Iman yang Mengganggu

Matius 9:9- 13, 18 - 26

Belum ada komentar 1 View

Matius 9 berisi kumpulan peristiwa perjumpaan Yesus dan banyak orang. Ada tiga kisah yang menjadi bacaan kita, yaitu pemanggilan Matius (penulis Injil pertama) dan penyembuhan ganda anak kepala rumah ibadat serta perempuan yang sakit pendarahan. Seluruhnya memuncak pada dua pelajaran penting dari pasal ini, yang tercatat di dalam ayat 36-38. Pertama, Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus menampilkan kehidupan yang diwarnai oleh belas kasihan; kedua, Kerajaan Allah mengundang orang-orang yang percaya untuk mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya, yang harus memberlakukan apa yang diberlakukan Yesus. Tiga kisah yang disajikan di dalam bacaan minggu ini menampilkan kedua sisi tersebut secara unik … dan “mengganggu ”!

Matius yang telah hidup nyaman dan sejahtera sebagai seorang pemungut cukai diundang untuk keluar dari kenyamanannya dan menjadi murid Kristus. Panggilan Yesus kepadanya menjadi sebuah gangguan yang justru mengubah hidup Matius sepenuhnya. Lantas, seorang perempuan yang sakit pendarahan —sebuah penyakit yang dianggap najis —menerima kesembuhan. Tidak ada yang tak layak di mata Yesus yang penuh belas kasihan. Gangguan berikutnya muncul di dalam peristiwa Yesus yang membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Semua orang menertawakan Yesus, ketika Ia berkata bahwa anak yang telah mati itu hanyalah tidur. Tawa mereka segera berubah menjadi takjub ketika menyaksikan kebangkitan kembali anak itu.

Injil selalu mengganggu kita. Ia mengganggu logika hidup nyaman, logika kepantasan, dan logika mati-hidup. Injil semacam itu mewartakan Kristus sebagai pusat Kerajaan Allah, yang hadir dalam hidup manusia dengan belas kasihan, serta mengundang kita untuk mengikuti Yesus melalui gangguan demi gangguan tersebut, sebagai murid-murid-Nya. (JA) Matius 9 berisi kumpulan peristiwa perjumpaan Yesus dan banyak orang. Ada tiga kisah yang menjadi bacaan kita, yaitu pemanggilan Matius (penulis Injil pertama) dan penyembuhan ganda anak kepala rumah ibadat serta perempuan yang sakit pendarahan. Seluruhnya memuncak pada dua pelajaran penting dari pasal ini, yang tercatat di dalam ayat 36-38. Pertama, Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus menampilkan kehidupan yang diwarnai oleh belas kasihan; kedua, Kerajaan Allah mengundang orang-orang yang percaya untuk mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya, yang harus memberlakukan apa yang diberlakukan Yesus.

Tiga kisah yang disajikan di dalam bacaan minggu ini menampilkan kedua sisi tersebut secara unik … dan “ mengganggu”! Matius yang telah hidup nyaman dan sejahtera sebagai seorang pemungut cukai diundang untuk keluar dari kenyamanannya dan menjadi murid Kristus. Panggilan Yesus kepadanya menjadi sebuah gangguan yang justru mengubah hidup Matius sepenuhnya. Lantas, seorang perempuan yang sakit pendarahan— sebuah penyakit yang dianggap najis— menerima kesembuhan. Tidak ada yang tak layak di mata Yesus yang penuh belas kasihan. Gangguan berikutnya muncul di dalam peristiwa Yesus yang membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Semua orang menertawakan Yesus, ketika la berkata bahwa anak yang telah mati itu hanyalah tidur. Tawa mereka segera berubah menjadi takjub ketika menyaksikan kebangkitan kembali anak itu.

Injil selalu mengganggu kita. la mengganggu logika hidup nyaman, logika kepantasan, dan logika mati-hidup. Injil semacam itu mewartakan Kristus sebagai pusat Kerajaan Allah, yang hadir dalam hidup manusia dengan belas kasihan, serta mengundang kita untuk mengikuti Yesus melalui gangguan demi gangguan tersebut, sebagai murid-murid-Nya. (JA)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu