“Kasihilah Musuhmu...” - seruan surgawi untuk menciptakan perdamaian dunia

“Kasihilah Musuhmu…” – seruan surgawi untuk menciptakan perdamaian dunia

Belum ada komentar 3 Views

Biaya Perdamaian?
Di zaman modern ini, manusia dengan serius dan tidak tanggung-tanggung mengupayakan dan menjaga perdamaian. Perhatian pada kehidupan yang damai dan saling menghargai bukan merupakan pilihan lagi, melainkan keharusan jika manusia tidak ingin punah dilumat oleh kebencian karena perbedaan pandangan, prinsip, keyakinan, dan kepentingan.

Namun demikian, ketakutan akan gagalnya upaya memelihara perdamaian itu akhirnya membuat manusia memperkuat pertahanannya agar dapat menangkis serangan musuh yang tiba-tiba diarahkan kepadanya. Pada umumnya manusia memegang prinsip: kami mencintai perdamaian, tapi kami lebih mecintai kemerdekaan. Jadi meskipun kami fokus dan berkontribusi pada upaya menjaga perdamaian, sebaiknya jangan usik dan ganggu kami.

Anggaran pertahanan dunia terus meningkat, dan tahun 2020 ini merupakan puncak masing-masing pemerintah mengalokasikan dana untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan tempur negaranya.

Anggaran pertahanan global mencapai US$1,917 triliun pada 2019, meningkat 3,6 persen dari angka tahun sebelumnya, dan merupakan peningkatan terbesar dalam satu tahun sejak 2010, menurut laporan tahunan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Dilaporkan, lima negara teratas menyumbang 62 persen dari keseluruhan pengeluaran militer. “Ini adalah tingkat pengeluaran tertinggi sejak krisis keuangan global 2008 dan mungkin merupakan puncak dalam pengeluaran.”

Hasil Upaya Perdamaian
Namun apakah hasil semua upaya itu? Saling berdamaikah umat manusia? Terhindarkankah bangsa-bangsa dari peperangan? Mampukah organisasi perdamaian dunia merantai persoalan sehingga tidak ada lagi perang? Atau mampukah para ‘polisi perdamaian dunia’ menjaga keamanan dan perdamaian dunia dari pertikaian, perselisihan, perbedaan kepentingan, keangkuhan, dan lebih menguasai pihak lainnya sehingga menghindarkan perang? Jawabnya jelas TIDAK. Negara-negara tetap berperang. Para agresor tetap menganeksasi wilayah-wilayah yang lebih lemah dari mereka. Embargo sepihak, yang tak bisa dicampuri badan perdamaian dunia, terus berlangsung. Perdamaian sering kali hanya terjadi pada negara negara yang kekuatan tempurnya seimbang. Namun bagi yang merasa superior, tak ada istilah perdamaian. Serang, taklukkan, kalahkan, kuasai, atau hancurkan. Bahkan tak jarang upaya menjaga perdamaian hanyalah kedok untuk memperoleh bisnis perdagangan senjata. Dua pihak yang bermusuhan mendapatkan pasokan senjata dari sumber yang sama, yang terlibat sebagai pihak penjaga perdamaian. Etikanya di mana?

Mengapa sulit mewujudkan perdamaian di muka bumi? Bukankah perdamaian itu baik dan didambakan semua umat manusia, siapa pun dia? Apakah umat manusia sudah gagal mengupayakan perdamaian dan menemui jalan buntu, karena segala cara, teknik, strategi, serta pendekatan yang digunakan tidak membawa hasil? Masihkah umat manusia bisa berharap akan terwujudnya perdamaian dunia? Persoalan utama manusia adalah sering melakukan klaim atas nama kebenaran. Hanya sayangnya, kebenaran yang dikedepankan adalah kebenaran menurut versinya sendiri.

Meskipun persoalan perdamaian dan ambisi untuk saling menguasai serta melukai, bahkan membunuh ini, sudah berlangsung sejak awal keberadaan manusia—ingat kisah Kain dan Habel—tapi persoalan utamanya tak pernah tuntas. Rasa benci, dendam, berontak, tidak terima, teraniaya, tersinggung, marah, dan keinginan untuk balas dendam yang menjadi penyebab utama atau akar masalahnya, tidak pernah disentuh dan diselesaikan secara terbuka. Tidak diakui, dan bahkan diingkari. Terlalu terfokus pada fenomena, dan tak pernah menyentuh noumenanya. Kenapa demikian? Karena upaya perdamaian yang dilakukan sekarang tidak sepenuhnya dilakukan demi perdamaian itu sendiri, tapi sudah bercampur baur dengan kepentingan bisnis, penguasaan, kompensasi, dan keuntungan pribadi yang bisa diperoleh dari urusan perdamaian itu.

