Sesudah orang banyak makan sampai kenyang, Yesus menyuruh para murid menyeberang lebih dahulu. Di tengah danau, perahu mereka dihantam gelombang dan angin sakal. Menjelang pagi, Yesus datang berjalan di atas air. Para murid tidak langsung mengenali-Nya. Mereka mengira melihat hantu dan berteriak ketakutan.
Menariknya, ketakutan tidak hanya muncul sebelum Petrus melangkah. Petrus sudah mendengar suara Yesus, menerima perintah-Nya, bahkan berjalan di atas air. Namun ketika ia melihat kerasnya angin, ia takut dan mulai tenggelam. Pengalaman dekat dengan Tuhan ternyata tidak membuat seseorang kebal terhadap kegoyahan.
Di titik itulah doa Petrus menjadi sangat pendek: ‘Tuhan, tolonglah aku!” la tidak sempat menyusun kata-kata indah atau membuktikan bahwa imannya cukup kuat. Matius lalu menulis bahwa Yesus “segera” mengulurkan tangan dan memegangnya. Teguran, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” diucapkan ketika Petrus sudah berada dalam pegangan Yesus.
Ungkapan “kurang percaya” dalam Injil Matius ditujukan kepada para murid, orang-orang yang sungguh mengikuti Yesus namun masih takut dan belum mengerti sepenuhnya. Iman mereka kecil, tetapi tetap memiliki arah: di tengah tenggelam, Petrus berseru kepada Tuhan. Yang menyelamatkannya bukan keberhasilan menguasai gelombang, melainkan tangan Kristus yang meraihnya.
Karena itu, “iman yang bertahan” jangan dibayangkan sebagai jiwa yang selalu tenang dan tidak pernah goyah. Ada masa ketika iman hanya berbentuk seruan minta tolong. Ada hari ketika kita masih percaya, tetapi sekaligus takut; masih berdoa, tetapi pikiran dipenuhi kemungkinan terburuk.
Kabar baiknya, Yesus tidak menunggu Petrus berhasil menenangkan diri. la mendekat ketika angin masih bertiup, meraih Petrus sebelum danau menjadi teduh, lalu membawanya kembali ke perahu. Yang membuat iman rapuh itu bertahan ialah tangan Kristus yang segera terulur. (ASC)




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.