnya. Memang keadilan dianjurkan dalam etika sosial Kristen. Dapat dikatakan bahwa di mana-mana di jagat raya ini, orang Kristen yakin bahwa Pemerintah—sebagai pelayan dan pelaksana keadilan—tentu juga mengusahakan kemakmuran. Namun kemakmuran bukan monopoli negara. Kemakmuran yang sejati menghargai kemerdekaan dan menghormati inisiatif swasta. Hal ini ditunjukkan melalui kerelaan dan minat besar pada kerja sama dengan badan badan, perkumpulan-perkumpulan dan organisasi-organisasi, baik di dalam maupun di luar negeri. Rakyat memerlukan pemeliharaan kesehatan, sistem irigasi yang baik, jalan raya yang memadai, dan semua yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kerangka inilah Pemerintah mengelola kehidupan sosial ekonomi, politik, keamanan, budaya, dsb.

Negara tentu juga bertanggung jawab kepada Allah. Bagaimana dengan gereja? Apakah gereja juga bertanggung jawab menanggulangi masalah-masalah sosial ekonomi? Atau hanya menunjukkan jalan ke surga? Bolehkah gereja ikut mencampuri soal-soal yang berhubungan dengan pekerjaan atau kepemilikan benda-benda duniawi?

Banyak pertanyaan yang diarahkan kepada gereja, termasuk kewajibannya di tengah dunia.

Tuhan Yesus sangat menaruh minat pada kesehatan, makanan, perumahan, dan sikap manusia terhadap sekelilingnya. Kerajaan Allah yang diberitakan-Nya bukan hanya mementingkan hal-hal surgawi, melainkan juga dunia. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di surga bertalian. Kristus mengajarkan kita berdoa, “… jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Hal ini mencakup ketaatan kita kepada Tuhan, tetapi juga kepedulian kita pada kesejahteraan masyarakat. Gereja terpanggil untuk memimpin dan mengarahkan anggota-anggotanya mencari kehendak Allah dalam visi dan misinya.

Sekadar mengulang ingatan, bahwa sesungguhnya Roh Kudus hadir di dalam sejarah gereja-gereja untuk menasihati dan menggiatkan jemaat bertindak lebih aktif, sebab gereja sering membisu pada saat seharusnya berbicara. Lihatlah gereja Ortodoks Rusia pada abad 19. Saat itu banyak terjadi kejahatan-kejahatan di bidang sosial dan ekonomi. Namun gereja tetap berdiam diri, padahal posisi dan kedudukannya sangat kuat. Kemudian terjadilah revolusi yang mengubah segala sesuatu. Kini gereja dibungkam dan dipaksa diam. Rusia tertutup bagi kebebasan.

Pada pertengahan abad ke-19, terjadi revolusi industri di Eropa Barat. Keadaan masyarakat saat itu sangat buruk, dan gereja-gereja dibungkam selama berpuluh-puluh tahun. Orang orang Kristen hanya boleh berbicara sedikit tentang kerajaan surga. Ada pembatasan yang ketat, dan mereka sangat diawasi. Betapa rindunya umat Tuhan untuk beribadah dengan bebas. Gereja adalah sarana untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Di dalam persekutuan yang erat, orang orang beriman saling menghibur dan menguatkan, saling memedulikan dan menolong.

Di dalam Perjanjian Lama, banyak ditulis tentang penyembahan di Tabernakel dan di rumah-rumah ibadah. Perjanjian Baru pun mengisahkan kehadiran Kristus di sana. Gereja sangat diperlukan untuk membentuk kedisiplinan rohani. Seperti penabur, gereja menebarkan benih Firman Tuhan untuk memperbaiki lingkungan dan menyejahterakan dunia. Dari atas mimbar diserukan, “Barang siapa bertelinga hendaklah ia mendengar, kata Roh Kudus kepada sidang jemaat.” Tuhan bekerja dan berkarya, lalu bangkitlah orang-orang yang me mahami panggilan-Nya. Anak-anak Tuhan menyerukan pertobatan, dan dengan pertolongan Roh Kudus terjadi pertobatan besar-besaran di Inggris Raya, Jerman, Swiss, Belanda, Spanyol, Portugal dan Amerika. Anak-anak Tuhan menyerukan tanggung-jawab masyarakat Kristen dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka bersikap kritis terhadap kekacauan yang sedang merajalela, dan mengusahakan perbaikan.

Biarlah gereja mengisi hidup kita dengan cara yang tidak kita jumpai di tempat lain. Kekristenan bukan hanya menumbuhkan iman kita, tapi juga menjadikan kita berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita.•

| Hilman M, Sahabat PDP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • new normal
    New Normal, New (GOOD) Habits
    Kita tentu masih ingat ketika pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa semua pengendara sepeda motor harus menggunakan helm pengaman. Banyak orang...
  • hampir sampai
    Hampir Sampai
    “Aku menghindari kampung halamanku, mataku pun tidak melihatnya. Benar, memang aku tidak mencarinya agar hatiku tidak mengikutinya. Jiwaku dari...
  • rindu
    Rindu
    Sebuah kata sederhana, tapi cukup populer, khususnya di kalangan muda-mudi (dan mereka yang sudah melewati masa itu), saat indah-indahnya...
  • Percayalah
    Percayalah
    “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (kejadian 15:6) Tatkala mata terbuka pada...
  • mati
    MATI
    “Kematian bukannya lawan kehidupan. Ia adalah mitra makna kehidupan. Hanya dengan menyelami kematian, manusia bisa hidup dengan indah sekaligus...
Kegiatan