Sekali lagi apakah manusia masih punya harapan untuk bisa hidup dalam damai?

Kasihilah Musuhmu …
Dua ribu tahun yang lalu, ketika orang saling membantai dan berusaha saling menguasai, Yesus menyerukan: “Kasihilah musuhmu…” Sebuah pernyataan aneh yang tidak biasa. Tidak ada yang pernah mengucapkan hal itu sebelumnya. Saat ini, dalam perjuangan hak asasi manusia dengan segala kegilaannya, tidak ada satu pun yang berani mengatakan: “Kasihilah musuhmu,” bukan? Jangan-jangan pernyataan itu hanya patut menjadi bahan candaan. Orang-orang saling memerdaya, saling menguasai, saling melukai, bahkan saling membunuh sampai sekarang. Bagaimana kita bisa menjelaskan bahwa 2000 tahun yang lalu ada yang berkata kepada kita: ”Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang membenci, menganiaya, bahkan mengutukimu…” Artinya: kamu mengutuki, aku mendoakanmu. Kamu menyakitiku, aku berdoa kepada Tuhan agar Dia memberikan yang baik bagimu. How come?

Respons keheranan kita adalah respons keheranan semua orang. Ketidakpercayaan kita adalah ketidakpercayaan mereka. Mustahil mengasihi musuh. Tidak mungkin mendoakan orang yang membenci, menganiaya, dan mengutuki kita. Nonsens. Itulah respons umum manusia. Respons nonsens inilah yang kemudian menuntun kita untuk mengambil langkah-langkah lain di luar seruan Yesus itu. Mulai dari saat Dia mengatakannya hingga saat ini. Dan hasilnya seperti yang kita lihat sekarang.

Sebenarnya, ironis mengupayakan perdamaian dunia dengan memperkuat pasukan, persenjataan, dan kekuatan militer. Mengapa tiap tahun orang menghabiskan triliunan dolar untuk pertahanan? Karena tidak ada yang mengasihi musuhnya. Banyak uang dihabiskan untuk membeli senjata keamanan, bukan untuk memberi makan orang miskin, membangun sekolah, membesarkan anak-anak, mengajarkan mereka bagaimana menjadi orang baik. Malah sebaliknya anak-anak diajari bagaimana saling membenci dan saling membunuh. Bahkan film-film yang kita tonton pun banyak bercerita tentang hal itu. Sementara Yesus mengajarkan kasih, mereka mengajarkan untuk saling membunuh.

Coba seandainya manusia—tidak masalah apa pun agama yang dimilikinya—cukup menerapkan satu saja dari apa yang Yesus serukan: ”Kasihilah musuhmu…” dapatkah dibayangkan apa yang terjadi di bumi ini? Seluruh bumi akan berubah menjadi surga. Perdamaian akan tercipta dengan sendirinya. Tidak ada lagi keperluan untuk memperkuat pertahanan. Tidak ada lagi anggaran besar-besaran untuk mempercanggih persenjataan. Tidak ada lagi perang, bahkan sekadar merencanakannya. Perdamaian akan berlangsung abadi. Perdamaian sejati.

Memang tidak mudah memahami, apalagi mempraktikkan apa yang Yesus ajarkan ketika Ia berkata: ”Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiayamu….” Namun Dia sendiri telah mempraktikkannya, bahkan dari atas kayu salib, ketika orang-orang habis menyesah, mengolok-olok, menyalibkan, bahkan membunuh-Nya. Dia mengkhawatirkan akibat yang tak terbayangkan dari dosa-dosa yang tak mereka sadari, yakni kutuk dan murka Allah. Dia memikirkan keselamatan jiwa mereka. Dia mendoakan mereka: “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat “ (Lukas 23:34). Apa yang dialami Yesus adalah hal terburuk yang bisa dilakukan manusia terhadap manusia yang lain. Namun Dia tetap memikirkan mereka, mendoakan mereka, dan mengasihi mereka.

Perdamaian Cara Tuhan
Sepertinya mencapai perdamaian dengan cara Tuhan itulah satu-satunya harapan manusia. Mengede pankan Tuhan dan hakikat-Nya yang adalah kasih. Tuhan adalah Kasih dan Kasih adalah Tuhan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak Nya yang tunggal … (Yoh 3:16a). Jadi apa alasannya Allah mengutus Anak-Nya? Karena Dia mengasihi dunia. Dia tidak membenci manusia dan dunia. Jika orang masih berdebat soal kebenaran, maka kebenaran-Nya mengajarkan ka sih. Seseorang yang berjalan bersama kita dengan kasih dan mengubah kita dari dalam menjadi orang yang lebih baik. Bukan seseorang yang mengikuti dan mengajarkan kebencian. Ses eorang yang membuat kita membenci orang lain, tidak bisa melayani Tuhan, bahkan seandainya dia mengklaim diri sebagai utusan Tuhan. Siapa pun yang mengajarkan kebencian, bukan berasal dari Tuhan. Jadi perintah untuk saling tidak mengasihi, dengan alasan apa pun itu, pasti bukan dari Tuhan, sekali pun banyak klaim menyebutkan bahwa itu adalah Firman Tuhan. Tuhan tidak membenci manusia karena alasan apa pun. Itulah sebabnya kita memang gilnya dengan sebutan: Bapa (kami). Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya. Di kepercayaan yang lain, manusia adalah budak Allah, sementara kekristenan mengajarkan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ada perbedaan jauh dalam pemahaman dan posisi. Kita adalah anak-anak Tuhan, karena Dia mengasihi kita.

Seruan ini bukan soal keyakinan sebuah agama. Ini tentang Yesus. Yesus bukanlah agama. Dia tidak membawa agama. Agama selalu buatan manusia. Itulah sebabnya Yesus menegur orang orang Yahudi yang mengarang hal hal itu. Dia berkata kepada mereka: “Hari Sabat untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Namun orang Yahudi menjalani hidup dengan mempraktikkan penghormatan— bahkan pengkultusan—hari Sabat. Hari Sabat dijadikan lebih penting daripada manusia. Jadi Yesus cenderung menentang agama. Karena agama adalah bisnis, agama adalah pendeta, agama adalah golongan, pengaruh, atau politik. Itulah agama. Yesus tidak pernah datang untuk itu. Dia tidak lebih menyukai raja-raja daripada orang miskin. Dan Dia tidak lebih menyukai orang miskin daripada raja-raja. Dia menyukai kebaikan daripada kejahatan.

Agen Perdamaian
Jadi siapa yang sebenarnya disapa Yesus? Orang-orang Kristenkah? Orang-orang Yahudikah? Atau siapa? Sekali lagi hal ini jauh melebihi masalah agama dan kaum. Ini soal kemanusiaan secara global. Yesus berseru kepada seluruh umat manusia untuk saling mengasihi sesamanya, bahkan musuh dan orang yang mengutukinya sekalipun, agar dapat hidup damai dan berkenan di hadapan Allah. Namun siapa yang secara spesifik dipanggil untuk mempraktikkan hal itu? Jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Orang-orang yang percaya dan taat kepada Yesus. Orang Kristen. Jika semua orang Kristen paham, percaya, dan taat kepada-Nya, maka sepersekian bagian orang di dunia akan menjadi agen perdamaian dunia menurut cara Allah. Mungkinkah?

Sepanjang harapan itu masih diletakkan di pundak orang lain, siapa pun dia, tetap sulit bagi kita untuk memastikannya. Siapa yang menjamin bahwa ia akan melakukannya? Dengan demikian, persoalannya harus terpulang kepada entitas terkecil yang mampu menjamin bahwa hal itu benar-benar akan dilaksanakan melalui pemahaman, iman, kepercayaan dan komitmen mereka. Siapa mereka? Masing-masing kita. Tepatnya saya (dengan menepuk dada masing-masing). Sayalah yang harus mulai mempraktikkan seruan itu. Sayalah (bersama saudara saudara lainnya) harus yakin bahwa kami memulai suatu tindakan yang berujung pada pengharapan tercapainya perdamaian dunia, tanpa pengalokasian dana secara berlebihan yang justru bertujuan mencederai orang lain.

Mari, mulai dari diri sendiri mempraktikkan seruan Yesus: “Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiayamu…” demi perdamaian dunia yang telah gagal dibangun dengan kekuatan militer, senjata, pertahanan, dan penciptaan senjata penghancur massal oleh manusia-manusia yang justru saling membenci.

| SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • REMEH
    REMEH
    Sebagai manusia, kita kerap kali meremehkan atau menganggap remeh sesuatu, apakah itu benda, pekerjaan, atau orang. Menganggap remeh adalah...
  • What Makes Games So Addictive?
    What Makes Games So Addictive?
    Who would want people to look at you with wonder, respect and appreciation? We all do. As a human...
  • keseimbangan
    Keseimbangan
    Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga...
  • N.I.A.T
    Tentu kita masih ingat beberapa bulan yang lalu saat hampir semua kegiatan terhenti akibat pandemi COVID-19. Banyak sekali saran,...
  • Antara Si Badu & Holy Lance
    Antara Si Badu & Holy Lance
    Ada saatnya berbicara, ada saatnya berdiam. Ada saatnya berpendapat, ada saatnya merenung. Sebelum kita merasa paling pintar, ada baiknya...